PESTA PERTAMA

1089 Kata
Dengan bangga Selo menggandeng tangan Cindy menuju klub yang tidak terlalu jauh dari asrama mereka. Cindy adalah salah satu mahasiswa yang populer di kampus. Dan lebih populer lagi ketika dia menjalin cinta dengan Jose yang notabene putra salah satu senator di universitas Kingston. Cindy menggunakan rok jeand pendek dengan baju bertali tipis warna hitam. Kaki indahnya terbalut sepatu boot berhak tinggi. Mereka sampai ke sebuah klub yang sejak jarak jauh sudah terdengar gegap gempita. “Kau bisa menari?” tanya Cindy pada Selo. “Aku ahlinya, Nona. Aku berasal dari Nepal. Menari menjadi kegiatan kami di setiap perayaan.” “Ah, baguslah. Ayo kita minum dan langsung ke lantai dansa.” Selo mengikuti kemana Cindy menggandengnya. Lalu dia memesan dua gelas minuman yang Selo tidak penah lihat atau sentuh. Cindy mengangkat salah satu dan memberikan satu lainnya untuk Selo. “Cheers!” Cindy menyentuhkan gelasnya pada Selo. Selo dengan wajah bingung terpaksa meminum dari gelasnya. Minuman yang menurut Selo rasanya tidak karuan. Seorang gadis lain dengan pakaian lebih seksi datang mendekati mereka berdua. “Hi, Antoinette. Sebuah pesta yang sangat luar biasa!” ujar Cindy sambil menuang minuman berikutnya. “Terima kasih sudah datang ya. Siapa dia? Di mana Jose?” “Oh, ya. Perkenalkan dia adalah Selo. Mahasiswa baru di kampus kita. Jurusan kedokteran bedah. Dia tinggal di asrama kami. Di bangunan yang sama. Dia pria yang sangat baik dan menyenangkan.” Cindy yang mulai mabuk mengoceh tak karuan. Antoinette mengulurkan tangan pada Selo. Dan Selo menyambut tangan Antoinette. Dia merasakan pusing di kepalanya akibat minuman dari gelas kecil yang baru saja diteguknya. “Hi,” “Selo, kau sedang bersama gadis Jose. Sebaiknya kau berhati-hati.” Antoinette berbisik di telinga Selo sebelum dia pergi meninggalkan mereka. Suara Antoinette yang menyentuh telinganya membuat Sleo merinding. “Ayo kita berdansa!” ajak Cindy. “Kepalaku terasa pusing, aku ingin duduk dulu yah.” Pinta Selo. Tapi Cindy tidak mendengar perkataan Selo, tanpa ampun dia menarik Selo ke lantai dansa. Selo pun lambat laun terbawa suasana. Mereka bergerak ke sana kemari mengikuti irama hentakan musik. Dari jauh Jose dan kedua temannya mengamati mereka. Sementara Judith duduk di sampingnya. “Aku di sini dan kau malah sibuk mengamati Cindy dengan wajah cemburu?” “Aku mencintai Cindy.” Plakk!!! Sebuah tamparan dari Judith mendarat di pipi Jose. “Berani sekali kau menamparku?” Jose yang marah berdiri berhadapan dengan Judith. “Aku telah mengorbankan persahabatanku dengan Cindy untuk bisa bersamamu. Tapi lihat yang kau lakukan padaku!” “Hey! Judith! Aku adalah Jose. Banyak gadis yang mendekat padaku. Aku bagai Maghnet untuk semua gadis itu. Lalu kenapa kau harus marah. Kau salah satu dari mereka.” “Apa lebihnya Cindy dariku?” “Cindy tidak pernah mengejarku, aku yang mengejar Cindy. Kau lihat kan? Meski dia sakit hati dan cemburu karena kedekatan kita, tidak lantas membuat Cindy memohon padaku untuk kembali. Dia memamerkan dirinya bisa segera berpindah hati. Dan itu membuatku selalu ingin kembali mendapatkan Cindy.” “Kau sungguh kejam, Jose. Kau akan membayar ini semua suatu hari nanti.” Judith meninggalkan Jose dan keluar dari klub. Sementara Jose terus mengamati Cindy dan Selo yang berdansa dengan sangat akrab dan erat di lantai dansa. Menyulut emosi Jose. Pesta berlangsung menyenangkan, Selo mulai terbiasa dengan berbagai aroma dan kegiatan di pesta itu. Lewat tengah malam dengan kesadaran yang tersisa, Cindy dan Selo berjalan bersama menuju asrama. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Jose dan kedua temannya. “Hi, pemuda kampung! Berani sekali kau mendekati Cindy. Kau tidak tahu? Cindy gadisku?” Selo yang sudah mulai hilang kesadaran tidak mampu lagi mendengar atau menjawab pertanyaan Jose. Tanpa ampun kedua teman Jose mulai memukul Selo. Sementara Jose menarik Cindy masuk ke dalam mobilnya. Selo yang tanpa perlawanan dalam hitungan menit telah jatuh tergeletak di tepi jalan. Seorang diri. *** Matahari pagi yang menyilaukan membuat Selo tersadar. Suara riuh orang-orang yang mengelilinginya membuat Selo bingung. Perlahan dia duduk, kepalanya pusing dan seluruh badannya terasa nyeri. Selo baru menyadari bahwa dia terbaring di tepi jalan raya. Di sebuha trotoar, ingatannya belum sepenuhnya pulih tapi samar Selo ingat dia bersama Cindy tadi malam. Dia segera bangun dengan terhuyung berjalan menuju asrama yang tinggal beberapa meter lagi. Tanpa peduli orang-orang mengometari penampilannya. Selo berhati-hati dan sangat perlahan masuk ke asrama dan menapaki tangga. Dia langsung masuk ke kamar ruangan yang masih terkunci. ‘Anil pasti masih tidur pagi ini,’ begitu pikirnya. Segera Selo masuk ke kamar mandi dan membersihan diri. Beberapa debu serta aroma minuman keras melekat di tubuhnya. Ingatannya sedikit demi sedikit kembali pulih. Dia ingat suara pria yang mengancamnya. Seperti suara Jose. Tapi kenapa Jose memukulnya? Karena Cindy? Bukankah Cindy yang mengajaknya dan bukan dia yang mengajak Cindy? Berbagai pertanyaan berputar-putar di benak Selo. “Hey! Kapan kau kembali? Bagaimana pestanya?” Saat Selo keluar kamar mandi, Anil sudah duduk di meja makan. “Pestanya menyenangkan,” jawab Selo singkat. Anil mengamati wajah Selo yang sangat lesu. “Kenapa? Pestanya menyenangkan tapi wajahmu kusut begitu?” “Beberapa pria memukuliku semalam.” “Memukulimu? Siapa mereka?” tanya Anil terkejut. “Aku tidak bisa mengingat siapa mereka. Aku tidak ingat apa pun. Tapi aku rasa ada kaitannya dengan Cindy. Seingatku, aku pulang bersama Cindy. Tapi kenapa aku tergeletak di pinggir jalan dan Cindy tidak ada di dekatku?” “Ah! Selo, sudah kukatakan padamu jangan mabuk. Kau mabuk juga?” “Aku … aku tadinya hanya mencoba. Tapi Cindy terus membujukku sampai aku minum banyak sekali.” “Sudah kuduga, kau memang tidak pernah bisa menolak keinginan seorang wanita! Dan soal Cindy, sudahlah jauhi dia. Jangan bermain api dengan Jose!” “Anil! Aku tidak pernah berusaha mendekati Cindy, dia yang mendekatiku. Sebagai pria sejati, aku tidak mungkin menolak gadis secantik dia. Lagi pula, Cindy itu populer di kampus. Akan jadi kebanggan bisa dekat dengannya. Dan dia adalah putri Megi, pemilik asrama.” “Selo! Jangan gila, kita datang ke negara ini untuk belajar. Lebih baik lupakan hal-hal yang tidak perlu seperti itu. Jika kau ingin dekat dengan seorang gadis, dekatlah karena cinta dan pastikan semua aman!” Selo melihat Anil, putra Sang Pejabat yang kini menjadi bijak. Sejak kapan Anil begitu banyak berubah. “Anil, kau baik-baik saja?” tanya Selo heran. “Kenapa memangnya?” “Kau banyak berubah, sejak kapan kau menjadi sebijak itu?” “Ah, sudahlah lupakan. Pagi ini giliranmu membuat sarapan. Salman akan langsung ke kampus dari asrama rumah sakit.” “Kau saja yang buat, sudah kukatakan, badanku sakit semua!” Dengan kesal Anil mendengus ke arah dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN