CEMBURU

1269 Kata
Selo memandang ponsel yang ada di tangannya dengan senyum berseri. Mengenal langsung wanita yang cantik, pintar dan terkenal seperti Tia adalah sebuah keberutungan besar. Mendapat panggilan telepon darinya, bagi Selo berarti bahwa dia ada dalam ingatan Tia. Meski hanya bagian kecil saja, dan itu cukup membuat Selo bahagia. Tok! Tok! Tok! ‘Ah, kenapa Salman mengetuk pintu dan tidak langsung masuk saja!’ gerutu Selo kesal. Dia pun beranjak dan membuka pintu. Menemukan sosok cantik berwajah Asia muncul di hadapannya. “Halo, aku Vallerie. Boleh aku meminjam penyedot debu? Punya kami rusak dan aku membutuhkan segera.” Gadis berkulit putih bersih dengan rambut hitam mengkilat dikucir asal. Dia menggunakan celana pendek di atas lutut serta sebuah tshirt tipis yang terlihat nyaman. “Oh, Umm … aku rasa kami tidak punya. Emm, siapa namamu tadi?” Gadis itu tersenyum, barisan gigi putih di antara bibir merah jambunya. “Namaku Vallerie. Oh, baiklah jika kau tidak punya. Maaf ya sudah mengganggu.” Gadis itu berbalik dan bersiap pergi. “Tunggu! Valey! Hmm, boleh aku panggil begitu namamu?” “Tentu,” sahut Vallerie. “Kau tinggal di asrama ini juga?” “Ya, aku di lantai dua. Baru kali ini di bangunan ini ada pria yang tinggal. Nampaknya Megi kehabisan ruangan untuk kalian. Aku kembali dulu ya, pekerjaan menunggu di kamar.” “Oh, ok Valey. Sampai ketemu lagi nanti.” Selo melihat Valley yang berlari kecil dengan lincah menuruni tangga. Dan tersenyum berbinar ketika Valerie menghilang dari pandangannya. ‘Banyak gadis cantik di asrama ini. Aku akan betah tinggal di asrama sepanjang hari.’ Pikir Selo dengan bahagia. Belum sempat Selo menutup kamar, Salman datang. Wajahnya nampak berbinar. Dan Selo pun menyambut Salman dengan wajah bahagia. Bukan hanya karena melihat kegembiraan Salman tapi juga karena melihat sebuah kantong plastik putih di tangan Salman. Nampaknya adalah makanan. Sudah waktunya makan siang, dan mereka belum memiliki apa pun untuk dimakan segera. “Salman, selesai semua urusanmu di rumah sakit?” “Ya! Dan aku punya berita baik. Ayo masuk!” Bergegas Salman masuk, duduk di meja makan dan meletakkan kantong putih itu di meja. Selo yang ada di belakangnya segera mengikuti setelah menutup pintu. Dia duduk berhadapan dengan Salman dan hanya dibatasi meja. Salman mulai bercerita sambil membuka bungkusan plastik yang tadi dibawanya. mengeluarkan dua kotak panjang. Satu diletakkan di depan Selo dan satu lain di hadapannya. “Dengar, aku akan mulai bekerja minggu depan. Dengan gaji besar, seribu dolar!” “Wew! Luar biasa! Hmm, tapi seribu dolar tidak besar jika dibanding pengeluaran kita. Untuk asrama ini kita perlu membayar hampir setengah dari gajimu.” Selo mengatakan sambil membuka kotak yang Salman sodorkan. "Wew! Kebab dengan daging domba. Dari mana kau tahu ada makanan jenis ini?" "Tadi di dekat rumah sakit ada sebuah restoran timur tengah. Restoran kecil, dan aku mampir membeli makanan untuk kita makan siang. Aku pikir kau pasti belum memasak." "Hehehe kau benar. Aku sibuk dengan para gadis." "Gadis?" tanya Salman heran. "Lupakan, ceritakan bagaimana seribu dolar itu? Jumlah yang tidak banyak untuk kehidupan di Eropa. Aku benar kan?" Salman menatap Selo dengan sinis,”mungkin saja, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Setidaknya ayahku bisa mengirim setengah dari yang biasa dia kirimkan. Adik-adikku akan punya kesempatan belajar lebih besar sekarang.” Gantian Selo menatap Salman, matanya mulai berkaca-kaca. “Salman, kau luar biasa. Aku tidak bisa membayangkan berada di posisimu. Sebagai anak bungsu, aku tidak pernah merasa bahwa tanggung jawab keluarga ada padaku.” “Cengeng!” Salman beranjak meninggalkan Selo yang menggebrak meja karena kata-kata terakhirnya. Sebelum masuk kamar, Salman menoleh pada Selo. “Jika kau percaya hidup adalah tetang keseimbangan, maka apa yang kau jalani pasti seiring dengan kekuatan yang kau miliki.” Salman masuk ke kamar dan menutup pintu. Bukan hanya Selo, Salman pun merasa takjub dengan ucapannya. Sejak kapan dia sebijak itu dalam berkata. Pengaruh Tia merubah Salman begitu banyak. Dia membuka jendela kamar dan menatap keluar jendela. Duduk di meja belajar yang mengarah langsung pada pemandangan di luar. Kemudian mengambil ponsel dari kantong. Dilihatnya sebuah pesan balasan dari Tia masuk. “Hubungi aku setibanya kau di asrama.” Salman menekan nomor Tia di ponselnya. Sesosok wajah cantik yang selalu dia rindukan hadir di sana. “Halo, sudah di asrama?” “Halo juga, ya, aku di asrama dan baru membaca pesanmu.” “Jadi selesai interview hari ini?” tanya Tia. “Ya, dan aku akan mulai bertugas minggu depan.” Tia tersenyum melihat Salman. Tatapan yang sulit Salman artikan. Tatapan yang cukup membuat detak jantung Salman bersahutan. “Kenapa, Tia? Kau menatapku seolah baru pertama kali melihatku?” Tia tergelak dengan pertanyaan Salman. “Aku hanya memastikan apakah setelah semua ini, saat kau berhasil nanti, kau akan tetap Salman yang sama.” Salman yang ganti menatap Tia dengan tajam. “Tia, aku tidak pernah lupa dari mana aku berasal. Dan tujuan utamaku hingga tiba di tempat ini.” Tia mengangguk mantap, dia yakin dengan karakter Salman yang kuat. Tia tidak meragukan kebenaran dan kesungguhan Salman. Beberapa bulan bersama, Tia melihat hal yang tersulit adalah Salman belum bisa tenang ketika berhadapan dengan masalah. Tia maklum dengan usia Salman yang masih sangat muda dan perjalanan hidupnya baru saja memasuki babak baru. “Hey! Nampaknya hari ini banyak hal menyenangkan terjadi. Tebak, aku juga mengalami sesuatu hari ini.” Tia mengatakan dengan wajah berseri-seri. “Wew! Aku turut senang mendengarnya, tapi kasihanilah aku yang tidak secerdas dirimu dalam menebak. Katakan Tia, kabar baik apa hari ini?” “Kau ingat seorang pejabat yang aku ceritakan padamu? Dia mengirimiku pesan. Pesan pribadi dan isinya tentang ketertarikannya padaku. Meski aku tidak yakin karena pria selalu saja tentang rayuan bukan. Tapi nampaknya dia baik dan sopan.” Salman terdiam, ada gemuruh di dalam hatinya. Ada rasa yang sulit untuk dijelaskan. “Kau tertarik padanya?” tanya Salman berusaha tenang. “Hmm, mungkin. Orangnya tampan, sopan dan aku suka cara bicaranya yang cerdas. Saat dia berbicara maka akan langsung pada tujuan. Tanpa banyak basa basi. Terlihat pribadinya yang tegas.” Mata Salman terasa panas. Tubuhnya dingin, dan keringat berjatuhan. Dia mematikan video dan hanya suara yang tersisa untuk terhubung dengan Tia. Lalu Salman meletakkan ponselnya di meja dan mulai membuka kemejanya. “Hey! Kenapa sambungan video di matikan.” “Aku sedang membuka baju, di sini sangat panas.” “Benarkah?” “Kau ingin melihatku membuka baju? Ha … ha … ha!” Salman berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin mendengar apa pun tentang pria itu. Tia juga tertawa di seberang sana. “Bagaimana dengan Alinea? Dia sehat?” Salman menyambung pembicaraan dengan topik lain. Sebuah ‘kode peringatan’ muncul di kepala Tia. Salman seolah keberatan saat dia membicarakan tentang pria lain. Tia berharap tidak ada yang salah dengan perasaan mereka berdua. “Ya, Alinea sehat. Minggu depan dia akan melakukan test pencapaian. Dan dalam beberapa bulan dia akan mulai sekolah psikologi. Semua orang akan sibuk dan aku akan sendiri.” “Aku akan selalu ada waktu untukmu, Tia.” Meski ucapan Salman terdengar menjanjikan. Salman mungkin lupa bahwa dia harus belajar di siang hari dan belajar di malam hari. Mustahil Salman masih memiliki banyak waktu untuk berbicara dengannya. Dan bagi Tia itu bukan masalah besar. Sejak awal bertemu, mengenal karakter Salman apalagi setelah berbicara banyak dengannya, tujuan Tia hanya satu. Menyertai Salman hingga di berhasil meraih tujuannya sebagai dokter bedah. Beberapa kali Tia pun khawatir dia akan terjebak dalam perasaan yang salah. Tapi itu tidak cukup menjadi alasan untuk meninggalkan apa yang telah Tia mulai bersama Salman. “Salman, jika besok tidak ada agenda penting, tinggallah di kamar dan jangan kemana-mana.” “Kenapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN