HARI KEBERANGKATAN

1066 Kata
Untuk terakhir kalinya, Salman memandang ruangan itu. Ruangan yang menjadi saksi perjuangannya selama di Khatmandu. Ketika pertama kali mengenal sebuah kota besar dan bertemu dengan banyak orang. Ada segores sedih menoreh di hati Salman. Ruangan ini akan segera dia tinggalkan untuk selamanya. Dengan doa dan harapan bahwa kepergiannya akan membawa kebaikan dan harapan di masa depan. Di tutupnya pintu kamar asrama itu, terasa bagai menutup lembar kisah di Khatmandu. Untuk memulai hidup baru di UK. “Siap berangkat? Taksi kalian sudah menunggu di depan asrama.” Kumar muncul di belakang Salman dan melihat mata Salman yang berkaca-kaca. “Oh, ya.” Salman mencoba membawa dua tas trolinya. “Aku bantu,” ujar Kumar mengambil salah satu tas troli Salman. Mereka berjalan beriring menuju ke tangga bawah. Di mana Selo dan Firoz telah menanti mereka, juga taksi yang akan mereka tumpangi menuju bandara. Kumar membantu Salman memasukkan semua tas ke bagasi. Sementara Salman mendekati Firoz untuk berpamitan. “Tuan, terima kasih atas semua bantuan anda.” “Tidak, Salman. Kau berhasil atas usahamu sendiri. Aku hanya mengarahkan apa yang menjadi tugasku.” Salman melipat tangan di depan Firoz dan disambut hangat dengan sebuah pelukan. “Ingat Salman, Selo! Hidup di luar sana tidak mudah. Apalagi itu adalah negara Eropa. Banyak hal mereka sangat berbeda dengan kita. Tetaplah saling menjaga dan mengingatkan. Dan juga, tetaplah menjadi pria Nepal yang menjaga nama baik dan tradisi. Kalian ke sana untuk belajar dan bukan bersenang-senang.” Firoz mengatakan dengan mimik serius kepada kedua anak didiknya. “Ya, Tuan. dan semoga anda sehat selalu untuk bisa membimbing mahasiswa selanjutnya.” Selo mengucapkannya ketika berpamitan dengan Firoz. Dan Firoz menggeleng,”Tidak, lima bulan setelah ini aku juga akan megejar mimpiku yang tertunda. Aku telah mendapatkan beasiswa untuk belajar literasi di Jerman.” Selo dan Salman berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Firoz mungkin adalah dosen termuda dan terbaik di kampus mereka. Dosen yang selalu menilai berdasarakn prestasi dan kemampuan. Selalu berlaku adil pada semua siswa yang berada dalam bimbingannya. “Tentu, Tuan. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.” Salman lalu berjalan ke arah Kumar yang telah selesai merapikan semua tas di bagasi taksi. “Kumar, semoga di UK aku bisa mendapatkan teman sebaik dirimu.” “Apa?! Kau ingin melupakan aku dengan mencari gantiku?” ujar Kumar berpura-pura marah. “Ha … ha … ha …! Kapan pun aku kembali ke Nepal, aku akan menghubungimu. Kau yang terbaik!” Salman memeluk erat Kumar. Dan dua tetes air mata meleleh di mata Kumar. “Jaga diri kalian ya,” ucap Kumar sambil memeluk Salman. “Hey! Belajarlah banyak resep baru dan enak. Saat kami kembali nanti kami ingin memakan masakanmu. Masakanmu yang terenak di seluruh Khatmandu!” Selo mengatakan dengan penuh semangat. “Tentu saja yang terenak, karena gratis! Ha … ha … ha …!” semua orang tergelak dengan ucapan Kumar. Selo dan Salman sekali lagi kembali menoleh. Menatap bangunan asrama yang menjadi tempat tinggal mereka. Mengingat lagi kisah pertama ketika mereka menapakkan diri di Khatmandu. Dan kini, mereka siap meninggalkan kota dan negara ini. Mereka kembali melambaikan tangan pada Firoz dan Kumar. Salman menjadi sangat emosional dan air mata menggenang di matanya meski tidak sampai menetes. Taksi yang mereka naiki mulai melaju, membelah jalanan Khatmandu menuju bandara. *** Dua wajah berseri itu baru saja turun dari taksi di pintu bandara keberangkatan Internasional. Hari yang telah mereka tunggu untuk mengejar masa depan lebih baik. Dengan menarik masing-masing dua tas troli besar, mereka berjalan menuju pintu pemeriksaan dan melakukan check in. masih ada waktu beberapa menit sebelum waktu keberangkatan. Dua pemuda Nepal itu sedang menunggu panggilan untuk masuk ke pesawat. “Selo, kita akan berangkat. Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Salman sambil menatap orang yang sedang berlalu lalang. Salman merasa bangga karena dia ada di sini. Penerbangan internasionalnya yang pertama kali. Selo yang sejak tadi tegang tanpa senyum seperti biasanya. Dia hanya mengikuti dari belakang kemana Salman melangkah. “Kita akan pergi ke UK,” ujar Selo pelan. Salman menoleh pada sahabatnya. “Hey! Ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi hanya diam?” Selo memamerkan barisan gigi. “Aku tegang dan bahagia. Kau sendiri?” Salman menatap segerombolan turis asing berwajah Eropa. Nepal adalah destinasi utama bagi mereka yang ingin mencoba ketinggian gunung dengan titik suhu terendah. Everest memang terletak di Khatmandu dan dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. “Aku sedih harus meninggalkan negera ini. Jika ada pilihan yang lebih baik, tinggal di negara kita sendiri adalah pilihan yang menyenangkan. Dekat dengan keluarga dan temat dimana kita dilahirkan adalah hal yang nyaman sebenarnya. Selo melihat kegelisahan di mata Salman. Kegelisahan yang membuat Selo ragu. “Menurutmu hidup kita akan sulit di UK?” Salman menundukkan kepala dan melihat ke arah Selo. “Menurutmu?” Selo menggelengkan kepala tanda tidak tahu. “UK adalah sebuah negara besar. Bebas dan segala bentuk kehidupannya berbeda dengan kita di Nepal. Untuk hidup di Khatmandu pun kita butuh waktu lama beradaptasi. Kita perlu berusaha keras untuk bertahan.” “Tapi itu adalah negara bebas. Kita bisa bersenang-senang di sana nanti.” Salman memukul ringan kepala Selo. “Kalau kau ke sana sebagai jutawan dengan banyak uang, tentu saja kau akan bersenang-senang. Kalau kau hanya bisa makan? Kau pikir semua yang bebas lantas gratis? Aku dengar biaya hidup di sana sangat mahal.” Selo terdiam dengan penjelasan Salman. “Jadi?” Panggilan pesawat untuk penerbangan mereka terdengar. Salman berdiri dan siap beranjak ke pintu menuju keberangkatan. “Jadi, siapkan dirimu menghadapi segala rintangan.” Setelah mengatakan itu, Salman berjalan dan Selo masih tertegun mencoba mencerna apa yang temannya sampaikan. Salman menoleh ke arah belakang, Selo masih terdiam di tempatnya. “Hey! Kalau kau tidak segera, maka kau tidak akan berangkat ke UK. Kau akan tinggal sebagai penduduk abadi Khatmandu.” “UK!!! Aku datang!!!” teriak Selo nyarig. Tanpa peduli beberapa mata menatap mereka dengan tersenyum. Salman menggelengkan kepala, percuma mengatakan banyak hal pada Selo. Bukan hanya dia sulit memahami tapi juga mudah melupakan. Sekilas lalu Selo merasa khawatir dan sekarang dia sudah kegirangan dengan mimpi-mimpinya. Sekali lagi, Salman menoleh ke belakang. Dia sampai di tahapan ini. Meninggalkan negara, teman, keluarga rumah dan juga semua luka dan kecewa. Membayar lunas semua kesedihan dan apa yang telah dia perjuangkan. Satu hal yang akan ikut pergi dan menyertainya. Yang membuat Salman percaya bahwa dia akan baik-baik saja. Yang memenuhi Salman dengan cinta dan kekuatan. Tia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN