DERK

1104 Kata
Memasuki bangunan dengan arsitektur lantai kayu dan serba minimalis. Keduanya melangkah menuju lantai tiga. Betul kata Megi, setiap lantai hanya terdapat satu pintu. Dan setiap pintu di dua lantai pertama tertutup rapat. Ukuran dari satu tangga ke tangga berikutnya tidak jauh. Sebenarnya tangga itu lebih mirip seperti tangga berputar. Keduanya melangkah perlahan sambil menarik masing-masing dua tas troli. Hingga tiba di lantai tiga. Dengan nafas terengah-engah dua pemudah Nepal itu berdiri di depan sebuah pintu berwana coklat. Segera Salman mengeluarkan kunci yang diterimanya dari Megi. Membuka pintu dan menarik dua trolinya masuk ke dalam. Selo mengikuti, memasukkan troli dan menutupnya kembali. Keduanya berdiri mengarahkan pandangan keliling ruangan. Salman melepaskan tas ranselnya begitu saja ke lantai dan mulai berjalan memeriksa seisi ruangan. “Kita punya ruang tamu? Dengan sofa dan televisi? Rasanya seperti di rumah,” ujar Selo sambil berjalan ke sebelah kanan ruangan. Dia membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari memasuki ruangan mereka. Di sisi sebelah kiri Salman memasuki satu pintu paling ujung. Di dalam nya berisi satu pintu kamar mandi dan ada sisi lain terbuka dengan mesin cuci di sana. Juga beberapa peralatan untuk menjemur pakaian. Dia hanya melongok sebentar dan kembali menutup pintu. Di sebelahnya sebuah dapur minimalis tersedia. Ada kompor gas satu tungku, di atas dan bawahnya terdapat lemari berisi peralatan memasak dan peralatan makan. Satu set meja makan dengan empat kursi ada di tengah ruangan. Sebuah kulkas, blender, oven dan pemanggang roti. Salman dan Selo kembali ke arah pintu masuk utama ruangan itu. Dan melihat ke empat pintu kamar yang tertutup di hadapan mereka. “Kau akan memilih kamar yang mana?” Salman melangkah ke arah kanan,”Aku ingin kamar dengan jendela. Kau tahu kan, aku tidak suka AC. Jadi lebih baik aku membuka jendela di malam hari jika udara sedang panas.” “Bagaimana kamu bisa tahu kamar yang itu ada jendelanya?” “Kamar ini terletak paling pinggir, sejajar dengan ruang tamu. Kalau ruang tamu itu ada jendela maka, hampir bisa dipastikan kamar itu juga ada jendela.” Selo mengangkat bahu dan menuju pintu di samping kamar Salman. Bagi Selo analisa Salman kadang terlalu berlebihan. Kecerdasan Salman tidak sebanding dengan sikap santai Selo. Salman pun tersenyum melirik Selo, “Tetap kau ingin di dekatku?” “Ha … ha … ha …!” tanpa menjawab Selo membuka pintu dan bergegas masuk ke dalam. Salman menutup pintu kamar setelah memindahkan kunci yang semula terselip di luar ke dalam. Dia membuka sepatu dan juga jaketnya. Melangkah ke jendela dan membukanya. Udara segar dan cahaya matahari masuk ke dalam kamar Salman. Di bawah jendela itu terdapat sebuah meja dan kursi. Salman meletakkan tas ranselnya di sana. Daia menarik dua trolinya dan meletakkan di samping lemari berpintu dua. Menuju tempat tidur berukuran single untuk merebahkan diri. Penerbangan yang panjang telah membuatnya lelah. Meski perutnya lapar namun saat ini yang dia inginkan adalah tidur. Sementara Selo sibuk di dapur, membuka semua pintu lemari dan kulkas. Namun yang dia temukan hanyalah beberapa botol air mineral. Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu ruangan mereka. Bergegas Selo membuka. Sesosok pemuda dengan kacamata tebal, rambut pirang dengan sweater merah bergaris dan celana jeans muncul di depan pintu. Wajahnya khas Eropa, dengan mata biru dan kulit putih kemerahan. Di tangannya nampak dua buah kantong besar berwarna putih. “Hi, aku Derk. Megi memintaku untuk mengantar makanan ini.” “Oh, silahkan masuk.” Selo menggeser tubuh dari ambang pintu dan memberikan jalan Derk untuk masuk ke ruangan. Dia membiarkan pintunya terbuka. Dia melihat Derk menurunkan dua kotak warna putih dari dalam satu kantong plastik. “Ini bisa langsung kalian makan.” Selo duduk dengan penuh antusias di depan Derk. Membuka sebuah kotak putih yang berukuran lumayan besar. Matanya berbinar melihat dua buah burger isi daging, kentang goreng, dan ayam goreng ukuran besar. “Kotak satunya berisi sama?” tanya Selo. “Ya, Megi memintaku membeli dua porsi makanan ukuran besar. jadi aku beli dua porsi yang sama.” “Aww! Terima kasih Derk!” Selo segera menyantap sebuah burger yang masih hangat dengan lahap. Sementara Derk menurunkan beberapa barang dari plastik yang lain untuk dijajarkan di meja. “Megi mengirim kalian beberapa bahan makanan. Cukup untuk makan malam dan besok pagi.” Sambil mengunyah Selo melihat Sarden, roti, s**u, keju, beberapa makanan kaleng, telur dan makanan beku. “Aku rasa itu cukup untuk dua hari. Ha … ha … ha …! Megi baik sekali. Hey! Kita belum berkenalan. Namaku Selo, dan aku dari Nepal.” “Hi, Selo. Aku sudah memperkenalkan diri tadi. Aku Derk, aku tinggal bersama Megi di rumah paling tepi.” “Owh! Kau anak Megi?” “Bukan, aku adalah keponakannya. Tapi Megi lebih dari sekedar ibu bagiku.” Ada raut sedih ketika Derk mengatakan tentang Megi. “Umm … kau masih sekolah atau sudah bekerja? Nampaknya kau seusia dengan kami.” “Mungkin, usiaku dua puluh dua.” “Wew! That’s great! Derk, kita bisa berteman baik nanti. “ “Benarkah?” “Tentu!” ujar Selo penuh semangat sambil mengepalkan tangan tos genggam ke arak Derk. Dan disambut Derk dengan wajah bersinar. Derk menoleh ke kanan kiri, celigukan mencari sesuatu. “Kau tinggal sendiri?” “Ada satu temanku bernama Salman. Dia ada di kamar paling ujung. Aku rasa dia sudah tertidur pulas. Penerbangan kami sangat melelahkan.” “Kalian hanya berdua? Kenapa menyewa ruangan untuk empat orang?” “Konsultan beasiswa kami akan segera mengrimkan dua siswa lagi dari Nepal. Karena itulah kami perlu empat kamar.” Derk mengangguk tanda mengerti. Sementara Selo telah menyelesaikan sebuah burger yang ada di tangannya. Kini dia beralih pada kentang goreng yang nampak renyah menggiurkan. “Kau mahasiswa Derk?” “Ya, aku mahasiswa IT. Ini tahun pertamaku seperti kalian. Sebenarnya untuk ukuran Eropa, pria seusiaku biasanya sudah selesai belajar dan mulai mapan dengan karir mereka. Namun karena satu dan lain hal. Aku baru memulai sekolahku tahun ini.” Selo mengangguk tanda mengerti. Dia dan Salman pun punya alasan hingga di usia yang ke dua puluh tiga mereka baru memulai pendidikan kuliah. “Aku dan Salman adalah mahasiswa dari jalur beasiswa. Kami akan mengambil jurusan dokter bedah.” “Kalian bisa melakukan operasi plastik nanti?” “Ha … ha … ha …!” tawa Derk dan Selo pecah bersamaan. “Baiklah aku tinggalkan kau dulu. Berisirahatlah, nanti jika perlu sesuatu kirim saja pesan padaku. Ini kartu namaku.” Derk menyodorkan sebuah kartu berwarna orange. “Kau belum bekerja tapi memiliki kartu nama?” “Ha … ha … ha ….! Apa masalahnya? Hal seperti ini biasa di sini. Kalian juga harus membuatnya nanti." Derk keluar pintu, dan Selo segera mengunci ruangan dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN