AJAKAN KERJASAMA

1079 Kata
Tia tersenyum melihat ponsel yang ada di tangannya. Semakin Salman menolak kebaikan yang di tawarkan, bagi Tia justru semakin terlihat jelas bahwa Salman adalah pria yang baik. “Assalamualaikum,” sebuah suara menyapa Tia. Saat itu dia sedang duduk di teras rumah menikmati suasana pagi. Sepotong roti isi dan segelas s**u coklat tersaji di meja. “Waalaikumsalam, eh Ustad Malik. Mari silahkan duduk pak Ustad.” Tia menyapa Si Pemilik suara. “Terima kasih, Bu,” Ustad Malik duduk di kursi depan Tia. Pria dengan celana hitam dan kemeja biru langit itu terlihat tampan sekaligus berwibawa. Peci yang dia kenakan melengkapi kesan religius di wajahnya. “Sebentar ya Pak Ustad, Wiji!” Tia melambai ke aran pembantunya yang sedang sibuk di kebun. Dengan sedikit berlari Wiji mendekat ke arah majikannya. “Iya, Nyah,….” “Tolong buatkan teh untuk Pak Ustad dan potong kue yang ada di kulkas beberapa taruh di piring ya.” “Baik, Nyah.” Wiji segera berlalu dari hadapan Tia dan Ustad Malik. Sedikit menggeser posisi duduknya Tia meletakkan ponsel di meja, berhadapan dengan ustad Malik. “Tumben Pak Ustad pagi-pagi ke sini. Ada yang bisa saya bantu?” Ustad Malik tersenyum gugup dengan pandangan mata Tia yang sangat berwibawa tertuju langsung ke arahnya. Tia menggunakan daster motif bunga tanpa lengan dengan rampel di bagian bawah sepanjang lutut. Pagi masih dini bagi Tia untuk mandi, dia baru menikmati sarapan dan suasana sejuk sekitar rumahnya. Sambil mendengar kicauan burung, serta harumnya tetes embun di atas dedaunan. “Iya Bu Tia. Pertama bolehkah Ibu memanggil saya dengan sebutan Malik saja? Saya toh datang kemari bukan sebagai Ustad. Saya datang sebagai teman.” Tia mengamati mata Malik. Menemukan celah sejuk yang mendamaikan. Tampak jelas Malik tidak punya niat buruk pada Tia. “Tentu Malik, dan kamu boleh memanggilku Tia agar kita seimbang, kan?” Malik tersenyum. “Baiklah, jadi Tia aku memiliki rencana untuk mendirikan sebuah yayasan kecil tempat para anak bisa belajar. Tentu akan dimulai dari kemampuan mendasar yang aku miliki. Yaitu ilmu agama, dan aku berharap mendapat dukungan darimu. Aku ingin ada juga kelas menulis, membaca dan bahasa inggris. Semua itu bisa kita kombinasikan.” Dari arah jalan kecil berbatu rapi dengan bunga di kanan kiri yang terhubung langsung ke dapur, Wiji datang dengan sebuah nampan. Dia meletakkan segelas teh dengan tatakan senada putih juga sepiring kue lapis legit yang tampak enak. “Silahkan Pak Ustad,” ujar Wiji sebelum kembali sibuk dengan selang dan bunga-bunga di halaman rumah Tia yang luas. Beberapa orang juga bekerja di halaman yang terhubung dengan kebun sayur dan buah itu. Mereka adalah warga sekitar yang Tia pekerjakan. Selebihnya adala pembantu yang tinggal di rumah itu. “Hmm … saya rasa itu ide yang bagus. Memang Alinea pernah mengatakan bahwa banyak dari anak-anak yang dia ajarkan bahasa inggris belum bisa membaca. Dia memberi kelas khusus untuk anak-anak ini belajar membaca. Tentunya waktu yang diberikan menjadi lebih banyak. Saya rasa Pak Us-eh maksudku Malik kamu bisa saja berkolaborasi dengan Alinea.” “Bisakah kamu ikut juga dalam project ini? Sebagai pengajar anak-anak untuk membaca dan menulis.” “Hmm … akan aku pertimbangkan. Akhir-akhir ini aku agak sibuk.” Malik melihat Tia, sedikit ragu dia mengajukan pertanyaan. “Tia, boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin agak lancang.” “Silahkan,” “Kau hidup berdua dengan Alinea tapi kehidupan kalian sangat baik dan lebih dari cukup. Entah berapa banyak warga desa kami yang menggantungkan mata pencaharian di rumah dan kebunmu. Sebenarnya apa profesimu?” Tia menatap Malik dengan senyum. Bukan pertanyaan baru, banyak orang ingin tahu bagaimana Tia menjalani hidup dengan baik selama ini. Tia mengangkat kembali gelas susunya, “Silahkan Malik, minum dulu tehmu,”ujar Tia mempersilahkan Malik untuk minum. “Maaf Tia, jika kau tidak berkenan tidak perlu kau jawab. Selama ini aku hanya tahu bahwa kamu hidup berdua dengan Alinea. Lebih dari itu aku tidak tahu. Dan … bisik-bisik warga tentang pria yang sering datang itu pun tidak aku pedulikan.” Tia tersenyum melihat jauh ke kebun wartel di hadapannya. Beberapa wanita desa terlihat sedang memanen wortel-wortel itu dan mencucinya di air sungai buatan yang mengalir di tengah kebun. “Hidupku terlalu panjang untuk kuceritakan. Tapi yang pasti kau jangan khawatir, aku menghidupi diri dan putriku dengan cara yang halal.” Tia selalu berusaha menutup rapat Bless dari hidupnya yang nyata. Tia tidak ingin dikenal oleh publik. Biarlah hanya Bless yang mereka puja. Bahkan Arman pun tidak tahu bahwa Tia dan Alinea telah begitu jauh dari jangkauannya. Malik merasa tidak nyaman karena telah mempertanyakan sesuatu yang sangat pribadi pada Tia. “Maaf ya Tia, aku tidak bermaksud untuk menelisik hidupmu.” Tia tersenyum bijak menyikapi keingintahuan Malik,”Nggak apa-apa. Tidak semua hal bisa kita bagikan pada orang lain. Cukuplah ketika kita baik dengan mereka dan mereka juga baik dengan kita. Begitu kan Malik?” “Ya, betul. Dan satu hal lagi, aku perlu minta izin pada suamimu jika memang dia ada. Aku tidak ingin terlibat proyek dengan istri orang tanpa suaminya tahu.” Tia tergelak,”Ah sudahlah! Kau boleh lega, aku tidak punya suami. Tidak ada pria yang akan datang melabrakmu.” Wajah Malik bersemu malu. Sebenarnya dia ingin kepastian status Tia. Untuk memantapkan pilihan hatinya bukan sekedar untuk proyek yang sedang dia rencanakan. “Nah, Malik kau sudah menginterviewku sepagian ini. sekarang giliranku ya,” “Silahkan, kita akan memulai sebuah kerja sama. Ada baiknya kita saling mengenal satu sama lain. Sejak kau tinggal di desa ini kita baru beberapa kali bertemu dalam pertemuan umum. Silahkan, Tia.” “Kenapa kau ingin mendirikan yayasan itu? Bukankah sekarang banyak sekolah gratis di pemerintah?” Malik tersenyum lega, dia khawatir Tia akan mempertanyakan hal-hal pribadi yang sulit untuk dijawabnya. “Aku lahir di desa ini, di masa itu mendapatkan pendidikan. Tidak bersekolah adalah hal yang biasa. Dan kebiasaan itu terus menjadi biasa sampai saat ini, bahkan saat sekolah gratis sudah banyak bertebaran. Lihat saja, pekerja-pekerja di kebunmu itu. Ibu mereka bekerja dan anak-anak ikut. Mereka dituntut untuk lebih terampil bekerja dari pada pendidikan. Kenyataannya, mereka hanya bermain saja sambil menunggu orang tuanya bekerja kan?” Tia melihat pada wanita di kebunnya, juga beberapa pria yang melakukan pekerjaan berat. Sementara anak-anak mereka asik bermain dengan sesama. “Betul, tapi biaya adalah alasan mereka. Itu yang selalu aku dapat jika bertanya pada mereka.” Malik menggeleng,”Bukan itu alasannya. Mereka memang tidak ingin menunjukkan dunia pada anak-anak mereka. Dunia yang bagi mereka sendiri pun begitu asing. Dunia modern.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN