Salman duduk di bangku pesawat sisi dekat jendela dan Selo sebelahnya. Dia memandang keluar bersama dengan perasaan bercampur aduk di hatinya. Dia siap meninggalkan Nepal. Seluruh bangku pesawat hampir terisi. Salman mengambil ponsel di saku dan siap mematikan. Pesawat akan segera terbang. Sebaris kata dia kirimkan untuk wanita yang saat ini menghuni hatinya.
“Tia, aku berangkat.”
Dan dia mematikan ponselnya. Menarik nafas ... memejamkan mata.
‘Perjalanan akan dimulai’ Salman mengucapkan dalam hati bagai mantra untuk menguatkan dirinya.
Terdengar isak tangis dari bangku sebelah Salman. Dia menoleh dan melihat Selo sedang sibuk mengusap air mata.
“Kenapa?” tanya Salman.
“Akhirnya kita meninggalkan keluarga dan hidup jauh dari mereka,” ujar Selo menahan emosi.
“Itu kan yang kamu mau? Bukankah kamu selalu merasa keluargamu terlalu berisik?”
“Ya, tapi mereka semua selalu mempermudahku. Dan sekarang, di luar sana. Aku akan berjuang sendiri.”
“Jadi, apa yang kau tangisi?” tanya Salman heran.
Selo adalah pria yang ekspresif. Dan jarang sekali terlihat sedih. Melihat Selo menunjukkan perasaan melankolis membuat Salman justru ingin tertawa dibuatnya.
“Entah, aku merasa sedih. Hey! Lagi pula kenapa kau sibuk bertanya. Urus saja perasaanmu sendiri!” ujar Selo yang menyadari senyum meledek di wajah Salman.
Salman menahan senyuman yang nyaris menjadi tawa itu.
“Karena suaramu menarik ingus itu menggangguku!”
Selo membuang muka. Dan Salman tersenyum melihat ke arah jendela.
‘Nepal, aku pasti kembali! Sebagai orang yang berbeda. Aku akan membawa dunia ke pangkuanmu’ sekali lagi Salman merapal dalam hati.
Seorang pramugari berdiri di ujung lorong pesawat dan seorang lainnya di tengah. Menjelaskan prosedur penerbangan. Dan beberapa saat kemudian pesawat lepas landas.
Membawa dua pemuda Nepal menuju titian baru meraih mimpi dan harapan.
***
“Bu, kenapa terlihat murung?” tanya Nitish pada ibunya yang sejak tadi berdiam diri.
“Kakak pasti sekarang sudah di pesawat menuju UK. Semoga dia baik-baik saja dan tiba dengan selamat,” jawab Laksmi pada putri bungsunya.
Nitish duduk di sebelah ibunya yang sedang duduk di batu pembatas antara rumah mereka dengan jalanan. Melihat ke arah kebun di antara rumah tetangga. Jalanan nampak sepi pagi ini, seolah mendukung pikiran Laksmi untuk meresapi rasa di hati.
“Bu, Kakak akan kembali kan?”
“Tentu saja, tapi untuk waktu lama.”
“Kenapa harus lama? Bukankah sekolah setiap tahun ada liburan?”
“Ayah tidak punya banyak uang dengan selalu membeli tiket untuk kakak.”
Nitish mengangguk tanda mengerti. Di dalam benaknya dia membayangkan, negeri seperti apa yang di datangi oleh kakaknya sekarang. Keduanya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Bibi,”
Laksmi melihat ke arah suara yang memanggilnya.
“Miranha,” Laksmi bergegas berdiri melihat kedatangan wanita itu.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”
Laksmi menatap Miranha dan beralih ke Nitish dengan bingung. Pandangan sinis Nitish berikan pada wanita yang pernah dekat dengan keluarga mereka itu.
“Apakah benar kabar yang aku dengar bahwa Salman sedang ke UK untuk menjadi dokter bedah?”
Laksmi memicing ke arah Miranha. Wanita yang pernah mencampakkan putranya karena harta.
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Tidak, Bibi. Aku hanya ingin tahu saja.”
Laksmi menarik nafas dan mencoba untuk sabar menghadapi wanita muda yang telah meninggalkan luka bagi putranya.
“Begini Nak, Salman dan kehidupannya atau bahkan keluarga kami bukanlah urusanmu. Kami tidak perlu memberikan informasi apa pun padamu dan kau juga tidak perlu menanyakan pada kami.”
Miranha nampak marah dengan pernyataan dari Laksmi.
“Bibi, mungkin bibi lupa bahwa aku adalah anak kepala desa. Jawaban yang Bibi berikan sangat tidak sopan.”
Nitish melihat ke arah Miranha, wanita ini banyak berubah. Dulu ketika dia masih dekat dengan keluarga mereka, Miranha adalah wanita yang lembut. Namun setelah dia menjadi Nyonya besar, arogansinya teramat tinggi.
“Kak! Jangan berteriak pada ibuku. Kak Salman tidak akan membiarkan orang yang berteriak pada ibu!”
Miranha melotot ke arah Nitish, bersiap membuka mulut dan …
“Sedang apa kau di sini?” tanya seorang pria di belakang Miranha.
Dia menoleh dan menatap suaminya ada di sana.
“Atif … aku … aku sedang dalam perjalanan ke toko. Tadi aku sudah berpamitan padamu bukan?” ujar Miranha berusaha manis pada suaminya.
“Aku tidak melihat sebuah toko di sini,” ucap Atif dingin.
“Ya, aku melewati rumah ini dan melihat mereka sedang duduk jadi aku sedikit menyapa. Tidak masalah kan?”
“Dengar Miranha! Selesaikan urusanmu di toko dan kembalilah segera! Kita akan bicara di rumah nanti!”
Dengan nada kesal Atif menatap tajam ke arah Laksmi dan Nitish. Lalu berbalik dan melangkah pergi. Rumah Atif dan Miranha tidak terlalu jauh dari rumah Salman.
Dan Miranha sekali lagi melihat kesal pada Laksmi dan Nitish. Lalu pergi ke arah berlawanan Atif.
“Untuk apa dia bertanya tentang Salmanku,” Laksmi berkata pada dirinya sendiri.
“Bu, pesawat kakak sudah berangkat. Tadi dia mengirim pesan,” ujar Usman yang baru keluar dari dalam rumah.
Dia mengerutkan kening dan menaikkan alis pada Nitish ketika melihat ibunya dengan wajah tegang.
“Kenapa Bu?”
“Kak Miranha baru saja datang dan bertanya tentang Kak Salman. Dan dia marah pada ibu karena tidak mau memberi jawaban.”
Wajah Usman yang ceria seketika hilang. Wajahnya nampak marah dan kesal. Sambil menatap jalanan seolah mencari seseorang.
“Cari siapa Kak?” tanya Nitish.
“Miranha, berani sekali dia bersikap kasar pada ibu.”
Laksmi yang mendengar pembicaraan Nitish dan Usman langsung menyahut.
“Sudahlah, dia adalah putri kepala desa. Kita tidak ingin timbul masalah dengan mereka. Hanya ibu tidak senang kenapa dia menanyakan tentang Salman.”
“Tentu saja karena dia menyesal telah mencampakkan Kakak. Aku dengar waktu kak Salman datang mereka bertemu di jalan dan berbincang. Karena Atif cemburu kemudian dia memukul Miranha.”
Laksmi mendekat pada Usman dengan wajah serius,
“Salman berbicara dengan Miranha?”
“Ya, di dekat pematang sawah. Mungkin saat itu Kakak sedang menuju ke sawah setelah banjir. Dan Miranha menemuinya.”
Laksmi mengatupkan bibir rapat. Kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Usman yang semula kesal, ingat dengan perkataan Salman untuk selalu menjaga keluarga mereka.
“Bu, sudahlah. Miranha sekarang sudah bersuami. Lagi pula setelah semua kejadian ini, mustahil kakak akan mau dekat lagi dengannya. Kita sudah tahu sosok asli Miranha.”
Laksmi sekali lagi menarik nafas.
“Kamu benar, Salman tidak mungkin bersedia untuk dekat dengan wanita yang sudah menikah. Ibu hanya tidak mau jika Miranha kembali mengusik Salman. Dia wanita yang licik dan kejam.”
Nitish tersenyum ketika mengingat sesuatu,
“Kakak akan baik-baik saja, kan ada Tia. wanita cantik yang sekarang selalu bersama kakak. Ibu ingat wanita yang pernah aku ceritakan itu. Kakak sangat bahagia ketika bertelepon dengannya.”
Laksmi dan Usman memandang Nitish bersamaan.