Salman mendekat ke arah dua bungkusan merah itu. Mengambil sebuah dan membaca detiailnya.
“Pengirim : Ficom Shop, untuk Bless.
Penerima : Salman Khan”
‘Untuk Bless?’ Salman terdiam heran. Apa maksudnya?
“Selo, kau yang menerima bingkisan ini? satu bingkisan lain atas namamu?” tanya Salman.
“Bingkisan apa?” tanya Selo tidak peduli sambil terus menikmati makanannya.
Salman mengangkat kotak yang ada di tangannya agar bisa dilihat jelas oleh Selo.
“Oh, aku yang menerimanya tadi. Seorang kurir mengantar atas nama kalian. Tadi aku lihat di faktur, pengirimnya bernama Bless. Mungkin seorang staff dari toko itu?”
Selo mendadak terbatuk dan tersedak mendengar nama Bless. Bergegas dia mendekat ke arah Salman dan menyentuh bingkisan atas namanya. Tanpa pikir panjang Selo membuka bingkisan itu. Di dalamnya sebuah laptop Apple edisi terbaru.
Sambil tersenyum Selo mengusap laptop itu dan meletakkan di meja untuk dinyalakan. Anil ikut mendekat dan tersenyum meliaht kebahagiaan Selo. Pemandangan berlawanan tampak di wajah Salman.
“Kau tidak ingin membuka milikmu?” tanya Anil.
“Aku tidak merasa membeli atau memesan sesuatu,” sahut Salman.
“Tapi itu atas namamu, aku pikir kalian memesannya kemarin dan bau hari ini tiba.”
“Tidak, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli barang semahal ini.” Kembali Salman menegaskan.
Selo terdiam dengan pernyataan Salman yang seolah menyindir dirinya. Dia menggeser laptop itu menjauh dan duduk tegak di sofa sebelah Anil. Sementara Salman meletakkan bingkisan merah itu di sebelah laptop yang sedang mulai loading.
“Aku juga tidak merasa pesan,” ujar Sleo lirih.
“Lalu kenapa kau begitu percaya diri untuk membukanya?” tanya Salman.
“Karena ada nama Bless di situ.”
Selo segera berhenti dari kata-katanya.
“Lalu kenapa kalau ada nama Bless?” tanya Salman masih dengan kebingungannya.
Dia menatap Selo dan Anil bergantian.
“Sudahlah aku mau mandi.” Salman berdiri, dan saat dia hampir sampai di depan pintu kamarnya yang hanya berjarak lima langkah dari ruang tamu, dia berhentidan melangkah kembali ke arah Selo.
“Tunggu, apakah Bless yang kau maksud adalah Tia?” tanya Salman perlahan pada Selo.
Selo menunjukkan barisan gigi tanpa berkata-kata.
“Kau mengatakan pada Tia bahwa kita membutuhkan laptop? Dan dia mengirim untuk kita?” Salman menatap tajam pada Selo.
“Mustahil kan Tia tahu alamat asrama kita tanpa bantuan seseorang. Dan dia adalah dirimu, aku benar Selo?” Tatapan Salman yang penuh kecurigaan juga ancaman ‘menusuk’ tepat di mata Selo.
Sementara Selo hanya diam, beberapa butir keringat mulai jatuh di pelipisnya.
“Selo!!! Jawab!!!”
“I—iya Salman. Aku tidak meminta, aku hanya mengatakan pada Tia bahwa untuk mendapatkan pekerjaan dan belajar kita perlu laptop. Tapi kita berdua sedang mengusakannya. Itu saja,” jawab Selo gugup
“Lalu dari mana Tia mendapat alamat asrama kita?”
“Dia meminta padaku, katanya dia ingin datang mengunjungi kita. Ya sudah aku berikan saja. Kan dia temanmu dan … temanku juga.” Lagi-lagi Selo menjawab dengan raut wajah polos.
Membuat Salman kehilangan kendali. Sementara Anil menatap perdebatan mereka dengan senyum sambil seseklia menggelangkan kepala melihat kepolosan Selo.
Salman yang telah habis kesabaran beranjak menuju kamar dan
Brakkkk!!!! Dia membanting keras pintunya.
Selo dan Anil terloncat karena suara bantingan pintu yang keras. Selo memijat kepala sementara Anil terlihat santai memainkan laptop milik Selo yang telah selesai loading.
“Siapa Tia?”
“Kekasih Salman,” jawab Selo ringan
“Aku baru mendengar nama itu? Seseorang dari desanya atau?”
“Bukan, dia adalah wanita Indonesia. Salman berkenalan dengannya saat Tia menawarkan beasiswa budaya. Tapi Salman menolak tapi mereka malah terlibat hubungan dalam dan aku rasa mereka saling mencintai.”
“Sungguh? Seorang konselor? Aku rasa bukan wanita muda.”
“Jika kau melihatnya, kau tidak akan percaya dengan usianya. Dia sangat cantik dan pintar. Seorang penulis, semua akun media sosialnya memiliki ceklist biru. Karyanya sangat terkenal di Indonesia dan ada beberapa yang sudah mulai internasional.”
“Karya? Dia seniman?”
“Dia menulis novel. Aku juga belum pernah membacanya tapi melihat antusias orang di media sosialnya, dipastikan dia adalah orang yang sangat terkenal.”
Anil terdiam, namun tangannya mulai mencari tahu soal Bless dengan laptop yang Selo nyalakan.
“Anil, perlukan aku meminta maaf pada Salman? Karena aku mengatakan terlalu banyak, Tia mengirim laptop-laptop ini.”
“Hmm … jangan sekarang. Tunggu saja reaksi Salman, jika kau datang padanya sekarang itu hanya akan memperkeruh hatinya.” Anil memberikan saran.
“Sebenarnya apa aku salah?” tanya Selo polos dan perlahan, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Ha … ha … ha …! Bagimu menerima kebaikan adalah hal yang biasa. Namun bagi orang seperti Salman dengan harga diri tinggi dan penuh kerja keras, menerima sesuatu dengan cuma-cuma bisa membuatnya sangat tidak nyaman.”
“Kenapa begitu?” Selo heran dengan pernyataan Anil.
“Bagi Salman menerima kebaikan artinya balas budi, dan itu membuatnya terbeban. Jika yang memberi tulus pun dia merasa memanfaatkan kebaikan seseorang. Aku tahu Salman dalam hal ini.”
“Hmm, orang seperti Salman sulit menikmati hidup dengan cara seperti itu.”
“Tapi orang seperti Salman akan selalu tangguh di semua keadaan. Dengan banyaknya badai dia bisa menghadapi sendiri. Berbeda denganku dan kamu yang selalu saja masih bergantung pada orang tua.”
Anil tersenyum sambil terus mengutak atik lapto itu. Dan Selo mengangguk, dia setuju dengan semua pernyataan Anil.
Tok! Tok! Tok!
“Tunggu! Selo bergegas menuju pintu.”
Megi berdiri di sana dengan tatapan mata garang. Rol rambut mengelilingi kepalanya. Dia memakai baju berbunga warna kuning yang nampak sesak di badan gempalnya.
“Kalian mau merubuhkan gedung ini?!”
Selo menampakkan barisan gigi di hadapan Megi. Dia tahu persis Megi sedang marah akibat pintu kamar yang baru saja berdebam.
“Maaf Megi, angin berhembus sangat kencang di ruangan kami.”
“Dengar anak muda, salah satu peraturan di asrama ini adalah menjaga ketenangan dan ketertiban. Suara yang baru saja kudengar mengganggu seisi bangunan ini. Bahkan terdengar hingga ke rumahku.”
“Ya, Megi. Maafkan kami,”
Megi melihat ke arah Anil yang tersenyum dari arah ruang tamu.
“Dan kau anak muda, jangan ikuti apa yang temanmu lakukan.”
Selo berusaha mencairkan suasana,”Megi, dengan baju kuning ini kau nampak segar dan muda. Aku rasa usiamu baru tiga puluhan.”
Megi tersenyum manis dan dengan segera mencubit keras pipi Selo, membuat Selo merintih kesakitan.
“Aduh … lepaskan Megi, sakit!” teriak Selo sambil meringis.
“Dengar! Rayuanmu tidak akan berlaku padaku! Kalau kalian melanggar peraturan atau telat membayar uang asrama, tetap kau harus segera angkat kaki!”
Dengan kesal Megi berbalik menuruni tangga.
Sementara Salman mendengar ribut-ribut Megi akibat perbuatannya. Namun dia enggan untuk keluar. Dia memegang ponsel dan mengirim sebuah pesan untuk Tia.
“Kenapa kau tidak percaya padaku?”