Dengan bahagia membawa selembar kertas, Alinea memasuki ruang kerja Tia yang seluruh dindingnya kaca. Tia sedang tenggelam dalam penulisan kisah misteri novel terbarunya. Sampai-sampai dia tidak mendengar ketika Alinea membuka pintu. Gadis cantik itu langsung memeluknya dari belakang kursi.
“Mamah, aku dapat beasiswa itu!”
“Beasiswa? Beasiswa apa?”
Alinea menunjukkan kertas yang dia bawa pada Tia. Di dalamnya tertulis bahwa Alinea Sanjaya lulus sebagai siswa terbaik untuk memasuki universitas fakultas psikologi. Tia terkejut bahagia sekaligus bingung dengan apa yang dibacanya.
“Ilen, jelaskan sesuatu. Duduk!”
Tia meminta Alinea duduk di kursi depan meja kerjanya. Dan Tia menutup laptopnya untuk bicara serius dengan Alinea.
“Mamah tidak tahu kau mengajukan beasiswa.”
Alinea tersenyum melihat wajah bingung ibunya.
“Aku memang tidak bilang Mamah, tadinya aku hanya iseng. Tapi aku pikir lagi menarik juga kalau aku bisa kuliah di usiaku sekarang. Jadi aku mengikuti tesnya dengan serius. Dan aku dapat beasiswa itu!”
Wajah sumringah Alinea membuat Tia turut bahagia.
“Dan, aku keluar sebagai lulusan terbaik, Mah!”
“Lalu kenapa harus Psikolog? Seingat Mamah, kau pernah bilang ingin menjadi dokter hewan.”
“Iya, betul. Aku ingin jadi dokter hewan juga nanti. Tapi sekarang aku ingin menjadi psikiater dulu.”
Tia menggelengkan kepala dengan pernyataan Alinea. Keinginan yang masih sangat labil dari gadis seusianya. Namun yang membedakan Alinea degnan Tia adalah sifatnya yang fleksibel dan tidak mudah stress. Sangat berbeda dengan dirinya yang cenderung perfeksionis.
“Mah, mamah izinkan aku?”
Pertanyaan Alinea membuyarkan lamunan Tia.
“Tentu, coba Mamah lihat lagi suratnya ya,”
Tia kembali membaca surat di hadapannya.
“Kampus Universitas Indonesia. Ok, jadi Mamah akan mengijinkanmu untuk mengambil beasiswa ini dengan catatan. Kau akan mengikuti semua aturan yang Mamah tentukan.”
“Seperti?” Alinea bertanya heran.
“Seperti ke kampus dengan mobil dan dikawal sopir. Mamah tidak ingin ada perdebatan tentang ini."
Alinea nyengir lebar di depan Tia.
“Okay, Mamah.”
Lalu gadis itu kembali pergi keluar dari ruang kerja Tia.
Tia tersenyum, dia bangga bahwa meski tanpa ayah Alinea tumbuh dengan luar bisa. Bahkan pencapaiannya selalu melebihi apa yang Tia harapkan. Kadang kala yang membuat Tia sedih adalah kebahagiaan ini tidak bisa dia bagikan pada siapa pun. Kesendirian telah membungkus Tia begitu lama. Baginya hidup hanyalah tentang Alinea. Putrinya adalah prioritasnya dan …
Beep! Beep! Beep!
Salman! Panggilan masuk dari Salman di ponsel Tia.
“Hi,”
“Halo, aku akan berangkat ke Khatmandu hari ini. Kemungkinan aku akan tiba nanti malam.”
“Ok, jaga dirimu.”
“Tia, ada yang aneh dengan visaku.” Ujar Salman ragu.
“Kenapa?”
“Hmm … sudah lupakan! Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Oh, iya. Alinea mendapatkan beasiswa untuk sekolah psikologi.”
“Wew! Selamat! Tapi bukankah putrimu baru berusia empat belas tahun?”
“Iya, dia akan berulang tahun ke lima belas besok. Dan, sekolah melakukan kesetaraan untuk siswa-siswa dengan kemampuan istimewa sepertinya.”
“Oh, jadi dia akan melompati beberapa tingkat sekaligus?”
“Ya, sudah kukatakan padamu. Alinea tidak sama dengan gadis lainnya. Dia selalu fokus pada pencapaian dan tidak peduli dengan tepuk tangan.”
“Ya, kau mengukir dia sebagai putrimu dengan begitu indah.”
“Kapan kau akan berangkat ke UK? Setelah persetujuan visa, mungkin sebuah rencana sudah bisa disusun sekarang.”
“Hmm … aku akan sampaikan padamu nanti.”
Setelah panggilan telepon dengan Tia, Salman menuju ke lantai bawah rumahnya untuk makan siang. Seluruh keluarga telah duduk rapi disana, mereka sedang berbincang. Terlihat hangat dan penuh keakraban. Kehangatan yang akan Salman rindukan nanti.
“Kak, siapa nama wanita yang ada di telponmu itu?”
Salman melotot ke arah Nitish. Sementara senyum mengembang di wajah anggota keluarga yang lain.
“Lupakan, Nitish. Kau memang tidak bisa menjaga rahasia.”
“Kau tidak pernah bilang padaku bahwa itu rahasia. Kenapa harus rahasia? Dia sangat cantik. Kenapa harus dirahasiakan?”
“Berhentilah mengoceh, Nitish! Habiskan makananmu!” Laksmi memotong percakapan dua anaknya. Sebelum pecah ‘pertempuran’ diantara mereka.
“Bu, seseorang telah membayar visaku. Sekarang kita hanya perlu uang untuk membeli tiket dan biaya hidupku bulan pertama di UK.”
Laksmi memandang heran putranya. Jumlah uang yang harus mereka bayar tidak sedikit. Dan selama ini tidak satu pun keluarga atau tetangga yang percaya untuk meminjami mereka uang. Karena biasa keluarga Khan akan mengembalikan dalam waktu lama. Sampai panen musim berikutnya.
Dan sekarang Salman bilang seseorang membayar visa untuknya? Sulit dipercaya.
“Siapa?” tanya Laksmi menyelidik.
“Aku pun tidak tahu Bu, aku akan mencari informasi setibanya di kantor kedutaan nanti.”
Laksmi melihat wajah putranya yang sedang makan. Salman tidak tahu bahwa ibunya sedang memperhatiakn dirinya lekat-lekat.
“Salman …!” panggil Laksmi penuh penekanan.
Barulah saat itu Salman menoleh dan melihat ibunya yang memberikan wajah cemas. Dia menatap ketiga adiknya dan serempak ketiganya mengangkat bahu.
Salman memasukkan ke mulut, suapan terakhirnya. Meminum air dari gelas dan baru menjawab ibunya.
“Ya, Bu. Ingin mengatakan sesuatu?”
“Dengar Salman, kau mulai keluar dari rumah ini. Dan itu artinya ibu tidak bisa lagi mengawasimu. Ibu jauh darimu, begitu pun ayah. Tapi, kau adalah putra Khan. Kemana pun kau pergi, kau akan selalu membawa nama baik keluarga ini. Kita boleh saja dikenal semua orang sebagai keluarga yang miskin. Namun, kita tidak boleh dikenal sebagai penjahat. Jangan permalukan keuarga ini. Apalagi jika alasannya adalah uang.”
Salman dan ketiga adiknya menatap ibu mereka dengan seksama. Keluarga mereka memang dikenal sebagai keluarga miskin selama ini. Namun mereka tidak pernah melakukan kejahatan yang merugikan orang lain. Karena itulah ayah dan ibu mereka tetap dihormati banyak orang meski dengan disepelekan secara harta.
“Iya bu, percayalah padaku. Aku juga bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah hampir dua puluh empat tahun. Aku akan menjaga kepercayaan ayah dan ibu.”
Dua butir bening menetes di mata Laksmi. Salmannya kini sudah menjadi pria dewasa. Semua nilai yang diajarkan oleh Khan sekarang Laksmilah sebagai penjaganya untuk keempat anaknya.
Mehta yang duduk di sebelah Laksmi merangkul bahu ibunya.
“Kakak akan menjadi orang hebat, Bu. Jangan menangis, dia akan membuat ayah dan ibu bangga. Dan dia juga akan menyekolahkan kami semua.”
Laksmi mengangguk pada Mehta.
Melihat air mata yang jatuh berderai, mengingatkan Salman untuk semua yang orang tuanya telah lakukan. Tidak semua kebaikan adalah wujud nyata keikhlasan. Seperti yang pernah dia alami dengan keluarga Anil.
Kali ini Salman tidak mau gegabah. Dia akan memeriksa siapa yang telah membayar visanya. Tidak begitu saja menerima kebaikan yang mungkin akan berdampak panjang di kemudian hari. Bagi Salman yang bisa dia percayai hanyalah keluarga, Selo dan Tia. Tia!