“Kau akan memaafkanku?”
Dengan suara bergetar karena perasaan yang bercampur aduk, Salman menjawab.
“Ya, aku akan menerima tiket yang kau berikan.”
Tersenyum Tia di seberang sana.
“Baiklah, aku rasa lebih baik jika kamu dan Selo yang menentukan penerbangan dan informasikan padaku tagihannya. Aku akan membayar dari sini ya.”
“Tia,….”
“Ya,….”
“Terima kasih, untuk semuanya.”
“Salman, terima kasih kembali. Akan tiba waktunya kau yang akan membantuku nanti. Setelah kamu berhasil dan bisa mengunjungiku disini.”
“Tentu, Tia. Indonesia akan menjadi tujuan utama setelah aku bisa mandiri.”
Tia mematikan sambungan telepon dengan perasaan lega. Sambil menyandarkan badan ke punggung kursi, Tia memikirkan betapa pertemuannya dengan Salman seperti keajaiban. Selama ini dia memang penyandang dana dan memberi banyak uang untuk kegiatan amal.
Tapi, untuk sesuatu yang belum pernah dia lihat dan tidak nyata. Ini adalah kali pertama hati Tia memanggil dengan kuat dan penuh rasa percaya.
Sementara Salman menutup telepon dengan perasaan jauh lebih baik dan semakin merasa baik. Cinta dan niat tulus Tia membuat Salman percaya bahwa dirinya sangat berharga. Setidaknya di mata Tuhan. Terbukti dengan hadirnya Tia, wanita yang luar biasa mewarnai dunianya beberapa bulan terakhir.
Perutnya mulai terasa lapar, dia beranjak ke dapur Kumar. Dan disambut senyum sinis oleh Kumar.
“Lapar?”
Salman duduk di meja makan,”Ada sesuatu yang masih bisa kumakan?”
“Aku sudah tahu kau pasti akan datang lagi, jadi kusisihkan.”
Kumar beranjak mengambil tiga potong ayam goreng dan semangkuk sayuran. Sementara Salman beranjak untuk mengambil nasi dari pemanas yang ada di sudut dapur. Dia mulai duduk, dan tepat saat suapan pertama hampir mencapai mulutnya …
“Selo juga belum makan siang. Saat kau pergi dia juga pergi begitu saja. Dia nampak sedih.”
Salman menghentikan makanan untuk masuk ke mulutnya. Dia menatap nasi di piringnya,
“Selo pasti sedih karena mengira aku marah padanya.”
Kumar dan Salman sama-sama terdiam.
“Berikan aku nampan,” pinta salman.
Kumar berdiri mengambil sebuah nampan bulat berukuran sedang yang biasa dia gunakan untuk menyajikan teh kepada tamu. Salman lalu menuang nasi dari piringnya ke nampan, menambahkan lagi satu porsi dari penghangat. Lalu meletakkan tiga potong ayam goreng disana.
Tangan kanannya membawa nampan itu dan tangan kiri Salman membawa mangkuk berisi sayur.
“Aku akan makan di kamar Selo.”
Salman berkata sambil berjalan keluar dari dapur.
“Hey, jangan lupa segera letakkan bekas makan kalian ke dapur. Kalau tidak, pasukan tikus akan masuk ke kamar Selo malam ini!” teriak Kumar pada Salman.
***
Brak! Brak! Brak!
“Siapa?!” Selo berseru kesal dari dalam ruangan.
Brak! Brak! Brak!
“Siapa?! Menyebalkan sekali!” dengan sengit Selo berjalan untuk membuka pintu.
Dan dia melihat Salman berdiri dengan tersenyum di depan pintu kamarnya. Di tangan Salman terlihat sebuah nampan dengan nasi ukuran banyak dan di tangan lain semangkok sayur.
“Aku mau numpang makan.”
Tanpa instruksi, Salman memasuki kamar Selo dan meletakkan nampan berisi nasi dan mangkuk sayur itu di lantai. Dan mulai memakannya. Sementara Selo menatap Salman heran.
“Kau kesini untuk numpang makan? Dan kenapa kau mengetuk pintuku keras sekali? Seperti mau merampok saja.”
“ Aku tidak mengetuk pintumu. Kau tidak lihat, tanganku penuh? Aku menendang pintmu dengan kaki tadi. Kau mau ikut makan denganku?”
“Tidak, aku tidak lapar. Cukup kenyang dengan kemarahanmu.”
“Kita bahas itu nanti, sekarang kita makan dulu.”
“Tidak, aku tidak …”
Kriuk!!!
Suara perut Selo terdengar jelas, seolah nada komplain atas ketidak pedulian pemiliknya. Membuat keduanya serempak tertawa. Dan Selo mulai makan bersama Salman dengan duduk di hadapannya. Mereka makan dari nampan yang sama.
“Kau marah padaku”
“Tidak! Sejak tadi aku tidak marah, sebenarnya aku hanya merasa sedih.”
“Sedih kenapa?” ujar Selo tidak jelas karena sambil mengunyah makanannya.
“Kita sudah sejauh ini dan masih saja aku menemui sebuah kendala besar. yang membuat orang lain harus membantuku. Sepertinya apa yang aku inginkan selalu saja perlu perjuangan untuk mendapatkannya.”
Selo menghentikan aktivitas makannya, tanggan yang telah menggenggam nasi kembali dia letakkan.
“Bukankah dalam hidup ini semua seperti itu?”
“Tapi kau nampak mudah saja mendapatkan keinginanmu, Selo.”
“Itu yang nampak di matamu, sementara aku sendiri? Aku adalah anak terakhir di keluargaku. Aku tidak pernah punya suara yang layak di dengar. Membuatku selalu mengikuti keputusan ayah dan kakak-kakakku. Salah satu yang membuatku bahagia ketika harus jauh dari rumah.”
Salman merenungkan perkataan Selo. Memang benar, Selo selalu saja tidak berani mengambil resiko atau menyelesaikan masalah. Kesukaannya dekat dengan para gadis hanya untuk mengekspresikan dirinya yang sudah dewasa. Padahal dalam hatinya, Selo tidak pernah bernyali.
“Sudahlah! Sekarang yang terpenting masalahmu sudah selesai dan tinggal meminta ayahmu untuk menyiapkan uang tiket! Yeay!!!” Selo berseru gembira.
“Tidak perlu, ayahku tidak akan menyediakan uang tiket,” ujar Salman datar.
Selo kembali termenung menatap Salman.
“Kenapa? Ada masalah lain lagi?”
“Tia akan membayar tiket untukku.”
“Wow! Wanita itu memang luar biasa, baik dan juga kaya. Bolehkah aku menjadi pacarnya?”
Salman melotot pada Selo dan mengambil potongan ayam terakhir lalu mengacungkan ke wajah Selo.
“Jangan macam-macam dengan Tia atau nasibmu akan seperti ayam ini!” ancam Salman.
“Ha … ha … ha …! Akhirnya kau mengakui juga bahwa kalian ada hubungan khusus. Tentulah, mana mungkin tanpa alasan ada wanita yang begitu baik memberikanmu banyak hal.”
“Dengar, Selo. Hubunganku dengan Tia tanpa nama. Penuh cinta, namun aku tidak bisa menyebut apa pun untuk hubungan kami. Dia menempati sisi-sisi hatiku dengan cara yang sangat istimewa. Sangt … istimewa.”
Salman menipiskan bibir, menahan gejolak rasa dalam hatinya. Mungkin Selo benar itu adalah cinta. Namun Salman tidak akan pernah merasa layak untuk mengungkapkannya pada seorang Tia.
“Apa dia mencintaimu?” tanya Selo menyelidik.
“Menurutmu?”
“Hmm … menurutku dua hal yang sangat mungkin. Dia mencintaimu atau dia kasihan padamu. Ha … ha … ha … karena dia adalah wanita yang dermawan kan?”
Salman tidak suka mendengar kesimpulan Selo. Namun dalam hatinya mengiyakan, mungkin saja Selo benar. Meski begitu, Salman tidak ingin larut dalam asumsi. Tia selalu ada untuknya itu sudah lebih dari apa pun. Baginya Tia bukan lagi tentang rasa dan cinta. Tapi juga tentang ketenangan dan perasaan berharga.
Salman berdiri,
“Katakan, Selo. Apakah jika aku sudah berhasil menjadi dokter bedah aku layak untuk mendapatkan Tia?”
“Hmm … dia sudah mulai tua. Kau harus belajar memanggilnya Mama. Ha … ha … ha …!” Selo tergelak oleh candaannya sendiri.
Dan Salman tersenyum melangkah keluar kamar.
“Hey! Rapikan semua bekas makan ini!” teriak Selo.
Seolah tidak mendengar perkataan Selo, Salman terus saja berlalu dan menghilang di tangga asrama.