SUDUT PANDANGAN

1108 Kata
Beep! Beep! Beep! Ponsel Tia berbunyi, sebuah panggilan video call. Sekilas Tia melirik ke arah jam di bagian sudut atas. Jam sebelas malam wkatu Indonesia. Artinya jam tiga sore di UK, “Halo, Salman.” “Hi, Tia. Aku mengganggu?” “Ya, aku sedang menulis sebuah novel baru. Tapi aku senang mendapat gangguan darimu. Membuatku sejenak berisitirahat ha … ha … ha,….” “Aww, baiklah.” “Bagaimana hari pertama sekolahmu?” Salman terdiam melihat ke wajah Tia. Selain memperhatikan wajahnya yang cantik juga merasa aneh dengan pertanyaannya. “Tia, kenapa kau bertanya seperti ibuku?” “Benarkah? Ha … ha … ha …! Mungkin kau bisa mulai memanggilku ibu seperti Alinea? Setuju?” “Tidak! Aku tidak akan setuju!” Seklai lagi tawa meledak dari Tia dan Salman menatapnya dengan kagum dari layar ponsel. Tia yang cantik, tidak akan ada yang percaya bahwa usianya sudah kepala tiga. “Ok, aku akan berhenti tertawa dan mulailah bercerita. Bagaimana hari pertamamu di kampus?” “Kampus yang sangat modern dan luas. Semua fasilitas lengkap tersedia. Tapi sebagian besar mereka adalah orang Eropa. Kami melihat juga beberapa wajah Asia. Aku rasa mereka yang bersekolah di sana adalah orang-orang kaya.” “Hmm, ya orang tua mereka yang kaya. Tapi anak-anak itu saja dengan kalian.” “Tapi Tia, pemilik asrama yang aku tempati adalah seorang wanita dan memiliki keponakan bernama Derk. Dia bilang, di Eropa pria-pria seusia kami pada umumnya sudah mandiri.” “Hmm, itu juga betul. Tenang saja jangan gugup menghadapi situasi. Kalian akan beradaptasi dengan segera.” “Entahlah, aku tidak yakin dengan cara mereka bersikap.” “Salman, dengar ya. Orang Eropa dan orang Asia, sama saja. Semua disebut orang kan? Mungkin cara kita tumbuh dan dibesarkan berbeda. Sehingga kita menganut budaya dan kebiasaan yang berbeda. Tapi sebagai manusia, dalam diri setiap orang sama saja. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang ramah ada juga yang tidak peduli. Jangan tergesa mengambil kesimpulan yang mempersulit langkahmu ke depan. Ok?” Salman menatap Tia tanpa kedip. Binar kekaguman terlihat jelas di wajahnya. Selama ini Salman dibesarkan dalam nilai timur yang kental. Ketika seorang tidak menerima dirinya maka yang harus diperiksa adalah apa yang salah dalam dirinya. Namun setelah dia bertemu Tia, Salman belajar untuk melihat setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Dan pandangan Tia begitu luas, untuk menularkan Salman cara yang lebih baik melihat kehidupan. “Salman!” Tia memanggilnya keras. Nampak Salman menatapnya tanpa kedip, entah dia mendengar apa yang baru saja disampaikannya atau tidak. “Salman,….” Sekali lagi Tia memanggilnya “Ya, Tia. Aku mendengar semua yang kau katakan. Dari mana kau bisa melihat sesuatu dengan cara seperti itu?” “Dari pengalaman, dari membaca dan dari hidup yang aku jalani. Ingat, usiaku lebih tua darimu.” Tia kembali tergelak dengan kalimat yang baru saja dia katakan. Membuat senyum terukir di wajah Salman. Dia selalu berusaha untuk lupa dengan usia Tia. “Bertemu denganmu menjadi sebuah keajaiban bagi hidupku.” “Hey! Jangan berlebihan memuji seseorang. Ketika kau terlalu mengaguminya, besar kemungkinan suatu hari kau akan sebesar itu juga dikecewakannya.” “Hmm, ok. Katakan, bagaimana harimu?” tanya Salman pada Tia. dia mencoba mengimbangi pembicaraan mereka. “Seperti biasa, tapi akhir-akhir ini aku sering keluar rumah untuk memulai pendirian perusahanku yang baru. Dan hari ini aku bertemu dengan seorang pejabat. Masih muda, tampan dan orangnya terlihat menyenangkan.” “Seorang pria?” tanya Salman. “Ya, seorang pria. Pria asli Indonesia. Kami bertukar kontak dan hari ini dia beberapa kali mengirimiku pesan.” Salman merasa aliran darahnya berhenti. Ada rasa nyeri hadir di sisi hatinya. Seorang pria baru hadir dalam hidup Tia. Salman sulit mengenali rasa yang sekarang datang. Dia tidak ingin mendengar apa pun tentang pria itu. “Bagaiman Alinea?” “Oh, dia sehat. Dan belum memutuskan untuk menerima tawaran Arman. Aku biakan dia mengambil waktu berpikir sebanyak yang dia mau.” “Hidup Alinea sangat beruntung,” ujar Salman. Tia menatap Salman tajam. “Sebaiknya kau belajar melihat seseorang bukan hanya tentang apa yang ada di depan mata. Alinea hari ini berlimpah segala. Apa pun yang dia inginkan hampir pasti terpenuhi. Tapi Alinea kehilangan masa emas tumbuh kembangnya. Ketika kami hidup di yayasan sosial. Jangankan uang, untuk makan pun kami harus bergantung pada kebaikan orang lain.” “Oh, Iya. Maafkan aku ya.” Tia tersenyum menatap wajah tampan berkulit coklat di layar ponselnya. “Jangan khawatir. Aku tahu kau masih sangat muda. Kau masih harus belajar banyak cara menyikapi keadaan. Yang harus mulai kau lakukan adalah berhenti untuk membandingkan dirimu dengan orang lain. Dan jangan mudah mengambil kesimpulan dari apa yang dilihat oleh mata.” Salman tersenyum dan mengangguk. Setelah sambungan telepon dengan Tia selesai, dia beranjak ke meja dapur. Selo sedang sibuk dengan seekor ayam di wastafel. “Kau mau apakan ayam itu?” tanya Salman. “Aku ingin memasaknya. Ini sedang ku cuci.” “Gunakan perasan jeruk lemon untuk menghilangkan bau amisnya.” “Oh, begitu?” “Lalu mau di masak apa ayam itu?” Salman melirik ke arah penanak nasi elektrik yang nampak mengepul. Menandakan nasi hampir matang. Selo dengan sumringah menjawab. “Aku akan berikan keju, garam dan kugoreng.” Salman melotot ke arah Selo,”Kau pernah memasak ayam sebelumnya?” “Makan ayam aku sering. Memasak ayam, ini kali pertama. Tapi kau tenang saja, pasti enak.” Salman menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengerutkan kening. Nampaknya makan siang mereka akan sangat ‘istimewa’. “Selo, kau senang dengan kampus kita?” “Jujur aku merasa takut. Kita tampak seperti dua kutu kecil di antara para manusia berwajah Eropa itu. Bukan begitu?” “Hmm, ya. Awalnya aku pun merasa seperti itu. Tapi setelah berbicara dengan Tia, semua menjadi berbeda bagiku. Ini hanya tentang sifat masing-masing manusia. Bukan masalah ras. Kita bertemu Derk yang sangat baik. Dan juga Cindy yang … hmm … aneh.” Selo mengacungkan sebuah paha ayam ke arah Salman. “Hey! Cindy tidak aneh. Dia itu baik, cantik dan seksi. Hanya masalahnya kau yang tidak tahu cara berbicara dengan wanita.” Salman duduk di kursi makan, melihat Selo sambil meruncingkan bibir. “Ya, mungkin saja. Tapi gadis seperti Cindy tidak baik untuk kita dekati. Sepertinya, Cindy memiliki kehidupan yang sangat bebas. Sebaiknya kau menjaga jarak darinya.” Selo menggeleng sambil tersenyum,”Cindy akan banyak membantu kita nanti. Apalagi dia anak Megi kan?” “Selo, lebih baik kita fokus belajar dan sekolah agar segera kembali ke Nepal.” “Wow! Berdekatan dengan Cindy bukan berarti aku akan melupakan tujuan utamaku Salman. Tapi kita juga perlu bersenang-senang.” Salman menggelengkan kepala, sebuah pola asuh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN