Kicauan burung bersahutan di ranting pohon dekat jendela kamar membangunkan Salman. Matanya mengejap dan berkedip menghindari cahaya yang datang dari arah jendela. Dia mengusap wajah dengan kedua tangan dan memandang ke langit kamar. UK!
Dilihatnya jam di tangan telah menunjukkan pukul lima sore. Dia tertidur sangat lama. Salman kemudian bangun dan membuka pintu menuju ruang depan. Dilihatnya Selo sedang membaringkan diri di sofa sambil menyaksikan tayangan televisi.
“Kau tidak tidur?” tanya Salman sambil bersandar ke pintu.
“Aku tidak bisa memejamkan mata. Ingatanku selalu kembali ke Nepal.”
“Hmm … mungkin butuh waktu. Tapi seingatku, kau sangat ingin pergi segera dari Nepal.”
“Tidak dari Nepal, tapi dari rumah keluargaku.”
Salman mengernyit dan menoleh ke arah berlawanan. Dilihatnya meja makan penuh berbagai barang. Sejak tadi perutnya terasa lapar. Baru saja dia ingin mengajak Selo membeli makan di luar. Salman mendekat ke arah meja makan dan melihat sebuah kotak putih.
Dibukanya kotak makanan itu, berisi burger, kentang, dan ayam goreng.
“Kau sudah makan?” tanyanya pada Selo.
“Ya, makanan yang sangat enak. Tapi aku merindukan masakan Kumar.”
Salman duduk dan mulai menggigit burgernya. Dingin, rupanya sudah sejak tadi makanan itu tersedia.
“Siapa yang mengirim makanan ini?”
“Derk, keponakan Megi.”
Salman memakan burger itu dengan gigitan besar.
“Berhentilah mengeluh dan selesaikan kerinduanmu dengan Nepal. Kita baru memulai,perjalanan masih panjang.”
Selo terdiam, dia sendiri juga heran bagaimana bisa perasaannya berubah arah. Dari semula sangat antusias meninggalkan Nepal untuk pergi ke UK. Dan sekarang malah dia lebih melankolis dari Salman.
“Aku mau mandi dan berjalan-jalan ke luar. Kau mau ikut?”
“Hey! Pertanyaan macam apa itu? Aku sejak tadi menunggumu, aku ingin melihat suasana luar agar tidak terus menerus terbawa perasaan.”
“Ya, kenapa sejak tadi kau hanya duduk diam disitu?”
Selo memperlihatkan barisan gigi pada Salman.
“Aku ingin keluar bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu!”
Salman menatap Selo dengan pandangan ragu. Dan Selo hanya menahan tawa,mengingat apa yang terjadi pada mereka berdua selalu sebaliknya. Salman mulai memasukkan baju-baju dan peralatannya ke dalam lemari. Sambil menunggu giliran untuk mandi.
Ring!!! Ring !!! Ring!!!
Suara ponsel Salman berbunyi, segera diraihnya ponsel yang ada di ranjang. Tia!
“Hey! Tia!”
“Hey Salman! Aku harus memanggilmu Nepal Man atau UK Man sekarang?”
“Ha … ha … ha …! Aku tetap Nepal Man. Hanya sementara tinggal di UK untuk belajar. Oh, maaf ya aku belum sempat menghubungimu. Setibanya di asrama aku langsung tidur. Penerbangan yang panjang sangat melelahkan.”
“Oh, tenang saja. Bagaimana perasaanmu tiba di sana?”
“Aku bahagia dan lega, akhirnya aku tiba di sini. Tempat yang akan aku tinggali setidaknya empat tahun mendatang.”
“Ya, kelihatannya kamu akan betah saja?”
“Tentu! Eh kamu tau, Selo sejak kami tiba selalu melankolis. Dia merindukan Nepal dan rumah. Ha … ha … ha …! Entah bagaimana perasaan kami sangat berlawanan sekarang. Sebelumnya dia yang selalu antusias untuk pergi.”
“Sungguh?” Tia mengatakan dengan mata melebar seolah tidak percaya.
“Ya, dan sekarang kami bersiap untuk keluar. Melihat pemandangan dan mengenal asrama tempat kami tinggal. Hmm … ini tidak mirip asrama. Lebih mirip sebuah rumah. Sebentar ya, aku tunjukkan padamu.”
Dengan penuh semangat, Salman mengalihkan video call Tia ke kamera belakang. Dan mulai menunjukkan kamarnya.
“Ini kamarku, tidak banyak fasilitas yang ada. Sebuah ranjang untuk satu orang. Meja belajar, lemari. Itu saja. Kamarku ini terletak paling tepi dan satu-satu yang memiliki jendela.”
Salman memperlihatkan jendela dan pemandangan yang bisa dilihat dari sana. Lalu dia beranjak membawa ponselnya keluar.
“Nah, lihat. Ada empat kamar lain berjajar dengan kamarku. Dan ini ruang tamu. Ada sebuah televisi dan satu set sofa.”
Lalu Salman memutar arah,”Dan ini dapur kecil tapi peralatannya sudah lengkap. Megi telah menyiapkan semuanya untuk kami. Termasuk meja makan untuk empat orang. Boleh dibilang rumah initelah lengkap dan nyaman.” Dengan bangga Salman menjelaskan pada Tia.
“Umm … ya kelihatan sangat nyaman. Dan siapa Megi?” tanya Tia heran.
“Oh, dia adalah pemilik asrama. Seorang wanita hmm … mungkin berusia lima puluh tahun. Dia tinggal di sebuah rumah dekat asrama kami.”
“Itu seperti sebuah flat ya, bukan asrama.”
“Ya betul, Flat. Orang menyebutnya begitu.”
“Dan itu, adalah kamar mandi, ruang mencuci dan menjemur. Aku tidak bisa tunjukkan, ada Selo sedang-“
Ketika Salman belum selesai bicara dengan video masih menggunakan kamera belakang menunjukkan kamar mandi, tiba-tiba Selo keluar dengan handuk membalut dari pinggang ke bawah.
“Dia keluar! Ha … ha … ha …!”
Selo dengan wajah santai heran dengan tawa Salman.
“Untuk apa kau memotretku? Jangan bilang kau berubah orientasi!”
“Aku sedang video call dengan Tia dan menunjukkan pintu kamar mandi. Dan kau tiba-tiba saja keluar. Ha … ha … ha …!” Salman tergelak dan segera mengalihkan kamera belakang menjadi kamera depan.
Wajah cantik Tia tersenyum simpul di layar Salman.
“Maaf, Tia. Jika pandangan matamu terganggu dengan keluarnya Selo.”
“Ah, nggak apa-apa.”
Selo dengan segera bergegas mendekat ke arah Salman dan mendorong kepala Salman ke samping. Dia berusaha mendapat ruang untuk ikut video call dengan Tia.
“Hey! Tia! aku merindukanmu. Sudah lama kita tidak berbincang di video call.”
“Halo Selo, aku juga merindukanmu. Bagaimana UK?”
“Negara yang luar biasa. Aku akan betah tinggal di sini. Semua tampak menyenangkan.”
Celotehan Selo yang bertolak belakang dengan apa yang Salman sampaikan. Membuat kening Tia berkerut dan melirik ke arah Salman. Dilihatnya Salman hanya mengangkat alis dan menggaruk keningnya yang tidak gatal.
“Okay, artinya tidak ada yang rindu dengan Nepal ya?”
“Kami akan kembali ke Nepal segera!”
Salman mendorong Selo untuk meninggalkannya. Sambil mendengus Selo masuk ke dalam kamar.
“Bagaimana kabarmu Tia?”
“Aku baik alhamdulillah. Hmm … aku menghubungimu untuk menyampaikan satu hal. Dan tolong jangan merasa buruk dengan hal yang akan kusampaikan ini ya.”
“Tentu Tia, apa pun yang kau sampaikan pasti karena kau sayang padaku.”
Sejenak Tia terdiam. Benarkah? Apa yang dia sampaikan karena dia sayang pada Salman? Sebagai apa? Pertanyaan demi pertanyaan hadir di kepala Tia. tapi dia sekali lagi mengabaikan.
“Salman, hidup di UK tentu akan banyak yang diperlukan. Selain adaptasi juga biaya. Kapan pun kau mengalami kesulitan, jangan segan untuk menghubungiku ya. Aku tahu, ayahmu pasti akan bertanggung jawab penuh. Dan kau juga segera mendapat pekerjaan. Tapi jika aku bisa membantu, aku akan bantu.”
Salman menatap Tia tanpa reaksi. Melihat wajah cantik yang sedang berbicara tegas dan dalam. Hatinya berloncatan dan pikirannya terbang. Setiap kali dia melihat Tia, hal yang sama selalu terjadi.
Begitu pun kali ini.