Anil terbangun lebih pagi dari Salman dan Selo. Setelah makan malam di tertidur pulas. Bahkan suara Salman dan Selo yang berisik menonton acara tv tidak mengurangi tidurnya yang nyenyak. Diliriknya jam masih pukul lima pagi.
Segera di beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Mengeluarkan beberapa butir telur dan roti pirata.
‘Hmm … meski di Eropa, tetap saja makanan Nepal jadi pilihan merek.’ Begitu pikir Anil.
Sambil bersenandung, Anil menyiapkan tiga porsi makanan. Hari beranjak siang dan kedua temannya belum juga terbangun. Ini adalah hari minggu, tidak ada yang harus keluar rumah di pagi hari. Menjelang pukul sembilan saat Anil baru selesai mandi terdengar bel pintu berbunyi.
Bergegas Anil menuju pintu, terlihat seorang pria dengan seragam kurir berdiri di depan pintu dengan dua kotak terbungkus plastik merah.
“Ya?” tanya Anil padanya.
“Aku membawa pesanan dari Ficom Shop untuk Tuan Salman dan Tuan Selo.”
Anil melihat dua kotak di tangan pria itu. Tampaknya bukan makanan,
“Apa isinya?” tanya Anil padanya.
“Tampaknya peralatan elektronik. Karena setahuku Ficom Shop adalah toko elektronik. Tapi aku tidak tahu persis karena aku hanya kurir pengantar barang.”
Anil mengangguk,”Baiklah, letakkan saja di meja.” Dia menunjuk meja kaca di tengah sofa depan televisi.
“Tanda terimanya Tuan, apa kau salah satu dari penerima paket itu?”
“Bukan, aku bahkan baru tiba kemarin. Pemilik paket itu adalah pria di kamar nomor satu dan dua. Mereka belum bangun.”
“Bisa kau tanda tangani surat penerimaan barangnya?” kurir itu mengeluarkan dua lembar kertas tanda terima.
Anil membaca resi dengan kop Ficom Shop dan nama pengirimnya adalah Bless. Tertera juga bahwa isinya adalah unit laptop.
‘Mungkin pemilik tokonya. Salman dan Selo pasti memesan laptop itu kemarin dan baru hari ini tiba.’ Pikir Anil.
Tanpa ragu ditanda tanganinya dua resi itu.
“Terima kasih, tolong sampaikan segera pada pemiliknya ya. Karena pesanan itu dipesan secara khusus dan kilat oleh pengirimnya.” Pesan kurir tersebut sebelum pergi.
Anil menutup pintu dan sekali lagi melirik dua bungkusan di meja. Salman dan Selo telah mempersiapkan diri mereka dengan baik untuk tinggal di UK. Terbukti dengan keuangan yang mapan mereka bisa membeli laptop.
Lalu Anil mulai duduk menikmati roti pirata dengan siraman saus telur dan sayuran pedas. Sambil memainkan ponsel. Dilihatnya sebuah pesan masuk sejak semalam.
“Bagaimana asramamu?” Pesan dari Akash.
Sejak kejadian dengan Maria dan Salman, hubungan Akash dan Anil membaik. Mereka lebih akran dan dekat. Akash mencurahkan perhatian pada Anil. Dia ingin Anil mewarisi semua bisnisnya dan bukan sekedar jadi brand ambassador yang dia banggakan.
Anil menekan nomor ayahnya.
“Halo Anil, bagaimana di sana?” ujar Akash dari seberang sambungan.
“Ayah! Semua baik-baik saja. Semalam aku tidur sangat nyenyak dan baru pagi ini terbangun. Selesai membuat sarapan dan mulai makan barulah aku lihat pesan ayah.”
“Kau membuat sarapan? Kemana Salman dan Selo?” Akash bertanya heran.
“Mereka masih tidur.”
“Mereka tidur dan kau sibuk di dapur?” terdengar nada jengkel di suara Akash.
“Ayah, sudahlah. Mereka berdua bukan pelayanku, dan aku datang setara dengan mereka. Semalam Salman yang memasak untuk makan malam. Jadi tidak ada masalah jika sekarang aku yang memasak untuk mereka. Kami bisa berbagi tugas.”
“Tapi,….” Akash terlihat ragu dengan pernyataan Anil.
“Semua akan baik-baik saja ayah. Aku ke UK memang untuk belajar bukan hanya pendidikan di kampus tapi juga belajar untuk mengatur hidupku. Ayah harus percaya padaku.”
“Hmm … sehari kau di UK dan sudah sedewasa itu? Aku bangga padamu. Tapi aku rasa jika kalian perlu, kita bisa membayar pembantu yang setiap hari datang untuk memasak dan membersihkan asrama kalian. Jadi kalian akan fokus belajar. Bisakah begitu?” Akash mencoba bernegosiasi dengan Anil.
“Ayah, sudahlah.” Anil menolak dengan sopan keinginan ayahya.
“Baiklah, kalau kalian tidak setuju. Lalu bagaimana dengan asramanya? Kau nyaman di sana? Apa ukurannya cukup luas untuk kalian bertiga?”
“Berempat ayah, kami akan tinggal berempat. Seorang penghuni belum datang dari Nepal. Dan untuk ukuran asrama ini sangat baik menurutku.”
“Kalian bisa mencari sebuah rumah yang luas dan aku akan membayar untuk kalian. Jadi kalian bisa nyaman dan belajar dengan tenang.”
“Ayah … jika kami butuh bantuan, kami akan datang padamu. Ayah tidak perlu khawatir ya.”
Akash terdiam, Anil banyak berubah sejak kejadian dengan Maria dan dekat dengan Salman. Anish bukan lagi putranya yang selalu mengiyakan apa yang Akash minta. Dan lebih lagi, sekarang Anil bukan lagi pemuda yang hanya tahu meminta dan memanfaatkan fasilitas ayahnya.
Beberapa kali Akash menawarkan kemewahan dan kemudahan untuk Anil tapi ditolaknya. Akash bangga dengan kemajuan putranya. Bagi Akash kehilangan Maria justru jadi anugrah terbesar bagi hidupnya.
Selama ini Anil menutup diri dan menjaga jarak dengannya karena dia lebih mempercayai Maria dari pada Anil, darah dagingnya sendiri.
“Baiklah Anil, jaga dirimu baik-baik. Datanglah segera jika kalian dalam kesulitan.”
“Tentu, Ayah. Dan Ayah juga jaga kesehatan ya.”
Anil memutuskan sambungan telepon tepat saat Selo keluar dari kamar. Selo dengan mata setegah terpejam langsung duduk di kursi makan. matanya melebar ketika melihat potongan pirata hangat dengan saus telur yang terlihat meleleh dikombinasikan dengan sayuran pedas.
“Wew, anak pejabat! Lihat hebatnya dirimu menyajikan makanan.” Seru Selo sambil mulai membuka piring dan mengambil potongan roti. Lalu menyiramkan kuah telur dan menaburkan sayuran pedas. Aroma membuat Selo tidak menunggu untuk menikmatinya.
“Hey! Tuan Selo, hanya di negara ini kau bisa menikmati masakan anak pejabat. Di negara lain, kau yang harus memasak untuk anak pejabat.” Dengan ketus Anil mengatakan pada Selo.
Dan Selo tertawa lebar mendengar candaan Anil.
“Dari mana kau belajar memasak? Bukankah di rumahmu tersedia banyak pembantu?”
“Ya, tapi mereka selalu memasak makanan Eropa seperti permintaan Maria. Kau tahu sendiri kan sejak ada Maria hanya dia yang mengatur rumah kami. Ayahku sendiri lebih banyak sibuk di luar kota juga luar negeri. Jadi kalau aku ingin makanan ya aku berusaha memasaknya sendiri. Ternyata hari ini keahlianku sangat berguna untuk mengenyangkan perutmu. Bukan begitu, Selo?”
Dengan mulut penuh Selo mengangguk. Keduanya menoleh bersamaan ketika melihat Salman membuka pintu kamar. Salman hanya menggunakan celana pendek tanpa baju. Dia terbiasa tidur seperti itu, meski di udara dingin.
Dan AC di kamar Salman hampir tidak pernah beroperasi. Salman lebih senang membuka jendela kamar untuk mendapat udara segar.
Ketika Salman keluar dengan langkah pertama dari kamar, dia langsung berhenti. menatap dua bungkusan kotak merah yang terletak di meja sofa depan kamarnya.