Salman berdiri di depan kantor kepala rumah sakit. Kali ini tanpa selo, karena Selo tidak mendapat fasilitas pekerjaan seperti yang Salman dapat. Hanya siswa dengan peringkat terbaik yang mendapat fasilitas istimewa ini.
Tok! Tok! Tok!
Salman mengetuk pintu.
“Masuk!” seseorang menyahut dari dalam.
Dia membuka pintu dan melihat pria berjambang putih tipis dengan wajah Eropa. Berkacamata memakai baju putih sedang duduk di belakang meja.
“Halo Tuan, saya Salman dari Universitas Kingston. Dan berasal dari Nepal.”
“Oh, Ok. Silahkan masuk. Ayo, duduk!”
Salman masuk ke ruangan berdinding seluruhnya putih. Dengan sebuah meja kaca besar dan empat kursi dengan kaki roda berjajar di hadapannya. Ruangan yang tidak terlalu besar namun nampak elegan dan bersih.
Salman menggeser salah satu kursi itu dan duduk di hadapan pria yang nampak berwibawa. Meski berwajah Eropa namun dia terlihat ramah dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
“Jadi kau Salman? Firoz dan Bilal telah mengatakan banyak hal tentangmu. Siswa terbaik angkatan kali ini. Selamat ya! Bagaimana penerbanganmu ke UK?”
Salman tersenyum,”Ya, saya Salman Tuan. Ini adalah kali pertama saya melakukan penerbangan dengan jarak sangat jauh. Agak sedikit gugup tapi semua lancar.”
“Oh, Ya. Tentu, aku beberapa kali bertemu dengan siswa dari negaramu yang baru pertama kali terbang jauh. Beberapa dari mereka sekarang kudengar telah sukses menjadi tenaga medis di Nepal dan sekitarnya. Jadi, kau calon dokter bedah?”
“Ya, Tuan.”
“Oh, panggil saja aku Patrick, ok.”
“Tentu Tuan Patrick.”
“Seperti yang telah disampaikan oleh konsultan beasiswamu di Nepal. Setiap siswa yang meraih gelar terbaik maka, dia berhak untuk mendapat pekerjaan magang dengan gaji di rumah sakit ini. Sebetulnya banyak rumah sakit yang bekerja sama dengan konsultan kalian. Tapi kali ini kesempatan untukmu ada di rumah sakit ini.”
Salman menyimak penjelasan Patrick dengan seksama.
“Beberapa tahap untuk penempatanmu. Untuk tahun pertama kau akan menempati bagian persiapan alat operasi. Dengan seorang staff senior yang akan membimbingmu di sana. Lalu berdasarkan pencapaian dan kinerja kau akan ditempatkan ke bagian lain nanti. Ada yang ingin kau tanyakan?”
Salman terlihat ragu,”Berapa gaji yang akan saya terima?”
Patrick tersenyum dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang biasa dipertanyakan oleh mahasiswa magang jalur beasiswa. Hidup sendiri di negara asing, uang sangat berarti bagi mereka.
“Kau akan mendapatkan seribu dollar di enam bulan pertama dan seribu lima ratus dollar di bulan berikutnya. Kami akan melakukan review atas absensi, penilaian kinerja dan pencapaian untuk jumlah selanjutnya. Setuju?” Parick menjelaskan secara singkat pada Salman.
Salman terlihat berbinar dengan penjelasan dari Patrick.
“Dan di sini tersedia juga asrama gratis di bagian belakang rumah sakit. Jika kau berminat bisa hubungi bagian penyedia ya.” Lanjut Patrick.
“Umm … saya tidak membutuhkan asrama Tuan. Saya telah menyewa sebuah asrama. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit ini.”
Patrick mengerutkan kening. Terlihat ragu dengan perkataan Salman.
“Begini, kuliahmu akan berlangsung di siang hari. Jadi kemungkinan besar kau akan mengambil jadwal tugas di malam hari. Kau mungkin akan membutuhkan asrama itu nanti. Pikirkan lagi!”
Salman mengangguk, tanda mengerti.
“Baik, Tuan. Saya akan memikirkan lagi nanti.”
“Kapan kau siap untuk mulai bekerja?” tanya Patrick.
“Ada beberapa administrasi kependudukan yang harus diselesaikan. Boleh saya minta waktu satu minggu?” tanya Salman.
“Tentu, datang lagi Senin depan dan lapor pada petugas HRD. Aku akan minta asistenku mengirimkan surat pengantar untukmu lewat email.”
“Baik Tuan.”
“Oh, satu lagi. Panggil saja aku Patrick. Ok,” Patrick tersenyum sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada Salman.
“Semoga kau berhasil dalam studi beasiswamu. Aku tahu itu bukan hal mudah, menjadi dokter bedah. Banyak yang berhasil tapi tidak sedikit yang gagal dan menyerah di tengah jalan. Dan selamat datang di rumah sakit kami sebagai bagian dari team hebat. Semoga rumah sakit ini menjadi tempat belajar dan praktek yang baik untukmu.” Lanjut Patrick
Salman tersenyum menjabat tangan Patrick. Lalu beranjak keluar, sambil mengirimkan sebuah chat kepada Tia.
“Dunia menyertaiku dengan luar biasa. Waktunya keluar dari semua keterbatasan.”
Dan Tia menerima chat Salman dengan kening berkerut. Bagaimana tidak, Salman seolah berpikir bahwa semua akan sangat mudah baginya. Kekhawatiran justru menghinggapi Tia. Seorang pemuda miskin mendapat kesempatan masuk ke lingkaran lain dalam proses yang sangat cepat.
Tia khawatir, Salman akan kehilangan diri dan kendalinya. Dia menekan sebuah nomor,
“Halo Selo,….”
“Hi, Tia! Wow! Sebuah kejutan kau menghubungiku! Apa kabar?”
“Kabarku baik Selo. Bagaimana dengan kalian di sana?”
“Kami baik-baik saja. Kau ingin menanyakan soal Salman padaku?”
“Ha … ha … ha! Kau juga temanku Selo. Kalian menikmati hidup di negara baru. Yang segalanya pasti jauh berbeda.”
“Ya, kau betul Tia. Semua hal sangat berbeda, tapi sejauh ini semua baik-baik saja dan mudah bagi kami.”
“Yang mudah itu tidak selalu mudah. Di waktu mudah, kadang kita diminta untuk bersiap ketika masa yang sulit datang.”
“Ya, kau betul. Seperti saat kami berhadapan dengan semua harga di negara ini.”
Selo tergelak dengan kalimatnya sendiri.
“Kenapa?” tanya Tia heran.
“Harga di sini sungguh gila. Uang yang kami bawa menurut kami cukup besar dan banyak. Namun ketika kami sampai di sini, uang itu menjadi seperti recehan.”
“”Ya, memang begitu. Tapi semua itu akan sebanding ketika kalian suah mendapatkan gaji dari pekerjaan. Gaji di sana sebanding dengan pengeluaran tentu.”
“Tanpa keahlian dan pendidikan, pekerjaan apa yang akan aku dapat? Salman jelas akan mulai bekerja dari jalur beasiswa. Derk mengusulkan agar aku mengambil pekerjaan part time remote. Tapi aku tidak punya laptop, jadi lupakan!”
“Pakai punya Salman?” usul Tia.
“Salman? Kau tahu, dia baru memiliki ponsel satu tahun terakhir. Bagaimana dengan laptop? Menurutmu? Aku mengusulkan padanya untuk membeli dari uang yang ayah Anil berikan. Tapi Salman tidak setuju,” celoteh Selo.
Dan ketika Selo mulai menjelaskan sesuatu, dia selalu lupa batasan, rahasia dan kapan harus berhenti.
“Kenapa tidak setuju? Bukankah Salman akan memperoleh gaji segera?”
“Dia ingin membayar hutangnya padamu. Meski sudah kujelaskan, tapi temanku yang satu itu selalu gagal untuk mengerti.”
Tia sejenak terdiam. Kata-kata selanjutnya dari Selo tidak terdengar lagi di telinganya. ‘Salman sungguh mencatat kebaikanku sebagai hutang.’ Begitu pikirnya.
Selo berhenti mengoceh ketika sadar bahwa Tia tidak lagi menanggapinya.
“Tia,”
“Oh, Ya. Selo bisa kirimkan alamat asrama kalian? Atau kamu kirim lokasi dan aku akan menemukan alamat kalian.”
“Untuk apa? Kau akan datang ke sini?”
Tia tergelak dengan kepolosan Selo. Di antara kegenitannya, Selo sebenarnya adalah pria yang naif.
“Ya, aku akan datang.”