PRIA FLAMBOYAN

1325 Kata
“Tia, jangan menangis. Air matamu melukaiku.” Sebuah senyuman hadir di wajah Tia dengan perkataan Salman. Bersama Salman, Tia merasa dicintai, dihormati dan diperlakukan dengan baik sebagai wanita. Sebuah perasaan asing yang berusaha di tolaknya. Namun entah bagaimana perasaan itu selalu saja hadir saat dia berinteraksi dengan Salman. Perasaan yang sulit Tia kenali dan entah di mana harus ditempatkan. Sepuluh tahun, rentang usia yang membuat semua menjadi tidak mungkin bagi mereka. “Terima kasih ya, telah hadir menjadi bagian dari hidupku.” Barisan kata indah yang Tia katakan membuat hati Salman ‘hujan’ sedih, dingin dan penuh kerinduan. Salman meletakkan ponsel di dadanya setelah Tia memutuskan sambungan. Mendekap ponsel itu sambil berbaring memejamkan mata. Seolah Tia yang ada dalam dekapannya. Tok! Tok! Tok! “Salman, makan!” suara Anil memanggil dari luar pintu. Membuyarkan semua lamunan Salman. Segera dia beranjak keluar. Dengan celana pendek dan bertelanjang d**a. “Di mana Selo?” tanya Salman pada Anil yang sedang berdiri di batas jendela ruang tamu. Anil tampak sibuk mengamati sesuatu di luar dengan senyuman. Melihat wajah Anil membuat Salman penasaran. Dia mendekat dan turut melihat pemandangan yang sedang Anil saksikan. “Itu Selo?” tanya Salman saat menyaksikan sahabatnya itu sedang duduk berbicara akrab dengan seorang gadis berwajah Asia. “Menurutmu? Setelah banyak petualangan cinta di Nepal, temanmu itu tidak berhenti rupanya. Dia meneruskan petualangan di UK. Gadis Asia itu akan jadi gadis pertamanya.” Salman tersenyum, Selo memang memiliki sifat alami mudah dekat dengan para gadis. Tidak heran jika Selo tidak pernah merasa sendiri. Selalu ada saja wanita yang siap berada di dekatnya. “Sudah ayo kita makan, biar saja Selo menyusul nanti.” Salman mengajak Anil untuk beranjak ke meja makan. hidangan nasi briyani dan ayam goreng telah tersaji di atas meja. “Kau yang memasak?” tanya Salman pada Anil. “Menurutmu?” jawab Anil seenaknya. “He … he … he …, tidak terbayang putra seorang pejabat sepertimu bisa memasak seperti ini. Kekuatan keharusan selalu luar biasa.” “Ah, sudahlah! Ayo makan!” Salman dan Anil masing-masing mengambil sepiring nasi briyani yang masih panas mengepul. Aromanya kaya rempah, berpadu dengan aroma ayam goreng. Perpaduan nikmat dan lezat yang memenuhi seisi ruangan mereka. “Jadi kau akan mulai bekerja minggu depan?” tanya Anil. “Ya, aku sudah bicara dengan kepala rumah sakit. Karena sekarang kau ada di asrama iini, sesekali saat aku mendapat giliran jadwal malam, aku akan pulang ke asrama yang di sediakan rumah sakit.” “Hmm, ya. Aku besok akan ke kampus untuk mulai mengurus semua keperluan kuliah agar sesegera mungkin masuk kelas.” “Bagaimana kabar ayahmu?” tanya Salman sambil mengunyah makanannya. “Dia baik, dia meminta kita untuk menyewa sebuah rumah yang lebih nyaman. Ayahku akan membayar untuk kita jika kalian setuju.” Salman terdiam,”Asrama ini sudah sangat nyaman untuk kami.” “Ya, itu hanya sebuah tawaran. Aku juga merasa nyaman di tempat ini. Dan aku rasa Selo jauh lebih nyaman dengan adanya para gadis itu. Betul kan? Ha … ha … ha …!” Mereka berdua tergelak dan menyatukan tangan karena berhasil menemukan pemikiran yang sama tentang Selo. Tok! Tok! Tok! Anil meletakkan sendok makan, dan beranjak membuka pintu. Cindy berdiri di ambang pintu. Tanpa menyapa Anil, matanya mencari seseorang di belakang punggung Anil. “Cari siapa, Nona?” “Kau teman sekamar Selo?” tanya Cindy. “Ya, kau ingin bertemu Selo?” “Tampaknya aku baru melihatmu. Setahuku Selo tinggal satu ruangan dengan seorang pria yang sombong dan tidak pernah tersenyum.” Anil memiringkan tubuh sedikit agar Cindy bisa melihat ke dalam. “Pria itu maksudmu?” tanya Anil pada cindy sambil memicingkan mata ke arah Salman. Cindy menipiskan bibir dengan sinis. Sementara Salman dari arah meja makan meneruskan kegiatannya tanpa peduli dengan kedatangan Cindy. “Cindy! Sedang apa di sini?” Selo muncul dari belakang Cindy, seketika Cindy berbalik dan menghambur dalam pelukan Selo. Cindy menangis sejadinya. Anil dan Salman saling berpandangan melihat pemandangan itu. Selo menatap bingung kedua temannya sambil mengangkat bahu. Dia membalas pelukan Cindy untuk menenangkan gadis itu. “Cindy, kau kenapa? Ayo masuk dulu!” Selo membimbing Cindy memasukin ruangannya. Anil bersiap menutup pintu ketika Salman mengatakan,”Biarkan pintunya terbuka!” Selo dan Anil menatap Salman bersamaan. Pandangan mereka penuh tanya dengan permintaan Salman. “Seorang gadis di ruangan kita dengan pintu tertutup? Menurut kalian?” tanya Salman pada kedua temannya. Selo dan Anil mengangguk setuju. “Hey! Tuan sombong! Kau pikir apa yang akan aku lakukan di ruanganmu?!” teriak Cindy penuh emosi pada Salman. “Maaf Nona, aku tidak sedang menuduhmu. Dan aku justru melindungi kehormatanmu sebagai seorang gadis di kamar para pria.” Cindy menatap Salman sengit, namun beberapa saat kemudian matanya kembali sayu mengarah pada Selo. Dan dia menangis di hadapan Selo. “Kenapa Cindy, apa yang terjadi?” “Aku baru aja melihat Jose dan Judith bergandegan tangan masuk ke salah satu café. Mereka tampak sangat bahagia. Jose bahkan merangkul Judith. Aku harus bagaimana, Selo?” Cindy kembali menangis deras di pelukan Selo. Sementara wajah Selo penuh kebingungan, meski begitu dia membalas pelukan Cindy dengan hangat. Anil tersenyum pada Salman melihat pemandangan drama di ruangan mereka. “Cindy, aku tahu kau sedang sedih. Tapi bisa kau jelaskan padaku siapa Jose dan siapa Judith?” Cindy melepaskan pelukannya dari Selo,”Ya Tuhan! Selo! Kau menyebalkan sekali, Jose itu pacarku dan Judith adalah sahabat yang tinggal satu ruangan denganku. Aku sudah memperkenalkanmu pada mereka bukan?” Selo dengan kikuk mencoba berbicara pada Cindy,”Oh, iya. Aku ingat mereka hanya saja aku tidak ingat nama-nama mereka. Maklum saja isi kepalaku ini tidak banyak untuk mengingat banyak hal. Ok, maafkan aku.” Cindy menyandarkan punggung di sofa dan melipat kedua tangan dengan kesal. “Cindy, maafkan aku ya.” Bujuk Selo dengan wajah memelas memohon pada Cindy. Dua temannya menatap sambil terkikik ke arah Selo. Selo yang Flamboyan, dia akan bersedia memohon pada para gadis agar mereka tetap dekat dengannya. “Jadi, apa yang bisa aku bantu Cindy? Kau akan memutuskan Jose?” tanya Selo. “Aku mencintai Jose, tapi pengkhianatan ini tidak bisa di maafkan!” “Mungkin mereka tidak punya hubungan seperti yang kau pikirkan. Usulku, lebih baik kau tanyakan langsung pada Jose.” “Hmm … kalau Jose tidak mengaku?” Cindy memperkirakan sebuah kemungkinan. “Ya, kau percaya saja. Kebohongan tidak selamanya bisa disimpan. Selama Jose tetap baik padamu, tentu tidak ada masalah.” “Kalau ternyata mereka memang punya hubungan?” tanya Cindy lagi. “Ya, sudah tinggalkan mereka. Artinya dia tidak layak untukmu. Kau cantik Cindy, banyak pria yang akan bersedia mengantri untuk jadi kekasihmu. Termasuk aku, ha … ha … ha …!” Salman dan Anil menutup mulut mereka agar tidak mengeluarkan suara. Saat Selo sudah menebar ranjau rayuan, bisa dipastikan seorang gadis akan jatuh ke pelukannya segera. Sementara Cindy tersipu malu dengan wajah memerah, berdiri dan keluar dari ruangan mereka. Seatu langkah menjelang pintu, Cindy berbalik dan menatap manis ke arah Selo. “Terima kasih, Selo.” Dia juga mengangguk dengan senyuman ke arah Salman dan Anil. Setelah Cindy keluar dan menutup pintu, Anil duduk di sofa dekat Selo. “Lalu gadis Asia itu?” “Gadis Asia yang mana?” tanya Selo berpura-pura bingung. “Yang barusan mengobrol denganmu. Aku dan Salman melihat dari sini tadi.” “Oh, hanya teman biasa. Tapi dia adalah gadis yang menarik dan cerdas.” Salman yang sudah menyelesaikan makanannya turut bergabung dengan dua sahabatnya itu. Duduk di sisi lain sofa. Sambil memainkan ponsel dan mengangkat sebelah kaki. “Semua gadis selalu menarik, spesial dan cerdas di mata seorang Selo,” ujarnya ringan. “Karena aku memiliki penilaian detail tentang para gadis itu.” Anil tersenyum mendengar yang Selo katakan. “Hati-hati, jangan sampai ada yang tersakiti,” Anil mengatakan pada Selo. “Kau tiba di UK untuk menjadi dokter bedah. Jangan sampai keterlibatanmu dengan banyak gadis membawamu pada kesulitan.” Salman memperingatkan Selo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN