KEBOHONGAN SELO

1084 Kata
Pagi Khatmandu, udara nampak cerah. Matahari mulai menghangat meski tetap terasa dingin. Selo dan Salman sedang dalam perjalanan menuju kantor kedutaan yang tidak jauh dari asrama mereka. “Kita akan tahu, apa yang terjadi dengan visaku.” Ucapan Salman membuat Selo menelan ludah. Karena dia tahu yang sebenarnya. “Aku sungguh gugup menghadapi Salman hari ini.” Sebaris pesan dia kirimkan pada Tia. Tanpa balasan,…. “Apa yang akan kau lakukan jika tahu orang yang membayar visamu?” Salman melambatkan langkah dan menoleh pada sahabatnya. “Berterima kasih tentu. Tapi aku ingin sebuah alasan.” “Mungkin alasannya sederhana saja, dia ingin membantumu.” “Ya, dan bantuan tidak mungkin cuma-cuma. Kita perlu tahu siapa dibalik itu dan apa tujuannya. Aku sudah bosan dengan perilaku dusta dunia.” Mata Salman melayang jauh, mengingat bahwa selalu ada tujuan dibalik kebaikan seseorang. Lalu meneruskan langkahnya dengan cepat dan Selo melihat Salman sambil menggaruk kepala. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan sahabatnya. Dalam hati Selo berharap semoga gadis penerima pembayaran uang visa sedang berlibur hari ini. Semilir angin diantara dedaunan mengiring langkah kedua pemuda Nepal yang sedang semangat menyusun mimpi dan harapan. Jalanan Khatmandu mulai padat oleh lalu lalang kendaraan dan orang yang beraktivitas. “Kenapa diam?” tegur Salman pada Selo yang sejak tadi hanya bicara secukupnya. Biasa, ada saja yang Selo perbincangkan saat mereka berdua. “Kenapa harus bicara?” Selo berkata ketus pada Salman. Tawa Salman pecah melihat Selo sewot dengan tegurannya. Mereka hampir sampai di kantor kedutaan. Dari luar nampak sepi, karena kondisi masih pagi. Salman bergegas menuju meja informasi untuk menyampaikan keperluan mereka pada wanita yang sedang berjaga disana. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa wanita dibalik meja. “Saya ingin mengambil visa, tapi saya perlu mengkonfirmasi sesuatu pada penerima pembayaran.” “Maksud anda kasir?” tanya wanita itu lagi. “Ya, betul,” “Silahkan untuk pengambilan anda bisa langsung menuju loket pengambilan dokumen dan untuk konfirmasi pembayaran anda bisa menuju loket pembayaran.” “Terima kasih.” Salman menuju ke loket pembayaran di sisi sebelah kanan gedung. “Salman! Untuk apa mengkonfirmasi pembayaran. Sudah ambil saja langsung visanya.” Selo mulai gugup dengan apa yang Salman lakukan. “Kamu mau kalau masalah timbul di belakang hari?” Selo menggeleng dan mengangkat bahu. Mengikuti Salman dari belakang. ‘Semoga gadis itu tidak bertugas hari ini.’ Mereka sampai di meja kasir dan Selo semakin gugup karena yang dilihatnya adalah gadis penerima coklat beberapa hari lalu. Selesai sudah! “Selamat pagi, silahkan Tuan, pembayaran visa?” gadis itu dengan ramah menyapa Salman. Selo yang berdiri di belakang membalik badan, berdiri berlawanan. Agar gadis kasir itu tidak mengenali dirinya. “Tidak, saya ingin mengkonfirmasi sesuatu. Tolong periksa kembali apakah visa ini sudah resmi dibayar dan siapa yang membayar, saya ingin tahu.” Salman memberikan selembar kertas tanda terima pada gadis di loket itu. “Baik, sebentar saya periksa. Silahkan tunggu!” Salman menghadap ke arah Selo,”kita akan tahu sekarang.” Selo tersenyum gugup tanpa kata. Hatinya bergemuruh, dia khawatir Salman akan sangat marah jika tahu tindakannya. “Tuan, visa anda memang telah dibayar. Ini anda bisa lihat tanda pembayarannya atas nama tuan Selo Abdullah.” Salman menoleh pada Selo heran sebelum melihat dengan teliti di kertas itu. Sebuah tanda tangan jela dibubuhkan atas nama Selo. Tanpa memalingkan wajah, Salman menepuk Selo. “Selo! Lihat! Ini atas namamu? Kenapa bisa begitu?” Selo membalikkan badan dengan terpaksa. Gadis kasir yang mendengar pembicaraan mereka merasa terganggu dengan pernyataan Salman. “Karena memang Tuan ini yang membayar. Tentu saja namanya yang tertera. Saya ingat betul, Tuan ini yang memberikan pembayaran,” ujar gadis itu mengajukan komplain atas kalimat Salman. Tentu dia tidak lupa pada pria yang memberinya coklat setelah pembayaran. Selo tersenyum manis kaku pada gadis itu dan Salman. Sementara Salman menatap bingung pada Selo. “Baik, terima kasih,” ujar Salman pada gadis kasir itu. Segera dia mencengkeram lengan Selo menuju sudut lain gedung. “Apa maksudmu?!” tanya Salman penuh emosi kepada Selo. “Tunggu! Jangan marah dulu. Aku bisa jelaskan … kita perlu berangkat dengan segera. Karena jika kita berangkat di bulan terakhir, itu artinya kita akan masuk pada angkatan selanjutnya. Menunda dua bulan seperti menunda setahun. Kita akan rugi waktu dan perlu uang lebih banyak untuk biaya hidup selama menunggu.” “Tapi kenapa sejak kemarin aku bingung kau diam saja?! Kau membuatku seperti orang bodoh!” “Kan aku sudah katakan padamu, sudahlah jangan kau cari tahu. Ambil saja visa itu dan kita berangkat.” Salman melihat Selo sembari berpikir. Selo juga belum bisa menghasilkan uang. Untuk kebutuhan dia masih bergantung dari ayahnya. Berarti uang yang Selo gunakan adalah uang ayahnya. “Ayahmu tahu, kau membayar visa untukku?” “Ya, dia tahu. Dia yang meminta kita berangkat segera.” Salman mengangguk, semua nampak mulai masuk akal. Dan Salman akan mengambil uang visa itu sebagai hutang untuk dibayar kemudian hari nanti. “Ayo, kita ke loket pengambilan. Sebelum banyak orang dan mulai mengantri.” Salman beranjak menuju loket pengambilan. Selo mengambil nafas lega, bahwa Salman percaya dengan apa yang dia karang. Semoga masalah pembayaran visa selesai sampai disini. Dia mengirimkan pesan pada Tia. “Sempurna! Salman tidak curiga.” Mereka beranjak pulang ketika matahari mulai meninggi, waktu menjelang makan siang. Perut keduanya mulai terasa lapar. Terbayang dapur Kumar dengan masakan yang lezat menggoda. Salman mengangkat ponselnya ketika mereka mulai masuk ke jalanan sepi menuju asrama. Menekan sebuah nomor dan mulai berbicara. “Selamat siang, Paman. Aku ingin mengatakan terima kasih kau sudah mengijinkan Selo menggunakan uangmu untuk pembayaran visaku. Setelah ayah mengirimkan uang, akan aku kembalikan segera.” “Uang apa? Apa maksudmu? Aku memang meminta kalian untuk berangkat dengan segera. Tapi membayar visa untukmu, itu tidak mungkin, Nak. Kau tahu aku juga bukan orang yang cukup kaya untuk membayar sebanyak itu.” Selo yang menyadari bahwa Salman sedang menelpon ayahnya, bergegas meninggalkan Salman di belakang dan berjalan cepat menuju dapur Kumar. Salman mengulurkan tangan untuk menahan kerah baju Selo namun gagal. “Oh, baik Paman. Sepertinya ada salah komunikasi di sini. Aku akan menanyakan lagi pada Selo.” “Kalian sudah mengambil visa pagi ini? segera atur keberangkatan, Nak. Lebih baik bergegas agar kalian lebih hemat waktu dan biaya.” “Tentu, Paman. Aku akan atur sebaiknya. Terima kasih, Paman.” Salman menutup sambungan telepon. Wajahnya mulai terasa panas. Untuk kedua kali Selo mempermalukannya sepagian ini. Dia melangkah cepat menuju dapur. Kali ini dia akan memaksa Selo menjelaskan semuanya dengan tuntas! “Selo!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN