TEMAN DAN CINTA

1103 Kata
“Ayah, kirim saja uang itu untuk adik-adik dan ibu. Ayah ingat kan, aku punya uang dari ayah Anil. Dan bulan depan aku sudah mulai bekerja di rumah sakit dari hasil beasiswaku.” Khan terdiam,”Salman, bisa kita beralih ke video?” Salman menekan beberapa tombol dan mengalihkan panggilan ke video. Terlihat sosok ayahnya dengan sweater dan memakai kupluk di kepala. Ayahnya yang mulai masuk usia senja. Menjelang lima puluh tahun dan dia sebagai putra pertama Khan belum juga mandiri. Kenyataan yang meremas hati Salman. “Salman, ayah sangat bangga padamu. Ayah belum pernah ke UK, tapi ayah mendengar banyak tentang negara itu. Tetaplah menjadi Salman Khan putraku. Kita boleh modern tapi pemikiran dan gaya hidup kita harus tetap sebagai pria Nepal. Suatu hari kau akan kembali ke Nepal dan memiliki nama besar di sana bersama keluarga kita.” Salman menatap ayahnya berkaca-kaca,”Ya ayah, aku janji. Tidak akan mempermalukanmu atau keluarga." Salman melihat mata ayahnya berkilauan dan beberapa air nampak siap mengalir. Salman adalah kesayangan dan kebanggaan Khan. Dulu, Khan selalu mengatakan bahwa Salman yang akan mewarisi seluruh lahan pertanian miliknya. Namun sekarang ternyata, Khan dan Salman malah meninggalkan Nepal untuk mengejar hidup yang lebih baik lagi. Salman memutuskan sambungan telepon. Dan mulai memasukkan beberapa barang pemberian Megi ke kulkas yang tersedia di deretan dinding dapur mereka. “Selo, kau memikirkan Cindy?” “Tidak, gadis seperti Cindy bukan tipeku. Cindy cantik, tapi hanya untuk bersenang-senang.” “Kau kelihatan pendiam sejak kita kembali.” “Kau dengar tadi Derk bilang, aku perlu komputer jika ingin pekerjaan freelance dan online.” Salman yang sudah selesai duduk di sofa lain. “Sebenarnya kita memang butuh itu. Untuk kuliah juga. Kita akan berusaha nanti, aku tidak bisa menggunakan uang dari ayah Anil.” Selo melihat ke arah Salman, sambil meruncingkan bibir,”Uang itu lebih dari cukup kalau kau ingin membeli sebuah laptop.” “Aku ingin membayar hutangku pada Tia. Aku belum bicara dengannya, tapi akan kubayar segera.” “Tia tidak berharap aku rasa.” “Sudahlah, Selo! Kita akan membelinya nanti setelah bekerja. Kau cari saja pekerjaan yang tidak membutuhkan komputer. Seperti, di restoran atau café.” Selo menatap Salman kesal. “Kau ini terlalu baik, bahkan kau tidak bisa menerima kebaikan orang lain. Biarkan saja jika Tia ingin membantumu.” “Selo! Aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan seorang wanita.” “Tapi kau tidak minta. Dia yang ingin memberi bukan?” Salman bangkit menuju kamarnya sambi berucap,”Tia urusanku, dan aku tau apa yang aku inginkan darinya. Aku tidak ingin uang dalam persahabatan kami. Jika dia kaya, bukan berarti aku boleh menumpang mudah atas hidupnya.” Dengan sedikit keras Salman menutup pintu kamarnya. Dengan balutan celana pendek tanpa baju, Salman merebahkan diri di ranjang. “Tia, kau disana?” dia mengirim pesan untuk Tia. Beberapa menit tanpa balasan. Salman menjelajah laman sss sambil menunggu Tia membalas pesan. “Hai, bagaimana harimu?” Melihat notifikasi paling atas di ponselnya, Salman bergegas menjawab. “Aku senang tinggal di tempat ini. Lingkungannya bersih dan semua fasilitas lengkap. Hanya satu hal yang membuatku tidak nyaman.” “Apa itu?” “Di bangunan yang sama ada lima lantai, artinya lima ruangan. Dan beberapa lantai di isi oleh para gadis. Aku ingin seperti di Nepal, pria dan wanita tidak di izinkan tinggal dalam satu bangunan.” “Ha … ha … ha …! Tentu tidak sama dengan Nepal. Lalu kenapa tidak nyaman?” “Kau tahu kan, aku tidak nyaman dekat dengan wanita. Setidaknya saat ini, aku tidak ingin dekat dengan siapa pun. Hatiku tidak siap,….” Tidak ada balasan dari Tia. Salman menunggu, “Tia,….” “Salman, hidup itu kadang memang menyakitkan. Tapi bukan berarti semua bagian akan berlaku sama. Akan ada bagian dimana bahagia juga tersedia. Aku telah menceritakan padamu bagaimana Arman menyakitiku.” “Kisah kita berbeda, Tia.” “Betul, tapi kita punya kecewa yang sama. Kalau waktu itu aku menyerah pada keadaan, entah bagaimana hidupku hari ini dan Alinea.” “Kau punya Alinea yang berharap banyak padamu. Dan aku?” “Apakah harapan ayah, ibu, adik-adik tidak berarti bagimu?” “Tentu, salah satu alasan aku ke UK untuk menjadi dokter. Tapi tentang cinta dan hidup pribadiku, tidak ada kaitannya dengan mereka kan?” “Benarkah? Apakah ayahmu tidak berharap cucu? Apakah kebahagiaan ibumu hanya tentang keberhasilan sebagai dokter?” “Tapi Tia,….“ “Baiklah untuk saat ini mungkin kau belum sembuh dari luka dan butuh berjeda. Fokuslah pada sekolahmu dulu. Dan berhentilah membenci wanita. Tidak semua wanita berhati seperti Miranha.” “Tia, satu-satunya wanita yang kupercaya saat ini selain ibu dan keluargaku adalah, kau.” Tidak ada balasan, Tia di seberang sana terdiam. Dia berharap apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Salman tidak boleh jatuh hati padanya. Meski ada magnet yang membuat Tia selalu ingin mendekat pada Salman. Tapi bentangan usia menjadi dinding yang terlalu tinggi untuk dilalui. “Hey! Kau sudah akan tidur? Di sana sedang malam hari kan?” “Ya, aku sudah di tempat tidur. Tapi pikiranku melayang ke tampat lain yang sangat jauh.” “Jauh?” “Ya, ke Indonesia dan mengingat wanita cantik yang … beberapa bulan ini begitu dekat di hatiku. Dia bukan hanya teman tapi seperti pelita yang membawaku keluar dari kegelapan.” Sebuah panggilan video call masuk ke ponsel Salman, Tia. “Hey! Seseorang sedang mencoba merayuku! Katakan secara langsung, aku ingin melihat ata dan wajah orang yang mengatakan itu!” Salman tersenyum simpul, bagaimana mengatakan pada Tia. “Katakan!” ujar Tia sambil menahan tawa. “Tia, aku mencintaimu.” Salman mengatakan dengan jantung berdegup kencang. Wajahnya pucat dan aliran darahnya berdesir. Tubuhnya terasa dingin. Dia yang semula berbaring di ranjang, bangkit dan berdiri di tepi jendela. “Aku juga mencintaimu! Sebagai teman, kita memang harus mencintai. Dengar, aku akan mendukungmu hingga kamu berhasil meraih apa yang kau impikan. Aku pernah di posisi yang sama. Dan mensupport orang di posisi yang sama adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku.” Wajah Salman yang berseri di awal kalimat Tia, mendadak suram. Cinta yang Tia berikan sebagai teman. Sementara Salman berharap Tia akan memberikannya sebagai wanita. Meski begitu, dalam hati Salman sangat mengerti bahwa Tia tidak sebanding dengannya. Wanita cantik yang luar biasa. “Tia, aku akan tidur sekarang. Jaga dirimu baik-baik ya.” Tia tersenyum melihat dan mendengar wajah sayu dan suara lesu Salman. Tia mengerti apa yang ada dalam hati Salman. Namun begitu, semuanya bagi Tia tidak mungkin. Dia tidak ingin Salman memberikan Tia jalan terlalu dalam masuk ke hatinya. “Ada yang akan kusampaikan besok. Sekarang istirahat dulu ya. See you.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN