Setibanya di kamar dia melihat Firoz sedang duduk di kursi menghadap ke jendela luar. Salman duduk di tepi ranjang miliknya.
“Sudah makan, Tuan?” tegur Salman pada Firoz.
“Ya, aku makan siang di luar tadi. Kau sudah makan?”
“Aku baru selesai makan di kamar Selo.”
Firoz menatap Salman heran,”kenapa makan di kamar Selo?”
“Ada sedikit masalah di antara kami tadi. Tapi sekarang semua sudah selesai.”
“Hmm,….”
Firoz menatapa ke arah Salman, sesuatu yang selama berhari-hari mengganggu pikirannya.
“Salman, boleh aku mengatakan sesuatu. Bukan bermaksud meragukanmu atau ayahmu. Tapi,….”
Salman menatap heran pada Firoz yang begitu ragu untuk berkata.
“Tapi? Ada apa, Tuan? Sesuatu menganggu pikiran anda?”
“Aku ingin membantumu untuk membeli tiket keberangkatan ke UK. Aku sangat yakin, uang visa yang begitu besar ditambah tiket pasti butuh waktu untuk mendapatkannya. Sementara kelas akan segera dimulai.”
Salman tersenyum pada Firoz, seolah semua dan semesta berpihak padanya sekarang.
“Tuan, aku tinggal menentukan kapan berangkat. Semua sudah selesai begitu pula dengan uang.”
Firos memicingkan mata, “Benarkah?”
“Ya, Tuan. Tia membayar semau untukku.”
Sekali lagi Frioz menatap Salman heran.
“Tia membayar semua untukmu? Sebaik itukah wanita yang baru saja kau kenal?”
Salman menarik nafas dan berjalan ke arah jendela. Dia menyandarkan badannya di jendela yang ukurannya setinggi dadanya. Menghadap keluar, menghirup udara sejuk Khatmandu dan juga bersyukur atas hidupnya.
“Aku pun kadang serasa tidak percaya, semua begitu mudah bagiku saat ini. seolah semua doa dengan mudah di kabulkan. Dan Tuan jangan khawatir, Tia itu wanita baik. Tidak ada keinginan buruk darinya. Bayangkan, kami hanya terhubung dengan sosial media dan ponsel tapi kami saling mempercayai.”
Firoz terlihat berpikir keras dengan semua yang Salman katakan.
“Siapa sebenarnya wanita itu?” tanya Firoz pada Salman.
“Dia seorang penulis kenamaan di Indonesia. Aku melihat banyak hasil karyanya. Jika Tuan bertanya kenapa dia baik padaku, aku tidak punya jawaban. Aku hanya bisa memikirkan bahwa Tia adalah utusan Tuhan untuk menyertaiku sekarang.”
Firoz mengangguk setuju, kadang kala memang ada bagian yang tidak perlu dipertanyakan.
“Aku mengagumi kebaikan wanita ini, meski kita tidak tahu apa alasannya.”
Salman mengangguk, Tia memang wanita yang mengagumkan.
Malam itu setelah berbincang sejenak dengan Tia, Salman memejamkan mata dan tertidur nyeyak. Semua masalahnya selesai, besok dia akan memesan tiker bersama Selo. Ayahnya tinggal memikirkan tentang biaya hidupnya beberapa bulan pertama di UK.
***
Salman dan Selo baru saja keluar dari agen biro perjalanan. Mereka memesan tiket untuk keberangkatan dua hari ke depan. Dengan berbincang dan tawa riang keduanya berjalan menuju arah kembali ke asrama.
Beep! Beep! Beep!
Ponsel Salman berbunyi. Anil!
“Halo, Anil! Apa kabar, lama sekali kita tidak bertemu.”
“Hey! Bisa bertemu sekarang?”
“Sekarang? Dimana? Oh … ok … aku tahu tempat itu.”
Salman mendadak menarik lengan Selo untuk berjalan menuju arah berlawanan.
“Hey! Apa yang kau lakukan! Kenapa kita ke arah sana? Kan kita mau pulang!” Selo berteriak mengajukan komplain.
Namun Salman terus berjalan menuju café yang Anil sebutkan.
“Anil ingin bertemu,” ujarnya pada Selo.
“Untuk apa anak pejabat manja itu ingin bertemu kita?”
“Bukan kita tapi aku.”
“Umm … ok, ada perlu apa?”
“Entahlah, kita sudah lama tidak bertemu dia kan? Ayolah jangan banyak bicara.”
Salman mempercepat langkahnya dan Selo setengah berlari mengikuti, sambil sesekali matanya menggiring ke arah gadis-gadis yang sedang berjalan.
Sesampainya di café itu, Salman merasa enggan untuk masuk. Dia melihat Anil tidak sendiri namun bersama ayahnya, Akash. Salman bersiap untuk memutar arah.
“Hey! Kemari!”
Terlambat! Anil telah melihat kedatangan mereka.
“Sini!”Sekali lagi Anil berseru dengan melambaikan tangan.
Kali ini gantian Selo yang menarik lengan Salman menuju ke dalam café. Ke meja dimana ada Anil dan ayahnya. Mereka berdiri melihat kedatangan Salman.
“Apa kabar, Salman?” Akash mengulurkan tangan.
“Baik, Tuan.” Salman menyambut uluran tangan Akash.
“Hey Bro! Apa kabar, Bro?” Selo menyapa hangat pada Anil.
“Selo! Kabarku baik, apa kabar kalian? Sudah siap berangkat ke UK?” tanya Anil pada Salman.
“Ya, kami akan berangkat tiga hari lagi. Baru saja kami selesai melakukan pembelian tiket,” jawab Salman bangga.
“Keren! Kalian akan jadi pria Eropa yang keren!”
“Tidak! Kami akan selalu menjadi pria Nepal yang bisa dibanggakan.”
Di tengah kebisingan mereka bertiga, ayah Anil yang biasa arogan melihat dengan ramah.
“Ehm!”
Anil menengok ketika ayahnya berdehem.
“Oh, hampir saja aku lupa. Salman, ayahku ingin berbicara denganmu.”
“Dengaku, Tuan?”
“Ya, duduklah!” pinta Akash dengan ramah.
Jantung Salman mulai berdetak tidak karuan. Dia merasa tidak melakukan kesalahan. Namun Akash dikenal sebagai pejabat sombong yang sering kali mencari masalah.
“Hey! Selo! Kita duduk di meja yang lain. Aku akan pesankan makanan untuk kalian,” ujar Anil pada Salman dan ayahnya.
Salman duduk di depan Akash,
“Salman, aku minta maaf.”
Kata-kata Akash berhasil membuat Salman tercengang. Seorang Akash meminta maaf pada pemuda desa sepertinya?
“Untuk apa, Tuan?”
“Karena aku telah menempatkanmu dalam kesulitan. Pada kesalahan yang sebenarnya tidak kamu lakukan.”
Salman semakin bingung dengan pernyataan dari Akash.
“Saya tidak mengerti, apa maksud Tuan.”
“Anil telah menyampaikan semuanya padaku. Dan aku sangat malu padamu. Bukan hanya malu karena ternyata kau sudah tahu penyakit dan kelemahanku. Tapi aku malu karena kau sedang mencoba menyelamatkan kehormatanku dan aku malah menuduhmu melakukan kejahatan.”
Sekarang Salman mengerti kemana arah pembicaraan Akash.
“Oh, Soal itu. Lupakan saja Tuan. Anda adalah ayah Anil yang berarti aku punya kewajiban sama seperti Anil untuk menjaga kehormatan anda.”
Akash merasa lebih malu dengan apa yang Salman katakan. Karena setelah semua keburukan yang dia berikan pada Salman, dia tetap baik dan ramah padanya.
“Aku telah membuang Maria jauh dari hidup kami. Seharusnya sejak awal aku mendengarkan Anil. Tapi aku terlalu sombong sebagai ayah. Dan setelah Anil memberikan semua bukti, barulah mataku terbuka. Dan aku sangat malu padamu. Tolong maafkan aku, Nak!”
Akash melipat tangan dan menatap sedih pada Salman. Bergegas Salman menangkup kedua tangan Akash dan meletakkan di dahinya.
“Tidak Tuan, tangan seorang ayah hanya untuk memberi restu pada putranya bukan untuk mengemis sebuah permintaan maaf. Jangan lakukan ini Tuan. Anda bersikap seperti itu karena anda tidak tahu kebenarannya. Mari kita lupakan saja semua.”
“Tentu Salman. Lagi pula Maria sudah kukembalikan ke negaranya. Tapi aku ingin meminta sesuatu darimua. Sebagai permohonan maaf dan sekaligus sebagai tanda bahwa kau sudah memaafkanku.”