HADIAH TERINDAH

1005 Kata
Tia menerima pesan Salman dengan kening berkerut. Dia sedang duduk di ruang meeting besar bersama kolega yang akan membantu pendirian perusahaannya. "Aku akan menghubungimu lagi nanti." Sebaris pesan yang di terima Salman dengan kesal hati. Salman mematikan ponselnya dan beranjak ke ranjang untuk tidur kembali. Meski Salman berasal dari keluarga berkekurangan tetapi bukan wataknya untuk senang di kasihani dan meminta. Selo telah melakukan kesalahan besar. Dia membuat Salman seolah memperalat kebaikan Tia. Tanpa Salman sadari, dia tertidur lelap hingga menjelang makan siang. Tok! Tok! Tok! "Salman! Ada telepon untukmu!" terdengar suara Selo berteriak di luar pintu. Salman tehuyung berjalan dan membuka pintu. "Kau berisik sekali!" ujar Salman membentak Selo. Selo melotot ke arah Salman. Dia menunjukkan layar ponselnya ke arah mata Salman. "Lihat, entah berapa puluh kali gadismu menghubungiku. Dia ingin bicara denganmu. Lagi pula kenapa kau matikan ponselmu? Membuat repot saja!" Selo berbalik dan masuk ke kamarnya. Anil yang sedang rebahan di sofa sambil menonton tv tersenyum melihat perselisihan dua temannya. Dia yakin mereka akan berbaikan dengan segera. Sementara Salman baru ingat bahwa dia marah akibat laptop yang Tia kirimkan. Dia kembali masuk ke kamar dan menutup pintu. Diraihnya ponsel yang tergeletak di ranjang. Perlahan dia berjalan menuju kursi belajar yang terletak di tepi jendela kamar. Sambil memandang keluar dia menyalakan ponsel. Beberapa pesan masuk dari nomor Tia. Juga percobaan panggilan. Salman menekan nomor Tia, dia tidak mau Selo terus menerus terhubung dengan Tia karena masalah ini. Terdengar suara Tia di seberang, "Salman,...." Tia menyapanya lembut. "Ya," sesingkat itu Salman menyahut sapaan Tia. "Masih marah?" "Untuk apa aku marah? Aku harusnya berterima kasih karena belas kasihanmu. Bukan begitu, Tia?" "Ya Tuhan ... apa yang sedang kau bicarakan ini, Salman." "Ayolah Tia, jujur saja kau bersamaku karena kasihan padaku, kan?" Tia terdiam mendengar tuduhan Salman. Dia membiarkan sampai Salman lega dengan kata-katanya "Selesai?" tanya Tia tenang. Salman terdiam, meraih gelas berisi air yang terletak di atas meja belajarnya. Meneguk untuk meringankan hati dan membasahi tenggorokan. "Dengar Salman, aku sebelumnya pernah mengatakan padamu bahwa, aku ingin menjadi bagian yang turut menyertaimu dalam mewujudkan mimpi. Aku memang bukan milyader. Tapi aku punya lebih dari yang aku butuhkan. Aku tidak perlu menumpuk uang hingga menggunung. Bagiku, uang yang datang adalah alat untuk membantu yang lain. Semua ini bukan murni milikku. Ketika orang bahagia dengan sentuhan cintaku, maka kebahagiaan mereka akan menjadi anugrah dan berkah bagiku di masa depan. Itu juga yang aku lakukan padamu. Kau butuh, aku punya lebih jadi apa salahnya jika aku menjadikan milikku untuk mempermudahmu?" Salman terdiam dengan semua kata-kata Tia. Meski terdengar terlalu idealis tapi semua benar. Hanya saja, Salman tidak suka dengan sesuatu yang berwujud pemberian. "Tia, selama ini aku terbiasa bertahan dengan apa yang aku punya. Aku akan berjuang dan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan. Berat bagiku menerima sesuatu yang cuma-cuma. Seolah kau tidak percaya padaku." Terdengar Tia menarik nafas panjang. "Salman, aku membantu dalam banyak hal karena aku percaya. Aku percaya kau akan meraih impianmu. Aku percaya kau akan mewujudkannya. Karena itulah aku berani memberikan banyak hal. Jika kau hanya main-main, aku juga tidak akan membuang waktu, tenaga dan uang untuk menyertaimu." "Terima kasih, Tia. Telah hadir bersamaku di saat aku sungguh membutuhkan dukungan." Tia mendengar getaran di suara Salman. Bukan lagi getaran marah, tapi sebuah getaran haru. "Terima kasih Salman, untuk menerimaku dengan baik di dalam hidupmu. Pertemuan yang luar biasa." "Ya, Tia. Aku tidak pernah menyangka bahwa hubungan kita akan sedalam ini." "Salman, sejak bertemu denganmu aku bisa merasakan bahwa kau akan menjadi bagian penting hidupku. Entah bagaimana dan dalam bentuk apa." "Sekarang aku sudah nyata atau masih abstrak di matamu?" Sambil tergelak Salman mengatakan. Tia memandang ponselnya. Salman yang beberapa menit lalu marah dan sekarang tergelak lepas. Dia menekan panggilan minta di alihkan ke video di ponselnya. Beberapa detik kemudian munculah wajah tampan berkulit coklat dan rambut berantakan. Dia tanpa t-shirt, membuat bulu-bulu halus di dadanya seolah berteriak minta di pamerkan. "Belajarlah untuk menjadi pribadi yang tenang. Kau marah seperti seorang gadis? Mematikan ponsel dan tidur?" Salman tersenyum dengan teguran Tia. Memang sikapnya sepagian ini tampak berlebihan. Dia mematikan ponsel dan mengabaikan semua orang. Bahkan dia tidak bertanya apa pun pada Tia. "Sejak kecil aku kenyang dengan berbagai hinaan. Sulit bagiku membedakan mana merendahkan dan mana ketulusan. Bagiku semua pemberian adalah bentuk rasa belas kasihan." "Tapi kau sekarang bicara denganku, Salman. Pahamilah ketika aku memberi sesuatu itu artinya dukungan, dan bukan sebuah hinaan." "Tentu, Tia." "Satu hal lagi, jangan marah pada Selo ya. Dia adalah pria yang berpikir sederhana. Aku memanfaatkannya untuk mendapat informasi tentangmu. "Tentu, Tia. Dia adalah sahabat terbaik yang aku punya. Aku mengerti, Selo juga tidak bermaksud buruk. Hanya saja dia bertemu dengan orang yang terlalu baik sepertimu." Salman mengedipkan sebelah mata dan disambut senyum sumringah oleh Tia. Setelah berbicara dengan Tia dan sedikit tidur dia merasa lebih baik. Salman membuka pintu dan keluar kamar. Dilihatnya Anil tertidur di sofa depan tv. Dia beranjak ke meja makan. Satu porsi roti dan saus telur serta sayuran pedas bagian sarapannya pagi ini masih tersimpan di sana. Di tambah dengan nasi, ayam dan sayur bawang putih yang ada di bagian tengah. Tampaknya itu bagian makan siangnya. Diliriknya pintu kamar Selo. Terdengar Sepi, apakah Selo keluar hari ni? Sejenak Salman berpikir, Selo muncul dari arah pintu kamar mandi. "Selo, maafkan aku ya. Pinta Salman menghiba." "Eh, Salman! Sejak kapan kau punya sifat seperti seorang gadis begitu?" Salman mengerutkan kening dan mulai memakan pirata dengan saus telur itu. "Apa maksudmu?" tanya Salman. "Lihat saja caramu mengendalikan kemarahan. Harusnya kau bicara dengan baik. Aku juga tidak meminta laptop atau apa pun dari Tia. Wajar saja sebagai teman, aku membicarakan tentang hidup kita di Eropa dan kesulitan-kesulitan yang kita alami." Salman menuntaskan potongan terakhir piratanya. Lalu beralih pada piring lain dengan ayam dan sayurannya. "Ya Selo, aku minta maaf. Aku tidak suka orang berbelas kasih." "Salman, aku rasa itu bukan sekedar Sayang. Dalam pandanganku, kalian berdua saling mencintai. Tia pasti mencintaimu." Salman terdiam, dia tidak punya jawaban bahkan dari hatinya sendiri. Mungkin apa yang Selo katakan benar, tapi Salman harus melupakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN