Wajah tampan berkaca mata hitam itu turun dari mobil Ford edisi terbatas. Dia turun dari pintu belakang. Dengan baju resmi, berdasi, jas warna silver dan kemeja warna hitam, tampilannya terlihat sempurna.
Wajah Jermannya yang khas terbingkai indah dengan rambut ikal warna coklat. Sesaat dia melepaskan kaca matanya. Untuk melihat perkebunan luas yang menyejukkan mata. Beberapa wanita dengan pakaian tradisional nampak sibuk di tengah perkebunan.
Sebuah rumah besar mewah terlihat jauh di belakang perkebunan. Dari jarak sejauh ini pun Arman bisa melihat keindahan rumah itu. Aneka bunga berbaris rapi sepanjang jalan masuk menuju pintu utama. Selera Tia dalam menata keindahan memang tidak perlu diragukan.
Lima belas tahun sudah Arman mengutuki dirinya. Dia melepaskan berlian untuk sebuah serpihan kaca yang sekarang selalu menggores luka padanya. Arman segera menyingkirkan semua pemikiran itu dan melangkah menuju jalan setapak ke arah saung belajar Alinea.
“Kau yakin melakukan ini tanpa sepengetahuan Lolita?”
Arman menoleh pada pria di sampingnya. Pria berbaju formal warna hitam, dengan tubuh gempal dan kepala setengah botak.
“Andre, aku tidak perlu meminta izin siapa pun untuk memberikan apa yang aku miliki kepada putriku.”
Andre menghela nafas panjang. Arman benar, namun Lolita sekarang adalah istrinya. Seharusnya komunikasi terbaik dijalin oleh mereka berdua.
“Ayo!”
Arman mulai melangkah maju menuju saung Alinea. Dari jauh didengarnya sayup suara Alinea sedang mengajar. Di iring derai tawa anak-anak saat mendengar selorohnya. Arman sampai di depan jendela. Melipat kedua tangan di d**a sambil mengamati Alinea mengajar.
‘Tia membesarkan dia dengan luar biasa.’ Ujar Arman di dalam hati. Sementara Alinea telah melihat kedatangan ayahnya. Namun dia membiarkan ayahnya menunggu, dalam lima belas menit kelas akan berakhir.
“Perlu aku minta Alinea mengakhiri kelasnya?”
Arman menoleh pada Andreas,”Jangan berani memerintah putriku. Dia adalah Alinea Sanjaya. Putri Mahkota Arman Sanjaya. Biar dia melakukan apa yang dia inginkan. Dia sedang balas dendam Andreas.”
Andreas mengerutkan kening sambil menggaruknya, mencoba memahami apa yang Arman katakan.
Lima belas menit berlalu dan Alinea menutup kelas. Semua siswa bersiap pulang,
“Andre, berikan hadiah pada semua anak yang datang hari ini. Mereka membuatku bangga pada putriku dan luar biasa cara mereka menyayangi Alinea.”
Andre mengerti maksud Arman, segera dia mengambil dompet dari kantong belakang celananya.
“Aduh, nggak ada uang receh. Hanya ada seratus ribuan di dompetku.”
Sekali lagi Arman melotot pada Andre dan merampas dompet di tangannya. Satu per satu murid asuhan Alinea yang berusia enam sampai sepuluh tahun itu keluar dari saung. Arman mencabut selembar demi selembar uang kertas seratus ribuan dari dompet Andre dan membagian pada setiap anak.
“Yeay! Ibu …! Aku dapat hadiah uang besar dari ayah Kak Ilen!” seorang anak berseru sambil berlari ke tengah perkebunan untuk menemui ibunya yang sedang membersihan rumput di sana.
Dari jauh Arman melihat pemandangan mengharukan. Ibu dan anak itu sangat bahagia dengan selembar uang yang Arman berikan. Bahkan ibu dari anak itu mengatupkan tangan ke arah Arman dan disambut anggukan seadanya oleh Arman.
Setelah semua murid keluar, Arman masuk ke dalam saung. Terlihat Alinea sedang duduk di lantai beralas karpet menghadap sebuah meja tempatnya mengajar. Alinea pun melihat apa yang ayahnya lakukan. Meski alasannya perlu dipertanyakan, apakah karena ayahnya dermawan atau untuk menarik simpatinya belaka.
“Halo Ilen, siap untuk menandatangani semua?” tanya Arman sambil berdiri.
“Hai Alinea, perkenalkan aku Andreas pengacara ayahmu. Sekaligus teman, asisten dan kadang sopir juga.” Andreas tergelak dengan candaanya.
Alinea tersenyum ramah pada Andreas dan menatap tajam pada Arman.
“Silahkan duduk,” Alinea mengatakan dengan nada dingin.
Arman tersadar bahwa dia sedang menunjukkan Arogansi di depan Alinea. Segera dia merubah posisi Arogansinya, dia sedang berhadapan dengan satu-satunya pewaris yang dia miliki.
“Silahkan,” pinta Alinea pada mereka berdua.
Andreas membuka tas yang sejak tadi disandangnya. Mengeluarkan beberapa dokumen dan menjajarkannya di meja. Sementara Alinea mengamati Andre, Arman dari balik kaca mata hitamnya tidak lepas dari melihat Alinea.
Hati Arman serasa berdarah setiap kali melihat Alinea. Dia melewatkan begitu banyak hal dari putri kecil yang dulu pernah dia sia-siakan dengan kebodohan.
“Seperti yang pernah ayahmu tawarkan, setengah dari perusahaan yang sekarang Arman miliki akan menjadi milikmu. Pengaturannya adalah berdasarkan jumlah total aset dibagi dua. Jumlah saham di semua perusahaan, setengahnya akan menjadi milikmu.”
Andre berhenti sambil mengamati wajah Alinea, memastikan bahwa gadis itu mengerti. Mengingat usia Alinea baru lima belas tahun. Dalam pengelihatan Andre, kedewasaan Alinea seperti gadis berusia dua puluh tahun. Alinea mewarisi kecerdasan dan aura penuh wibawa dari Tia.
“Lalu kau akan mendapat jaminan pendidikan dari asuransi yang akan dibuat untukmu. Jaminan kesehatan dan ju—“
“Tunggu Om, aku tidak perlu mendengar detail. Lagi pula untuk pendidikan aku sudah mendapatkan beasiswa sampai gelar doktor kalau aku kamu. Untuk hal lain, Mamah sudah melakukan dan memenuhi kebutuhanku.”
Alinea diam sejenak dan menatap tajam ke arah Arman. Tatapan rindu sekaligus penuh kebencian.
“Sebetulnya aku tidak perlu juga semua ini. Aku memiliki hidup yang lebih dari cukup bersama mamahku. Hanya karena Dad memaksa maka aku setuju untuk menerima itu.”
Andreas menggaruk kepalanya yang tidak gatal tanpa rambut. Dia seperti di tengah antara kemurkaan Alinea dan permohonan Arman.
Sementara Arman melihat ke arah putrinya dengan sedih yang dipendam. Dia mengerti dan menerima semua kemarahan serta kebencian Alinea.
“Baiklah, apa pun alasannya kau harus menerima semua ini. Apakah kau akan menerima dengan ibumu sebagai pengelola sementara atau kau akan mengendapkan sampai cukup dewasa untuk mengelola harta dari ayahmu.”
“Bisakah Dad bicara dengan Mamah untuk urusan ini?”
Arman menatap Andreas, dan Andreas mengangguk padanya.
“Tentu Ilen, minta Mamahmu datang kemari.” Kata Arman datar.
“Tidak, Dad yang harus ke rumah menemui Mamah. Aku akan di sini mempelajari berkas bersama Om Andreas. Aku juga perlu menyampaikan beberapa dokumen tentangmu yang aku butuhkan. Karena aku hanya belajar satu atau dua tahun di Indonesia. Sesudah itu aku akan meneruskan pendidikan di Australi.”
Arman termenung. Menemui Tia setelah lima belas tahun? Ada rasa gugup di hatinya, melihat keberhasilan Tia menjalani hidup yang sulit. Juga membesarkan Alinea, seolah Arman telah mendapatkan tamparan besar. Demi Alinea dia akan melakukan apa pun.
“Baiklah, tunggu di sini dan aku akan kembali bersama Mamahmu.”
Arman berdiri beranjak keluar dan memakai sepatunya di batas pintu. Langkah demi langkah menuju ke rumah Tia begitu berat untuk Arman lewati. Bagaimana reaksi Tia untuk menerima dirinya sekarang?
Rasa bersalah, penyesalan dan frustasi hadir bersamaan di hati Arman. Sampai dia berdiri di pagar minimalis itu. Melihat seorang wanita dengan rok jeans pendek selutut juga kaos longgar warna putih sedang sibuk membenahi bunga anggrek yang menempel di dinding rumahnya.
“Tia,….”