Tia terdiam.
“Tanpa alasan, aku akan katakan padamu besok. Sekarang kau bisa beristirahat, sampai bertemu besok yah.”
Salman diam seolah terhipnotis oleh wajah cantik Tia yang malam itu berbalut baju warna pink.
“Iya, Tia.” ujarnya lirih.
Tia tersenyum dan mematikan panggilan telepon. Salman meletakkan ponselnya di meja, menatap keluar jendela. Hembusan angin dan udara malam membelai wajahnya. Salman menarik nafas, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Tia.
‘Benarkah aku mencintai dia dan cemburu dengan pria itu?’ Salman berusaha untuk mengenali hatinya. Dia hampir yakin bahwa itu adalah cinta. Bukan sekedar kekaguman atau teman semata. Tapi cinta seorang pria kepada wanita yang selalu hadir untuk mengisi semua celah dalam dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
“Salman! Salman!” Selo yang sedang asik berbaring dan bermain game di ponselnya berteriak memanggil Salman. Memberi kode untuk segera membuka pintu asrama.
Seseorang mengetuk di sana, namun tidak ada tanda Salman membuka pintu. Dengan menggerutu, Selo meletakkan ponsel di kasur dan bangun untuk membuka pintu.
“Anil! Hi …! Anil!” Selo memeluk Anil yang berdiri di depan pintu asrama meraka.
“Selo! Ah, beberapa hari di UK kau nampak kurus,” ujarnya tertawa.
“Ha … ha … ha …! Kami harus menghemat biaya makan. Ayo masuk.”
Selo menarik tas troli yang Anil bawa.
“Di mana Salman?” tanya Anil sambil melihat sekeliling ruang asrama itu.
“Itulah, aku berteriak memanggil tapi dia tidak juga keluar membuka pi-“ belum selesai Selo bicara, pintu kamar mandi terbuka dan Salman keluar dengan celana pendek tanpa tshirt.
Dia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk juga bulu-bulu lebat di dadanya.
“Salman!” Anil memanggilnya.
Salman menurunkan handuk yang menutupi wajah dan melihat ke arah asal suara.
“Anil!” Salman mendekat dan memeluk Anil. “Kau kemari untuk menemui kami? Atau liburan?”
Anil mengerutkan kening heran,”Konsultan Nepal belum menghubungimu?”
“Belum, tentang apa?” tanya Salman heran.
“Aku memang tidak lulus jalur beasiswa. Tapi aku menggunakan konsultan yang sama untuk kuliah di kampus yang sama dengan kalian. Hanya saja aku mengambil jurusan managemen bisnis. Dan aku katakan pada mereka bahwa aku menginginkan asrama yang sama dengan kalian. Mereka mengatur agar kita bisa satu ruangan. Tuan Bilal bilang akan menghubungimu sebelum aku datang.”
Salman menggaruk kening. Ada saja komunikasi yang putus antara siswa dan konsultan.
“Ah, sudah lupakan! Kau di sini sekarang. Nanti Salman akan menghubungi konsultan untuk meminta kejelasan.” Selo menyahut sambil melirik ke arah Salman.
Selo percaya semua masalah akan selesai dengan segera di tangan Salman. Sementara yang dilirik hanya mengangkat bahu. Mengalungkan handuk di leher dan mulai duduk di meja makan.
“Bagaimana kehidupan kalian beberapa hari di sini?” tanya Anil.
“Yang jelas kami masih beradaptasi. Aneh rasanya berhadapan dengan orang-orang Eropa. Secara adat dan kebiasaan semua jauh berbeda. Merasa terasing dan kelihatan berbeda,” jelas Salman.
“Aku rasa kita akan bisa beradaptasi dengan segera,” jawab Anil.
“Tentu kita beradaptasi dengan beberapa hal. Tapi dalam banyak hal kita harus tetap menjadi pria Nepal. Budaya dimana kita lahir dan dibesarkan adalah terbaik. Membentuk dan membawa kita pada hari ini kan? Suka tidak suka begitu.” Salman bertutur sambil memainkan sebuah sendok di meja makan.
Selo melihat bingung, mencoba mencerna kata-kata Salman yang menurut Selo sangat sulit. Dan juga memperhatikan gerakan tangannya yang memutar-mutar sendok di atas meja.
“Salman, kau lapar ya?” tanya Selo.
“Waktunya makan malam, teman.”
“Aku sudah membuka pintu dua kali. Bagaimana kalau sekarang kau saja yang memasak?”
Salman tersenyum mendengar Selo,”Baiklah, aku akan memasak untuk kita bertiga.”
“Anil, dengar karena kau pendatang baru di asrama ini maka kau akan memasak untuk kita seharian besok,” ujar Selo.
Anil tersenyum sengit ke arah Selo. “Besok kita makan di luar atau beli saja.”
“Hey! Makan di luar itu sangat mahal, bisa menguras kantongmu!” Selo mendadak panik dengan kata-kata Anil.
Salman yang sedang sibuk memilih bahan makanan di kulkas menatap Selo tajam. Tatapan akan sebuah peringatan. Dan Selo menangkap jelas peringatan di mata Salman.
“Oh, ok. Aku lupa kau adalah putra Akash Sang Pejabat. Tentu uangmu sangat banyak dan kami beruntung satu ruangan denganmu, Tuan Akash Junior,” kata Selo sambil menunduk seolah memberi hormat.
Anil melirik Salman, dan Salman mengangkat bahu lalu beranjak ke meja dapur di samping mereka.
“Ha … ha … ha …! Maaf ya Selo, aku kadang lupa untuk menanggalkan kesombongan saat aku datang ke negara ini. Besok aku akan masak tiga kali sehari untuk kalian!”
Selo tergelak dengan kata-kata Anil. “Hey! Di sini masih ada dua kamar kosong. Mana yang akan kau pilih? Sisi tengah atau pinggir dekat dapur?”
“Hmm … tampaknya tengah lebih menarik. Siapa yang akan menempati kamar satunya?” tanya Anil.
“Seorang siswa dari Nepal juga. Sebenarnya kamar yang akan kau tempati itu bukan atas namamu. Sebelum ini Tuan Bilal mengatakan padaku nama siswa yang akan menempati kamar itu. Tapi entah bagaimana kau bisa mendapatkan kamar itu,” kata Salman yang sibuk menyiapkan makan malam mereka.
Tampak dia sedang memotong daging dan beberapa sayuran.
“Ingat saja dia adalah Anil putra Sang Pejabat Akash!” seru Selo.
Ketiganya tergelak, namun apa yang Selo katakan memang benar. Ayah Anil membayar ekstra untuk membuat Anil satu ruagan dengan Salman. Akash tahu bahwa putranya kurang mandiri. Membayangkan Anil hidup di luar negeri membuat Akash agak gugup. Anil yang satu asrama dengan Salman akan membuat Akash sedikit lega.
“Ayo, aku bantu masuk ke ruanganmu. Jangan banyak komplai ya. Ini asrama bukan hotel,” celoteh Selo sambil menarik troli Anil memasuki kamar nomor tiga.
Sementara Salman mulai memanaskan penggorengan. Sambil berpikir, jika Anil tinggal di asrama ini sebenarnya tidak masalah jika dia sesekali tidur di asrama rumah sakit. Selo tidak sendiri, karena yang Salman pikirkan adalah meninggalkan Selo seorang diri di asrama.
Selo keluar dari kamar Anil dan berdiri di sebelah Salman membantu menyiapkan makan malam.
“Semua menjadi terlihat mudah sejak kita lulus beasiswa itu. Anil akan membuat kehidupan kita di sini lebih nyaman. Dan juga Ti-“ Selo berhenti dengan kata-katanya.
Terlambat! Salman sudah membaca bahwa Selo akan mengucapkan nama Tia.
“Dengar Selo! Kita akan berusaha mandiri dan memperjuangkan hidup masa depan. Bukan jutru menjadi benalu bagi orang lain. Berhentilah berpikir tentang siapa yang akan memuluskan langkahmu.”
Salman dengan jengkel memasukkan daging ke penggorengan yang sudah panas, asap mengepul di atasnya.
“Salman akan membunuhku kalau dia tahu,” Selo mulai gugup.