“Lalu apa rencanamu?” Charles menanyakan pada Jose.
“Aku ingin memberi anak Asia itu pelajaran. Satu dari mereka seperti maghnet untuk Cindy dan satu lainnya berlagak jagoan. Dia mempermalukanku di depan semua orang.”
Charles dan Victor menggangguk. Mereka selalu menggolongkan diri sebagai mahasiswa kelas jet zet. Tidak boleh ada yang berani menentang, melawan atau menolak mereka.
“Kita akan beri mereka pelajaran nanti. Sekarang tenanglah dulu, malam ini Antoinette mengadakan pesta di klub dan dia mengundang kita bertiga sebagai bintang tamu.”
“Yeahhh! That’s great bro!”
***
Kelas hari itu selesai menjelang sore, ketika Salman dan Selo keluar kelas Cindy sudah menanti di depan kelas.
“Selo, kita kembali ke asrama bersama?” ajaknya manja.
Kembali Cindy menggelayut di lengat Selo. Dengan senyum bangga Selo menoleh pada Salman.
“Aku tidak meminta, ok!” katanya
Salman mengangkat bahu.
“Malam ini aku mulai bertugas di rumah sakit. Aku langsung ke sana. Kalian kembalilah ke asrama berdua.”
Cindy terlihat tidak peduli dengan kata-kata Salman. Dan Selo tersenyum mengangguk, lalu bersama Cindy berjalan meninggalkan Salman. Keduanya melangkah dengan gembira, sesekali Selo terlihat melemparkan candaan yang membuat Cindy tertawa.
Salman menatap keduanya dari arah belakang dan berharap tidak terjadi masalah besar pada Selo di kemudian hari. Lalu ke arah lain Salman pun mulai meninggalkan kamus menuju rumah sakit yang tidak jauh dari kampusnya.
‘Bright Hospital’ tulisan besar itu tertera di gerbang masuk rumah sakit. Rumah sakit terbesar di Kingstone, di sinilah Salman akan bekerja sekaligus mempraktekkan ilmu yang di dapatnya.
Bergegas di menuju ke ruang HRD untuk melaporkan diri atas kedatangannya. Dia mengetuk pintu dokter Matew sebagai kepala unit bedah rumah sakit ini.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” suara sahutan dari dalam terdengar.
“Selamat sore, saya Salman.”
“Oh, Halo. Ayo … masuk, silahkan duduk.”
Salman menarik kursi di depan meja Matew. Pria berambut coklat dengan kaca mata tebal wajahnya berwibawa dan menyimpan aura ketegasan. Tidak ada senyum di wajah yang sebenarnya tampan itu.
“Patrick sudah menyampaikan padaku tentang rencana kedatanganmu. Aku ucapkan selamat datang di rumah sakit kami dan selamat bergabung. Semoga rumah sakit kami bisa menjadi tempat belajar yang baik untukmu.”
Salman tersenyum mengangguk,”Terima kasih Tuan,….”
“Oh ya, namaku Matew seperti yang kau lihat di papan depan pintu. Aku adalah kepala unit bedah di rumah sakit ini.”
“Oh, yah Tuan Matew.”
“Panggil saja Matew ok. Mungkin di asia untuk orang yang lebih dewasa kau perlu memberi mereka gelar tapi karena sekarang kau ada di UK, biasakan dirimu, ok!”
“Ok, Matew,” jawab Salman.
“Untuk satu tahun pertama kau akan berada di departemen pernyiapan dan pembersihan ruang operasi. Sebentar ya.” Matew mengangkat telepon di mejanya dan menekan beberapa angka,”Halo, tolong minta Britney ke ruanganku.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita berusia dua puluh lima tahun dengan seragam suster muncul di ruangan Matew.
“Ya, Dokter. Anda memanggil saya?”
“Ya, masuklah Britney. Perkenalkan ini Salman, dia adalah mahasiswa terbaik dari Nepal tahun ini. dia mendapat fasilitas untuk bekerja di rumah sakit kita. Dan Salman, perkenalkan ini Britney. Dia adalah supervisor unit persiapan dan pembersihan ruang bedah.”
Salman mengulurkan tangan pada Britney,”Halo Britney.”
Britney pun menyambut tangan Salman dengan ramah,”Hi, Salman, senang berteu denganmu dan selamat bergabung dengan team kami.”
“Nah, Salman. Britney akan membimbingmu untuk mengenali berbagai alat bedah dan juga cara menyiapkannya,” lanjut Matew.
“Ya, jangan segan bertanya jika kau bingung. Selain bekerja kau tentunya belajar di rumah sakit ini. aku dengan senang hati akan membimbingmu. Dan ketika kau menjadi dokter bedah nanti, aku akan menjadi suster pendampingmu di ruang bedah.”
Salman tersenyum, begitu juga Matew mendengar candaan Britney.
“Kau sudah bisa mulai sekarang. Selamat bekerja!” Matew menutup pembicaraan.
“Ayo!” Britney mengajak Salman keluar dari ruangan Matew.
Mereka berjalan menyusur lorong rumah sakit dengan perlahan. Sambil Britney memberikan Salman kesempatan mengenali rumah sakit.
“Britney kau sudah lama bekerja di rumah sakit ini?” Salman membuka pembicaraan.
“Hampir lima tahun. Sejak aku berusia dua puluh tahun.”
“Sepertinya kau masih sangat muda,” ujar Salman sambil melirik ke arah Mandy.
“Sungguh? Terima kasih pujiannya. Usiaku tahun ini genap dua puluh lima. Aku bukan dokter ingat? Setelah dua tahun menempuh pendidikan sebagai suster aku mulai bekerja di ruamh sakit ini. sampai sekarang aku tidak kemana pun.”
“Hmm … apakah banyak mahasiswa yang magang di rumah sakit ini sepertiku?”
“Kau belum tahu? Rumah sakit ini adalah milik duat besar Nepal untuk UK. Profesor Nishant, karenanya hanya Mahasiswa kedokteran dari Nepal yang mendapat fasilitas ini.”
“Umm … berapa orang setiap tahunnya?”
“Setiap kali beasiswa diadakan, maka mahasiswa terbaik akan bisa magang dan bekerja di rumah sakit ini. Beberapa dari mereka sudah menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit ini juga.”
Salman memperhatikan wajah-wajah petugas yang berlalu lalang di rumah sakit itu. Memang kebanyakan wajah-wajah Asia dan berkulit coklat seperti dirinya.
“Betul juga, banyak wajah Nepal di rumah sakit ini.”
“Betul, dan pasiennya pun kebanyakan juga warga negara Asia yang tinggal di UK.”
“Oh, Briney, aku akan merasa di rumah saat bertugas nanti.” Salman tersenyum lebar pada Britney.
“Semoga kau betah dan nyaman. Ayo aku tunjukkan lokermu, sepertinya petugas HRD sudah menyiapkan juga seragam dinasmu.”
Briney membawa Salman ke bagian belakang rumah sakit. Deretan lemari loker berjajar sepanjang ruangan yang mereka masuki. Dan Britney berhenti di loker nomor 802.
“Ini lokermu,” Britney membuka loker dengan kunci menggantung di bagian depan. Lalu mengeluarkan beberapa baju yang masih terbungkus plastik.
“Ini seragammu, yang warna biru itu seragam dinas. Dan yang warna hijau itu seragam untuk masuk ke ruang bedah. Nanti aku akan jelaskan tekhnik melakukan penstrerilan sebelum dan sesudah memasuki ruang bedah.” Briney menjelaskan dengan detail.
Salman menerima bungkusan baju itu dari tangan Britney.
“Ganti dulu bajumu, itu di ujung ruangan ada kamar ganti. Lalu nanti masuklah ke ruangan peralatan. Tiga pintu sebelah kanandari ruangan ini. Aku tunggu kau di sana ya.”
“Ok, terima kasih Britney.”
“Oh, ya. Masukkan semua barangmu ke loker dan jangan lupa cabut dan bawa kuncinya.”
“Ok, aku segera menyusulmu.”
Britney mengedipkan sebelah mata dan meninggalkan Salman untuk bersiap-siap. Salman menatap baju-baju di tangannya dan tersenyum memandang seluruh ruangan. Satu lagi tangga menuju mimpi sedang dia tapaki.
Segera Salman mengambil sebuah baju berwarna biru dan masuk ke sudut ruangan yang tadi ditunjuk oleh Britney. Beberapa saat kemudian, Salman telah menggunakan seragam dan juga penutup kepala warna senada.
Sambil memandang tampilannya di kaca, Salman tersenyum bangga. Dia telah berada di tempat yang setahun lalu masih sebatas impian baginya. Tiba-tiba rasa rindu pada ibunya memuncak, Salman mengambil ponsel dari tasnya dan menelpon ibunya di Nepal dalam panggilan video call.
“Assalamualaikum, Ibu,”
“Waalaikumsalam, Salman. Oh, Alhamdulilah kau menghubungi Ibu. Sejak semalam entah kenapa ibu sangat merindukanmu. Bagaimana kesehatanmu di sana?”
“Aku sehat, Bu. Sebentar aku akan menunjukkan sesuatu pada Ibu.”
Dia bergeser menuju kaca dan mengarahkan kamera belakang. Menunjukkan keseluruhan tampilannya untuk dilihat oleh Sang Ibu.
“Alhamdulillah …! Ya ALLAH! Salman … kau sudah menjadi dokter bedah?”
Salman yang semula ingin menangis melihat reaksi Sang ibu justru berbalik ingin tertawa mendengar kata lanjutannya.
“Tidak, Bu. Aku menjadi staff rumah sakit. Ini adalah seragam kerjaku. Empat tahun lagi baru aku menjadi dokter bedah.”
“Oh,….” Ibunya mengusap air mata menyadari kesalahannya dalam menebak apa yang putranya tunjukkan.
“Aku akan bertugas di rumah sakit setiap hari. Mempersiapkan operasi untuk dokter bedah. Aku akan belajar banyak di sini dan sekaligus mendapat gaji. Ayah bisa mengurangi uang saku untukku dan mengirim lebih banyak untuk adik-adik.”
“Alhamdulillah, Nak. Bekerja dan belajarlah dengan tekun, serius dan yang harus kau pegang dalam hidupmu adalah kejujuran. Apa pun yang terjadi dan masalah apa pun yang kau hadapi, jadilah manusia yang jujur. Maka ALLAH akan selalu menyertai langkahmu dan menolong dalam kesulitanmu.”
Salman diam dan merekam semua wejangan yang ibunya berikan. Ibunya memang bukan wanita yang berpendidikan tinggi, tapi tentang menjadi manusia, ibunya sangat luar biasa. Bertahun-tahun mereka hidup dalam kemiskinan di Nepal, namun tidak sekali pun ibu dan ayahnya mengajarkan mereka untuk curang dan meminta.
Rasa syukur mendalam Salman rasakan saat ini, karena nilai yang di tanam orang tuanya menjadi pondasi kuat untuk Salman berada di negara tempatnya meraih mimpi saat ini. Salman tersenyum menatap wajah ibunya di layar ponsel. Dia rindu pelukan ibunya. Saat Miranha mencampakkan Salman, dan dunianya terasa hancur, ibunya orang yang selalu ada untuk berusaha membawanya keluar dari kesedihan.
“Tentu, Ibu. Semua nasehat ibu akan menjadi mantra dalam langkahku meraih mimpi. Terus doakan aku ya, Bu.”
“Tentu Salman, doa ibu tidak akan pernah putus untukmu.”
“Ibu!!! Apa kakak sedang menelpon?” terdengar teriakan dari belakang ibunya. Itu adalah suara Nitish.
“Lihat, Nitish! Kakak memakai pakaian kerja!”
Nitish menampakkan wajahnya di depan kamera.
“Kakak! Kau seperti perawat di rumah sakit,” komentarnya.
“Iya, aku memang perawat di rumah sakit sekarang,” ucap Salman tersenyum pada adik kesayangannya itu.
“Jadi kalau aku sakit kau akan merawatku nanti.”
“Semoga kau selalu sehat, Nitish. Meski aku bukan perawat, jika kau sakit aku akan selalu merawatmu.”
Nitish tersenyum bangga melihat kakaknya.
“Kau terlihat tampan degan seragam itu, Kak!”
Salman tersenyum, kerinduan pada keluarganya bertambah besar. Membuat Salman bertekad untuk segera menyelesaikan pendidikan dan kembali ke Nepal. Untuk berkumpul dan dekat lagi dengan mereka.
“Baiklah, aku pergi dulu. Ini hari pertamaku bekerja, tentu aku tidak boleh terlambat. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam!” sahut Nitish dan ibunya bersamaan.
Salman menyimpan ponselnya di kantung seragam dan bergegas menuju ruangan yang tadi Britney tunjukkan.
“Hey! Britney aku sudah siap untuk bertugas sekarang.”
Britney memandang Salman dari bawah ke atas.
“Wew, kau memang tampan ya. Aku rasa pasien yang bertemu denganmu akan sehat dengan segera.”
Salman tergelak dengan candaan Britney.
“Apa aku perlu buku dan pulpen untuk mencatat?” tanya Salman.
“Oh, aku hampir saja lupa. Ini, staff HRD meninggalkan ini untukmu.”
Briney mengulurkan sebuah buku agenda dengan cover warna hitam dan pulpen. Kedua benda itu memiliki logo rumah sakit. Juga sebuah kartu ID yang terhubung dengan tali berlogo rumah sakit. Di kartu itu ada foto, nama dan jabatan Salman.
“Gunakan buku itu untuk mencatat apa yang kau perlukan. Dan dibagian belakang ada kalender untuk mencatat jadwal operasi. Setiap kali ada jadwal operasi pastikan kau mencatat di sana untuk menyiapkan peralatannya. Setiap operasi tentu memerlukan peralatan yang berbeda, karena itu kau perlu mempelajari alat apa yang dibutuhkan untuk operasi jenis apa.”
Britney menjelaskan panjang lebar, dan membuat Salman sedikit gugup. Wajahnya tampak pucat, Briney menangkap gelagat Salman yang tegang.
“Tenang saja, aku akan selalu ada untuk membantumu. Semua berawal dari nol, tapi kau adalah mahasiswa beasiswa terbaik tahun ini, pasti kau memiliki kecerdasan tinggi untuk segera mengerti.”
“Semoga saja, Britney. Aku sedikit gugup.”
Britney tersenyum padanya,”Itu biasa di awal bekerja.”
“Oh, iya, kartu ID itu gunakan untuk absen setiap kali kau mulai dan selesai bekerja. Gajimu akan di hitung dari sana, ok!”
“Ok, britney. Di mana mesin absennya? Lalu bagaimana cara menggunakannya?” tanya Salman dengan wajah polos sambil membolak balik kartu di tangannya.
“Aku akan membantumu nanti, atau kau bisa bertanya pada staff yang kau temui di ruang loker. Mesin absen ada di pintu masuk ruang loker.”
“Oh, baiklah.”
“Bisa kita mulai memperkenalkan alat-alat ini padamu?”
Briney menunjuk sebuah meja besar lengkap dengan berbagai peralatan operasi. Dari yang terkecil sampai yang besar.
“Aku siap,”
Salman mulai membuka buku dan mencatat berbagai hal yang Britney tunjukkan. Satu per satu peralatan itu dijelaskan dengan detail, Britney menjawab setiap pertanyaan Salman dengan baik. Berjam-jam mereka melakukan kegiatan itu.
***
Selo sedang berdiri di depan kaca memantaskan penampilannya. Dia menaburkan beberap gel untuk menjaga rambutnya tetap di posisi rapi. Memakai celana jeans, kaos dan kemeja bermotif daun dia keluar dari kamar sambil bersenandung.
Anil yang sedang di meja makan untuk menikmati makan malam menoleh ke arahnya.
“Kau akan pergi?”
“Ya, Cindy memintaku untuk menemaninya ke pesta malam ini. Sebuah perayaan di klub.”
Anil mengangkat bahu, meneruskan memakan spaghetti yang dibuatnya.
“Malam ini Salman akan menginap di asrama rumah sakit dan besok ke kampus langsung dari sana. Kau mau makan?”
Selo melirik sekilas, melihat ke piring Anil yang berisi spaghetti.
“Aku akan makan di klub saja. Makanan di piringmu itu terlihat membosankan. Aku tidak suka makan mie.”
“Ini bukan mie, ini spaghetti.”
Selo mendekat dan mengamati piring Anil. Baginya itu tetap saja mie dalam ukuran lebih besar.
“Tidak, terima kasih.”
“Hey! Selo, kau yakin mau pergi bersama Cindy?”
“Ya! Pasti menyenangkan, akan banyak gadis seksi di sana. Akhirnya aku masuk ke pergaulan internasonal. Kau mau ikut?”
Anil menggeleng, dia khawatir karena Selo pergi ke klub dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi Anil tidak ingin melarang Selo.
“Hati-hati, dan jangan mabuk.”
“Aku hanya akan mencicip sedikit saja. Aku segera kembali, jangan khawatir. Jaga asrama baik-baik ya!” Selo mengatakan sambil berjalan keluar dengan gembira. Menuju ke lantai tiga untuk menjemput Cindy.