Menjelang malam, mereka berhenti di sebuah café yang terletak di tepi jalan. Menikmati udara malam yang mulai dingin dengan dua gelas kopi. Meja tempat mereka duduk terletak di tepi jalan, di bawah pohon rindang. Derk dan Salman tengah duduk membincangkan sesuatu ketika Selo datang dengan tergesa.
“Gila, kopi di sini sangat mahal. Bagaimana kita akan bertahan hidup dengan cara seperti ini!” Serunya heboh.
“Ha … ha … ha …! Tentu kau tidak bisa membuat perbandingan dengan negaramu, Selo. Di sini pendapatan setiap orang juga besar.”
Derk menjawab kebimbingan Selo.
“Berapa besar?” tanya Salman.
“Tentu semua tergantung kapasitas dan perusahaan tempat mereka bekerja. Aku mengenal seorang tukang bersih sampah yang setiap tahun pergi ke luar negeri. Dia liburan ke kawasan Asia. Dia bilang, dengan uang sedikit dia bisa dapat fasilitas yang bagus di negara Asia. Itu sudah menunjukkan sebuah perbandingan kan?”
Salman dan Selo mengangguk-anggukan kepala dan memikirkan kemungkinan hidup merek di negara itu.
“Lagi pula, untuk pria-pria seumuran kita ini biasanya sudah mandiri secara keuangan.” Lanjut Derk.
“Di negara kami pun sama Derk. Tapi aku dan Selo karena banyak alasan, kami terlambat untuk mendapatkan pendidikan. Ini adalah tahun terakhir kami untuk bisa mengikuti program beasiswa dan beruntungnya kami mendapatkan program itu.” Salman menjelaskan.
“Hey! Derk, kenapa kau tinggal dengan Megi? Dimana orang tuamu?” tanya Selo.
Salman seketika menoleh ke arahnya dan melotot. Selo hanya nyengir kuda menanggapinya.
“Orang tuaku adalah peternak. Kami hidup di pedesaan yang jauh dari kota. Dan keluargaku tidak punya cukup uang untuk membiayai aku ke universitas. Tahun lalu kecelakaan merenggut nyawa keduanya. Aku anak tunggal, dan Megi adalah kakak dari ibuku. Dia menawariku untuk kembali sekolah ke universitas. Dengan harta peninggalan orang tuaku.” Jelas Derk sedih.
“Megi tidak memiliki keluarga?”
“Dia tidak pernah menikah. Tapi dia punya anak perempuan seusia kita. Dan anak itu lebih banyak melawan Megi dari pada mencintainya. Dia bahkan tidak tinggal serumah. Dia memilih tinggal di lantai empat bersama teman-temannya. Di bangunan yang kalian tempati.”
“Hmm … Derk, katakan bagaimana aku bisa mendapat pekerjaan?” tanya Selo.
“Kau bisa membuka situs-situs online. Biasanya mereka memberikan banyak informasi yang membantu. Atau kau bsia juga memilih pekerjaan online yang freelance asalkan kau memiliki laptop. Tapi aku rasa kau akan mendapatkan pekerjaan yang tidak butuh keahlian. Sulit untuk mendapat pekerjaan baik, apalagi kalian baru tida di negara ini.”
Salman menyeruput kopinya yang mulai dingin. Dia banyak membaca tentang UK, tapi tidak terbayang bahwa akan sesulit ini. Pekerjaannya telah tersedia, dia hanya butuh beradaptasi nanti.
Mereka melihat empat orang gadis berjalan menuju arah mereka duduk.
“Derk!”
Gadis dengan rambut pirang bermata lebar dan cantik itu melirik ke arah Salman dan Selo. Dan Selo menyambutnya dengan senyuman ramah. Sementara Salman, tidak acuh dan tetap menikmati kopinya.
“Cindy, dari mana?”
“Hmm … kami baru selesai clubbing. Teman baru?” tanya gadis bernama cindy itu mengerling ke arah Salman dan Selo.
Sementara ketiga temannya berdiri tersenyum di belakang Cindy.
“Ya, penghuni baru di asrama Megi. Aku sedang membawa mereka berkeliling untuk melihat suasana sekitar asrama.”
“Umm,….”
Selo berdiri dan mengulurkan tangan pada Cindy,”Hai, aku Selo.”
Cindy menyambut dengan senyuman dan menjabat tangan Selo.
“Kalian dari negara Mana?”
“Kami dari Nepal. Kami datang ke UK untuk belajar.”
“Umm,….” Cindy melirik ke arah Salman yang tetap duduk di tempatnya. Tanpa sedikit pun melirik Cindy, membuatnya gemas.
Cindy adalah gadis yang cantik, dia primadona di kampus. Banyak pria yang dengan senang hati pergi berkencan dengan Cindy.
“Dia anak Megi,” tukas Derk.
“Wow! Senang mengenalmu Nona, kau akan banyak membantu kami nanti.”
Cindy menengok ke arah temannya yang mulai cekikikan dengan sikap lucu Selo.
“Kau yang akan banyak membantu kami nanti, Selo.”
Sekali lagi Cindy melirik ke arah Salman yang mulai menghabiskan kopinya.
“Dia temanmu? Apakah dia tidak bisa bicara?”
“Salman!” Selo menyenggol lengan Salman sambil tersenyum ke arah tiga teman Cindy.
Salman tanpa reaksi. Dan Cindy mendekat, sedekat mungkin pada Salman.
“Hai, aku Cindy.”
Salman menatap Cindy dari atas ke bawah. Dengan rok pendek dan t-shirt lengan panjang, Cindy terlihat seksi dan menarik.
“Hai, aku Salman.” Dia mengulurkan tangan dengan segan.
“Ok, Boys. Nikmati waktu kalian, kami akan kembali ke asrama.”
Cindy kembali merangkul temannya dan mereka berjalan sambil tertawa-tawa. Dari jauh salah satu teman Cindy berkelakar.
“Pria Nepal itu seksi, aku suka dengan kulit coklat mereka. Nampak kuat kan?”
“Ha … ha … ha …!” di iring tawa teman yang lainnya.
Sementara tatapan Selo mengikuti langkah pada gadis yang berjalan dengan riang. Dua dari mereka nampak terhuyung karena mabuk.
“Itu anak Megi. Aku tidak tahu apa masalah di antara mereka sehingga hubungannya dengan Megi begitu berantakan. Hampir setiap malam Cindy keluar untuk mabuk bersama temannya. Dan tidak jarang juga bersama seorang pria.”
“Megi tidak marah?” tanya Selo.
“Dulu mereka sering beradu pendapat. Tapi sejak Cindy memutuskan pindah bersama temannya, Megi hanya bisa memandang.”
Salman melihat ke arah Selo,”berhentilah mencari tahu tentang hidup orang lain!”
Selo nyengir kuda melihat reaksi datar Salman. Malam semakin dingin dan ketiganya kembali ke asrama. Derk melambai sebelum mereka berpisah di depan pagar asrama Salman dan Selo. Dia kembali ke rumah Megi. Sementara Salman dan Selo menuju lantai tiga tempat mereka tinggal.
“Berapa lantai bangunan ini?” tanya Selo sambil membuka pintu ruangan.
“Sepertinya lima. Tadi saat kita di luar aku memperhatikan jendela ke atas. Semua ada lima.”
“Dan tadi Derk bilang, Cindy dan temannya tinggal di lantai empat?” senyum nakal Selo muncul.
“Jangan macam-macam Selo. Aku tidak ingin ada masalah di sini!” Salman menatap Selo penuh ancaman.
Selo memperlihatkan barisan gigi dan kedipan sebelah mata. Lalu masuk ke ruangan dan menjatuhkan diri ke sofa. Salman mengerutkan alis, hampir bisa dipastikan Selo akan berusaha merayu Cindy dengan sikap play boynya. Dekat dengan cindy akan menguntungkan, begitu yang Selo pikir.
Sementara Salman menuju wastafel di sudut kiri ruangan sejajar dengan kompor. Dia mencuci tangan dan wajah di sana. Lalu duduk di meja makan yang masih berantakan. Barang-barang yang Derk bawa sore tadi belum mereka rapikan.
Dia mengeluarkan ponsel, melihat sebuah panggilan masuk dari ayahnya. Menekan tombol telepon balik dan terhubung dengan segera.
“Halo, ayah. Maaf aku belum sempat menghubungimu.”
“Ya, ayah akan mengirimmu uang besok. Pastikan kau bisa melakukan transaksi di sana.”
Salman terdiam, ayahnya mungkin lupa tentang uang yang ayah Anil berikan.