Dia tiba di kamar asrama, tempat dimana dia mulai membangun mimpi beberapa bulan lalu. Dan hari ini dia datang lagi untuk sesuatu yang lebih besar. Keberangkatan ke UK. Salman menyusur tangga asrama menuju kamarnya, sepanjang lorong nampak sepi. Belum semua penghuni datang karena masih dalam musim liburan sekolah.
Tiba di lantai dua, Salman mengeluarkan kunci dari tas ranselnya. Masuk ke ruangan gelap dan terasa dingin. Perubahan udara begitu berbeda antara Ittahari dan Khatmandu. Dia menyalakan lampu dan memandang sekeliling. Nampak sama! Dibukanya jendela kamar dan membiarkan udara segar masuk memenuhi ruangan.
Perutnya mulai terasa lapar, sepanjang perjalanan dia tidak memakan sesuatu barang sedikit. Aroma sedap samar tercium di hidung Salman. Ditengoknya jam yang menunjukkan pukul sebelas siang. Pasti Kumar sudah menyiapkan makan siang.
Salman melangkah menuju dapur dan kembali menutup pintu kamarnya. Sesampai disana dilihatnya Kumar sedang sibuk dengan sebuah penggorengan yang asapnya mengepul.
“Aroma dari tempat ini selalu membuatku lapar,” sapa Salman.
“Hei! Kapan kau datang? Aku sedang memasak ikan dan sayuran. Tidak banyak karena baru beberapa orang saja yang kembali ke asrama. Mau makan sekarang?” tanya Kumar ramah.
“Ya, aku sangat lapar. Perjalanan dari Ittahari yang panjang menghabiskan seluruh energiku.”
Tawa tertahan muncul di wajah Kumar. Karena dia tahu bahwa Salman tidak menyukai makanan yang dijual sepanjang jalan. Hanya makanan dari dapur asrama dan rumah yang bisa membuat Salman merasa kenyang.
Kumar menyajikan sebaskom sayur, sepiring besar ikan dan sepinggan nasi.
“Makanlah lebih dulu, sebentar lagi teman-temanmu akan datang.”
“Terima kasih, Kumar.”
Salman mulai menikmati makanan dengan lahap, perutnya melompat bahagia dengan sajian makanan dari Kumar.
“Kau datang terakhir tapi mendapat makanan lebih dulu? Curang!” Selo mendekat dan melompat ke arah Salman seolah ingin menerkamnya.
Dia langsung menempati kursi sebelah Salman, dan mulai mengambil makanan. Kumar tersenyum melihat tingkah Selo yang selalu ekspresif seperti biasa.
“Kapan kau datang? Kenapa tidak menemuiku? Tuan Firoz ada di kamarmu?” Selo memberondong Salman yang sedang menikmati makanan. Salman melanjutkan makannya tanpa menoleh ke arah Selo.
Dan Selo tidak peduli dengan sikap Salman, lalu dia pun mulai makan. Sampai Salman menyelesaikan makanannya, mencuci tangan dan baru mulai menjawab.
“Aku baru saja datang, lalu mencium aroma sedap dari dapur Kumar. Perutku langsung berteriak meminta bagian.”
Kumar tersenyum dengan pujian Salman.
“Aku sudah memeriksa jadwal penerbangan, yang termurah akan kita dapatkan minggu depan,” ujar Selo.
“Selo, besok kita ke kantor kedutaan dan memastikan dulu. Bahwa semua data benar, bagaimana visa itu bisa lunas tanpa pembayaran.”
Selo terdiam, berharap bahwa semua berjalan sesuai rencananya.
“Mungkin salah satu fasilitas karena kau lulus terbaik. Jadi konselor memberikanmu pembayaran visa?”
“Tidak mungkin! Jika iya, pasti mereka menyampaikan padaku. Sudahlah! Besok kita kesana memastikan. Sekarang aku ingin tidur, badanku terasa pegal setelah berjam-jam duduk di dalam bus.”
Salman beranjak dari meja makan dan meninggalkan Selo yang terdiam.
“Kau pasti tahu sesuatu,” ujar Kumar pada Selo.
“Tapi aku harus diam,”
“Salman akan tahu, wanita itu?”
“Wanita yang mana?”
“Jangan pura-pura bodoh, wanita yang sedang dekat dengan Salman. Dia yang membayar visa untuknya?”
“Ah! Jangan suka menduga Kumar! Terima kasih makanannya, aku akan kembali ke kamar sekarang!”
Selo keluar dapur dan menyusur lorong asrama menuju ke kamarnya.
Sementara Salman, tanpa mandi langsung merebahkan diri. Mengambil ponsel dari kantongnya,
“Tia, aku sudah tiba di Khatmandu.”
Sesudah mengirimkan pesan, Salman jatuh tertidur pulas tanpa menunggu jawaban dari Tia.
Dan Selo, gelisah di kamarnya. Kekhawatiran jika Salman akan marah dan tersinggung dengan apa yang dia lakukan. Namun hal lain, mereka perlu berangkat segera.
Selo mengangkat ponsel, semula untuk mengatakan pada Tia untuk berbicara pada Salman tentang bantuannya. Namun Selo justru melihat pesan Tia masuk ke ponselnya,
“Kirimkan aku alamat lengkap asrama kalian!”
Tia? Meminta alamat? Untuk apa? Namun tanpa ragu Selo memberikan. Dia merebahkan diri di kasur, menatap langit asrama dan merasakan dinginnya udara. Dengan sebaris mantra pengusir rasa Selo memejamkan mata.
“Tia milik Salman,….”
------------------------------------------------------------
“Salman! Salman!”
Tok! Tok! Tok!
Berulang kali teriakan dan ketukan terdengar. Mengganggu tidurnya yang masih pulas, badannya terasa nyeri.
“Ya! … Tunggu …!”
Dengan segan Salman beranjak ke pintu dan membukanya. Nampak Kumar dengan seorang pria yang membawa banyak kardus.
“Ada kiriman untukmu,” ujar Kumar.
“Kiriman? Aku tidak memesan barang,” ujar Salman.
Dia tercengang dengan banyaknya kardus yang dibawa oleh pria itu, lebih dari lima kardus ukuran sedang. Semuanya masih dalam kondisi di lakban rapi.
“Anda Tuan Salman?”
“Betul,”
“Apakah ini nomor telepon anda?” pria pembawa bingkisan itu memperlihatkan nomor.
Dan nomor itu memang milik Salman.
“Betul, tapi aku tidak memesan barang, Pak. Lalu bagaimana untuk membayarnya?” tanya Salman cemas.
“Semua sudah dibayar, Tuan. Ini adalah kiriman khusus dan kilat. Seseorang memesan dari toko kami yang tidak jauh dari sini. Dan meminta kami mengirim segera.”
“Apa isinya?” tanya Salman heran.
“Saya juga tidak tahu, saya hanya bertugas mengantar saja.”
“Salman! Sudah terima saja dulu. Mungkin seseorang mengirimimu semua barang ini.”
Kumar mulai tidak sabar dengan sikap Salman yang terlalu berhati-hati.
“Baiklah, masukan semua ke dalam ruanganku. Tinggalkan nomor toko kalian. Jika ternyata isinya barang berbahaya, aku akan kembalikan segera!”
“Semua identitas toko kami ada di setiap kemasan karton. Jangan khawatir Tuan, toko kami tidak menjual barang berbahaya.”
Pria itu dan Kumar memasukkan delapan kardus ukuran besar. Meminta tanda tangan Salman sebagai tanda terima dan berpamitan pergi.
Sementara Kumar dan Salman, berdiri memandangi semua kardus di hadapannya.
“Siapa menurutmu yang mengirim?” tanya Salman pada Kumar.
“Seorang penggemar atau saudara?” ujar Kumar ringan.
“Aku tidak punya keluarga yang sebaik ini. Apalagi di Khatmandu.”
“Bisa kita buka dulu dan pastikan apa isinya?” usul Kumar.
“Baiklah,”
Salman membuka salah satu bingkisan yang paling atas, berukuran paling kecil. Isinya adalah vitamin, beberapa minyak kayu putih dan peralatan mandi.
“Apa ini, Kumar?”
“Kau bisa lihat sendiri! Apa perlu aku menyebutkan satu per satu?” sahut Kumar kesal
“Kenapa orang mengirimkan hal seperti ini untukku?”
“Iya, kenapa ya? Aku berharap dolar di dalam karton!” Kumar benar-benar kesal dengan reaksi Salman.
Dengan tidak sabar Kumar mengambil karton berikutnya dan membuka, kali ini ukurannya lebih besar. Nampak berbagai macam s**u kotak aneka rasa berjajar rapi.
“s**u?” Salman semakin heran.
“Aku curiga, nampaknya ibumu yang mengirimkan ini semua.”
Salman menggeleng, tidak mungkin. Ibunya bahkan mungkin tidak tahu dimana alamat lengkap asrama Salman. Salman duduk dan tidak menerukan membuka bingkisan berikutnya.
“Aku mau mandi!”
Nampaknya Salman perlu menyegarkan diri. Dia terlalu rumit memikirkan apa yang terjadi padanya dua hari terakhir.