Dua hari, Salman tidak menyalakan ponsel. Ketakutan merambati hatinya. Meski telah menceritakan pada Anil, namun semua masalah berjalan seperti semula. Surat yang datang padanya dua hari lalu seketika menciutkan nyalinya. Surat itu menegaskan bahwa Ayah Anil tidak memberi ampun pada Salman.
Tertulis jelas bahwa dua hanya memiliki waktu tiga hari setelah surat itu datang. Salman mengerjap di kamarnya. Sejak pagi buta, Firoz telah pergi meninggalkan ruangan entah kemana. Sayup dia mendengar langkah kaki teman-teman asrama yang sedang menuju ke dapur untuk sarapan.
Pintu terbuka,
“Permisi!!! Apakah penghuni kamar ini masih 'hidup'?” suara nyaring Selo memenuhi ruangan.
“Selo, masuklah! Kau mungkin lupa, Tuan Firoz sekarang tinggal denganku,” ujar Salman.
“Ha … ha … ha … aku tidak lupa, hanya Kumar sudah bilang bahwa Tuan Firoz sedang kembali ke kotanya. Adiknya sakit dan dia ingin melihat kondisinya. Karena itu aku berani berteriak di kamarmu.”
Salman duduk di tepi ranjang. Mungkin Selo bisa membantu. Baru saja dia hendak membuka mulut, Selo mendahului.
“Kita cari kerja yuk.”
“Maksudmu?” tanya Salman heran.
Selama ini meski mereka berdua bukan dari keluarga kaya namun Selo tidak pernah membahas tentang itu. Sejak mereka tinggal di Khatmandu, Selo lebih sibuk mencari teman baru dan berdekatan dengan para gadis.
“Jika kita lulus test, aku bingung bagaimana mendapatkan uang saku dan tiket untuk berangkat. Ayahku pasti siap membiayaiku, tapi dengan cara bagaimana dia akan memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang lain. Mungkin adikku harus menunda sekolahnya,” ujar Selo lemah.
Selo belum pernah bicara seserius itu. Biasanya, dia selalu ceria dan penuh canda. Salman mengurungkan niat untuk menyampaikan masalahnya pada Selo. Nampaknya, Selo dan ayahnya tidak akan bisa membantu. Jumlah uang itu tidak sedikit hampir lima puluh ribu rupee.
Sekarang Salman berpasrah sudah pada nasibnya.
“Hey! Kita sarapan yuk!” ajak Selo.
Semula dia singgah ke kamar Salman untuk mengajaknya ke dapur.
“Kau duluan saja, aku menyusul nanti,” ujar Salman.
Selo berdiri dan mulai melangkah, lalu berhenti dan kembali menoleh pada wajah sayu Salman.
“Kau sedang ada masalah? Akhir-akhir ini kau lebih senang di kamar. Dan wajahmu nampak lelah.”
“Ya, tapi aku akan menyelesaikan segera. Kau jangan khawatir.”
“Hmm ….” Selo mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar Salman.
Salman mengambil ponselnya dari bawah bantal, sejak surat itu datang dia sengaja mematikan ponselnya. Karena polisi beberapa kali menghubungi dan itu membuatnya ketakutan. Bagaimana perasaan ayah dan ibunya jika dia berakhir di penjara.
Namun kali ini Salman menyerah. Dia akan memberitahu mereka sekarang. Ponsel mulai terkoneksi dengan jaringan wifi yang ada di asrama. Puluhan pesan masuk, dan beberapa percobaan panggilan di aplikasi WA juga terlihat.
Tia! Dia mencoba menghubungi puluhan kali. Salman merasa bersalah. Memang selama dia mematikan ponselnya dia juga merindukan Tia. Namun otaknya tidak mau bekerja ke arah lain, selain mengingat hutangnya pada ayah Anil.
Salman menekan nomor Tia di WA. Dan, terdengar suara Tia menjawab dari seberang sambungan.
“Halo, Tia”
“Salman! Hey, kemana kau selama dua hari menghilang?” terdengar suara nada Tia yang bahagia karena sambungan teleponnya dengan Salman.
“Aku … menenangkan diri,” jawab Salman lirih.
“Apa yang terjadi?”
“Surat panggilan dari kepolisian datang dua hari lalu. Dan aku punya waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk mendapatkan uang itu sekarang. Tidak mungkin lagi, bahkan Selo dalam kondisi tidak bisa membantu.”
Suasana pembicaraan mereka hening.
“Jika kau tidak memberikan uangnya, apa yang akan terjadi?”
“Polisi akan memenjarakanku sebelum proses pengadilan. Dengan tuduhan pencurian dan penipuan,” suara Salman bergetar menyampaikan pada Tia.
“Kau sudah sarapan?”
“Aku tidak berminat makan apa pun. Selama dua hari aku belum makan. Kepalaku terlalu penuh dengan kemungkinan buruk. Ini akan jadi hari terakhir kita berkomunikasi. Aku akan masuk penjara besok.”
Rasa sedih dan perih merangsek masuk ke dalam hati Tia. Saat Salman menghubunginya, dia sedang di teras rumah. Melihat Alinea yang sibuk dengan beberapa anak kelinci yang mulai berbulu. Anak-anak kelinci itu berlari dan Alinea sibuk menangkap mereka untuk berkumpul kembali dengan induknya. Pemandangan yang bertolak belakang dengan apa yang sedang Tia dengar dari Salman.
Selama dua hari Salman menghilang tanpa kabar. Entah kenapa Tia mengkhawatirkan keadaannya. Setiap hari mereka selalu berkomuikasi. Ada saja yang mereka bicarakan. Salman adalah pemuda yang sangat cerdas dan suka belajar. Dia mencari tahu banyak hal tentang Indonesia dari Tia dan pembicaraan mereka.
Pribadi Salman membuat Tia terpukau. Dia membaca caranya berkomunikasi dan memilih kata. Terlihat Salman memang pemuda dari kampung kecil karenanya minim pengetahuan. Tapi perilaku dan hatinya tulus juga sopan.
“Ok, Salman … aku perlu mengurus beberapa hal hari ini. Jangan matikan ponselmu, kita akan bicara nanti malam.”
“Ya, Tia ini adalah hari terakhirku menghirup kebebasan. Setelah ini aku akan menghubungi ayah dan ibuku untuk memberitahu mereka tentang masalahku.”
“Tunggu! Jangan katakan apa pun pada mereka,” Tia dengan tegas melarang.
“Tapi, Tia. Mereka akan mendengar dari polisi dan itu bisa berakibat lebih buruk lagi.”
“Tidak Salman! Malam ini kita bicara, kamu tidak akan masuk penjara. Aku janjikan itu padamu. Sekarang kau boleh menghubungi mereka untuk bertanya kabar. Tapi jangan katakan tentang masalahmu.”
Entah bagaimana, Salman begitu saja percaya pada kata-kata Tia.
“Kita akan bicara lagi malam ini?”
“Ya … aku tidak bisa bicara sekarang. Dalam beberapa menit aku harus sampai ke sekolah Alinea dan datang untuk rapat pendirian perusahaanku. Sekembaliku nanti, aku akan menghubungimu.”
“Baiklah,….” ujar Salman lemah.
“Ya, dan pergilah ke dapur. Makan yang banyak, aku ingin kau mendengarku dengan jelas saat kita berbicara nanti malam.”
Seulas senyum hadir di wajah pucat Salman. Meski dia tidak tahu apa yang akan Tia sampaikan, namun hatinya percaya pada wanita yang belum lama dikenalnya itu.
Setelah menutup sambungan telepon, Salman beranjak ke arah dapur. Di tengah lorong di berpapasan denga beberapa dari mereka yang baru selesai sarapan dan bersiap kembali ke kamar.
Saat kepalanya muncul di pintu dapur, Kumar menggelengkan kepala. Dan Selo yang masih duduk melihat sahabatnya dengan wajah sedih. Salman terlihat kurus dan kusam.
“Lagi-lagi kau terlambat sarapan. Semua makanan telah habis dilahap teman-temanmu.”
Salman duduk tersenyum.
“Berikan aku segelas teh.”
Kumar menyiapkan segelas teh dengan segera dan membuka kulkas. Dia mengeluarkan sepotong kue black forest untuk Salman.
“Hey! Kumar! Kau curang! Kenapa dia yang datang terlambat malah mendapat makanan istimewa ini?”
Kumar tertawa, “Ini diberikan nyonya Gopi padaku semalam. Namun aku tidak menyukai makanan manis. Dan hanya ini yang aku punya untuk Salman saat ini. Kau tidak ingin temanmu ini jatuh pingsan kan?”
Dengan sengit Selo menatap black forest di hadapannya. Dan Salman mulai duduk menikmati dengan sebuah sendok kecil. Memiliki Kumar dan Selo adalah keberuntungan besar bagi Salman. Di Khatmandu ini, dia tidak mengenal siapa pun dan hanya mereka berdua yang bersedia dekat dengan pemuda miskin seperti Salman.
Apakah sebaiknya Salman menceritakan masalahnya pada mereka?