BERTEMU DUTA BESAR

1134 Kata
Kelas hari itu berakhir menjelang siang. Salman dan Selo keluar lalu duduk di taman menunggu Anil yang masih sibuk dengan praktikum. Keduanya berbincang sambil menikmati kentang goreng dan minuman bersoda. “Bagaimana rasanya kerja?” tanya Selo pada Salman. “Aku sangat gugup, bekerja dengan orang lain rasanya begitu berbeda jika dibandingkan bekerja di sawah.” Selo mengerutkan kening,”Kenapa kau membuat perbandingan seperti bumi dan langit? Tentu saja semua hal berbeda. Aneh sekali kau ini.” “Kau tahu, aku takut melakukan kesalahan. Karena kesalahan dalam pekerjaan ini artinya nyawa orang lain.” “Hmm … betul juga. Tapi kita kan memang masih proses belajar. Lagi pula ka-” Beep! Beep! Beep! Sebuah nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Salman. “Nomor siapa ini, Selo? Nomor UK? Rasanya aku belum pernah memberikan nomor baruku ini pada siapa pun.” “Cepat angkat, bagaimana kau bisa tahu kalau tidak menjawabnya!” Salman segera menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu. “Halo,” “Halo, dengan Tuan Salman Khan?” “Betul, anda siapa?” “Saya sekretaris tuan Nishant, duta besar Nepal untuk UK. Beliau mengundang anda untuk datang ke kantornya besok.” “Maaf Nona, untuk kepentingan apa ya?” “Setiap mahasiswa lulusan terbaik jalur beasiswa akan diminta melakukan ini. membuka peluang mereka untuk lebih maju lagi di negara ini. Anda bisa tanyakan langsung besok pada Tuan Nishant. Apakah anda bisa hadir atau kami perlu mengganti jadwal?” “Oh, tentu saya bisa hadir. Setelah makan siang, karena hanya setelah itu kelas berakhir.” “Baik, saya akan sampaikan pada beliau. Terima kasih.” Wanita itu pun memutuskan sambungan telepon. Selo yang menempel di ponsel Salman mengekspresikan keterkejutan dengan membentuk huruf O di mulutnya. “Wew, aku tidak menyangka menjadi lulusan terbaik membawa keberuntungan begitu banyak. Seharusnya aku belajar lebih gigih untuk menjadi yang terbaik kemarin di Khatmandu.” “Selama ada Salman, kecil kemungkinan kau akan berhasil.” Anil berkata dari belakang mereka. Dia baru saja keluar kelas. “Hey! Aku besok mendapat panggilan untuk menghadap duta besar Nepal untuk UK, kau mau ikut?” tanya Salman pada Anil. “Salman, aku sejak tadi di sini dan kau tidak menawarkan apa pun padaku.” Salman hanya nyengir menghadapi komplain dari Selo. “Ayah Anil adalah pejabat jadi aku pikir mungkin saja mereka saling kenal.” “Jadi karena aku bukan siapa-siapa kalian tidak berminat mengajakku? Dua kali aku mendapat hinaan seharian ini.” Anil berjalan menuju pintu luar kampus diikuti Salman, mereka menuju kembali ke asrama. “Hey! Kalian berdua benar-benar tidak peduli padaku ya?!” seru Selo protes sambil berjalan cepat mengikuti langkah kedua temannya. *** Tiga pemuda Nepal itu telah berdiri di depan resepsionis kedutaan besar Nepal. Mereka sedang menunggu nama untuk dicatat dan diberikan kartu tamu. “Silahkan, bisa langsung ke lantai dua ya.” Gadis resepsionis mengarahkan mereka ke lift di bagian kanan meja resepsionis. “Terima kasih,” sahut Anil sopan. Selo yang berjalan paling belakang tersenyum pada gadis itu. Dia adalah gadis Nepal yang bekerja sebagai resepsionis di sana. “Gadis itu cantik juga, dan dia gadis Nepal. Kelihatan berpendidikan dan cerdas. Bukan begitu?” Salman dan Anil melotot ke arah Selo. Anil menekan beberapa tombol, lift pun berjalan dan terbuka di lantai dua. Mereka melangkah keluar dan bertemu dengan meja lain dengan seorang wanita Eropa berkaca mata tebal di belakangnya. “Siapa?” “Saya Salman Khan, Nyonya. Saya datang atas undangan tuan Nishant.” Wanita itu memandang ketiganya juga penampila mereka. Saat itu Salman menggunakan celana bahan hitam dan kemeja warna biru. Sementara Selo menggunakan celana bahan coklat dengan kemeja putih. Anil menggunakan celana jeand dengan kemeja warna hitam. “Seingatku, Tuan Nishant hanya membuat janji dengan Salman Khan, aku yang menelponnya kemarin. Lalu siapa kalian berdua?” Belum lagi mereka menjawab, seorang pria berwajah Nepal keluar dari ruangan yang pintunya tertutup. Dia menyerahkan kertas pada wanita itu dan memandang mereka bertiga. “Siapa kalian?” “Saya Salman Khan dari Nepal,” ujar Salman sambil maju memperkenalkan diri. “Oh, Salman Khan! Betul, hari ini kita ada janji untuk bertemu. Apa kabarmu, Nak? Selamat datang di UK.” Nishant memeluk Salman bak seorang ayah bertemu putranya. “Bagaimana, kau betah di UK? Ayo masuk, kita bicara di ruanganku.” Sambil merangkul Salman, Nishant membimbingnya masuk ke ruangannya. Tapi langkah Salman terhenti. “Tuan, aku datang bersama dua temanku. Bolehkah mereka ikut masuk? Yang satu ini namanya Selo, dia adalah mahasiswa beasiswa juga dengan jurusan kedokteran bedah. Lalu yang satu lagi itu adalah Anil, jika anda kenal dia adalah putra dari Pejabat di Nepal, Tuan Akash.” “Akash? Oh, tentu saja aku kenal. Kau juga bersekolah di UK?” “Ya, tuan tapi aku tidak mengambil jalur beasiswa dan aku mengambil jurusam managemen bisnis.” Anil menjawab sambil mengulurkan tangan pada Nishant. “Oh, kalian tinggal satu asrama?” tanya Nishant memandang bergantian pada Salman dan Anil. “Iya Tuan, dan Selo juga,” kata Salman menyebut nama Selo yang terlupakan di anatar mereka. “Selo, hebat sekali kau juga mahasiswa jalur beasiswa. Aku bangga pada kalian semua. Ayo masuk ke ruanganku. Kita berbincang di sana. Lusy, bawakan minuman dan beberapa makanan untuk tamu istimewa hari ini.” Wanita bernama Lusy itu mengangguk. Nishant masuk ke dalam ruangan diikuti Salman, Anil dan Selo bagian belakang sambil dia tersenyum pada Lusy meski tidak mendapat balasan. “Duduklah , Nak. Luar biasa, aku sambut kedatangan kalian di negara ini. Kalian pemuda-pemuda yang membanggakan. Negara ini bukan sebuah negara yang mudah untuk orang masuk, apalagi dengan tujuan belajar. Tapi dengan pendidikan yang kalian dapatkan dari negara ini, kalian akan menjadi orang sukses nanti.” “Terima kasih, Tuan,” jawab Salman. “Katakan, apa kesulitan yang kalian hadapi sejauh ini?” “Semua harga sangat mahal di sini Tuan, kami harus merogoh kantong dalam untuk makan dan tempat tinggal. Dan penghematan besar-besaran, sangat jauh jika dibandingkan dengan negara kita.” Selo dengan cepat menjawab. Membuat Salman dan Anil berpandangan dengan jawaban polos sahabatnya itu. Tapi jawaban Selo justru mengundang tawa Nishant. “Itu biasa dikeluhkan oleh mahasiwa yang baru datang dari negara kita ke UK. Karena itu biasanya mereka akan segera mencari kerja paruh waktu. Kalian juga bisa melakukan itu. Ehm … harusnya kau mendapatkan fasilitas itu bukan?” tanya Nishant pada Salman. “Iya Tuan. Dan saya sudah mulai bekerja. Lagi pula kalian satu asrama dengan putra Tuan Akash, jadi kalian tidak perlu khawatir lagi kan?” Mereka semua tergelak dengan candaan Nishant. Saat mereka sedang berbincang, seorang gadis berwajah Nepal masuk. Dengan baju resmi dan modern. Gadis itu tampaknya seusia dengan mereka. Dia berjalan menghampiri Nishant dan mengecup pipinya. Rambut lurusnya berwarna hitam berjatuhan ketika gadis itu menunduk. Beberapa perhiasan berlian menghiasi tubuhnya. Membuatnya terlihat sangat berkelas. “Halo Ayah,….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN