BLUEBERRY CHEESE CAKE

1087 Kata
Sekali lagi Tia menarik nafas. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak menangis di depan Arman. Meski ingataan akan luka masa lalu yang kadang kala datang membuatnya merasa bagai sembilu. Bukan karena pengkhianatan Arman tapi karena perjuangannya setelah itu. Perjalanan terjal yang membuat Tia mengaharu biru. “Arman, aku rasa pertemuan kita cukup. Meski Alinea secara resmi berada di bawah perwalianku, tapi aku tidak mau ikut campur tentang hubungan kalian. Apalagi sekarang Alinea sudah dewasa. Dua tahun lagi dia bisa memutuskan untuk dirinya sendiri.” Arman membaca aroma pengusiran dari Tia. Perlahan dia mengenakan kembali kaca matanya dan berdiri. “Baiklah, aku menghormati keputusanmu, Tia, dan … terima kasih telah memaafkanku dan mengijinkan aku untuk tetap menemui Alineaku. Meski sebenarnya kau berhak dan aku layak untuk ditendang jauh dari kehidupan kalian bagai hama.” Arman melangkah keluar halaman rumah Tia. Dari belakang punggung Arman, Tia melihat pria tampan dengan tubuh atletis itu mengusap dua butiran yang turun di wajahnya. Meski Arman tidak menoleh tapi Tia tahu Arman menangis. Tia sejenak terdiam sambil menatap Arman yang semakin menjauh. Arman memang telah menyakitinya begitu dahsyat dan membuat Tia terperosok dalam dunia kesedihan tanpa belas kasihan. Tia kehilangan semuanya di waktu yang sama, tanpa pendamping dan pegangan. Hanya Alinea yang membuat Tia kuat, terus berjuang dan bertahan. Ingatan akan masa sulit itulah yang membuat Tia acap kali menangis, tapi tentang cintanya pada Arman, Tia sudah membunuhnya bertahun-tahun lalu. Tia melihat Arman dan seorang pria bertubuh gempal meninggalkan saung Alinea kembali menuju mobil yag terparkir di tepi kebun, di ujung jalan setapak yang menghubungkan jalan utama dengan saung belajar. Beberapa saat kemudian sopir yang sejak tadi bersiaga di dalam mobil keluar dan kembali menuju saung. Lalu Alinea dan sopir itu berjalan ke halaman dan menemui Tia. “Kenapa, Pak?” tanya Tia khawatir sambil berdiri. “Anu, Bu. Kata Pak Arman,….” Tampak bingung dan ragu pria itu mencoba menyampaikan. Alinea tersenyum melihat reaksi sopir ayahnya. “Mah, kue blueberry cheesenya masih ada? Kata Dad, ingin diminta semua.” Tia nyaris saja menyemburkan tawa. Namun berakhir dengan senyum tertahan. “Oh, ada. Sebentar ya, Pak.” Melihat ke arah dapur, Tia memanggil pembantunya,”Wiji! Wij….!” Wiji berlarian ke arah depan. “Pak Arman kemana nyah?” “Astaga!!! Ini anak, Wiji! Jangan kecentilan! Cepat ambil sama loyangnya kue blueberry cheese. Sekalian sama garpunya!” “Buat apa, Nyah?” tanya Wiji heran. “Wiji!” bentak Tia gemas pada pembantunya itu. “Oh iya, Nyah! Siap!” Wiji berlari kembali ke arah dapur. Sementara Alinea dan sopir Arman terkikik melihat adegan ibunya dan Wiji. Beberapa menit kemudian Wiji kembali dan membawa seloyang yang telah berkurang satu potong kue blueberry cheese. Alinea melirik potongan besar yang tersaji di meja. Dengan garpu dan telah berkurang secuil di bagian tepinya. “Ini Pak. Bilang Pak Arman untuk segera dimasukkan ke kulkas sesampainya di rumah ya.” “Baik, Bu. Saya permisi, terima kasih.” “Sama-sama, Pak.” Sementara Tia mengamati kepergian sopir Arman, Aline duduk di kursi tempat Arman semua duduk. “Wew! Mam, Dad terpesona oleh kue buatan Mamah.” “Itu adalah kue favoritnya juga, dalam banyak hal selera kalian sama.” “Umm … nanti sore bikin lagi ya Mam. Aku bahkan belum sempat memakannya.” “Ah, kamu ini. Mamah kan sering buat.” “Tapi nggak pernah cukup, selalu harus ada di dalam kulkas!” tegas Alinea. Dia mengambil garpu bekas Arman dan mengangkat piring kue sisa Arman dan mulai menikmatinya. Sambil memperhatikan kelinci-kelinci mereka yang berlarian di tengah kebun wortel yang sedang di panen. Tia menatap sendu apa yang Alinea lakukan. Tanpa kata dia beranjak menuju ruang kerjanya. Alinea memakan kue dari piring ayahnya tanpa rasa canggung. Tanpa Alinea sadari itu seperti sebuah penegasan bahwa dia adalah putri Arman Sanjaya. Pria yang pernah melukai hatinya. Air mata Tia jatuh berderaian. Beep! Beep! Beep! Sebuah panggilan masuk di ponselnya. Panggilan video call. “Salman, halo apa kabarmu?” tanya Tia pada pria yang wajahnya muncul di ponselnya. Salman diam tidak menjawab sapaan Tia. wajahnya seketika membeku. “Tia, kau kenapa?” “Maksudmu?” “Jangan mencoba menyembunyikan apa pun dariku! Kau baru saja menangis, apa yang terjadi?” tanya Salman tegas. Belum pernah Tia mendengar Salman berkata setegas itu. Layaknya pria dewasa yang ingin melindungi wanitanya. “Ah, aku baik-baik saja. Sedikit mengenang perjalanan masa laluku.” “Untuk apa mengenang perjalanan masa lalu? Kau sedang menulis sesuatu?” “Bukan, Arman tadi datang ke rumahku. Setelah belasan tahun kami tidak pernah bertemu.” “Arman? Siapa dia?” “Ayah Alinea.” “Hmm … dia mengatakan sesuatu yang buruk?” Tia tersenyum mendengar pertanyaan Salman. “Andai Arman mengatakan sesuatu yang buruk mungkin aku tidak akan menangis. Tapi karena Arman mengatakan sesuatu yang baik dan memperlakukanku sangat baik. Semua kenangan masa lalu itu justru berloncatan satu per satu untuk hadir lagi di hadapanku.” Salman merasa tenggorokannya kering. Pria masa lalu Tia kembali. “Kau masih mencintainya?” “Cinta pada Arman telah mati malam itu juga saat aku menemukan dia bersama wanita lain di kamarku.” “Lalu apa yang membuatmu menangis?” “Alinea dan Arman dalam banyak hal sangat mirip bahkan sama. Kesenangan dan juga kebiasaan mereka. Mungkin itulah yang disebut ikatan darah. Meski mereka tidak pernah serumah tapi berbagai hal dalam diri mereka sungguh sama.” “Tentu saja, bukankah itu wajar. Lalu kenapa kau bersedih?” “Arman kehilangan Alinea bertahun-tahun. Dan sekarang dia berusaha merengkuh kembali putrinya. Aku tahu Alinea juga sangat merindukan Arman, tapi dia menjaga jarak demi memberi hukuman pada ayahnya. Aku tahu mereka berdua sama-sama tersiksa dengan kondisi yang ada.” “Hmm … lalu apa yang akan kau lakukan?” “Aku tidak dalam lingkaran itu, Salman. Aku sudah katakan pada Arman dan Alinea bahwa hubungan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka yang akan menjalinnya kembali dan mereka juga yang akan memutuskan dengan cara apa mereka akan saling memberi dan menerima. Aku sekarang adalah orang lain bagi Arman.” Salman diam mendengar perkataan dan pernyataan Tia. “Jika Arman memintamu kembali, kau akan menerimanya?” detak jantung Salman berlarian menanti jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan. Rasanya Salman tidak siap dengan kemungkinan yang tidak dia harapkan. Meski begitu rasa ingin tahu itu menunggu untuk dituntaskan daripada berputar-putar sebagai kebimbingan di hati Salman. “Salman, Arman sekarang adalah suami Lolita. Aku tidak ingin melakukan hal sama seperti yang pernah mereka lakukan padaku. Cukup aku saja yang merasakan. Kami akan tetap terhubung sebagai teman.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN