BERADA DITENGAH

1154 Kata
Saat Malik menjelaskan dengan mimik muka dan gestur tubuhnya, menunjukkan jelas bahwa dia adalah pria yang berpendidikan. “Jadi bagaimana kamu mendapat pendidikan jika dibesarkan di lingkungan seperti ini?” Malik tersenyum, kembali menyecap tehnya. “Kemiskinan itu yang membuat aku keluar dari desa ini di usiaku yang masih sangat kecil. Ayahku bekerja sebagai sopir salah satu tuan tanah di desa ini. Sekaligus tinggal di rumahnya. Karena aku tidak bersekolah maka ayahku memintaku untuk tinggal juga di sana sebagai tukang kebun. Dan aku setuju. Sebagai anak kampung biasa, mendapat pekerjaan dan uang tentu sesuatu yang aku inginkan.” Tia menyimak cerita Malik dengan seksama. Sebagai penulis cerita, mendengar kisah orang lain sering membuat Tia terinspirasi. “Majikan ayahku menawariku untuk sekolah lagi dan tawaran itu kuterima dengan senang hati. Setelah pendidikanku selesai, aku mendapat gelar sarjana agama, sesuatu terjadi. Dan membuatku harus kembali ke kampung ini.” Malik berhenti dengan ceritanya, tatapan matanya menyiratkan sebuah luka dalam yang sulit dia ungkapkan. Dia meneguk habis teh di tangannya. “Baik, Tia, Aku pamit dulu ya. Nanti setelah semua rancangan selesai kubuat, kita bisa bertemu lagi untuk mengeksekusi rencana. Selain aku ada juga Ustadzah Anis, Ustad Surya dan beberapa kawan yang akan membantu jalannya kegiatan ini.” “Tentu, dan dari awal harus kukatakan bahwa aku tidak bisa banyak turun tangan langsung dalam kegiatan ini. Aku punya kesibukan lain yang sulit kujelaskan. Meski begitu karena kamu datang meminta dukungan, maka aku akan mendukung kalian.” Tia membaca bahwa Malik sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari bagian ceritanya. Tentu saja tidak masalah bagi Tia karena hidup pribadi Malik bukan urusannya. “Baik, Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Sambil meneguk sisa s**u coklat di gelas, Tia mengamati Malik yang melangkah semakin jauh meninggalkan pekarangan rumah. Usia Malik sepantar dengan Tia, wajahnya tampan khas pria sunda yang bersih berkulit putih. Sopan, ramah dan santun, serta tertarik padanya. Setelah belasan tahun menjalani peran sebagai ibu tunggal, Tia mulai menikmati perjalanannya. Meski dia telah memaafkan Arman dan semua masa lalu tapi ketakutan selalu terselit di benak Tia untuk memulai hubungan baru. Dan akhir-akhir ini, Tia menghabiskan banyak waktu untuk dekat dengan Salman. Dia tidak bisa mendeklarasikan bahwa itu adalah cinta. Namun dekat dengan Salman membuat Tia bahagia. Tia merasa aman dan dihormati sebagai dirinya. Bukan karena karya, harta dan popularitas. “Mam, hayo … pagi-pagi sudah melamun. Mikirin ustad Malik ya?” Alinea baru saja datang dan menggoda ibunya. Hubungan Tia dan Alinea seringkali terasa seperti teman. Dalam banyak hal, Tia sangat terbuka pada Alinea. “Heh! Apa sih kamu pagi-pagi godain orang tua. Sini duduk, anak gadis bangun siang-siang.” “Nggak siang kok, tuh … baru jam delapan. Aku sudah bangun setengah jam lalu tapi duduk aja di dalam, habis intip dari jendela ada ustad Malik.” “Lha kenapa nggak keluar aja sih?” “Nggak ah! Kayanya Mamah sama Pak Ustad serius banget ngobrolnya.” “Ha … ha … ha …! Ya harus gimana masa Mamah harus cekikikan sama Pak Ustad?” Alinea tersenyum, rambut hitam lurus sebahu membingkai wajahnya. Rambut itu diwarisi dari gen Tia. Juga kulit sawo matang yang senada dengan Tia. Gen Arman terlihat jelas di mata Alinea yang berwarna hazel serta perawakannya yang lebih tinggi dan besar dibanding anak lain sepantarnya. “Aku nanti siang mau ketemu Dad.” “Ok, Dad mau datang?” “Ya, bolehkah Dad kali ini berkunjung ke rumah kita dan bukan hanya di saung?” “Hmm,….” Tia nampak ragu. Selama ini dia selalu menghindar untuk bertemu Arman. Jika Arman datang kemari itu artinya mereka akan bertemu. Setelah berpuluh tahun dia selalu menghindari Arman. Bukan karena takut, sekedar mengalihkan dari dari mengingat luka akan penghianatan yang telah Arman lakukan. “Its ok Mam, kalau nggak boleh juga nggak apa. Aku akan ketemu Dad di saung seperti biasa.” Wiji yang baru selesai membereskan tanaman melintas di dekat tempat mereka duduk. “Wij, aku minta kopi latte ya!” “Ilen! No, so early. Kamu belum makan apa pun, lagi pula tidak baik minum kopi untuk anak seusiamu. Nggak Wij, buatkan s**u coklat untuk Ilen. Juga roti lapis keju dan blueberry.” “Mam,….” Alinea merajuk. Tia tidak memperdulikan. Dia mengibaskan tangan memberi tanda Wiji untuk berlalu. Dengan senyum, Wiji meninggalkan kedua majikannya. “Ingat yah, jangan minum kopi lagi. Kamu itu masih terlalu mudah untuk mencekoki diri dengan kopi.” Alinea memonyongkan bibir dan mengangkat sebelah kakinya untuk bergelung di kursi rotan yang nyama itu. Setelan baju tidur bergambar Winnie the Pooh warna kuning, dengan celana selutut dan tali spaghetti di bahu terlihat nyaman dan pas melekat di tubuhnya. “Dad, akan datang dengan semua surat pengalihan harta. Dua tahun lagi aku baru bisa membuat semua atas namaku. Sementara ini menurut pengacara Dad, Mamah bisa mengambil dan mengelola untukku.” Tia mengerutkan kening, jika dia menerima tawaran itu, artinya dia akan sering berhubungan dengan Arman. Tia tidak ingin ikut campur dalam hubungan Alinea dan Arman. Termasuk juga urusan keuangan dan harta yang akan Arman limpahkan padanya. “No, Mamah nggak setuju. Sebaiknya kamu ambil saja kesepakatan pertama yang pernah Dad tawarkan. Semua harta bagianmu akan tetap dikelola oleh Dad sampai kamu siap mengambil alih dan mengelolanya sendiri. Selama itu, kamu akan mendapat aliran keuntungan bagi hasil. Mamah asa itu lebih aman.” Wiji datang dengan segelas s**u coklat dalam mug bergambar Winnie the Pooh. Juga sepiring roti lapis isi keju yang terlihat berlimpah di bagian dalam serta curahan selai blueberry di bagian luar. Roti itu dipotong menjadi enam bagian dan dilengkapi garpu kecil untuk menikmati. Alinea mengambil roti yang belum sempat Wiji letakkan di meja dan mulai menyantapnya dengan lahap. “Ok, Mah. Aku akan bicara dengan Dad seperti yang Mamah perintahkan,” ujarnya dengan mulut penuh sambil mengunyah roti. Beberapa taburan keju nampak berjatuhan, membuat Alinea sibuk menangkapnya. “Ilen! Jangan bicara dengan mulut penuh. Anggunlah sebagai wanita.” Tia melotot sambil tersenyum ke arah putri kesayangannya itu. “Mamah, kadang kita juga perlu lho bebas mengekspresikan diri. Lagi pula tidak ada orang lain di sini selain Mamah.” “Ilen … kebiasaan itu sering kali tanpa sadar terefleksikan dalam tindakan. Orang lain bisa saja menilaimu karena itu. Ayo turunkan kaki dan makan dengan posisi yang sopan!” Alinea merubah posisi duduknya sambil nyengir. Ibunya memang seorang wanita yang anggun, cerdas dan menarik. Semua hal itu ada juga dalam diri Alinea. Dengan gaya bebas yang selama ini dia tunjukkan. “Mam, kenapa Mamah tidak ingin bertemu Dad? Mamah tidak pernah cerita padaku apa yang membuat Mamah dan Dad terpisah.” Tia mendadak gugup untuk menjawab pertanyaan Alinea. “Jika sudah waktunya kamu akan mengerti. Sekarang mandi dulu dan bersiap, kamu hari ini akan melakukan registrasi ujian setara grade kan? Kapan ke kamus untuk registrasi?” “Besok, Mamah bisa ikut? Aku bisa melakukan sendiri tapi aku ingin Mamah ikut.” “Ok,” ujar Tia setuju. “Dan Dad juga.” “Dad?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN