KINGSTON UNIVERSITY

1100 Kata
Letak kampus dari asrama mereka ternyata tidak begitu jauh. Lima belas menit berjalan kaki mereka telah sampai disebuah gedung megah. Universitas Kingston, terbesar di London. Kedua pemuda Nepal itu berdiri di gerbang kampus yang sangat besar. Bangunan luas dan halaman sejauh mata memandang. Terkagum dengan arsitektur luar biasa, banyak mahasiswa berlalu lalang melewati mereka. Yang sebagian besar berwajah Eropa. Dengan baju kasual, celana jeans, kaos hitam dan menyandang tas ransel serta sepatu kets, Salman jelas terlihat macho versi pria Asia. Dan Selo pun serupa, dia menyandang ransel, kaos warna merah serta luaran kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Selo mendekat pada Salman. “Kenapa?” “Jangan jauh-jauh nanti kita bisa tersesat di bangunan seluas ini.” Salman menatap kesal pada Selo,”Jangan kelihatan kau dari kampung. Tetaplah tenang, lihat di semua sudut ada papan petunjuk jalan. Kalau tersesat tinggal cari saja. Beberapa security juga berjaga. Kita aman. Tenang saja.” Selo tersenyum kecut dan mengusap dahinya yang berkeringat. Beberapa mahasiswa melirik ke arah mereka tanpa menyapa. “Selo!” Suara seseorang memanggilnya, nyaris saja membuat Selo melompat karena terkejut. Mereka menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Seorang gadis dengan rok setinggi lutut dan belahan agak tinggi, berpadu kaos ketat berkerah lebar serta sepatu boot datar mendekat ke arah mereka. “Cindy!” “Kalian sekolah di sini juga?” katanya sambil melirik sinis sini ke arah Salman. Yang dilirik memberikan reaksi dingin. Sementara Selo yang semula gugup mendadak percaya diri, dan mendekat ke arah Cindy. “Hey! Ternyata kamu kuliah di sini juga. Jurusan apa?” “Drama,” “Wew, kamu ingin menjadi ratu drama?” Tanya Selo sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Cindy. Cindy tertawa dan memukul ringan lengan Selo. Membuat Selo tersenyum bahagia. Mendekati para gadis adalah keahliannya. Dengan beberapa kalimat Selo bisa akrab dengan gadis mana pun. “Kalian … hmm maksudku kamu, kelihatan bingung. Mencari sesuatu?” tanya Cindy pada Selo dan melirik kesal pada Salman yang hanya diam tanpa ekspresi. “Ya, kami mencari ruangan nyonya Margareth. Kepala konselor beasiswa di kampus ini.” Cindy melihat mereka heran,”Kalian masuk dari jalur beasiswa?” Selo mengangguk bangga. Sementara Cindy semakin sinis melihat ke arah Salman. “Artinya kalian … Ups, sudahlah. Ayo kutujukkan ruang Maragareth.” Cindy berjalan di depan bersama Selo dan asik berbincang. Sementara Salman mengekor dari belakang sambil mengamati suasana dan mengingat jalan sekitar kampus mereka. “Ruang Margareth ada di dalam pintu itu,” ujar Cindy menunjuk dengan kepalanya. Selo menoleh ke arah Salman, berharap Salman akan mendahuluinya masuk ke ruangan itu. “Cindy!” seorang pria berbadan serupa Salman dengan rambut coklat dan mata hazel menuju ke Cindy. Serta merta memeluk pinggangnya dan mengecup pipi Cindy. “Jose, aku baru tiba.” “Ya, tentu. Sedang apa kau didepan ruang beasiswa?” Cindy menatap dua pemuda Nepal di hadapannya. Dan Jose menatap mereka dengan raut wajah jijik. “Ayo!” Tanpa basa basi, Jose menggiring Cindy. Menghalau pinggang Cindy untuk mengikutinya. Dan Cindy mengedipkan sebelah mata ke arah Selo yang sejak tadi tersenyum gugup. “Hey, pria Eropa semua searogan itu?” tanya Selo pada Salman. Salman mengangkat bahu dan bersiap masuk ke ruangan beasiswa. Meja pertama yang mereka temui ada meja seorang gadis berwajah Asia. “Selamat pagi, saya ingin bertemu nyonya Margareth. Kami mahasiswa beasiswa dari Nepal.” Gadis itu melihat mereka sekilas dan membuka sebuah buku besar. “Nama anda?” “Salman Khan dan dia Selo Mumtaz.” Beberapa saat gadis itu mengecek daftar di buku besarnya. Lalu menutup kembali. “Silahkan, itu ruangan Bu Margareth.” Dia menunjuk sebuah ruangan diantara lorong dengan tulisa besar di depannya ‘MARGARETH SCOTT.’ “Ayo! Terima kasih ya,” ajak Salman pada Selo sekaligus berterima kasih pada gadis itu. Salman mengetuk pintu Margareth dan Selo berdiri di belakangnya. “Masuk!” terdengar suara dari dalam. Seorang wanita berhijab dengan wajah Eropa duduk di belakang meja. Dia menurunkan sedikit kaca matanya saat Salman dan Selo memasuki ruangan. “Salman dan Selo?” tanyanya. Salman mendekat dan mengulurkan tangan,”Saya Salman, Nyonya.” “Dan saya Selo.” Selo mengikuti gerakan Salman. “Ok, silahkan duduk.” Kedua pemuda Nepal itu mengambil duduk di depan Margareth yang mengamati mereka tanpa senyuman. “Selamat datang di London. Aku jelaskan pada kalian sekilas tentang universitas ini. Meski kalian pasti sudah mendapat penjelasan dari konselor kalian di Nepal. Kingston adalah Universitas terbesar di London. Di sini banyak fakultas dan jurusan. Dan kalian diterima sebagai mahasiswa jurusan kedokteran bedah.” Keduanya menyimak pembicaraan Margareth dengan seksama. “Tentu tidak seperti mahasiswa jalur reguler, kalian harus memenuhi syarat untuk melanjutkan di tahun berikutnya. Tentu saja standarnya adalah nilai dan perilaku. Kalian tidak boleh terlibat kasus kriminal. Dan jika kalian tidak memenuhi syarat nilai, maka kalian harus kembali ke Nepal untuk ujian kesetaraan di tahun berikutnya. Jelas?” Selo menatap ngeri pada Salman, dan kembali melihat Margareth dengan senyum canggung. “Ya, Nyonya,” ujar Selo sementara Salman hanya diam. “Salman, kenapa hanya diam?” tanya Margareth. “Nyonya anda berasal dari UK? Nampaknya anda seperti wanita Asia.” Margareth tersenyum, memang bukan sekali dua kali orang terkecoh dengan namanya. “Aku warga negara UK karena lahir dan besar di sini. Tapi orang tuaku adalah warga negara Pakistan.” Selo menarik nafas lega tanpa alasan. Dan Salman tersenyum mengangguk, “Nampaknya semua sudah jelas Nyonya.” “Oh, iya. Kamu pemilik gelar mahasiswa terbaik jalur beasiswa tahun ini kan?” “Betul Nyonya.” “Sore ini aku akan emailkan surat pengantar untukmu. Dan kau besok bisa pergi ke rumah sakit tempatmu akan bekerja. Sesuaikan dengan jadwal sekolah. Tunjukkan pada pihak rumah sakit sehingga mereka bisa mengatur jadwal kerjamu.” “Baik, Nyonya.” “Terima kasih, hari ini aku rasa kalian belum mulai belajar. Dan besok adalah weekend, aku rasa kalian akan mulai di hari senin. Pastikan kalian memiliki laptop karena semua pelajaran akan di sharing melalui email dan sharing drive. Terima kasih dan selamat belajar.” Dengan langkah lesu keduanya keluar ruangan Margareth. “Salman, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Salman melihat ke arah Selo. Dia tidak ingin menggunakan uang dari ayah Anil. Selain karena ingin mengembalikan uang dari Tia, itu juga persiapan hidup mereka sampai Salman mendapatkan gaji pertamanya. Dan itu dua bulan lagi. “Kita pulang!” ajak Salman. Salmbil berjalan keluar, kedua pemuda Nepal itu melongok ke sana kemari mengenali kampus sekaligus mencari letak fakultas kedokteran tempat mereka akan belajar nanti. Dan sejurus mata Salman bertabrakan dengan mata Cindy yang ada di taman kampus dalam pelukan Jose. Cindy menatap Salman penuh kebencian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN