Tia menoleh ke arah belakang, darahnya seperti berhenti mengalir melihat pria tampan yang sekarang ada di hadapannya.
“Tia,”
Arman mendekat dengan jarak kurang dari satu meter di depan Tia. Hatinya bergolak, dia tidak bisa mengingkari bahwa perasaaan yang pernah dibangun puluhan tahun lalu masih tetap sama. Setelah kebodohan yang dia lakukan, Arman kehilangan semuanya. Bukan hanya Tia, Alinea, tapi juga dirinya sendiri.
Tia menelan salivanya. Inilah pria yang pernah dia cintai sepenuh hati, dan juga menghancurkannya hingga kepingan terakhir. Pria yang telah memberikan kesendirian panjang bagi hidupnya.
Arman mengulurkan tangan pada Tia.
“Bagaimana kabarmu?”
Tia menatap tangan Arman, sementara melihat juga tangannya. Sebelah kanan masih memegang sebuah gunting dan sebelah kiri memegang pot anggrek warna putih. Dia hanya tersenyum,
“Kabarku baik. Sebentar ya, aku bereskan dulu yang satu ini.”
Arman menarik kembali tangannya dan mengangguk. Dia lalu duduk di kursi rotan yang ada di teras itu. Sambil mengamati Tia menyelesaikan pot anggrek. Tia memangkas satu per satu daun kering yang ada di batang-batang tanaman itu.
Tia terlihat cantik, lebih cantik dari pertama kali Arman mengenalnya. Tubuhnya padat berisi dan aura wanitanya anggun terpancar. Tidak sedikit pun terlihat liar dan arogan seperti wanita yang sekarang tinggal di rumahnya.
“Apa kabarmu, Tia?”
Tia tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari pot yang sedang dibereskannya.
“Aku, seperti yang kau lihat. Semua baik dan menyenangkan.”
“Hmm … ya, aku bisa melihat semuanya. Kau memiliki hidup yang luar biasa. Bless telah membawamu pada dunia baru?”
“Bless adalah restu dari Sang Pencipta. Untuk menolongku kembali dari ‘kematian’ yang tiba-tiba. Kau ingin minum apa?”
Arman menarik nafas panjang dalam diam.
Tia memanggi Wiji,”Wiji…!”
Pembantunya itu datang dari arah dalam, tersenyum melihat Arman yang duduk di kursi dengan segala ketampanannya. Tia mengerlingkan mata dengan tatapan kagum dari pembantunya itu.
“Wiji!”
“Eh! Iya, Nyah!”
“Buatkan minum untuk Pak Arman, kopi hitam tanpa gula dengan s**u full cream ya.”
Sebuah dentuman 'meledak' di kepala Arman.Tia bahkan masih mengingat dengan baik hidangan yang selalu Arman inginkan.
“Baik, Nyah. Bapak mau kue juga?” tanya Wiji sambil tersenyum genit pada Arman.
“Wiji!”
“Eh! Iya Nyah! Sekarang juga berangkat nih, Nyah!”
Tia menggelengkan kepala dengan tingkah pembantunya. Sementara Arman tersenyum menahan tawa. Meski usianya hampir kepala empat tapi pesona seorang Arman masih memukau. Wajah Jerman yang kental berpadu dengan gaya eksklusifnya bisa meruntuhkan hati banyak wanita.
Dan sayangnya, Arman adalah pria yang mudah jatuh dalam godaan s*****l seorang wanita.
“Alinea pasti sudah mengatakan padamu kenapa aku datang kemarin,” tanya Arman sambil mengamati Tia.
“Ya, semua keputusan aku kembalikan pada kalian. Aku tidak ingin ikut campur dalam hal ini.”
“Tapi kau memiliki hak perwalian atas Alinea. Itu artinya kau juga berhak untuk mengelola harta miliknya sebelum dia cukup usia.”
Tia tersenyum kecut, meletakkan kembali pot anggrek itu di dinding. Gunting yang dia gunakan diselipkan kembali di sudut taman bersama peralatan lain. Arman melihat apa yang Tia lakukan.
‘Tia yang sama.’ Batin Arman. Selalu menjaga semua barang dan meletakkan kembali ke tempat yang seharusnya. Tia tidak pernah bingung mencari atau kehilangan barang. Semua selalu Tia tempatkan sesuai aturan.
Di tepi batas antara teras dan taman Tia mencuci tangannya di wastafel dan kembali untuk duduk berhadapan dengan Arman. Meski hanya dengan sandal jepit dan rambut digerai seadanya namun kecantikan Tia mampu mempesona Arman.
“Lolita tahu apa yang kau putuskan?”
“Semua ini aku miliki tanpa campur tangan Lolita. Bahkan jauh sebelum Lolita menjadi istriku, aku sudah mewarisi semua dari ayahku. Sebagai anak tunggal, aku tidak perlu membincangkan juga dengan keluarga.”
Tia terdiam, matanya memandang pada beberapa bunga yang tampak menari akibat hembusan angin.
“Arman, aku tetap tidak ingin ikut campur dengan apa pun yang kau putuskan untuk Alinea. Kau tahu persis apa yang harus dilakukan untuk menjaganya tetap utuh sampai Alinea cukup usia untuk mewarisinya.”
“Tia, maafkan aku. Lima belas tahun telah berlalu namun penebusanku tidak pernah cukup atas kesalahan yang aku lakukan.”
“Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan apa yang sudah selesai. Bagiku semua itu adalah jalan menuju berkah. Jika bukan karena hari ini maka tidak akan ada hari ini.”
Arman menarik nafas, kata-kata Tia begitu kejam menyayat hatinya. Wanita terbaik yang pernah Arman miliki. Dan dia lepaskan hanya karena godaan seorang Lolita. Lima belas tahun bersama Lolita, Arman tidak pernah bahagia.
Wiji datang dengan segelas kopi dan sepiring kue keju dalam potongan segitiga.
"Silahkan Pak,...." Wiji mengatakan dengan manis sembari mencuri pandang di wajah Arman. dan sejenak duduk di lantai.
"Mau apa di situ?! Sekalian ambil teh, kita diskusi bersama. Mau kamu?!" hardik Tia pada pembantunya yang masih kecil itu.
"Eh, nggak, Nyah. Saya anu, ini ngambil kotoran."
Lalu Wiji bergegas kembali ke dapur. Arman tersenyum simpul, selain anggun Tia juga sangat tegas dalam banyak hal. Termasuk ketika memutuskan untuk mengakhiri pernikahan dengan Arman. Seterjal apa pun jalan yang harus di lewati tidak membuat Tia mundur.
Arman melihat piring hitam yang kontras dengan warna kue di atasnya.
“Blueberry Cheese? Kau masih suka membuatnya?”
Tia tersenyum pedih, kue itu adalah kesukaan Arman.
“Meski kalian tidak pernah tinggal bersama dan Alinea juga tidak mengenalmu, tapi darahmu mengalir deras dalam dirinya. Semua kesukaannya sama persis denganmu termasuk Blueberry Cheese ini.”
Arman mengambil garpu yang tersedia di piring dan mulai memakannya dengan potongan-potongan kecil.
“Rasanya tidak pernah berubah,” ujar Arman pedih.
“Lidah dan resep kuenya tidak pernah berubah, Arman. Cara menyajikannya yang berubah. Dulu kau menikmati sebagai tuan rumah. Tapi hari ini kau menikmati sebagai tamu.”
Arman mendadak berhenti mengarahkan kue keju itu ke mulutnya dan meletakkan garpu kembali ke meja.
“Tia, aku tahu kau dan Alinea sedang balas dendam atas perih yang aku berikan. Lakukan dan hujatlah aku sebanyak yang kalian mau. Aku akan menerima tanpa perlawanan. Andai kesempatan itu ada, aku ingin merengkuh kalian kembali dalam pelukku.”
Tia menegarkan diri, meski terlihat manis tapi Arman masihlah pria yang sama. Yang mudah tunduk pada godaan seorang wanita. Dan Tia tidak sanggup hidup bersama pria yang tidak bisa memegang komitmen.
Lagi pula sejak hari itu, hari di mana dia menemukan Lolita tanpa busana bersama Arman di kamarnya. Rasa dalam diri Tia telah mati!
Dia membunuh rasa cinta untuk Arman yang telah bertahun-tahun dijaganya. Kecewa luka dan perih setelahnya membuat Tia berjanji perceraian hanya akan terjadi sekali selama hidupnya. Dan menutup rapat semua jalan untuk Arman kembali.
“Setelah lima belas tahun, apa yang membuatmu ingat bahwa darahmu mengalir dalam diri Alinea?”
“Aku tidak pernah melupakan Alinea atau dirimu, Tia. Tapi kesombongan memaksaku untuk terus menjauh. Aku ingin kau yang mendekat, aku ingin kau yang memohon belas kasihanku untuk kembali. Tapi ternyata aku salah. Kau wanita kuat yang sangat menjaga harga dirimu.”
Tia sekali lagi menelan Salivanya, jantungnya berdebar kencang mengingat masa sulit yang pernah Arman berikan.
“Setelah lima belas tahun, Lolita mengakui bahwa dia tidak memiliki kesempatan memberikanku pewaris. Semua itu meruntuhkanku. Aku mencari kalian ke seluruh penjuru. Dan baru dua tahun terakhir orang-orangku bisa menemukan kalian. Sekarang aku ingin menebus semuanya, setidaknya pada putriku, Alinea.”