“Selo!” Salman muncul di pintu dapur dengan wajah merah padam. Matanya nampak berkabut oleh kemarahan.
“Ya, berhentilah berteriak. Aku sedang menikmati makanan.”
Salman menatap meja depan Selo, hanya ada segelas air putih di sana. Dia kemudian mengambil tempat duduk di depan Selo, berhadapan.
“Katakan padaku! Siapa yang membayar visa? Kau tidak memiliki uang sebanyak itu!”
“Kau meremehkanku?!” ujar Selo berpura-pura marah.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Selo! Beri aku jawaban!”
Melihat ketegangan diantara dua sahabat itu, Kumar mendekat ke meja mereka dan berdiri di sisi samping.
“Kalian mau makan sekarang?”
Keduanya menoleh dan melotot ke arah Kumar. Membuatnya tersenyum mengangkat tangan.
“Ok! Ok! Tenang, tatapan kalian seperti ingin memakanku. Aku hanya menawarkan, jika kalian tidak ingin makan nggak apa-apa. Tapi kalian ada di dapurku dan tugasku adalah memberi kalian makanan dan ….”
Kumar berhenti berbicara ketika tatapan mengancam muncul di wajah keduanya. Perlahan Kumar mundur dan kembali sibuk di dapur sambil mendengar percakapan keduanya.
“Katakan!” sekali lagi Salman menggertak Selo.
Beep! Beep! Beep!
Ponsel Selo berbunyi. Selo sedikit bernafas karena memiliki kesempatan untuk mengalihkan perhatian Salman. Tapi itu panggilan dari … Tia!
“Halo,” sambil berkata Selo melirik ke arah Salman.
“Apakah dia marah padamu?” tanya Tia.
“Dia sedang bersiap memakanku sekarang.”
Salman menangkap pandangan Selo yang melirik padanya. Dia memajukan badannya meraih ponsel Selo tanpa aba-aba, Selo yang terkejut tidak sempat mengelak.
“Hey …!” Selo berhenti dan terdiam melihat pandangan mata Salman yang melihat tajam ke arahnya penuh ancaman.
“Tia?” bisik Salman lirih melihat ke ponsel Selo.
“Jadi Salman marah padamu? Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Tia yang mengira bahwa dia masih berbicara dengan Selo.
Salman mengerutkan kening. Matanya penuh ancaman meminta Selo tetap diam.
“Mengatakan apa, Tia?” ucap Salman pada Tia.
“Salman?!”
“Ada apa? Kenapa dengan kalian berdua.”
“Hmm,….” Tia terdengar ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Kau yang membayar visaku?!” Salman menebak langsung.
Dengan tenang Tia menjawab,”Ya.”
Salman memutuskan sambungan telepon. Dan meletakkan dengan kasar ke meja, ponsel milik Selo. Dia lalu beranjak menuju kamar. Tanpa memperdulikan Kumar dan Selo yang berteriak memanggilnya.
“Salman! Kau belum makan siang!” teriak Kumar pada Salman yang mulai berjalan menjauhi dapur.
Selo menatap ponselnya di meja dengan sedih.
“Kenapa dia?” tanya Kumar pada Selo.
Merasa tidak mendapat jawaban, Kumar meneruskan kegiatan menyiapkan makan siang. Sebentar lagi para penghuni asrama akan menyerbu dapurnya. Sementara Selo kembali melakukan panggilan pada Tia.
“Halo, Tia. Salman marah padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku telah mempermalukannya di hadapanmu. Bukan begitu?”
“Aku akan bicara dengannya nanti. Biarkan dulu amarahnya mereda. Ok, tenang saja. Aku akan membereskan semuanya.”
Tia memutus sambungan telepon. Kumar menambahkan air putih di gelas Selo.
“Mau makan sekarang?”
Selo tanpa jawaban, meminum habis air di gelasnya dan berlalu keluar dapur Kumar tanpa kata. Kumar hanya bisa menggeleng dengan adegan drama yang baru saja diihatnya.
Melewati kamar Salman yang tertutup rapat, Selo bahkan tidak berani bernafas. Dia mungkin mengecewakan Salman. Dia tahu, Salman adalah orang yang tidak mengharapkan belas kasihan orang lain. Namun Selo melakukan ini untuk kebaikan sahabatnya.
Sambil menggaruk kepala, Selo berlalu menuju kamarnya.
Sementara Salman di dalam kamar berbaring terdiam. Tia! lagi yang menjadi penolong baginya. Dia tidak marah pada Selo, hanya saja dia merasa malu untuk menerima bantuan dari Tia. Karena uang untuk pembayaran ayah Anil pun sampai sekarang belum juga bisa dia kembalikan.
Salman memejamkan mata, menarik nafas, berusaha mengusir semua sesak yang saat ini dia rasakan. Keberhasilan, kesulitan, kebahagiaan, kesedihan berlomba datang dalam hidup Salman. Dalam sekejap semua berubah drastis.
Dia berusaha menenangkan diri, saat ponselnya kemudian berbunyi.
Beep! Beep! Beep! Tia,
“Halo,” ucap Salman perlahan.
Dia kehabisan energi dan lelah dengan semua yang dirasakan sepagian ini.
“Kamu masih marah?” tanya Tia perlahan.
“Aku tidak marah, padamu atau Selo. Aku marah pada diriku sendiri.”
“Maaf ya, aku tidak bermaksud ikut campur urusanmu. Hanya saja ketika Selo mengatakan kamu dalam kesulitan, instinc-ku tergerak untuk membantu.”
“Ya, tidak apa Tia. Hanya saja aku menyesal, kenapa bahkan dalam keberhasilan aku masih merepotkan orang lain.
“Salman, aku temanmu. Bukan orang lain. Apa salahnya aku membantu? Dan, aku disini memiliki lebih dari cukup uang untuk membantumu.”
“Ya,….”
“Kamu marah?”
“Tidak, aku sedikit sedih. Terima kasih atas bantuanmu. Selo yang mengatakan padamu bahwa aku perlu uang?”
“Ya, Selo menjelaskan. Tapi selebihnya, aku membaca dari caramu bicara. Aku hanya ingin membantu tanpa tujuan tertentu. Tolong maafkan aku ya,”
“Ya, Tia. jangan khawatir. Semua baik-baik saja.”
“Kau masih marah atau sudah memaafkan aku?”
“Aku memaafkanmu.”
“Sungguh?”
“Ya,aku tidak punya alasan untuk marah atas kebaikan seseorang.”
“Nampaknya kamu masih marah.”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Tia terdiam beberapa saat,
“Buktikan kalau kamu sudah tidak marah?”
“Caranya?” Salman mulai bingung dengan permintaan Tia yang menurutnya sangat aneh.
“Dengan menerima hal lain dariku.”
“Hal lain?” Salman semakin bingung.
“Terima hadiahku yang lain.”
“Cukup, kau sudah memberiku terlalu banyak. Terima kasih, Tia.”
“Tidak, kalau kamu tidak menerima itu artinya kamu masih marah padaku.”
Salman menarik nafas panjang. Wanita selalu sulit untuk dimengerti dan wanita yang satu ini, lebih sulit lagi untuk dipahami.
“Baiklah, katakan.”
“Aku akan memberi hadiah bagi keberhasilanmu meraih beasiswa dan menjadi lulusan terbaik.”
“Dalam bentuk?”
“Aku akan membelikanmu tiket keberangkatan dari Khatmandu ke UK untuk minggu depan.”
“Tidak! Tidak! Tia, ini sudah berlebihan. Seorang pria tidak boleh menerima terlalu banyak dari seorang wanita. Seorang pria harus mandiri dan tidak boleh menjadi benalu. Lupakan!”
“Jadi kamu masih marah padaku?”
“Tia … tolonglah, jangan membuatku merasa lebih tidak berguna lagi sekarang. Kamu memberiku terlalu banyak.”
“Salman, sebagai penulis yang menuliskan banyak kisah. Aku percaya bahwa hidup ini adalah tentang sebuah perputaran. Kita sering kali di atas dan kadang kala di bawah. Aku pernah merasakan dimana bantuan seseorang sangat berarti bagiku. Jika sekarang aku di atas dan bisa membantu orang lain, apa salahnya.”
“Tapi aku seorang pria dan … kita belum lama saling mengenal. Kamu terlalu baik dan percaya padaku.”
“Aku pernah katakan padamu? Bahwa yang sudah kita kenal lama pun bisa menjadi penjahat dan pemberi luka bagi hidup kita. Hubungan bukan tentang lama dan sebentar. Bukan tentang usia juga bukan tentang jauh atau dekat. Ini adalah tentang hati yang percaya.”
Salman terdiam lama, semua yang Tia katakan berusaha dia pahami. Kata-kata yang selalu dalam dan penuh arti.
“Tentang hati dan rasa,….”