ULANG TAHUN ALINEA

1388 Kata
Salman memeluk ibunya erat, memaksa agar air mata tidak terjatuh dari mata. Meyakinkan ibunya bahwa dia akan baik-baik saja. “Bu, aku akan baik-baik saja. Kita hanya jauh jarak, tapi aku akan menemponmu setiap hari.” Ibunya yang sudah bersimbah air mata tidak mampu lagi berkata. Menangkup pipi putranya, sekali lagi mencium keningnya. Salman akan jadi kebanggaannya di masa depan. Lalu Salman menuju ke Usman, “Jaga ibu dan adik-adik ya, aku akan segera kembali.” Selesai mengucapkan kalimat ini, dia lantas memeluk Usman. Dan disambut pelukan hangat oleh adiknya itu. Lalu dia mendekati Mehta dan memeluknya. Selama ini dia dan Mehta selalu tidak sepakat dalam banyak hal, meski begitu mereka saling menyayangi sebagai keluarga. “Jaga Ibu ya, jangan biarkan Anish dan Nitish kelaparan. Sediakan selalu makanan untuk mereka,” ucap Salman menggoda adiknya sambil mengacak kepalanya. Terakhir dia menuju Nitish,”Sekarang kau sudah besar, mulailah membantu Mehta dan Ibu lebih banyak lagi. Setuju?” “Kak, bisa beri aku uang. Setelah kau pergi aku akan sedih, mungkin dengan beberapa permen aku bisa menghilangkan kesedihanku.” Ucapan Nitish menghadirkan senyum di wajah ibu dan saudara-saudaranya. Salman menggelengkan kepala dan mengeluarkan beberapa Rupee untuk diberikan pada Nitish dan memeluknya. Terbayang oleh Salman, saat dia kembali mungkin Nitish telah berubah menjadi gadis dewasa. Salman melambaikan tangan pada semua orang dan menuju bis yang sejak tadi telah menunggunya. Sekali lagi menoleh pada rumah keluarga Khan yang sederhana, yang akan dia tinggalkan untuk waktu lama. Dengan janji, ketika dia pulang nanti, rumah ini akan menjadi lebih baik lagi. Bus pun mulai bergerak meninggalkan Ittahari membawa Salman pada mimpi dan cita-citanya yang tinggi. “Tia, aku berangkat menuju Khatmandu.” Sebaris pesan dia tuliskan pada Tia. Sementara Tia di belahan dunia yang lain sedang sibuk merayakan hari ulang tahun ke lima belas Alinea. Sebuah perayaan sederhana di rumah belajar milik Alinea. Dihadiri oleh anak-anak sekitar desa juga teman-teman akrabnya. Alinea memiliki banyak teman yang berhubungan baik bukan hanya dengan Alinea tapi juga dengan Tia. Meski Tia adalah pribadi yang tertutup namun dia tidak keberatan untuk berinteraksi dengan teman-teman Alinea. Rumah belajar itu terletak di tengah perkebunan wortel yang dibalut indah dengan suasana dingin khas puncak Bogor. Harmoni sempurna antara perkebunan wortel dan kebun bunga milik Tia. jaraknya sekita dua ratus meter dari rumah utama mereka. Acara ulang tahun Alinea dihadiri oleh seorang ustad yang merupakan tokoh desa sekitar. Ustad yang telah lama menaruh rasa pada Tia. Namun bertepuk sebelah tangan. Namun begitu hubungan Ustad Malik dan keluarga Tia tetap baik. Setelah acara doa oleh ustad Malik, maka pemotongan kue dilakukan oleh Alinea. Satu per satu potogan itu dibagikan kepada semua anak yang hadir. Anak-anak desa itu menikmati potongan kue juga berbagai makanan yang disajikan. Tia mengabadikan kegiatan hari itu dengan merekam melalui handycamnya. “Wiji!” panggil Tia pada pembantunya. Dan gadis muda itu bergegas mendekat pada Tia, “Ya, Bu” “Segera minta Mbok Supi dan Mak Enin untuk membawa lebih banyak lagi makanan dari dapur!” “Oh, itu juga masih banyak kok, Bu.” “Wiji, anak-anak ini akan menghabiskan segera. Lagi pula makanan itu memang sudah kita siapkan untuk mereka,” ujar Tia lembut. Tia menatap tersenyum pada anak-anak yang sedang berebut makanan dan juga pada Tia. Majikan yang Wiji kenal sebagai wanita murah hati. “Baik, Bu.” Wiji bergegas keluar dari rumah belajar Alinea menuju bangunan utama. Tidak lama kemudian dia bersama empat pembantu lain membawa nampan-nampan besar berisi makanan. Terlihat kue pie, lapis, dan aneka kue lainnya tersaji di atasnya. Sambutan gembira datang dari anak-anak itu dan juga teman-teman Alinea karena makanan yang baru saja tiba. Tia mengukir senyum bahagia, penuh syukur karena hari ini bisa berbagi dengan mereka. Dan Alinea semakin besar. Tia mengangkat ponsel, terlihat sebuah pesan dari Salman. “Aku sudah berangkat ke Khatmandu.” Tia menekan nonor Salman dan sesosok pria berwajah coklat tampan muncul di layar ponselnya. “Halo!” Sapa Salman. Tia tidak menjawab, dia mengaktifkan kamera belakang dan memperlihatkan kondisi meriah di rumah belajar Alinea. “Lihat, kami sedang berpesta. Hari ulang tahun Alinea. Bersama anak-anak yang dia ajar dan juga teman-temannya.” “Wew! Aku berharap bisa disana sekarang.” Tia tersenyum,”tentu saja kamu harus disini suatu hari nanti. Kau punya janji padaku.” Salman membalas dengan senyuman, namun doa di hatinya nyata. Ketika dia berhasil nanti, Tia adalah orang pertama yang ingin dia kunjungi. “Tentu, Tia. Baiklah, kau pasti sibuk. Kita akan berbincang lagi nanti. Aku sudah di dalam kendaraan menuju Khatmandu.” “Ok, jaga dirimu baik-baik ya.” Tia lalu memutuskan sambungan telepon. Dari arah belakang ternyata ustad Malik melihat sesosok pria di ponsel Tia. Meski Tia tidak menyadari bahwa ustad Malik sedang memperhatikannya. Ustad Malik mengenal Tia sejak pertama kepindahan mereka ke rumah itu. Rumah yang semula hanyalah bangunan kecil yang hampir rubuh. Namun Tia membeli bangunan itu berikut dengan area perkebunan sekitar. Dan Ustad malik adalah ulama yang diundnag untuk membaca doa sebelum rumah itu siap ditempati Tia dan Alinea. Perawakannya tampan dan sehari-hari memakai baju koko. Dia adalah tokoh yang cukup dihormati. Kesibukannya mengasuh pesantren membuat ustad Malik belum juga menikah. Hal lain, belum ada gadis yang membuatnya tertarik. Ketika melihat Tia pertama kali, dia langsung jatuh cinta. Sayangnya Tia tidak membalas cinta yang telah dinyatakan oleh Malik padanya. Sebersit rasa cemburu hadir di hati Malik, melihat Tia berbincang dengan seorang pria. Namun dia memilih diam karena sadar Tia bukan siapa-siapanya. Hanya sekedar tetangga. Acara itu berlangsung hingga sore hari. Namun beberapa saat setelah pemotongan kue, Tia izin pamit. Dia menyerahkan acara pada Allinea dan Wiji untuk menanganinya. Saat berjalan kaki kembali ke rumah utama, telp Tia berbunyi. Beep! Beep! Beep! Selo! “Tia, apakah aku mengganggu kesibukanmu?” “Oh, nggak apa. Kenapa?” “Aku snagat gugup, jika Salman tahu aku meminta bantuanmu tentang pembayaran visa itu. Mugkin dia akan membunuhku nanti.” “Ha … ha … ha …! Tidak mungkin dia melakukan itu, bukankah dia teman baikmu. Aku akan menjelaskan padanya nanti.” “Boleh aku bertanya sesuatu jika kau tidak keberatan?” “Tentu, silahkan.” “Kenapa kau begitu baik pada Salman, dna percaya dengannya. Bukankah kalian belum pernah berjumpa?” Pertanyaan Selo sulit untuk dijawab oleh Tia.pertanyaan yang sama hadir dari Alinea. Mempercayai orang yang belum pernah dia temui. Tapi Tia adalah wanita yang percaya pada hati. Salah satu kekuatannya dalam menulis cerita bagi novel-novelnya adalah dengan membaca hati dari tokoh rekaannya. “Maksudmu dengan memberi Salman uang?” “Ya, dan juga sikapmu yang sangat baik padanya. Tidakkah kamu takut jika sebenarnya dia tidak seperti yang sesungguhnya?” Selo mencecar Tia dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran dengan kebaikan wanita ini. “Dimana aku akan menderita kerugian jika ternyata Salman berbohong?” “Ya, tentu uang dan waktu,” jawab Selo ragu. Tia telah sampai di rumah utama setelah berjalan beberapa waktu. Dia mengambil duduk di sebuah kursi rotan yang terletak di bagian teras rumah. Sambil melihat pemandangan sekitar, kabut tipis mulai turun. Udara Bogor yang semula hangat kembali dingin terasa. Dia melanjutkan pembicaraannya dengan Selo. “Waktu, hmm … aku tidak merasa rugi waktu jika ternyata Salman berbohong. Karena dari hubungan dan pembicaraan kami, aku belajar banyak hal. Dan juga melihat banyak hal. Beberapa gambar buatan Salman akan menjadi ilustrasi terbaru novelku. Dan kisah Salman akan menjadi inspirasiku.” “Salman memberimu sebanyak itu?” tanya Selo heran. Selama ini dia mengenal Salman sebagai pria yang selalu pasif pada wanita. Sebuah kejutan bagi Selo bahwa hubungan Tia dan Salman berlangsung sangat baik. Lebih dari yang dia pikirkan selama ini. “Dan uang tadi kamu bilang? Dengar Selo, aku pernah hidup sulit. Tanpa uang, rumah dan makanan. Au hanya memiliki diriku dan Alinea. Jadi uang yang hari ini ada padaku memang bukan hanya untuk diriku sendiri. Uang itu untuk digunakan. Jika uang yang ada padaku kemudian bisa membantu Salman, kenapa aku harus berharap uang itu kembali?” Steiap pernyataan Tia membuat Selo tercengang. Dia pernah mendengar tentang seorang manusia yang dermawan dan tidak peduli dengan hitungan uang di kantongnya. Tapi baru kali ini, dia menemukan secara nyata. Hati Selo semakin jatuh pada Tia. Sebagai pengagum yang berharap cinta. Namun Selo memilih untuk memendam semua rasa itu sendiri. Tidak ingin menjadi perintang bagi hubungan indah antara Salman dan Tia. Meski Tia dan Salman sendiri, tidak memberi nama untuk hubungan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN