MORAL YANG TERLUPAKAN

1057 Kata
Rumah besar berpagar perak. Dikelilingi kebun dengan bunga warna warni. Salman berdiri menunggu penjaga keamanan membuka pintu. Ini adalah kali kesekian dia datang ke rumah itu. Rumah Anil, si putra pejabat Akash. Salman senang karena pekerjaan ini ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan. Anil pun mengalami banyak kemajuan. Dan lebih senang lagi karena uang yang dia dapat dari pembayaran itu ternyata lumayan besar. Nyonya Gopi yang semula hampir saja mengusir Salman dari asrama akhirnya gembira karena Salman bisa membayar uang asrama untuk tiga bulan ke depan. Sebetulnya Selo telah menawarkan Salman pinjaman uang. Namun Salman lebih senang untuk berhasil membayar dengan uang hasil kerjanya sendiri. Salman mengabarkan juga pada ayahnya Khan. Bahwa dia berhasil mendapatkan pekerjaan. Khan sangat bangga dengan putranya itu. Salman tidak ingin menekan ayahnya untuk membayar berbagai kebutuhan hidupnya di Khatmandu. Adik-adiknya masih sangat membutuhkan uang dari Sang Ayah. Ayah Anil tuan Akash dan Ibunya nyonya Maria juga selalu menyambut Salman dengan hangat. Seperti Salman adalah bagian dari keluarga mereka. Anil adalah anak tunggal dari tuan Akash. Nyaris semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia di rumah Anil. Dan ini untuk pertama kalinya Salman masuk ke rumah semewah milik Anil. Tuan Akash jarang berada di rumah. Sebagai staff pemerintahan, kesibukan membuatnya jarang bisa bertemu Salman. Seringkali ketika Salman datang untuk mengajar Anil, hanya Nyonya Maria saja yang akan menemaninya. Nyonya Maria adalah wanita keturunan Eropa. Cantik dan penampilannya sedikit berbeda dengan wanita Nepal pada umumnya. Namun keramahannya pada Salman sangat luar biasa. Tidak jarang di sela – sela mengajar Anil, nyonya Maria akan mengajak Salman berbincang dan bercanda. Anil juga terkadang mengajak Salman menikmati apa yang dia miliki. Makanan enak, video game, fasilitas fitness juga kolam renang. Meskipun anak pejabat namun Anil adalah pribadi yang rendah hati. Tidak ada batasan baginya untuk akrab bersama Salman. Ini adalah minggu pertama bulan kedua Salman mengajar di rumah Anil. Dan seperti biasa Salman datang ke rumah Anil pada jam yang telah mereka sepakati. Yaitu sesudah makan siang. Salman menuju rumah Anil dengan kendaraan umum. Salman memasuki rumah itu setelah seorang pembantu membuka pintu untuknya. Lantas menuju ke ruang belajar seperti biasa. Nyonya Maria telah mengatur bahwa semua kegiatan mengajar Anil akan dilakukan di ruang belajar. Saat itu nyonya Maria sedang duduk di sofa. “Hai Salman, kamu telah datang. Ayo masuk!” Nyonya Maria yang sedang memainkan ponsel menyapa ramah. “Terima kasih nyonya,” Salman menyahut sopan. “Anil sedang keluar untuk membeli sesuatu, dia bilang akan kembali beberapa waktu lagi,” ujar nyonya Maria tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Baik saya akan menunggu.” Salman mengambil tempat di kursi lain depan nyonya Maria. “Sebentar ya.” Nyonya Maria beranjak dari kursinya menuju keluar ruangan. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa secangkir teh. “Minum teh dulu Salman, aku membuatnya khusus untukmu dengan tanganku sendiri.” Nyonya Maria mengatakan kalimat terakhir sambil mengangkat segelas teh dan duduk dengan sangat dekat pada Salman. Baju pendek di atas lutut dengan bahu terbuka milik nyonya Maria membuat detak jantung Salman tidak beraturan. Nyaris tidak ada jarak diantara mereka. Salman mengambil teh yang disodorkan nyonya Maria. “Terima kasih nyonya.” Dengan gugup Salman mulai menyecap teh yang sebetulnya masih panas. “Kamu pemuda yang sangat tampan Salman.” Jemari lentik nyonya Maria yang mendarat di bahu Salman membuatnya nyaris tidak bergerak. Selama ini nyonya Maria sangat baik padanya. Nyonya Maria mungkin masih seumuran dengan ibunya. Salman menyecap tehnya lebih banyak lagi. Mengusir rasa gugup juga khawatir yang singgah di hatinya. Beberapa saat kemudian Kepala Salman terasa berkunang – kunang setelah meminum teh yang diberikan nyonya Maria.Salman bahkan tidak mendengar lagi apa yang nyonya Maria katakan. Badannya terasa panas oleh sebuah keinginan. Keinginan asing yang belum pernah dikenalnya. Sebuah hasrat yang dalam untuk lebih dekat dengan wanita. Wanita yang ada di hadapannya. Tubuhnya seolah bergerak tanpa kendali dari pikirannya. Hatinya menolak namun semua bagian dirinya bergerak. Bergerak menyentuh wanita di hadapannya untuk memenuhi keinginan yang tidak pernah dikenalnya. Dan mereka pun larut dalam keinginan pria dan wanita. Salman terkejut ketika dia terbangun, dia berada di sebuah tempat tidur besar yang sebenarnya nyaman. Namun sekujur tubuhnya terasa sangat nyeri dan lelah. Bahkan dia merasa tidak ada tenaga di dalam dirinya. Lebih terkejut lagi ketika dia menemukan dirinya dibalik selimut tanpa selembar baju pun. Apa yang terjadi? Salman keluar dari selimut melihat bajunya terhampar di sebuah kursi. Segera dia mengenakan semua bajunya. Salman melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Pukul dua pagi. Selama itu, dia ingat tiba di rumah Anil pukul tiga sore. Lantas kenapa dia ada di kamar ini. Salman mengambil ranselnya dan beranjak keluar. Di saat yang bersamaan nyonya Maria masuk. Dan langsung melingkarkan tangan ke leher Salman yang telah menyandang tas nya. “Kamu hebat, apa yang telah bertahun – tahaun tidak kudapatkan dari suamiku akhirnya kudapatkan darimu” Dalam kebingungan Salman sekilas mengingat kejadian saat sore tadi dia datang ke rumah Anil. Dan ketika nyonya Maria mulai merayunya. Salman melepaskan tangan nyonya Maria dengan segera. Menepiskan dengan kasar! “Apa yang terjadi?” “Yang kuinginkan terjadi diantara kita,” Nyonya Maria menyahut dengan nada yang dilembut-lembutkan. Dia berusaha menggoda Salman di alam sadar. “Maksud nyonya?” “Anil dan suamiku sebenarnya sedang keluar kota untuk menemui orang tua suamiku. Tapi aku sengaja tidak memberi tahumu. Aku ingin kamu datang dan memenuhi apa yang selama ini kuinginkan dari suamiku” “Apa yang nyonya inginkan dari suami nyonya?” “Sebuah kepuasan. Dan kamu melakukan dengan sangat luar biasa” “Anda telah merendahkan diri anda dengan tidak bermoral nyonya. Saya tidak mungkin melakukan itu karena keinginan saya sendiri” “Lihat betapa cerdasnya dirimu, memang aku telah mencampurkan sesuatu dalam tehmu. Namun sisa permainannya adalah gayamu” Salman tiba – tiba merasa mual melihat wajah cantik nyonya Maria. Salman mulai melangkah ke arah pintu untuk bergegas pulang. Namun nyonya Maria menahan langkahnya dan mencengkeram lengan Salman. “Salman datanglah lagi kapan pun kamu mau. Jika kamu membutuhkan sesuatu katakan saja, aku akan memberikan padamu” Dengan kasar Salman menepis tangan nyonya Maria “Saya memang miskin nyonya, tapi orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk membuang moral. Ini adalah hari terakhir saya datang ke rumah ini. Saya akan sampaikan pada tuan Firoz bahwa saya berhenti" Salman lantas berjalan keluar dari rumah Anil. Nyonya Maria memandang Salman penuh senyum kemenangan sambil menggelengkan kepala.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN