Kelegaan membanjir di hati Salman pagi ini. Masalahnya dengan ayah Anil telah usai. Tanpa ada pihak yang perlu merasa terluka. Sebuah panggilan video call masuk. Tia! bahagia meluap setiap kali Salman menerima dan terhubung dengan Tia. Berkali-kali Salman mencoba meyakinkan perasaannya pada Tia. Usia mereka terpaut jauh untuk bisa dipertemukan. Persahabatan yang tidak biasa dan dalam telah mereka untai tanpa direncana.
“Tia, Selamat pagi,” sapa Salman ceria.
“Hai, selamat pagi! Wew! Senang melihat wajahmu pagi ini. Terlihat cerah dan ceria. Boleh berbagi cerita, apa yang kau rasakan?”
“Ya, Tia. Aku lega karena masalahku dengan Anil selesai tanpa aku perlu membuka masalah yang menjadi aib baginya.”
Tia merasa bahagia melihat senyuman yang terukir di wajah Salman.
“Tetaplah bahagia dan ceria seperti ini. Kamu tahu sebuah alasan aku tinggal di pegunungan? Karena tempat ini terasa damai. Membuatku bahagia, mengalirkan inspirasi untuk otakku bekerja dengan baik. Begitulah perasaan, ketika kita bahagia maka, banyak masalah yang bisa kita pecahkan dengan hati dan pikiran yang jernih.”
Setiap kali, Salman terpukau dengan kata-kata Tia. Seperi sihir yang membawa hati Salman jauh lebih dalam untuk menempatkan Tia mengisi seluruh bagiannya.
“Tia, boleh aku melihat suasana sekitar rumahmu?”
“Oh, tentu. Sebentar ya,….”
Video call terjeda, Tia berjalan membuka pintu yang merupakan pembatas antara ruang kerjanya dengan kebun bunga. Lalu menyalakan lagi dengan posisi kamera belakang.
“Nah, lihat! Aku tinggal di sebuah pegunungan. Tempat ini dikenal dengan nama Puncak. Terletak di kota Bogor.”
Tia mengarahkan ponselnya ke arah kebun bunga warna warni.
“Itu adalah kebun bunga milikku. Aku senang memandang bunga-bunga itu bermekaran dan warna warni. Tapi terus terang, aku jarang sekali merawat dengan tanganku. Ada tukang kebun yang menjaga semua bunga itu tetap cantik,” ujarnya sambil tertawa.
Lalu Tia mengarahkan ponselnya menuju kebun Wortel dan Sawi di sisi lain pekarangan.
“Itu adalah kebun Wortel dan Sawi. Dalam beberapa hari ini siap panen. Dan beberapa kotak yang ada di tepinya itu adalah kandang-kandang kelinci milik Alinea. Dia akan kesana setiap hari kesana untuk memeriksa mereka. Aline menyenangi pekerjaan seperti itu, yang berhubungan dengan mahluk lain. Karakternya berbeda denganku yang lebih senang menyendiri dalam banyak hal.”
Salman memperhatikan semua yang Tia tunjukkan.
“Lalu, ada sebuah kolam ikan. Aku tidak tahu apa namanya. Ada ikan warna warni dan ada juga ikan yang bisa di konsumsi. Nanti kalau aku sedang disana aku akan menghubungimu untuk menunjukkan dari dekat ikan-ikan itu.”
Lalu Tia mengembalikan kamera depan untuk memperlihatkan wajah cantiknya yang natural. Sehari-hari, Tia jarang menggunakan make up untuk membuatnya merasa nyaman.
“Sebuah rumah yang menyenangkan. Pasti kamu bahagia tinggal disana bersama putrimu,” sambil berkata Salman menggeser posisi untuk merapat ke sebuah pohon yang berbatasan dengan kursi yang sedang didudukinya.
“Perpisahanku dengan Arman adalah sebuah pukulan besar. Bukan hanya untukku tapi juga Alinea,” ujar Tia.
“Tapi ketika kalian berpisah, dia masih bayi.”
“Iya, tapi jiwanya bisa merasa.Meski dai bertumbuh tanpa ayah, tapi aku berusaha memastikan bahwa Alinea selalu merasa lengkap akan kasih sayang. Dengan segala cinta yang aku punya.”
Tatapan Tia tidak lagi tertuju ke ponselnya, dia menatap jauh. Seolah melihat masa depan untuk putrinya. Salman melihat wajah Tia di layar begitu sendu.
“Dunia ini memang lucu Tia,” ujar Salman.
“Maksudmu?” Tia kembali mengarahkan pandangannya untuk menatap Salman lekat.
“Kau memiliki keluarga, yang sangat sedikit. Boleh dibilang hanya Alinea keluargamu sekarang. Tapi kau punya hidup yang sangat baik. Lebih dari cukup. Sementara aku, aku berasal dari keluarga besar. Ayah dan ibuku memiliki empat putra. Tapi hidup kami selalu tentang berjuang.”
Tia tersenyum mendengar penuturan Salman.
“Jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan. Apa yang kau lihat hari ini, tidak terjadi begitu saja. Semua melalui sebuah proses. Dan perjuanganku bersama Alinea empat belas tahun lalu, bahkan lebih perih dari hidupmu sekarang. Kita tidak perlu membandingkan. Mari kita bersyukur bahwa kita dipertemukan.”
Tia menutup percakapan serius mereka dan Salman setuju dengan semua kata-kata Tia. Beberapa saat mereka tersenyum dan bertukar pandang. Kemudian terlihat Tia mengerutkan kening tanda bingung.
“Nampaknya kamu tidak sendiri. Siapa yang dibelakangmu?”
Salman menoleh dan seketika wajahnya nyaris saja berbenturan dengan wajah Selo yang berada tepat di belakang telinganya.
“Selo! Sejak kapan kau ada di situ?” Salman terkejut.
“Sejak, wanita cantik itu memperlihatkan kebunnya. Dia sangat cantik, kekasih baru?” Selo menggoda Salman. Namun tatapannya tidak beralih dari layar ponsel Salman dimana Tia masih online disana.
Salman melihat ekspresi Selo yang menatap tajam ke arah Tia dan terlihat sangat antusias.
“Hey! Sedang apa kau?”
“Kenalkan aku padanya,” pinta Selo.
“Untuk?”
Salman mengerutkan kening dan menatap ke arah Selo curiga. Selo berbalik melihatnya dengan senyum rahasia.
“Biarkan aku menjadi temannya juga,” pinta Selo.
Salman memandang ragu ke arah Tia yang sejak tadi tersenyum mendengar pertengkaran mereka.
“Kau tidak keberatan berkenalan dengan temanku?” tanya Salman kepada Tia.
Dan disambut oleh seyuman. Tia tidak akan keberatan, dia adalah wanita yang baik. Tidak mudah menghakimi seseorang.
“Hey! Lihat kan, dia mau berkenalan denganku. Ayo! Kenalkan aku padanya!” Selo semakin antusias.
“Hmm … Tia, perkenalkan. Ini temanku Selo, dia berasal Iraha. Kami berangkat bersama dalam proses seleksi beasiswa ini. Dia sahabat baikku dan satu-satunya sahabat yang tulus menerimaku.”
Tia tersenyum melihat ke arah Selo yang sekarang sudah duduk di sebelah Salman untuk berbagi kamera.
“Hai, cantik! Katakan, siapa namamu?” tanya Selo sambil tersenyum nakal.
Tia melirik ke arah Salman meminta pembelaan.
“Selo! Sopanlah! Dia ini bukan wanita yang biasa meleleh dengan rayuan manismu. Lagi pula dia bukan wanita muda yang bisa kau goda!”
“Apa aku terlihat menggodanya, aku sekedar ingin tahu namanya. Kau yang salah, memperkenalkan si cantik ini hanya dengan wajah tanpa nama,” ujar Selo dengan senyum dan mata tetap ke arah Tia.
“Selo!” Salman menghardik Selo karena tatapan kurag ajarnya.
“Oh, ya. Ok, ok, baiklah. Hai, aku Selo. Katakan siapa namamu?” tanya Selo sopan kepada Tia.
“Hai, Selo. Aku Tia, senang bertemu denganmu. Jadi kau kawan satu desa dengan Salman?”
“Tidak satu desa. Kami bahkan berbeda kota. Tapi kami pernah sekolah di tempat yang sama. Sewaktu kami SMA. Dan sekarang kami bersama lagi untuk sebuah beasiswa. Dan kau sendiri, apa kau masih sekolah?”
Pertanyaan itu membuat Salman tersenyum dan Tia tergelak. Barisan gigi putih terpancar membuat kecantikan Tia menjadi alami sempurna. Saat itu Tia menggunakan baju merah tanpa lengan, rambut hitamnya dibiakan tergerai. Kulit putihnya menyatu dengan sempurna dengan warna baju itu. Sepasang anting panjang menjadi pelengkap, membingkai kecantikannya.
“Aku seusia dengan ibumu Selo. Mungkin kau boleh memanggilku ... Tante,” Tia menjelaskan diantara tawanya.
Selo menoleh pada Salman dengan wajah serius dan kebingungan.
“Dia berbohong?” tanyanya.
Salman tersenyum menggeleng.
“Benarkah? Berapa usiamu?” tanya Selo yang mimik mukanya semakin serius.
“Tiga puluh dua,” Tia menjawab dengan senyuman di wajahnya karena melihat kebingungan Selo.
“Kau berpacaran dengan wanita dewasa?” tanyanya pada Salman namun matanya tidak lepas dari layar ponsel di tangan Salman.
“Kami berteman,” ujar Salman.
Selo, Tia dan Salman terdiam.
“Berapa Formalin yang kau makan setiap hari?” tanya Selo memecah keheningan.
“Maksudmu?” Tia sekarang yang bingung dengan pertanyaan itu.
“Untuk membuatmu awet muda,” Selo tersenyum ramah.
Menunjukkan ketertarikan pada Tia. Dan kelucuannya berhasil memecah suasana kaku diantara mereka. Salman dan Tia tertawa dibuatnya.
“Dia sangat cantik. Sejak kapan kau seberuntung itu?” Selo berbisik pada Salman.
Salman melihat seksama Tia yang sedang berbincang dengan Selo. Dia memang sangat beruntung dipertemukan dengan Tia, disaat kritis. Dimana Salman sedang butuh kekuatan untuk membawa dirinya berhasil meraih mimpi dan harapan.
Dan hubungan itu menjadi manifestasi dalam bentuk lain di masa depan. Dengan berbagai cara ….