HADIAH

1089 Kata
“Meminta sesuatu?” Salman menampakkan wajah bingungnya ke arah Akash. “Salman, aku minta maaf dan tolong maafkan aku. Dan,….” Akash mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya. Sebuah amplop berwarna coklat. “Tolong terimalah ini. Aku sungguh menyesal telah menuduh anak baik sepertimu. Bahkan aku mencoba mempersulitmu dengan tuntutan. Tidak bisa aku bayangkan apa yang kau rasakan waktu itu. Dan lebih buruk lagi ketika kau berhasil mengumpulkan uang itu, aku malah menghinamu lebih.” Akash mengatakan kepada Salman dengan wajah sedih. “Ini aku berikan kepadamu bukan sebagai permintaan maaf. Karena sebesar apa pun aku meminta maaf, tidak akan bisa membayar kesalahanku. Ini aku berikan sebagai sebuah permohonan, agar kau menganggapku seperti ayahmu. Kapan pun kau butuh batuan, datanglah padaku, Nak.” Akash meletakkan ampol itu di atas tangan Salman. Menggenggam tangan Salman dan amplop secara bersamaan. “Terimalah, ini akan berguna sebagai bekalmu di UK nanti.” Salman menatap amplop di tangannya tanpa berkedip. Wajahnya bingung, sedih dan dingin. Lalu dia menatap pada Akash. “Tuan, aku akan berbakti kepadamu layaknya putra. Aku sudah membuktikan ketika terjadi dengan perilaku Maria. Jadi aku tidak perlu ini lagi, lupakan semua Tuan. Ayahku akan bekerja keras untuk membiayai semua kebutuhanku di UK.” Dua butir bening nampak bergelayut di mata Akash. Segera dia mengambil tisu yang terletak di meja. “Aku tahu Salman, jika waktu itu kau mau mempermalukanku maka peluang itu terbuka sangat besar bagimu. Bahkan jika kau mau memanfaatkan Maria untuk mendapatkan segala kemudahan. Tapi, kau telah menunjukkan betapa orang tuamu sangat berhasil mendidikmu sebagai seorang pria.” Akash berhenti untuk kembali menyeka air matanya. “Tolong, terimalah Nak. Buatlah orang tua ini bahagia dan lega karena dia bisa memberikan sesuatu untuk anak yang telah menjaga kehormatannya.” Akash meminta tangan Salman menggenggam amplop coklat itu dan menjauhkan tangannya. “Baiklah Tuan, aku menerima ini karena tidak ingin membuatmu kecewa.” “Terima kasih, Nak. Perasaanku lebih lega sekarang. Bulan Depan Anil juga akan berangkat ke UK.” “Anil? Ke UK?” Salman bertanya heran karena yang dia tahu Anil tidak lulus program beasiswa. “Ya, tapi bukan melalui jalur beasiswa. Dia akan ke UK atas biaya mandiri dariku dan bukan untuk dokter bedah. Dia akan ke UK untuk belajar bisnis. Anil adalah putraku satu-satunya, harusnya aku fokus mencalonkan dia sebagai pewaris dan bukannya mendorong dia untuk sekedar memenuhi gengsiku.” Salman mengangguk setuju. Lalu melirik ke arah Selo dan Anil yang sejak tadi menyimak mereka diam-diam. Salman mengangguk ke arah Selo dan memasukkan amplop yang diberikan Akash ke saku jaketnya bagian dalam. “Tuan, aku permisi. Tadi saat Anil menelpon, aku dan Selo baru dari perjalanan kembali ke asrama. Kami akan berangkat besok lusa. Jadi kami perlu bersiap untuk apa yang akan kami bawa.” “Tentu, Nak. Salman, kapan pun kau dalam kesulitan katakan saja. Aku akan membantumu,” ujar Akash sambil sekali lagi menggenggam tangan Salman. Salman menipiskan bibir menahan air matanya yang hampir tumpah dan mengangguk pada Akash. Saat Salman berdiri, Akash pun turut berdiri dan memeluk Salman erat. "Maafkan aku, Salman." Salman mengangguk, dan tersenyum. “Saya permisi, Tuan.” Akash mengusap rambut Salman dan membiarkannya berlalu. Bersama Selo yang merapat pada Salman, merangkul bahunya dengan penuh semangat sambil berbisik. “Hey, apa yang kau terima dari ayah Anil?” Salman mengedipkan mata pada Selo dan berlalu keluar dari café itu. Mereka berjalan beriring menuju asrama dengan berbagai perbincangan dan seperti biasa Selo yang akan memimpin pembicaraan mereka. “Kenapa ayah Anil jadi begitu akrab denganmu?” “Entahlah,” ucap Salman sambil mengangkat bahu. “Aneh, bukankah kalian terakhir terlibat dalam sebuah masalah?” ujar Selo penuh tanya. “Ya, tapi masalah kami sudah selesai.” “Ada sesuatu yang aku tidak tahu?” Selo semakin memburu Salman. Salman menghentikan langkah, dan menatap pada Selo. “Hey! Tuan! Kadang kala lebih baik kita tidak tahu urusan orang lain dari pada urusan itu nantinya menjadi beban bagi pikiranmu. Sibuklah memikirkan urusanmu sendiri.” Sesudah mengatakan itu Salman kembali berjalan meninggalkan Selo yang masih berusaha mengerti kata-kata Salman. “Eh! Betul! ….” Belum selesai Selo berkata, mereka telah memasuki gerbang asrama. Dan Kumar sedang duduk di teras melepas penat sebelum kembali menyiapkan makan siang. “Hey, Kumar! Sedang santai?” sapa Salman. Sambil berlari kecil, Selo tiba di belakangnya dengan nafas terengah. Salman berjalan cepat dna meninggalkan dia di belakang tadi “Ya, aku akan masuk ke dapur beberapa menit lagi. Dari mana kalian? Bukankah kalian sudah tidak ke kampus lagi?” “Ya, kami baru saja membeli tiket. Kami akan berangkat besok lusa! UKKKKK!!! Kami datangggg!!!!” Selo berteriak gembira. Dan Salman hanya tersenyum melihat ekspresi sahabatnya. Sementara Kumar nampak diam. “Kenapa Kumar? Kau tidak senang kami akan pergi?” “Aku akan kesepian. Sejak kalian ada di sini, aku serasa memiliki teman. Kalian tidak pernah menganggapku sebagai pembantu asrama. Karena penghuni lain, kebanyakan adalah anak orang kaya. Mereka kurang ramah padaku.” Salman menepuk pundak Kumar. “Kami akan kembali setelah berhasil nanti. Dan aku tidak akan pernah melupakanmu.” “Hey! Kumar, kau mau kami terus di sini dan menjadi pengangguran? Kami perlu pendidikan ini untuk masa depan!” ujar Selo berapi-api. “Selo! Tentu saja aku mau kalian berhasil. Aku hanya memikirkan diriku yang tertinggal sendiri di sini.” “Kumar, seorang wanita yang baik dan cantik mengatakan kepadaku. hidup itu adalah sebuah perputaran dimana manusia-manusia yang mewarnai hidup kita akan datang dan pergi. Semua silih berganti. Jika seseorang pergi maka hampir bisa dipastikan orang lain akan segera datang. Begitu katanya, dan aku sangat percaya pada perkataanya,” tutur Salman. Kumar mengangguk,”Ya, aku juga setuju. Semoga akan datang segera penghuni asrama seperti kalian nanti.” “Pasti, kami ke atas dulu ya.” “Oh, ya. Sudah waktunya juga aku masuk ke dapur. Sebelum semua orang berteriak karena kelaparan.” Salman dan Selo bergegas ke atas. Salman menuju ke kamarnya. Dan Selo mengukuti dari belakang, “Kenapa kau ikut ke kamarku?” Selo memperlihatkan seluruh gigi dengan cengiran lebar. “Aku ingin tahu apa yang ayah Ail berikan padamu.” “Tentu saja uang. Menurutmu apa yang ada di amplop coklat? Kue?” Selo tergelak, namun rasa ingin tahu membuatnya tidak peduli dengan kata pedas Salman. Segera Salman membuka pintu kamarnya dan meletakkan amplop itu di ranjang. Sementara dia sibuk melepaskan sepatu dan jaket. Dengan penuh semangat Selo mengambil amplop coklat itu dan membukanya meski tanpa persetujuan Salman. Dan Salman hanya melihat kekonyolan Selo meski tidak sopan. Ketika amplop terbuka, mata Selo terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN