“Tidak, aku tidak ingin menerima apa pun lagi darimu. Terlalu banyak hutang budi yang harus kutanggung.”
“Hmm … itu hanya ada dalam pikiranmu. Bukan begitu cara berteman menurutku.”
Salman menatap Tia dengan kekaguman. Bagaimana dunia menjadi begitu indah sejak kehadirannya.
“Ok, jika kau butuh bantuan akan kukatakan padamu. Dan tolong, tidak perlu bertanya pada Selo. Aku akan mengatakan semua langsung padamu. Oh ya! Aku belum cerita padamu tentang ayah Anil.”
“Ayah Anil?” tanya Tia heran.
Karena setahu Tia masalah di antara mereka telah selesai.
“Akhirnya Anil mengatakan kebenaran kejadian itu pada ayahnya. Dan dia mengusir Maria kembali ke negaranya. Ayah Anil meminta maaf padaku dan memberiku uang dalam jumlah banyak. Cukup untuk dua bulan pertama hidupku di UK.”
“Benarkah? Wew, banyak yang terlewat olehku sepertinya.”
“Ha … ha … ha …! Ya, maafkan aku ya. Karena sibuk dengan semua persiapan, aku jadi lupa bercerita padamu.”
“Ah, nggak masalah. Tidak semua hal harus kau laporkan padaku. Aku senang jika hubunganmu telah membaik dan memiliki cukup uang.”
“Tia … kita akan bertemu?”
Tia diam sejenak, bertemu dengan Salman bagi Tia adalah hal mudah. UK bukan tempat baru bagi Tia. Dia pernah mengenyam pendidikan di sana. Memiliki beberapa kolega dan teman. Beberapa kali dia ke sana bersama Alinea untuk berlibur.
Tapi yang Tia pikirkan adalah apa yang akan terjadi saat dia bertemu dengan Salman. Tia menyayangi Salman. Namun itu bukan cinta, lalu bagaimana perasaan Salman terhadap Tia. Dia tidak ingin mengecewakan Salman yang baru saja memulai pendidikannya di UK.
“Kita akan bertemu, aku janjikan itu padamu. Tapi sekarang fokuslah dulu untuk beradaptasi dan belajar.”
Selo keluar dari kamar dan melihat Salman yang masih asik bervideo call dengan Tia.
“Salman!!! Cepat! Aku sudah siap! Sini aku gantikan video call dengan Tia.”
Selo mengambil alih ponsel Salman tanpa instruksi dan mendorongnya untuk segera masuk ke kamar mandi. Dengan wajah kesal, Salman menuju kamar mandi sambil berteriak,
“Tia! Matikan saja sambungannya kalau kamu tidak mau bicara dengan Selo!”
Sementara Selo sudah tidak mendengar kata-kata Salman. Dia tersenyum pada wajah cantik di layar.
“Katakan Tia, bagaimana rasanya menjadi seorang penulis?”
“Rasanya … hmm … Menyenangkan. Aku bisa merangkai kisah dan memberi arti pada dunia. Banyak pesan yang bisa kusampaikan.”
“Tia, Indonesia baru kudengar setelah aku bertemu dengamu. Katakan, seperti apa negara itu? Kamu pernah ke UK? Atau Nepal?”
“Selo … pertanyaan yang mana dulu harus ku jawab. Seperti ledakan peluru berhamburan ke wajahku sekarang.”
Selo tersenyum lebar, dia begitu antusias untuk berbicara dengan Tia.
“Katakan Tia, kau pernah pergi ke UK?”
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Kau tau, negara ini keren sekali. Sangat berbeda dengan negaraku. Meski tetap nyaman di negara kami sendiri, tapi aku berharap akan betah tinggal di sini.”
“Oh ya? Dulu aku tinggal di UK tujuh tahun. Tapi itu sudah sangat lama. Dan setelahnya aku beberapa kali datang ke sana untuk berlibur bersama Alinea.”
“Alinea?”
“Ya, putriku. Usianya lima belas tahun sekarang. Dialah semangat dan kebanggaan hidupku.”
Selo terdiam menatap wajah ayu Tia. Mengagumi kemandirian, kecerdasan dan kebaikan yang selama ini dia tunjukkan.
“Tia, kenapa kau bercerai? Kenapa ada pria yang bisa meninggalkan wanita sehebat dirimu?”
Di layar ponsel, Selo melihat sosok lain datang. Mengecup pipi Tia sambil melirik ke layar,
“Siapa lagi Mah? Namanya Salman juga?”
“Teman Salman, pakai ponsel dia tapi bukan dia.”
Tia kembali ke layar, “Selo, aku harus pergi. Sampai berjumpa lagi nanti ya.”
Tia lantas memutuskan sambungan teleponnya. Membiarkan Selo tanpa menjawab kehilangan gambar Tia di layar.
‘Wanita yang sangat cantik, dengan anak yang juga cantik. Dengan doa apa Salman mendapatkan teman sebaik itu?’ pikirnya.
Dengan sedikit bersenandung Salman keluar dari kamar mandi.
“Salman, benar kau mengenal Tia karena dia menawarimu beasiswa?”
Salman melihat Selo dengan tatapan curiga.
“Kenapa?”
“Setelah kamu memutuskan untuk pindah ke Khatmandu, rasanya hidupmu terlalu ajaib.”
“Jadi?” Salman semakin curiga dengan tatapan Selo.
“Jadi, cepatlah kita mau berjalan keluar. Atau kita akan pergi malam hari dan tersesat bersama.”
Salman memiringkan bibir dan berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Dia memilih celana training warna hitam dan sebuah t-shirt lengan panjang berwarna abu-abu. Kuit coklat, rambut hitam, jambang tipis dan matanya yang tajam menjadi perpaduan yang sempurna untuk membuatnya terlihat macho ala pria Asia.
Salman menyemprotkan sedikit parfum yang baru saja dibelinya sebelum berangkat ke UK. Ini adalah parfum pertama seumur hidupnya. Meski dia merasa itu tidak perlu namun dia membelinya juga. Sepasag sepatu kets warna putih menjadi pilihannya sore itu.
“Ayo!”
Salman melihat Selo dari atas ke bawah dengan kemeja biru, sepatu licin dan celana bahan berwarna coklat.
“Kau mau interview atau jalan-jalan?”
“Sudahlah, aku kan ingin mengambil beberapa photo. Untuk kupamerkan di media sosial.”
Selo sudah berjalan keluar mendahului Salman. Sambil mengangkat bahu, Salman mengunci pintu ruangan mereka dan menyusul Selo menuruni tangga. Di lantai dua mereka bertemu dengan Derk,
“Derk! Mau kemana?” sapa Selo.
“Aku ingin ke lantai empat. Ada cucian yang harus diambil. Gadis-gadis di lantai itu sangat pemalas. Mereka sering mabuk dan mengirim semua cucian kotor ke binatu. Aku dengar mereka anak-anak pejabat.”
“Hmm … kami akan keluar untuk melihat suasana sekitar. Kau mau ikut dan membantu kami menunjukkan banyak hal?”
“Hey! Tentu, tapi aku perlu ambil cucian mereka dulu. Kalian bisa menunggu sepuluh menit?”
“Tentu Derk, dan perkenalkan ini temanku Salman.”
Derk mengulurkan tangan, “Hi! Ok, aku ke lantai empat dulu. Kalian bisa tunggu di bawah ya. Sepuluh menit, Ok!”
Dan Derk pun bergegas lari ke lantai atas. Sementara Salman dan Selo meneruskan ke lantai bawah.
Beep! Beep! Beep!
Salman melihat ke arah ponselnya,”Nomor UK?”
“Di saluran telepon? Teleponmu berfungsi di sini?”
“Bukan, di whatsapp.”
“Kau jaringan?” tanya Selo semakin bingung.
“Asrama kita ada wifinya. Dan gratis, kau tinggal sambungkan saja.”
“Kenapa tidak bilang?” tanya Selo sewot.
“Aku sudah bilang, kita tinggal di negara maju. Banyak fasilitas gratis di sini. Meski kau harus bayar banyak hal dengan mahal!” ujar Salman kesal dan mengangkat ponselnya yang teris berbunyi.
“Halo?”
“Halo, aku Margareth dari Universitas Kingston. Kalian sudah tiba di UK?”
“Ya, Madam.”
“Ok, besok kalian harus ke kampus untuk mengisi beberapa formulir pendaftaran ulang dan pembuatan ID.”
“Baik, Madam.”
“Kalian cari ruanganku. Aku adalah konselor yang bekerja sama dengan kampus kalian di Nepal.”
“Baik, Madam.”
Salman memutuskan sambungan telepon.
“Apa katanya?” tanya Selo ingin tahu.
“Katanya kenapa Derk lama Sekali?”
Selo merengut kesal ke arah Salman.
“Kau ini!”
“Kita perlu ke kampus besok. Hatiku rasanya berdebar-debar.”
Selo melihat Salman yang khawatir dan membuat dia khawatir juga. Kalau yang secerdas Salman khawatir, apalagi dirinya.