CINDY DAN JOSE

1077 Kata
Pagi itu udara London sangat cerah. Matahari bersinar terang, seolah memberikan cahaya pada jalan masa depan ketiga pemuda Nepal yang sedang menuju kampus. Mereka berbincang dan tertawa sepanjang jalan, di antara wajah wajah Eropa, wajah Asia mereka terlihat sangat berbeda. Beberapa mata tampak melihat mereka. Sesampainya di kampus mereka pun berpisah. Selo dan Salman menuju ruang kelas sementara Anil harus menuju ruang daftar ulang. Ini hari pertamanya tiba di kampus. Lagi pula Anil mengambil jurusan yang berbeda dari Salman dan Selo. Dalam perjalanan menuju kelas, di tangga menuju atas tiba-tiba Cindy datang dan menggandeng Selo. Meski tampak bingung tapi Selo tersenyum pada Cindy. “Hai, Cindy. Kau sudah tiba di kampus?” sapanya. Salman mengamati Cindy dan sekilas mata Cindy terarah sengit padanya. “Ya, Mulai besok aku bisa datang ke kampus bersamamu. Kita bisa jalan bersama sejak dari asrama.” Selo melirik senang ke arah Salman. “Oh, tentu Cindy.” Salman menggelengkan kepala dengan kedekatan Cindy dan Selo. Menurutnya sikap Cindy yang tiba-tiba terlihat berlebihan. Usia Cindy lebih muda dari mereka berdua, dia berusia dua puluh tahun. Dari kejauhan Jose melangkah cepat ke arah Cindy dan Selo. Suasana kampus yang riuh pagi itu membuat keduanya tidak menyadari kedatangan Jose. Sementara Cindy masih bergelayut manja di lengan Selo. Jose menarik lengan Cindy yang menempel pada Selo dan menghentaknya kuat. “Cindy! Kenapa kau menempel seperti cicak pada pemuda ini?” Selo terkejut tanpa reaksi atas perlakuan Josepada Cindy. Sementara Cindy dengan berani melipat tangan dan berdiri di depan Jose. Wajahnya mendongak menantang Jose. “Kenapa? Apa masalahmu? Aku punya hak untuk menempel pada siapa pun,” ujar Cindy dengan arogan pada Jose. “Cindy! Aku kekasihmu, kau tahu aku sangat populer di kampus ini. Apa jadinya jika semua orang melihat kekasihku menempel seperti cicak pada … pria-pria seperti itu?!” Telinga Selo mendadak panas dengan pernyataan Jose. “Maksudmu? Kami pria seperti apa?” Selo berdiri di sebelah Cindy menghadap Jose. Jose memandang Selo dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. “Perlu aku jelaskan? Berkacalah dan bandingkan dirimu denganku.” “Aku tidak melihat perbedaan selain kesombongan yang tinggi padamu. Secara kualitas kami lebih bisa di uji!” Cindy melangkah dan berdiri di depan Selo,”Jose, ini adalah masalah kita berdua. Kau keberatan aku menempel pada Selo? Lalu menurutmu apakah aku harus baik-baik saja saat kau menempel pada Judith?” “Judith?” Jose terkejut dengan pernyataan dari Cindy. “Kau pikir dunia terlalu luas sampai aku tidak bisa melihat ketika kalian bergandengan tangan?” “Aku dan Judith … kami sekedar pergi bersama. Itu saja, semua tidak seperti yang ada dalam pikiranmu.” “Kau dan Judith sama, pengkhianat! Sejak tiga hari Judith tidak pulang ke kamar kami. Dia bahkan tidak bisa aku hubungi. Dia mungkin menghabiskan sepanjang hari di kamarmu!” Tangan Jose terangkat dan siap memukul wajah Cindy. Namun tangan lain menghentikannya. Itu adalah tangan Salman. Mata Jose merah dan wajahnya panas. Beberapa mata tampak mulai memperhatikan keributan mereka. “Dengar, aku tidak ingin terlibat dalam masalah kalian. Bahkan temanku Selo juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Cindy mendadak tertarik untuk dekat dengannya, aku rasa Cindy punya hak untuk itu. Aku menghentikanmu agar tidak memukul wanita, agar kau tidak terlihat seperti banci.” Mata Jose berkilatan, dia merasa seang dipermalukan oleh dua pemuda Nepal dan Cindy yang selama ini menjadi pacarnya. Jose adalah mahasiswa yang populer di kampus. Selain kaya dan tampan, dia juga putra salah satu dewan senator di Kingston University. Banyak gadis yang rela memohon untuk dekat dengan Jose. Cindy yang mendapat kesempatan untuk memiliki gelar sebagai pacar resmi Jose, dianggapnya seperti memberi keberutungan pada gadis itu. Dan sekarang gadis itu di hadapannya untuk mempermalukan? “Kalian akan membayar semua ini!” ancam Jose, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka semua. Salman mendekat ke arah Cindy,”Sebaiknya kau tidak dekat-dekat dengan kami. Kami jauh-jauh dari Nepal ke negara ini untuk meraih apa yang kami impikan. Bukan sekedar masuk ke dalam masalah yang tidak berarti!” ucap Salman pelan penuh penekanan. Salman lalu mengamit lengan Selo untuk menuju kelas. Sesekali Selo maish menengok, melihat Cindy yang berdiri mematung melihat mereka. “Gadis itu pasti sangat sedih sekarang,” ujar Selo. “Lupakan dia, kau jangan ikut campur dalam urusannya. Dia bukan urusanmu.” Salman berkata sambil menatap Selo penuh ancaman. “Apa salahnya? Kita juga tidak bisa hanya belajar. Mempunyai teman dan sedikit senang-senang boleh juga kita lakukan, bukan?” “Selo! Tentu kita akan memiliki teman. Dan ada waktunya kita juga akan beristirahat. Tapi jangan membuat dirimu masuk ke dalam masalah.” “Apa maksudmu?” “Jose adalah putra salah satu senator di kampus ini. Kita tidak ingin punya masalah dengan dia. Jadi lebih baik, jauhi Cindy dan biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri.” “Dari mana kau tahu? Kita tiba di sini bersama tapi rasanya kau tahu lebih banyak dariku.” “Aku mempelajari banyak hal termasuk isu-isu kampus di surat kabar resmi kampus. Gunakan ponselmu untuk itu!” Selo memperlihatkan barisan gigi. Dia memiliki Salman yang akan selalu berbagi informasi. Tidak perlu repot untuk mencari sendiri. Mereka tiba di depan kelas dan duduk di barisan tengah. Dalam hitungan menit, seluruh kela telah penuh terisi. Lalu seorang pria berkaca mata dengan kepala botak masuk ke dalam ruangan. “Selamat pagi kelas, ini adalah bulan kedua kalian berada di kelasku. Kita akan mulai membuat persiapan ujian.” Semua siswa mengeluarkan laptop mereka dan mulai menyimak pelajaran yang akan diberikan oleh dosen. Sementara di kantin kampus Jose sedang meneguk segelas minuman bersoda. Dua orang temannya Charles dan Victor menghampiri. “Hai, kenapa kau tidak ada di kelas? Kelas sudah dimulai,” ujar Charles. Penampilannya macho dengan celana jeans, kaos berwarna putih dan luaran kotak-kotak. Tinggi tubuh rata-rata orang Eropa. Rambutnya pirang dan ikal. “Kalian sendiri sedang apa di sini?” Jose bertanya balik dengan tidak peduli pada kedua temannya itu. “Kami mencarimu bro, karena kau tidak ada di kelas jadi kami juga keluar. Kenapa? Aku mendengar beberapa orang bergunjing tentangmu pagi ini. Kau terlibat masalah dengan siapa?” Victor berkata sambil menarik kursi di depan Jose. Victor bertubuh gempak dengan rambut coklat dan mata biru. “Dua anak baru dari Asia. Cindy menempel pada salah satunya seperti cicak. Setelah dia tahu aku pergi dengan Judith akhir-akhir ini.” “Ah, kau yang gila. Kenapa harus Judith? Kau kan tahu Judith itu sahabat Cindy. Wajar kalau dia marah,” ungkap Charles. “Judith yang mendekat padaku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN