KECEMASAN SELO

1088 Kata
Selo berbaring di ranjang. Pikirannya melayang pada wanita cantik yang siang tadi Salman kenalkan. Jika wanita itu bukan kekasih Salman, artinya Selo memiliki peluang. Dia mencari tahu tentang Tia di f*******: Salman. Melihat daftar teman yang baru-baru ini dia tambahkan. Tidak ada yang baru disana selain sebuah akun dengan nama ‘Bless’. Mungkinkah itu adalah Tia. Selo masuk ke profile-nya dan melihat bahwa Bless berasal dari Indonesia. Selo hampir yakin bahwa Bless adalah Tia. Tidak ada orang lain dari Indonesia selain Bless di akun Salman. Selo mengirim pesan pribadi ke akun Bless. “Hai, Tia. Apa kabar?” dia menuju langsung ke sasaran. Tidak ada balasan. Selo keluar kamar dan menuju kamar Salman di lantai dua. Postur tubuh Selo lebih pendek dari Salman, kulitnya lebih putih. Wajahnya bertabur jambang tipis dan tatapan matanya mampu membuat orang yang bersamanya merasa bahagia. Selo memiliki selera humor tinggi. Meski sedikit nakal dengan gadis yang dia temui, namun Selo adalah teman yang menerima Salman dengan tulus. Udara Khatmandu hari ini dibawah satu derajat. Jalanan nampak sepi dilihat Selo dari atas. Semua orang bersembunyi untuk menghangatkan diri di kamar mungkin. Jika biasanya menuju kamar Salman ada saja yang berpapasan maka kali ini, Selo tidak bertemu siapa pun. Dia mengetuk pintu kamar Salman. Tok! Tok! Tok! Sepi, tidak ada jawaban. Sekali lagi dia ulangi dan tetap sepi. Lalu didengarnya suara dari arah dapur. Seperti dua orang yang sedang berbincang. 'Sepertinya itu suara Salman'. Selo melangkah ke arah dapur dan menemukan Salman sedang berbincang dengan Kumar yang sibuk memasak menu makan siang. “Sedang apa kau disini? Pantas saja tidak ada yang membuka pintu kamarmu.” Selo duduk di sebelah Salman dan berkerut melihat segelas teh serta beberapa kue di sebuah piring. Kumar melihat Selo dan tersenyum. “Tidak perlu memandang seperti itu. Jika kau ingin kue katakan saja!” ujar Kumar. “Aku ingin teh hangat. Udara Khatmandu hari ini bisa membuatku membeku.” Kumar sambil bersungut mengambil sebuah gelas dan bersiap membuat untuk Selo. “Ada apa kau mencariku?” tanya Salman. “Apa Bless itu adalah Tia?” tanya Selo “Kau mencari tahu tentang Tia? Tertarik padanya?” Entah mengapa ada sebuah letupan di hati Salman. Sedikit rasa … cemburu! “Dia cantik dan tatapan matanya membuatku tenggelam,” ujar Selo. “Jangan gila! Dia bukan wanita yang bisa menjadi sasaranmu!” Salman menyahut tegas pada Selo. “Sasaran apa? Salman, jangan memperlakukanku seolah aku penjahat wanita. Jika wanita itu memang pemain cinta, tentu aku ikuti iramanya. Namun jika wanita itu adalah wanita terhormat, aku pun akan segan dan hormat juga.” Salman mengangkat gelas tehnya. Dia sedang berhadapan dengan Selo dan Tia bukanlah miliknya namun sedikit penyesalan hadir. Memperkenalkan Selo pada Tia, seperti sesuatu yang salah. “Boleh kan, temanmu menjadi temanku?” taya Selo. Dia memastikan tidak ada luka antara dirinya dan Salman. Dan Salman mengangguk tersenyum sambil melihat ke arah Kumar yang datang dengan segelas teh milik Selo. “ Salman, aku rasa usia bukan halangan jika kau memang mencintai dia. Katakan saja! Jangan biarkan temanmu ini mendahului,” ujar Kumar yang duduk di hadapan mereka dengan sekeranjang kecil bawang merah siap dikupas. “Bukan hanya soal usia. Aku menghormati Tia sebagai wanita baik. Pemikirannya selalu sempurna bagiku. Dan dalam banyak hal kami sungguh tidak sepadan.” “Salman, inilah yang aku suka dari dirimu. Kau selalu rendah hati. Padahal menurutku, dalam banyak hal kau tidak kurang dari yang lainnya. Kita tidak bicara tentang uang ya,” Kumar menanggapi pernyataan Salman. “Hey! Kumar! Inilah yang aku tidak suka dari Salman, dia selalu merasa rendah diri. Membuatnya menarik diri dari pergaulan. Dia lebih senang berbicara dengan bantal guling daripada manusia.” Selo menimpali kata-kata kumar. Mereka bertiga tergelak dengan lelucon Selo. Meski pun konyol tapi apa yang Selo katakan benar. Salman adalah pribadi yang sangat tertutup. Menemukan Tia yang mau menerima dia apa adanya, membuat Salman menggenggam erat sosok itu. Terlebih Tia selalu membimbing Salman untuk melihat banyak masalah dengan sudut pandang yang berbeda. Tia bukan lagi sekedar teman tapi juga panutan. Dan Tia membuktikan ketulusannya dengan memberikan pertolongan pada Salman. Selo menatap Salman yang termenung memandang gelas tehnya. Dia melihat gelas teh itu dan berpaling pada kumar yang hanya mengangkat bahu. “Ada Tia di gelas tehmu? Ha … ha … ha,…!” Selo dan kumar tergelak menertawakan Salman. “Hey berikan aku nomor Tia!” ujar Selo. “Untuk apa?” Salman bertanya dan menatap bingung pada Selo. “Salman! Jangan terlalu polos atau kau sedang berpura-pura tidak mengerti? Temanmu ini tertarik pada wanita itu!” Kumar menegaskan. Sebetulnya Salman tahu maksud Selo. Dia ingin lebih dekat dengan Tia. Terlihat sejak semula bahwa Selo tertarik pada Tia. Namun sebentuk cemburu, melarang Salman untuk mengijinkan Selo lebi dekat dengan Tia. “Lupakan! Kau hanya akan menggodanya saja nanti.” Salman menepiskan tangan di depan wajah Selo. “Carilah sasaran lain!”, ujarnya. “Kumar, apakah itu sebuah pengakuan bahwa teman kita ini sedang jatuh cinta?” Selo berkata pada Kumar namun matanya melirik tajam pada Salman. “Hanya wanita baik yang akan cocok dengan sahabatku ini.” Kumar mengucapkan sambil berdiri dan mulai mencuci sayuran di wastafel. Ponsel Selo berdering, panggilan telepon dari ayahnya. “Halo, Ayah. Ya … aku baik. Oh, baiklah … ya. Iya, Ayah.” Selo memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Wajahnya mendadak serius. Dia mencoba menutupi dengan meneguk teh dan menggigit sepotong kue. Namun terlambat, ekspresinya terlanjur tertangkap oleh Salman. “Apa kata ayahmu?” Salman menyelidik. “Dia sudah menyiapkan uang untuk tiket, visa dan keberangkatan ke UK. Dia juga bilang, jika aku tidak lolos beasiswa itu maka aku harus tinggal di Khatmandu untuk mendapatkan pekerjaan.” “Lalu, kenapa wajahmu menjadi tegang?” “Aku rasa kesempatanku untuk lolos program beasiswa itu hanya lima puluh persen. Melihat banyaknya peserta dari seluruh Nepal. Aku tidak secerdas dirimu dalam menerima pelajaran.” “Selo! Salman hanya memikirkan pelajaran dan impian. Sementara kau, setengah dari kepalamu kau gunakan untuk memikirkan para gadis. Tentulah hasilnya berbeda. Ha … ha … ha …!” Kumar tertawa menggoda. Disambut senyum kecut oleh Selo. Sementara Salman tertunduk merenung. Mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Tia. “Hari ini, sekali lagi dunia begitu lucu. Selo kemungkinan lulus lima puluh persen namun orang tuanya telah mempersiapkan segala sesuatu. Sementara aku yang memiliki peluang lulus sembilan puluh persen, bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah aku mendapat beasiswa itu nanti. Apakah ayah dan ibuku akan memiliki biaya untuk perjalanan lanjutanku. Dunia selalu selucu itu bukan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN