Udara sangat cerah, memayungi langit di universitas Kingston. Salman duduk di kursi taman kampus sambil mengutak atik ponselnya. Dia mengirimkan barisan pesan pada Tia. Saat itu pukul tujuh pagi di UK, artinya pukul dua di Indonesia.
“Hi, Tia. sudah makan siang?”
Sepi, tidak ada jawaban. Mungkin pemilik nomor sedang sibuk dengan kegiatan lain. Salman masuk ke aplikasi sss dan melihat beberapa kegiatan Tia terbaru. Hanya dengan nama Bless, Tia kemudian dikenal oleh banyak orang. Salman melihat beberapa novel yang baru saja diluncurkan oleh Bless.
Dan sebuah pernyataan pendirian perusahaan percetakan yang baru saja lunching. Ini rupanya yang membuat Tia begitu sibuk akhir-akhir ini. Meski merasa sedikit kehilangan tapi Salman mengerti, bahwa Tia memang bukan wanita biasa yang punya banyak waktu.
Hal lain, dirinya sekarang juga mulai sibuk beraktivitas. Sebuah panggilan video call masuk dari Tia. bergegas Salman mengangkat panggilan itu.
“Hai, cantik. Aku merindukanmu.” Ujar Salman.
“Tunggu, aku sedang berbicara dengan Salman atau Selo?”
“Ha … ha … ha …! Kenapa?”
“Terasa aneh mendengarmu mengatakan sesuatu seperti Selo. Ah, sudahlah. Apa kabarmu Salman?”
“Aku baik, Tia. Hanya sedikit mengantuk, semalam hari pertamaku bekerja di rumah sakit.”
“Oh, iya betul. Aku ingat itu, makanya aku meghubungimu. Bagaimana hari pertamamu?”
“Semua berjalan baik. Seniorku dalam bekerja membimbingku dengan sanat sabar.”
“Sungguh?”
“Ya, Britney wanita yang sangat baik. Jarang aku menemukan wanita Eropa yang ramah seperti Britney.”
“Hmm … namanya Britney?” wajah Tia sekilas tampak redup.
“Kamu sakit?” tanya Salman saat melihat perubahan wajah Tia.
“Nggak, aku baik-baik saja. Aku sedang di ruang meeting, menunggu partnerku datang. Kami akan membicarakan tentang perusahaan yang baru saja kubangun. Kau sudah melihat perusahaan itu?”
“Ya, kelihatan menarik. Sebuah percetakan dan penerbitan, jadi sekarang kau bisa menerbitkan bukumu sendiri. Begitu?”
“Betul, dan aku ingin memfasilitasi penulis-penulis baru untuk menerbitkan buku mereka. Aku tahu rasanya ketika dulu mulai menerbitkan buku. Ditolak dan dianggap buruk jadi makananku setiap hari. Tapi sekarang, penerbitan yang datang padaku. Jadi, sebisa mungkin aku membantu penulis-penulis muda untuk tidak perlu melewati sesulit yang pernah aku lewati.”
Salman terdiam mendengar apa yang Tia katakan.
“Kau selalu baik pada semua orang? Setiap langkah yang kau lakukan selalu mempunyai tujuan membantu orang lain?”
“Aku membantu bukan karena aku berlebihan. Tapi karena aku tahu rasanya kesulitan.”
“Beruntungnya pria yang akan mendapatkanmu nanti.”
“Sayangnya pria beruntung itu tidak ada, aku tetap sendiri setelah lima belas tahun.”
Salman merasakan perih memeluk hatinya. Perasaan cinta pada Tia yang sulit dia ungkapkan.
“Bagaimana laptop yang aku pilih untukmu? Aku harap itu laptop yang sesuai dengan apa yang kau butuhkan.”
“Ya, berfungsi dengan baik dan sesuai. Kau memilih model dengan spesifikasi terbaru, mana mungkin tidak sesuai.”
Tia tersenyum kagum pada kecerdasan Salman.
“Jaga dirimu, ya. Aku akan memulai meeting, beberapa kolegaku sudah datang.”
“Ok Tia, kau juga. Jaga hatimu untukku,” ujar Salman dengan senyuman dan disambut Tia dengan tawa sebelum mematikan sambungan telepon.
Bagi Tia perkataan Salman mungkin hanya candaan, tapi Salman mengatakan dengan kesungguhan. Dia ingin segera meraih gelar dokter bedah dan ke Indonesia untuk menemui Tia.
Dari jauh dia melihat Anil dan Selo memasuki pintu gerbang universitas. Wajah Selo yang murung membuat Salman menaikkan alis seolah bertanya pada Anil. Dan Anil menjawab dengan mengangkat bahu.
“Kenapa wajahmu kusut begitu? Seterikaan di asrama rusak ya?” tanya Salman mendekat pada Selo. Saat itu barulah dia melihat beberapa memar di wajah sahabatnya itu.
“Beberapa orang memukuliku semalam.”
Salman mendadak serius dan menatap tajam pada Selo.
“Siapa?”
“Aku tidak ingat siapa mereka.”
“Seseorang memukulimu tapi kau tidak ingat siapa mereka?” tanya Salman heran.
“Dia mabuk tadi malam.” Anil memotong pembicaraan.
“Selo! Kau gila ya? Baru satu malam aku tidak kembali ke asrama dan kau sudah melakukan hal-hal gila semacam ini. Kenapa kau mabuk? Kau ingin mengikuti gaya hidup ala Eropa?” tanya Salman dengan nada tinggi.
Membuat nyali Selo sedikit ciut menghadapi sahabatnya. Dia tahu Salman adalah orang yang sangat tegas dalam aturan, berkali-kali dia mengingatkan tentang Cindy dan Selo melanggarnya begitu saja.
“Cindy mengajakku pergi ke klub semalam. Seingatku dia pulang bersamaku karena kami menyanyi bersama di jalan. Tapi setelah beberapa orang memukulku, aku tidak ingat lagi dan pagi hari aku terbangun di pinggir jalan disaksikan banyak orang.”
Salman mengepalkan tangan geram. Entah siapa yang memperlakukan temannya seperti itu, meninggalkannya terkapar di jalanan seorang diri.
“Tenang, Salman. Bukan karena salah orang itu saja tapi juga salah Selo kan. Dia mabuk, mungkin saja berbuat kesalahan yang tidak dia sengaja. Lebih baik lupakan saja masalah ini.”
“Tapi Anil, orang itu harus tahu juga berurusan dengan siapa. Jangan mereka pikir kita pendatang lantas mau saja di perlakukan seenaknya.”
“Salman, kalian ini mahasiswa dengan jalur beasiswa. Pandai-pandailah mengendalikan diri. Atau kalian bisa saja kehilangan fasilitas itu nanti. Jangan melibatkan diri dalam masalah. Apalgi sesuatu yang kita tidak tahu kebenarannya.”
Salman terdiam, apa yang Anil katakan memang benar.
“Selo, berhentilah berhubungan dengan Cindy. Kita datang ke negeri ini bukan untuk menjadi modern. Kita akan meraih gelar dokter dan kembali ke Nepal segera.”
Selo hanya terdiam dengan permintaan Salman. Dari sisi belakang mereka terderngar tawa beberapa orang yang berjalan mendekat. Terlihat Cindy sedang tersenyum manja di pelukan Jose.
“Hey! Pria kampung! Satu gelas yang kau nikmati tadi malam sudah membuatmu mabuk?” ledek Jose diiring tawa teman-temannya dan juga tatapan sinis dari Cindy.
Cindy melirik Selo seolah jijik, padahal baru tadi malam mereka bersama untuk pergi ke klub. Selo masih ingat Cindy menggandengnya dengan mesra.
“Wajar saja dia ingin menikmati minuman itu. Kebetulan gratis, ya kan? Ha … ha … ha …!” Victor menambahkan ledekan Jose.
Tidak menunggu Selo, Salman dan Anil memberi jawaban, mereka berlalu meninggalkan ketiganya. Selo melihat sekali lagi ke wajah Cindy yang menatapnya sini penuh hinaan.
“Aku ingin mendengar komentarmu, Selo,” ucap Salman sinis pada Selo.
“Aku tidak ingin komentar. Mungkin begitulah cara orang-orang kelas jet zet memperlakukan kita.”
“Tidak semua seperti itu, tapi kita sekarang tidak tahu sedang masuk ke dunia seperti apa. Ini kan pertama kalinya kita datang ke UK. Lebih baik kita fokus pada tujuan awal kita dan abaikan godaan yang seperti itu.” Anil memberikan pendapatnya.
“Aku setuju dengan Anil.”
“Aku tidak setuju, di usia kita yang muda ini, kita juga perlu memiliki hubungan yang indah. Kalau kalian mau tiba-tiba tua tanpa kenangan sih boleh saja.” Selo membantah nasehat kedua temannya.
“Maksudmu?” tanya Salman heran.
“Cindy mungkin tidak cocok untukku tapi Vallerie mungkin saja cocok untukku.”
“Siapa Vallerie?” Anil bertanya heran pada sahabatnya.
“Gadis asia yang tinggal di lantai dua. Dia cantik juga kan?”
Salman berjalan sambil menempeleng ringan kepala Sel, lalu meraih bahu Anil untuk berjalan bersamanya seolah akan meninggalkan Selo.
“Aduh! Hey! Salman! Anil! Aku benar kan?!” Selo berlari kecil mengejar kedua sahabatnya.
Mereka tertawa riang menuju kelas dengan pemikiran di kepala masing-masing.