Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Ketika Salman berusaha mengulang untuk menghapal semua alat yang britney jelaskan. Satu per satu dia sentuh lagi benda-benda yang terbuat dari besi itu dan mencocokkan dengan catatannya.
Britney baru saja keluar untuk ke kamar kecil. Salman memegang berbagai benda itu dengan perasaan bergetar. Suatu hari setelah dia sukses menyandang gelar dokter bedah, dia yang akan menggunakan alat-alat itu.
“Salman, aku rasa waktunya makan malam. Ayo! Aku akan menunjukkan kantin dan cara mengambil voucher makan.”
“Voucher makan?” tanya Salman heran.
“Ya, bekerja di rumah sakit ini kau mendapatkan fasilitas makan. Ayo, aku akan ajarkan padamu.”
“Oh, ok!” Salman meletakkan bukunya di meja sudut yang tampak kosong. Lalu melangkah keluar mengikuti Britney.
Mereka berjalan ke bagian depan rumah sakit dekat dengan area parkir. Di sana ada gedung yang lampunya terang dengan semua dinding berlapis kaca di bagian dalam dan bagian luar lebih terbuka. Banyak kursi dan meja panjang di sana.
Suasana terlihat ramai ketika mereka tiba, banyak staff rumah sakit yang sedang mengantri untuk makan.
“Nah gesekkan kartumu di kotak ini dan taraaa! Keluar kertas ini. Lalu kau bisa membawanya ke bagian kasir untuk menukar dengan makanan yang kau mau. Aku sendiri jarang menggunakan, aku lebih senang membawa bekal makanan dari rumah. Aku membuat makanan sebelum berangkat, untuk suamiku juga.”
“Suami? Kau sudah menikah?”
“Hmm … belum, apa ya tepatnya. Kekasih begitu mungkin. Satu tahun ini kami tinggal bersama.”
Raut wajah Britney terlihat berubah. Dia memandang ke bawah dengan wajah sedih.
“Britney, kamu baik-baik saja?” tanya Salman khawatir melihat perubahan wajah Britney.
“Oh, yeah! Ayo kita mulai mengambil makanan!” Britney kembali tersenyum dan bersemangat untuk mengantri bersama Salman di deretan staff rumah sakit.
Makanan yang menurut Salman terlihat asing. Tapi perutnya yang lapar meminta untuk di isi dengan segera. Dia mengambil beberapa lembar roti dan potongan ayam serta saus dan sayuran yang dia tidak tahu apa namanya. Lalu menyusul Britney duduk berhdapan di salah satu kursi panjang.
“Suka dengan makanannya?” tanya Britney.
Salman tersenyum melihat aneka makanan di piringnya,”Masih terasa asing tapi aku akan terbiasa dengan segera.”
“Bagus, sekarang kau tinggal di UK. Negara maju seperti kami menuntut segala sesuatu lebih cepat. Termasuk adaptasi dan kerja.”
“Tentu, Britney dan bersyukur aku mendapatkan senior sebaik dirimu. Kau tahu, aku merasa beberapa orang Eropa yang aku temui agak arogan,” ujar Salman sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
“Ha … ha … ha …! Begitulah beberapa kali aku bertemu orang Asia terutama dari Nepal yang mulai bekerja di rumah sakit ini. Mereka selau berpikir kami orang Eropa arogan. Tapi sebenarnya bukan itu. Orang Eropa dididik dengan orientasi pencapaian. Kami fokus pada diri sendiri. Dalam banyak yang yang tidak ada kaitannya dengan kami, maka kami enggan untuk ikut campur.”
“Tapi bersikap ramah dan menyapa aku rasa tidak ada salahnya.” Salman berusaha mendebat Britney.
“Betul, tapi kami tidak memiliki habit seperti itu. Kami tidak dibesarkan untuk berbasa basi. Jadi jika kau bertemu dengan orang Eropa yang katamu arogan, sebenarnya mereka bukan arogan. Mereka tidak sedang menunjukkan sesuatu padamu. Memang begitulah mereka. Kau tidak perlu memasukkan ke dalam hati dan mulai terbiasalah.”
“Aww … akan aku ingat semua perkataanmu, Britney.”
Salman tersenyum malu. Begitu mudah dia memberikan penilaian atas apa yang hanya dilihatnya. Penjelasan Britney terdengar masuk akal. Salman mulai mengerti bagaimana caranya bersikap di negara ini.
“Tapi, kau sangat ramah? Kau juga wanita Eropa kan? Apa kau lahir dan besar di negara ini?”
“Ya, aku lahir dan besar di negara ini. Ramah? Hmm … menurutku biasa saja. Karena kita akan bekerja sama dalam waktu lama dan sekarang aku menjadi mentormu di rumah sakit ini tentu kita butuh menjalin chemistry. Komunikasi adalah kunci dari kerja sama yang baik. Tapi untuk orang-orang yang tidak berkaitan, aku pun enggan terlalu dekat dengan mereka.”
Salman mengangguk setuju. Kondisi negara ini tampaknya akan cocok dengan pribadi Salman yang introvert.
“Kau punya anak?” tanya Salman.
Britney menggeleng, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa kau ingin jadi dokter bedah?”
“Aku ingin bisa menjadi orang yang bisa membantu orang lain. Terutama mereka yang berada di garis bawah. Banyak orang miskin di negaraku. Dan kemiskinan mereka sering kali terabaikan.”
“Kenapa harus dokter bedah? Kau bisa memilih profesi lain untuk membantu mereka?”
“Hari itu aku membaca sebuah berita, tentang gadis kecil yang kehilangan kakinya. Mereka menjerit pada banyak orang memohon bantuan untuk operasi kaki palsu gadis itu. Tapi tidak ada yang peduli. Hingga seorang wartawan Nepal menemukan mereka dan mengangkat berita itu.”
“Kau pria dengan perasaan yang sangat peka.”
Salman tersenyum, Britney bukan orang pertama yang mengatakan itu. Sebagai seorang pria, Salman memiliki perasaan yang sangat halus. Mudah tersentuh dan sulit menolak.
“Malam ini kau akan pulang ke asrama atau ke asrama rumah sakit?”
“Jam berapa tugas kita akan selesai?”
“Untuk jadwal sore kau akan mulai pukul lima dan selesai pukul dua malam.”
“Oh, aku akan mencoba untuk pulang ke asrama rumah sakit. Semoga aku bisa tidur nyenyak di sana malam ini.”
“Bayangkan gadismu di sampingmu dan itu akan membuatmu tidur nyenyak.” Britney tersenyum menahan tawa untuk menggoda Salman.
“Ah! Aku tidak punya gadis Britney, tidak ada gadis yang mau dekat dengan pria sepertiku.”
“Hey! Kau terlalu mengunderestimate dirimu. Apa yang salah denganmu sampai tidak ada gadis yang mau dekat? Kau tampan dan cerdas, pribadimu menarik juga baik.”
“Para gadis itu hanya mau dekat dengan pria kaya. Ini adalah jaman di mana tampan saja tidak cukup. Para gadis menginginkan uang. Dan aku tidak punya.” Salman mengangkat bahu untuk menunjukkan ketidak peduliannya dengan kondisi itu.
“Lalu bagiamana kau sampai ke negara ini? Memang kau masuk dari jalur beasiswa, tapi ada biaya lain yang harus kau penuhi bukan?”
“Kebaikan Tuhan yang membawa aku sampai di sini.”
Ingatan Salman melayang pada Tia. semua yang dia katakan benar. Salman dipertemukan dengan Tia di saat yang tepat, saat Salman membutuhkan seseorang untuk selalu mendukungnya. Dan lebih dari apa yang dia harapan, Tia bahkan juga mendukung keuangannya.
Salman diam mengakhir penjelasan. Dan Britney mengerti bahwa Salman menyimpan banyak hal. Mereka meneruskan makan dengan pembicaran lain yang lebih ringan sebelum kembali ke ruang kerja.
Bersyukur hubungan mereka di hari pertama sangat baik dan membuat Salman merasa nyaman.