CINTA MAMA

1082 Kata
Tia mendekati Alinea yang sedang sibuk mengurus beberapa bayi kelinci yang baru lahir. Salah satu hobi yang Alinea kerjakan jika memiliki kesempatan, merawat dan mengajak main kelinci di kebun mereka. Tia ikut mengusap bayi – bayi kelinci itu. “Ada berapa semua anak Loli, sayang?” “Delapan ekor, Mah. Lihat deh warnanya sama semua.” Dengan bangga Alinea memamerkan bayi-bayi kelinci yang sudah bersih. Sementara induk mereka sedang sibuk membersihan diri dari bercak darah sesudah melahirkan. “Wew, lalu bagaimana kita akan memberi nama dan membedakannya.” Tia mengerut bingung sambil memandangi kelinci-kelinci itu. “Biasanya ketika bulu – bulu lebat tumbuh kita akan bisa membedakannya Mah. Selalu ada motif khusus di badan mereka.” “Hmm ... Mamah rasa hanya kamu yang akan mampu membedakan mereka,” ujar Tia sambil tersenyum. Dengan wajah berseri bahagia, Alinea meletakkan satu per satu anak-anak kelinci itu di sebuah keranjang rotan. Dan dia teringat sesuatu, “Mah, siapa pria yang tadi siang melakukan video call?” tanya Alinea sembari mengusap induk kelinci. “Namanya Salman.” Jawab Tia “Nampaknya dia bukan pria Indonesia.” “Bukan, dia dari Nepal” “Rekan bisnis atau sekedar teman?” Alinea mulai menyelidik. “Tadinya dia adalah target konselor untuk beasiswa budaya yang pernah Mamah bicarakan denganmu. Namun tampaknya dia tidak tertarik. Tapi kami malah menjadi teman” “Hmm … itu artinya dia masih sangat muda?” “Iya, usianya dua puluh tiga tahun. Alinea, … Mamah memintamu berkenalan dengannya tadi. Kamu menolak, tapi kenapa sekarang malah mengintrogasi Mamah.” Alinea tertawa dengan reaksi ibunya. Dia tidak pernah keberatan jika ibunya dekat dengan pria atau ingin menikah lagi. Alinea tahu, dia akan selalu menjadi pertimbangan utama saat ibunya mengambil keputusan. Namun selama ini Ibunya telah menyembunyikan diri begitu dalam. Bahkan tidak ada seorang pun yang tahu siapa penulis dibalik meledaknya sebuah novel yang menghasilkan penjualan ratusan ribu eksemplar. Terasa aneh bagi Alinea ketika ibunya menunjukkan diri pada orang lain dalam sebuah video call. “Tidak biasanya, Mamah mau melakukan video call. Apalagi dengan orang asing.” Tia menatap putrinya, lalu matanya berkeliling mencari sosok tukang kebun yang biasa berkeliaran di sekitar. “Pak …! Pak Anto!” Tia menyeru memanggil salah seorang tukang kebun. Seorang pria setengah baya bergegas mendekat menghampiri Nyonya Rumahnya. “Ya, Bu.” “Letakkan semua kelinci ini di kandangnya, berikut dengan induknya. Sebelum mereka tumbuh bulu, jangan kasih keluar ya.” “Iya, baik Bu.” Pak Anto segera mengangkat keranjang rotan itu berikut dengan induk kelinci yang baru saja melahirkan. Alinea beranjak perlahan menuju sebelah Tia lalu berjalan beriring perlahan. Sembari melihat tanaman Wortel yang hampir siap dipanen. Sejuknya udara bogor membawa kedamaian di hati keduanya. “Salman itu pemuda yang luar biasa. Dia sedang berjuang untuk mendapatkan beasiswa untuk menjadi dokter bedah. Dari apa yang dia ceritakan, latar belakang keluarganya semua begitu mempersona.” Alinea mengerutkan kening. “Seperti biasa, mamah tidak pernah salah menilai orang. Walau hanya melihat lewat kata. Tapi dia masih terlalu muda untuk dekat dengan Mamah.” Tia tertawa mendengar pernyataan Alinea. “Seperti yang kamu tahu, Mamah akan mensupport siapa pun yang memiliki keinginan untuk berjuang dan bertumbuh.” Langkah Alinea terhenti, melihat Tia penuh tanya. “Mamah yakin? Kita bahkan belum pernah bertemu dia.” “Ilen, dunia ini memiliki proses seleksi. Orang-orang dengan hati dan pemikiran yang sama akan dipertemukan. Juga orang-orang dengan hati dan pemikiran berbeda, dengan berbagai cara akan terpisahkan. Percaya saja dengan niat baik alam hati.” Alinea setuju dan selalu percaya dengan apa yang Tia katakan kepadanya. Tia yang berjalan beriring bagai adik kakak dengan Alinea. Tia bertubuh mungil dan nampak muda di usianya. sementara Alinea berbadan lebih tinggi dibanding gadis lain seusianya. “Mamah berpikir untuk memiliki suami lagi suatu hari nanti?” tanya Alinea tiba-tiba. “Kau setuju?” Tia menunggu jawaban dari Alinea. “Harus yang sayang sama Mamah dan aku,” jawab Aline tersenyum dan memeluk Tia. Meski Alinea tumbuh besar bersama Tia, namun dia selalu merasa cukup. Arman memang telah melupakan mereka berdua. Kasih sayang melimpah dia dapatkan dari Tia. Semua yang dia perlu bisa di dapat. “Ilen, sejak kita tidak lagi bersama ayah, mamah berjanji. Untuk membesarkanmu dengan cinta. Mamah harus katakan memang ayahmu telah menyakiti kita. Tapi kita tidak punya alasan untuk melakukan hal yang sama.” “Aku bangga pada Mamah. Kenapa ayah tidak pernah berusaha menemukanku?” “Setelah puluhan tahun, siapa yang tahu alasan sebenarnya. Mamah tidak pernah menyembunyikanmu dari ayah dan keluarganya. Beberapa kali nenek menghubungi mamah untuk menanyakan keadaanmu. Nenek juga mengirimkan uang, tapi mamah menolak.” Tia memandang jauh pada hijaunya tanaman sawi yang mulai tumbuh. Seluas mata memandang dibatasi pagar tembok padu padan dengan kayu di bagian atas. “Hidupmu bukan tanggung jawab nenek. Karena itu mamah menolak pemberiannya. Mamah tahu dia sangat merasa bersalah dengan apa yang ayahmu lakukan. Tapi bukan berarti nenek harus membayar semuanya.” Alinea mengangguk tanda setuju. “Jika suatu hari ayah datang, apa yang harus aku lakukan?” Tanya Alinea. “Terimalah dia dengan cinta tanpa harapan berlebih. Kita tidak punya cara hidup terbaik selain memaafkan.” Tia mengusap dua air yang bergelantung di sudut matanya. Namun itu tidak lolos dari pandangan Alinea. “Mah, apa pun yang mamah inginkan di masa depan. Aku akan menurutinya tanpa syarat,” janji Alinea. “Dan apapun yang kau inginkan, Mamah akan mengabulkan. Kau memiliki kemerdekaanmu.” Tia menatap tegas pada Alinea. Memastikan bahwa Alinea memiliki dirinya sendiri. Dalam cinta dan percaya diri yang utuh. Alinea adalah tujuan semangat hidup Tia. Alasan bagi Tia untuk tidak lelah berjuang. Hidup mereka kini lebih segalanya. Selain rumah megah yang mereka tempati, Tia memiliki banyak aset. Beberapa apartemen, rumah kost, villa dan sebuah penerbitan sedang dalam rencana pendirian. Semua dia kelola jarak jauh. Menempatkan orang-orang terpercaya untuk mengoperasikan secara langsung. Sesekali Tia datang untuk memeriksa juga melakukan audit keuangan. Semua keberhasilan tidak lantas membuat Tia merubah gaya hidup. Dia selalu mengajarkan Alinea untuk hidup sederhana dan terlebih untuk berbagi dengan berbagai cara. Mengunjungi panti asuhan, panti jompo adalah kegiatan yang sering Tia dan Alinea lakukan. Secara pribadi, tanpa sorot kamera. Bagi Alinea, Tia adalah bentuk nyata dari kasih sayang, kekuatan dan kehormatan. Meski mereka pernah mengalami masa sulit namun Tia tidak pernah memita pada manusia. Kenyataan lain sedang menanti Alinea di depan mata. Tentang dari mana dia berasal dan kemana dia akan menuju. Bahwa ayahnya ternyata bukan dari kalangan biasa. Dan semua itu selama ini Tia pun tidak tahu.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN