Pramugari meminta para penumpang untuk menguatkan sabuk pengaman. Pesawat akan segera turun dari ketinggian untuk mencapai landasan. Salman melihat ke arah jendela, daratan mulai terlihat dan juga bandara tempat mereka akan turun.
Perlahan tapi pasti pesawat mendarat dengan selamat di bandara Heathrow United Kingdom. Nafas lega terdengar di berbagai sudut pesawat dari para penumpang. Mereka menunggu sampai pesawat berhenti total dan instruksi turun diberikan. Salman dan Selo saling berpandangan.
“Jadi kita tiba?” tanya Selo.
Entah kenapa, Salman membaca ketakutan di wajah Selo. Dia tersenyum mengangguk. Menguatkan hati sahabatnya.
“Tenang Selo, kita di sini berdua. Kita akan hadapi semua hal bersama.”
Selo dengan wajah tegang mengangguk ke arah Salman. Pramugari mulai memberikan instruksi kepada para penumpang untuk turun. Dan dua pemuda Nepal itu turut dalam barisan menuju tangga pesawat.
Dari sana kemudian sebuah bus membawa mereka sampai ke ruangan bandara. Menyusur jalan hingga tiba di antrian pengambilan troli.
“Aku ke kamar kecil sebentar ya,” ujar Salman pada Selo.
“Hey! Aku ikut.”
Dengan tergesa Selo mengikuti langkah Salman.
“Kau ingin buang air kecil juga?”
Selo menggeleng.
“Lalu kenapa kau tidak ke antrian dan mengambil troli kita? Nanti aku selesai kita tinggal keluar dan menuju ke alamat yang konselor berikan.”
Selo memamerkan barisan gigi,”Kau jangan membuatku harus mengatakan bahwa aku khawatir jauh darimu.”
Salman memutar bola matanya, “Ya Tuhan … Selo! Tidak ada yang akan menculikmu di sini.”
“Aku tahu, tapi aku khawatir jika nanti ada masalah atau harus berhadapan dengan salah satu orang Eropa ini. Apa yang harus kulakukan.”
Salman yang sudah ingin segera ke kamar kecil hanya menggelengkan kepala. Lalu berjalan dan Selo mengikutinya dari belakang. Selo tidak ikut masuk, hanya menunggu Salman di depan pintu toilet pria.
Setelahnya mereka menuju ke antrian berputar untuk mengambil toli dan keluar dari pintu bandara. Mereka mencari tempat agak ke sudut dan duduk di sebuah bangku tunggu. Salman mengeluarkan ponselnya dan mulai menyalakan.
Tentu saja karena perbedaan negara mereka tidak bisa mendapat jaringan selular. Tapi mereka mendapat jaringan wifi yang disediakan gratis oleh pihak bandara.
Beberapa pesan masuk dia terima, namun Salman tidak membacanya. Dia menuliskan pesan untuk tiga orang saja. Yaitu Usman, ayahnya dan … Tia.
‘Aku sudah mendarat di UK.’
Selo melihat ke arah Salman, yang di pandangi pun menjadi heran.
“Kenapa?” tanya Salman kesal pada Selo.
“Ponselmu berfungsi di sini?” Selo kelihatan heran.
“Tentu saja, kan kita bisa terhubung ke jaringan wifi gratis milik bandara.”
“Hah?! Wifi di sini gratis?!” tanya Selo dengan nada keras.
“Hey! Kecilkan suaramu, jangan berperilaku seolah kau pemuda dari pedalaman. Ini adalah bandara internasional di negara maju. Hal-hal seperti ini akan mudah kita dapatkan.”
“Oh, sejak tadi harusnya kau katakan. Aku juga ingin memberi kabar ke orang tuaku.” Ujar Selo kesal.
Salman mengerutkan kening dan menggelengkan kepala. Lalu dia mulai melihat sekeliling. Bandara ini memang mewah dan megah. Sangat jauh berbeda jika dibandingan dengan bandara di negaranya. Semua fasilitasnya pun terlihat sangat modern. Dan Salman sekarang ada di sini. Di negara dimana jalan mimpinya akan mulai dipenuhi satu per satu.
Dia membuka sebuah email dari konselor yang dikirimkan dua hari sebelum keberangkatan. Yang berisi informasi sebuah rumah yang telah mereka sewa. Rumah kecil di dekat kampus tempat Salman dan Selo belajar.
Setelah memesan sebuah taksi dari petugas bandara dan menyampaikan alamat yang akan mereka tuju, maka keduanya mulai beranjak meninggalkan bandara. Salman duduk di depan samping pengemudi taksi dan Selo di belakang.
Taksi berwarna kuning itu terus melaju membelah jalanan London. Dua pemuda Nepal itu terkagum dengan bangunan dan tata letak kota London yang jauh berbeda dengan negara mereka. Ada jalanan khusu untuk pengendara sepeda. Deretan gedung dan bangunan tertata apik. Kebersihan yang luar biasa. Namun Salman melihatnya dengan cara yang berbeda.
“Selo, semua orang di kota ini nampak sibuk dan tergesa. Sepertinya mereka tidak peduli satu sama lain.”
Selo mengangguk, sementara sopir di samping mereka hanya terdiam mendengar kedua pemuda yang berbicara dalam bahasa Nepal.
Hingga taksi berhenti di sebuah pemukiman yang dindingnya saling rapat satu sama lain namun dengan pagar pembatas di setiap pintu. Terlihat seperti sebuah apartemen sederhana.
Keduanya lantas membayar Taksi yang mereka tumpangi dan menurunkan barang-barang dari bagasi. Setelah mengucapkan terimakasih, sopir taksi kembali melaju meninggalkan keduanya yang masih berdiri termangu melihat bangunan di hadapannya.
Keduanya masing-masing memegang dua troli dan berdiri. Terdiam, dengan berbagai perasaan tegang. Mereka lalu mendekat ke arah pintu pagar rumah yang akan mereka tempati.
“Hey! Kalian dari Nepal?” tegur seorang wanita bertubuh gempal yang sedang sibuk menyapu bagian halaman.
“Ya, Madam. Betul kami dari Nepal.”
“Katakan siapa namamu?” tanyanya sedikit berteriak karena jarak mereka yang agak jauh.
“Aku Salman dan dia Selo.”
Sementara Salman memperkenalkan nama, Selo hanya tersenyum.
“Aku sudah menunggu kalian sejak tadi.”
Perempuan bertubuh besar itu menyandarkan sapunya di salah satu pohon dan mendekat ke arah mereka.
“Ini kunci ruangan kalian. Ada di lantai tiga. Kalian bisa masuk dari gerbang dan ikuti saja tangga. Karena setiap lantai hanya ada satu ruangan saja. Ok!”
“Baik Madam. Perkenalkan, Saya Salman. Dan anda?” tanya Salman sambil mengulurkan tangan.
“Ah! Aku senang dengan pemuda yang sopan sepertimu. Namaku Margareth, panggil saja Megi.”
“Oh, baik Madam. Apakah anda pemilik bangunan ini?”
“Panggil saja aku Megi, aku ingin terlihat selalu muda,” ucap Megi sambil mendongakkan kepala.
Salman dan Selo tersenyum menyambut seloroh Megi.
“Ok, Megi. Jadi kau pemilik bangunan ini?”
“Ya, dan tiga bangunan lainnya adalah milikku juga. Aku tinggal di rumah yang itu, yang ada di ujung bangunan. Aku tinggal bersama seorang putriku. Kalau kalian butuh bantuan datanglah padaku.”
“Tentu Megi,….”
“Dan! Aku tidak suka keterlambatan pembayaran! Camkan itu, sewa selalu dibayar di minggu pertama. Tanpa kecuali dan toleransi.”
Salman tersenyum pada Megi sementara Selo berubah jadi pucat.
“Tentu Megi, boleh kami masuk sekarang?”
“Ya, sebentar lagi akan kuminta Derk mengirim makanan untuk kalian. Kali ini gratis sebagai ucapan selamat datang. Selanjutnya kalian perlu ke swalayan untuk makanan, letaknya ada dibagian belakang dari jalan ini. Kalian mengerti?”
Megi diam melihat wajah bingung kedua pemuda di hadapannya.
“Ok, kalian berisitirahat dulu dan tanyakan nanti yang ingin kalian tahu. Lihat dibalik gantungan kunci yang aku berikan, itu ada nama dan nomor teleponku. Hubungi saja jika kalian butuh informasi.
Salman dan Selo mengangguk sambil menatap Megi yang berjalan menjauh, mengambil sapu dan kembali ke rumahnya di ujung bangunan.
Selo melihat Salman, raut wajahnya nampak sangat cemas. Dan Salman hanya menanggapi dengan senyuman.
“Ayo!”
Keduanya beranjak memasuki bangunan. Yang akan menjadi awal dari perjalanan dan saksi di kemudian hari.