Salman masuk ke kamar Selo dan melempar sebuah bantal ke arah Selo tidur. Teman lain yang satu ruangan dengan Selo belum kembali dari masa liburan.
Buk!!!
“Aww!” Selo yang sedang tidur terkejut dan membuka mata tiba-tiba.
Dia melotot ke arah Salman yang tersenyum berdiri di dekat ranjang tidurnya.
“Kenapa kau ini?” protes Selo.
“Ayo lekas ke kamarku!” ujar Salman sambil melangkah keluar tanpa mendengar Selo yang sedang mengajukan protes.
“Hey! Hey! Hey! Tuan besar, Salman! Kau sedang memerintahku?” Selo mengajukan keberatan.
Sambil mencari sandal dan ponselnya, Selo berjalan mengikuti Salman. Menuju ke kamarnya dengan mata terasa pedih karena baru saja terbangun dari tidurnya.
Sampai di kamar Salman, Selo tertegun dengan banyaknya kardus di kamar Salman. Dia mengusap kardus itu satu per satu. Nampak bahwa itu bingkisan dari sebuah toko karena tertera label di setiap kotaknya.
“Banyak sekali, kau baru saja belanja. Apa isinya?” tanya Selo pelan, tanpa menatap Salman.
“Tentu saja mayat! Kau pikir?”
Jawaban Salman sukses membuat Selo melihat ke arahnya dan tersenyum.
“Kenapa tidak kau buka semua? Kenapa orang mengirim hadiah seperti ini? s**u dan peralatan mandi. Apakah dia tahu kau tidak pernah mandi?”
Selo melihat dua buah kardus yang telah terbuka. Namun selorohnya tidak berhasil membuat Salman tertawa. Salman menjatuhkan diri di tempat tidur. Dengan kaki di lantai, memejamkan mata.
“Siapa Selo?” tanya Salman serius.
“Siapa apanya?” sahut Selo sembari mengambil sebuah s**u dan mulai meminumya.
“Kau sudah minum susunya? Kita bahkan tidak tahu siapa pengirimnya.”
“Kau tidak tahu siapa pengirimnya?” tanya Selo lugu.
“Selo! Kalau aku tahu tentu aku tidak perlu datang padamu.”
“Ah, ya. Betul juga, karena aku yang akan menyelesaikan semua masalahmu.”
Salman tersenyum karena faktanya, Salman yang selalu menyelesaikan masalah Selo.
Beep! Beep! Beep!
Tia!
“Halo,”
“Salman, sudah kamu terima semua yang aku kirim?”
“Tia? Jadi kamu yang kirim semua ini untukku? Kenapa?”
“Hmm, aku ingin memberimu kejutan kecil. Sesuatu yang bermanfaat, karena jika barang lain tentu sulit. Aku tidak tahu berapa ukuranmu.”
Salman duduk tercengang di ranjangnya, Selo dengan tatapan bingung mendekati Salman dan mendekatkan telinga ke ponsel yang ada di telinga Salman. Mencoba untuk mendengar percakapan Salman dan Tia.
Salman melirik sengit pada sahabatnya itu.
“Dari mana kamu mendapat alamatku?” tanya Salman
“Tentu saja dari Selo,” jawab Tia setengah tertawa.
Salman menengok marah ke arah Selo. Menangkap tatapan Salman, Selo memperlihatkan semua giginya dan mengangkat kedua tangan.
“Tia, selama ini kamu sudah sangat baik padaku. Kamu tidak perlu melakukan ini.”
“Hanya sebuah hadiah kecil, semoga bermafaat ya,”
Tia memutuskan sambungan telepon. Air mata menetes di wajah Salman.
“Hey! Jangan cengeng! Kenapa menangis? Biasanya aku melihat orang tersenyum menerima hadiah.”
Salman menatap semua tumpukan kardus itu dengan rasa pilu,
“Selo, aku belum pernah merasa begitu diterima dan dicintai. Karena diriku, dengan apa adanya diriku,” ucap Salman, suaranya bergetar menggambarkan ekspresinya.
“Dan oleh seorang wanita pula! Ha … ha … ha …!”
Selo tertawa puas dengan candaannya. Sementara Salman hanya menanggapi dengan senyuman.
Mereka mulai membuka satu per satu kardus bingkisan dari Tia. Aneka makanan kering, biskuit, dan keperluan sehari-hari dalam jumlah banyak. Kumar yang sedang melintas berhenti di depan pintu kamar Salman.
“Jadi kalian membuka setelah aku pergi?!”
“Kumar! Masuk! Kau ingin sesuatu, ambillah, semu ini terlalu banyak jika untuk dikamarku saja.”
Ketika mereka bertiga sibuk membuka kardus-kardus kiriman Tia dan mulai menatanya. Firoz datang,
“Sedang apa kalian di kamarku?”
Pertanyaan Firoz mengejutkan mereka. Dengan tergesa, Selo menggeser kardus yang ada di dekat ranjang Frioz.
“Tuan, lihat! Salman menerima banyak sekali bingkisan! ” seru Selo gembira.
Firoz melihat ke arah kardus-kardus itu. Memang sangat banyak, lalu dia menoleh pada Salman.
“Siapa yang mengirim?” tanya Firoz datar.
“Wanita itu, Tuan! Yang pernah membantu Salman. Namanya Tia!” Selo terus menyela Salman dan memberi jawaban pada Firoz.
Firoz menatap semua bingkisan itu.
“Berhati-hatilah pada orang yang baru saja kau temui. Apalagi kalian belum pernah bertemu. Kadang kala kejahatan bersembunyi dibalik kebaikan.”
Selesai mengatakan itu, Firoz berjalan ke arah ranjang tidurnya dan mulai membersihkan serta menata beberapa barang.
Sementara Selo dan Kumar membenahi semua, Salman kembali merenung.
Dengan semua pemberian yang Tia kirim, juga kebaikannya. Haruskah Salman masih meragukan kebenaran dan ketulusan Tia?
***
Malam hari setelah makan malam, saat suasana kembali sepi. Salman telah berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya dan Firoz di ranjang sebelah juga sedang sibuk dengan ponselnya. Namun tiba-tiba Firoz melemparkan pertanyaan yang membuat Salman terkejut.
“Jadi, hubunganmu cukup jauh dengan wanita itu?”
“Maksud anda, Tuan?”
“Dengar Salman, wanita apalagi orang asing yang baru kau kenal. Mustahil dia melakukan banyak hal tanpa ada rasa atau tujuan. Jika tujuan maka kau harus berhati-hati. Namun jika rasa, pertimbangkan lagi.”
“Tidak keduanya, Tuan. Tia adalah wanita yang sangat baik. Aku melihat banyak cinta dan kasih di matanya. Ketulusan di wajahnya belum pernah aku lihat di wajah perempuan lain selain ibuku. Kami juga tidak terikat hubungan cinta. Hubungan kami … tanpa nama.”
Firoz terdiam dengan penjelasan Salman. Meski kelihatan tidak masuk akal, namun Salman adalah orang yang cerdas untuk bisa mengenali seseorang.
“Kapan kalian akan berangkat ke UK? Konselor menelponku, mereka bilang visamu telah disetujui.”
“Besok aku akan ke kantor kedutaan. Sesuatu yang aneh terjadi dengan visaku. Ada pelunasan dari seseorang. Sementara ayahku masih sibuk mengumpulkan uang.”
Firoz memejamkan mata, meski dalam hati dia hampir yakin itu pasti Tia. Namun cukup perdebatan malam ini, dia tidak ingin Salman menganggapnya terlalu ikut campur urusan pribadi. Perlahan, Firoz tertidur dalam pelukan dingin Khatmandu.
Sementara Salman mulai berbincang dengan Tia dalam chat.
“Tia, kenapa kau kirimkan semua ini?”
“Sudah aku bilang, aku ingin memberimu hadiah.”
“Hadiah untuk apa?”
“Kemarin, Alinea merayakan ulang tahunnya ke lima belas. Dan perayaan itu membuatku teringat padamu. Karenanya aku ingin memberi sesuatu.”
“Tapi, kebaikanmu padaku sangat berlebihan.”
“Salman, bisakah kita lupakan ini dan jangan bahas lagi. Lain kali aku akan meminta pendapatmu jika ingin mengirim sesuatu. Nampaknya kamu sangat tidak berkenan.”
“Bukan begitu, aku sangat memerlukan semua itu dan juga sangat berterima kasih. Tapi, aku tidak ingin kau mengeluarkan banyak uang untukku.”
“Untuk sahabat, uang tidak berarti.”
Sahabat? Jadi bagi Tia, Salman masih berbentuk sahabat. Dan bagi Salman, Tia adalah jiwanya yang kedua. Hatinya dan juga semangatnya saat ini.