SIAP BERANGKAT

1095 Kata
“Seratus ribu Rupee?!” Selo nyaris berteriak dengan angka yang tertera di tengah bundel uang yang ada di tangannya. Salman segera mendekat,”Benarkah?!” Mereka berdua saling berpandangan. “Salman! Kau mendadak kaya, ini keren! Beruntunglah aku sebagai temanmu!” ucap Selo antusias sambil menjatuhkan diri di kamar Salman. Sementara Salman terduduk lemas di lantai samping ranjangnya sambil menatap jauh entah kemana. Pandangannya kosong. “Selo, kenapa hidup jadi begitu aneh?” Selo mengerutkan kening, memiringkan badan ke arah Salman sambil sebelah tangannya menopang kepala. “Aneh? Maksudmu?” “Coba kita ingat lagi. Pertama kali kita datang ke Khatmandu. Kita berdua hanya pemuda desa yang bodoh. aku bahkan masih bingung bagaimana cara menggunakan ponsel. Tapi sekarang, semua nampak begitu mudah. Lihat saja, semua tersedia dengan cara yang luar biasa. Semua di luar perkiraan dan akalku.” Selo mendengar nada takut dan khawatir dalam suara Salman. “Kau benar, dalam hitungan bulan hidup berubah luar biasa. Tapi bukankah memang itu yang kita inginkan? Kita tidak punya alasan untuk takut dengan perubahan yang ada.” Salman menarik nafas, Selo benar. Memang ini yang mereka inginkan, ke arah lebih baik untuk masa depan. “Hanya saja semua terlihat terlalu mudah. Tanpa aku melakukan apa pun, tiba-tiba semua uang datang. Aku khawair akan aa akibat dari semua kemudahan ini.” “Hmm … mungkin kau melakukan sebuah kebaikan di masa lalu dan baru sekarang semua itu berbuah manis.” Salman memang telah menutup aib ayah Anil. Tapi baginya, itu semua adalah sesuatu yang memang seharusnya dia lakukan. Dia tidak berharap akan mendapat imbalan sebanyak ini. Lalu Tia? dia tidak melakukan apa pun. Bahkan selama ini Tia yang selalu bersikap baik padanya. Salman mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi ayahnya. “Halo, Salman.” Dari seberang sana ayahnya menyapa. “Ayah, apa kabarmu?” “Aku baik, kau sehat?” “Ya, aku baik-baik saja.” Salman berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Terbayang kembali oleh Salman keputusan ayahnya jauh dari keluarga untuk membawa hidup mereka lebih baik. Untuk membuat semua orang berhenti meremehkan dan menghina hidup mereka. “Kau perlu uang itu segera? Aku sedang berusaha meminjam pada beberapa teman dengan pembayaran gajiku dua bulan berikutnya. Tapi nampaknya semua orang tidak percaya untuk meminjamkan uang padaku.” “Tidak ayah, aku ingin mengatakan sesuatu. Ayah tidak perlu lagi mengirimku uang untuk visa, tiket dan kebutuhanku di UK nanti.” Salman mencoba mengatakan dengan nada setenang mungkin agar Khan tidak terkejut dengan semua berita yang Salman berikan. “Maksudmu?” “Bagaimana mengatakan pada ayah. Ayah pasti tidak percaya. Seseoranng telah membaya visa dna tiket untukku. Dan hari ini ayah Anil memberiku seratus ribu rupee. Semua ini cukup untuk aku bisa berngkat dengan segera.” Khan terdiam dengan penjelasan putranya. “Ayah, apa ayah marah?” “Siapa yang membayar tiket dan visa untukmu?” tanya Khan curiga. “Sulit sekali aku menjelaskan. Dia adalah teman yang aku temui baru-baru ini. Seorang wanita yang semula menawarkan beasiswa padaku. Dan kami berteman dekat sekarang. Aku tidak meminta, sungguh.” Khan menymak dengan seksama yang putranya jelaskan. “Seorang wanita yang sangat kaya? Apakah dia seumuran denganmu?” “Tidak, dia wanita dewasa. Usianya sepuluh tahun di atasku. Dia memiliki seorang putri dan dia….” Khan menunggu sambungan kata-kata Salman. Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Sementara Selo menyimak sambil memainkan ponselnya. “Dia seorang wanita tanpa suami. Tapi ayah jangan khawatir, aku tidak punya hubungan khusus dengannya.” Khan nampak semakin bingung dengan semua penjelasan Salman. “Kalian tidak punya hubungan, tapi dia begitu baik padamu? Tidakkan itu aneh? Aku khawatir ada sesuatu yang dia harapkan di kemudian hari nanti.” “Aku rasa tidak, Ayah. Dia wanita yang sangat baik. Aku akan memperkenalkan ayah padanya suatu hari nanti.” “Baiklah, dan kenapa ayah Anil memberimu uang dalam jumlah banyak?” “Itu … itu … itu adalah hadiah dari ayah Anil karena keberhasilanku lulus beasiswa. Ayah tahu kan, kalau ayah Anil adalah penyandang dana di kampus kami. Jadi wajar dia memberikan hadiah untuk siswa dengan lulusan terbaik.” Selo menoleh pada Salman yang tampak gugup berbohong pada ayahnya. Pertanyaan di benak Selo tidak terjawab, kenapa ayah Anil memberikan hadiah sebanyak itu tanpa alasan. Bahkan setelah masalah yang muncul di antara mereka berdua. “Dalam jumlah yang sangat banyak? Ayah baru kali ini mendengar orang memberikan hadiah sangat banyak untuk seorang siswa berprestasi.” “Mungkin kali ini lebih spesial karena aku teman Anil. Jadi selain hadiah dia juga bermaksud membantuku. Itu mungkin saja kan?” Meski dalam hati Khan masih bertanya namun dia tidak ingin membuat putranya gelisah. “Baiklah, anggap saja semua ini adalah pertolongan Tuhan untuk memudahkan langkahmu. Dan berhati=hatilah dengan uang yang kau miliki. Sering ketika orang memiliki uang, mereka merasa langkahnya lebih panjang. Dan akhirnya malah membuat mereka terjebak dalam kesulitan di masa depan.” “Tentu ayah, semua nasehat ayah akan aku ingat.” Salman memutuskan sambungan telepon dan kembali menyambungkan telepon. Kali ini dengan ibunya di Ittahari. Dengan sambungan video call, ada rasa rindu dengan ibunya ketika Salman memikirkan akan berangkat dalam beberapa hari lagi. “Halo, Kakak!” Mehta mengangkat telepon dan menunjukkan wajah. Selo yang sejak tadi merebahkan diri mendadak bangun ketika mendengar suara Mehta. Dia memunculkan wajah dari balik bahu Salman. “Hei, Mehta!” sapanya riang pada Mehta. Salman menengok kesal ke arah Selo. Dan disambut dengan senyuman bertabur gigi di wajah Selo. “Hei, Kak Selo! Apa kabar?” “Aku baik cantik … apa kabar denganmu?” “Aku baik Kak,….” Belum selesai Mehta bicara, Salman mendorong wajah Selo dengan sebelah telapak tangan. Hingga Selo terjerembab kembali ke ranjang. “Mehta, dimana ibu?” “Ada di luar, sebentar ya Kak.” Mehta meletakkan ponsel menghadap ke atas. Sehingga Salman bisa melihat pemandangan langit-langit rumahnya. Rumah yang telah dua puluh tiga tahun dia tempati. Dan kali ini dia akan pergi untuk waktu lama. Ada segurat sedih melintas di hati Salman. “Halo, Nak.” “Ibu, apa kabar ibu?” tanya Salman ketika wajah ibunya muncul di layar ponsel. “Ibu Baik, dan kau?” “Aku baik Bu. Aku akan berangkat besok lusa. Kami sudah membeli tiketnya.” “Tapi, ayah bilang belum mendapatkan uang untuk semua keperluanmu.” “Ibu tenang saja, semua sudah teratasi. Tidak udah dipikirkan. Ibu doakan saja aku ya.” “Tentu Salman … doa ibu tidak akan pernah putus untukmu.” Salman melihat ibunya menyeka air mata. Dia bisa merasakan betapa sulit bagi ibunya untuk melepaskan Salman. Ke negeri jauh dan entah kapan akan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN