Sesampainya di asrama, Salman langsung mandi dan membersihkan diri. Dinginnya cuaca Khatmandu di suhu lima belas derajat dan di tengah malam tidak membuat Salman peduli. Kemarahan membuat dia merasakan panas di sekujur tubuh. Kebingungan yang tidak tahu harus dia ceritakan pada siapa.
Dia pernah mendengar sulitnya hidup di kota besar seperti Khatmandu. Tapi tidak pernah Salman berpikir, manusia bisa berbuat sekeji itu. Bagi Salman ini akan jadi pengalaman 'gelap' yang tidak akan dia lupakan dan bagi dengan siapa pun.
Salman kembali ke kamar dengan kesedihan. Dia mengunci pintu kamar dan memadamkan lampu. Berharap bisa menyembunyikan diri dalam kegelapan. Penyesalan yang luar biasa dalam melandanya. Dia tidak pernah menduga bahwa keputusannnya untuk menerima tawaran kerja itu menjadi malapetaka sekarang. Barisan air mata turun membasahi pipi dan jatuh di bantalnya.
Sejenak dia membuka ponsel dan melihat sebuah pesan dari nomor asing masuk. Nomor dari negara lain. Salman membuka pesan itu,
“Halo, apa kabar?”
Salman terlalu pusing untuk membalas pesan itu. Dia lelah, jiwa dan raganya lelah. Memikirkan apa yang telah terjadi dan apa yang akan dia lakukan esok hari. Dengan semua pikiran yang berputar – putar itulah Salman terlelap dalam tidurnya.
Kringgggg…. !!!!!!!!!!!
Suara panggilan di telepon membangunkan Salman. Sekilas dia melihat nama disana, Selo. Dengan malas dan kepala sedikit pusing Salman mengangkat telepon dari sahabatnya,
“Ya Selo.”
“Hei, kemana kau ini. Sepagian aku mengetuk pintu kamarmu namun tidak ada jawaban. Aku pikir kamu sudah berangkat ke kampus lebih dulu. Tapi sampai waktu makan siang kamu tidak ada disana”
“Makan siang? Jam berapa sekarang?”
“Ya ampun … ada apa denganmu? Sekarang jam satu siang. Tadi kumar bilang kamu kembali ke asrama pukul empat pagi. Kemana saja kau hingga selarut itu?” Selo menghujani Salman dengan rentetan pertanyaan tanpa memberi ruang untuk menjawab.
“Oh iya Selo, aku sedang tidak enak badan. Sampaikan pada Tuan Firoz aku izin tidak hadir hari ini ya.”
Selo mendengar suara Salman yang terdengar lemah. Sepertinya Salman memang sedang sakit.
“Baiklah, kamu mau aku belikan sesuatu saat aku kembali ke asrama nanti?”
“Iya, tolong belikan aku sebotol s**u murni. Itu hanya tersedia di swalayan dekat kampus. Aku merasa sangat mual, mungkin semalam aku salah makan.”
“Salah makan? Makan dimana kamu semalam. Aku tidak menemukanmu di dapur asrama saat waktu makan malam.”
“Aku,….”
“Jangan katakan kamu mulai memakan dirimu sendiri di kamar ha … ha … ha,….” Selo menertawakan Salman dengan bualannya sendiri.
“Ha ... ha ... ha … baiklah Selo, sampai ketemu nanti,”
Selera humor Selo selalu berhasil mengukir senyum di bibir Salman. Cara bicaranya yang ceplas ceplos juga menjadi ciri khas akan ketulusan hati Selo. Dan sekaligus kelemahannya. Selo adalah orang yang kurang bisa menjaga rahasia. Untuk beberapa hal Salman tidak akan menceritakan pada sahabatnya, Selo.
Salman beranjak dari kamar menuju dapur asrama. Berharap ada sesuatu yang bisa dimakan disana. Kepalanya terasa pusing dan matanya berkunang. Tubuhnya nyeri dan lemah. Asrama pria selalu saja sama, terlambat datang di waktu makan sedikit saja maka, segala sesuatu pasti habis tak tersisa. Dan benar saja. Salman menemukan hanya tersisa nasi saja di meja makan.
Terlihat Kumar yang sedang mencuci piring di sudut dapur. Dia meoleh pada Salman dan tersenyum menyapa ramah seperti biasa,
“Hey Salman, terlambat makan siang?”
“Iya , aku ketiduran,” Salman mengusap muka dengan kedua tangan.
“Kau pulang menjelang pagi. Pasti lelah sekali. Masih ada nasi disana, mau kubuatkan telur dadar?”
“Terima kasih Kumar, aku mau. Rasanya lapar sekali. Terakhir aku makan kemarin siang.”
“Kemana saja kamu semalaman sampai tidak makan?”
Salman hanya tersenyum kecut mengingat lagi apa yang dia alami kemarin. Kumar mulai mencari dua butir telur di kulkas beserta beberapa sayuran sebagai campuran. Sambil menunggu kumar menyiapkan makanannya, Salman memeriksa ponsel. Masuk ke aplikasi w******p dan melihat beberapa pesan masuk disana.
Dia teringat satu pesan yang diterimanya tadi malam. Sekilas sudah dia baca namun belum sempat dijawabnya.
“Hai, Kabarku baik. Maaf kamu siapa?”
Ceklist satu untuk pesannya ke nomor tersebut. Salman mulai membalas pesan – pesan lainnya. Satu psan lain Salman terima, dan ternyata dari nyonya Maria.
‘Kau bisa datang kapan pun kamu mau. Aku akan berikan semua yang kau butuhkan. Tapi ingat jangan coba-coba buka mulut atau, aku akan membuatmu dalam masalah!’
Sebuah rayuan sekaligus ancaman? Salman menatap jijik pada pesan tersebut. Segera di hapus dan diblokirnya nomor itu dari semua jenis panggilan. Dia termenung sambil menatap Kumar yangs edang sibuk memasak.
Apa yang harus dia lakukan, dia tidak akan kembali ke rumah Anil. Apakah dia harus berbicara pada seseorang? Ini adalah hal yang sangat memalukan. Bagaimana dunia akan melihat Salman jika mereka tahu. Meskipun kejadian ini bukanlah keinginannya.
Kepala Salman terasa pening dengan berbagai pemikiran yang bagai ombak kembali datang berdeburan di otaknya. Dia menyangga kepalanya dengan tangan. Matanya kosong menatap ke depan. Bahkan saat Kumar datang membawa piring dan telur dadar, Salman tidak menyadarinya.
Kumar menatap Salman, dan mengibaskan tangan di depan wajah Salman.
“Hey! Orang yang sedang lapar dilarang melamun, nanti kau bisa pingsan,” Kumar menggoda dengan senyum khasnya.
Salman tersentak dengan sapaan Kumar.
“Ah iya! Kau menggoreng telur terlalu lama, aku bosan menunggu.”
Kumar menggangkat bahu, pasti bukan itu alasan wajah kosong Salman. Kumar duduk di bangku seberang Salman. Dia gembira melihat Salman sangat lahap makan. Rasa masakan kumar tidak pernang mengecewakan penghuni asrama.
“Sepertinya kau sedang ada masalah. Mau menceritakan sesuatu padaku?” Kumar menawarkan diri untuk jadi pendengar Salman.
Seluruh pennghuni asrama adalah para pemuda dari lokasi yang jauh. Banyak kesulitan yang mereka ceritakan pada Kumar. Meski dia hanya bisa sebagai pendengar tanpa memberikan solusi. Bagi Kumar, Salman termasuk sosok yang ramah meskipun pendiam.
Dan seingat Kumar, Salman tidak memiliki teman akrab selain Selo. Dengan banyak kesibukan, Selo mulai memiliki teman-teman baru. Tapi Salman, lebih senang tinggal di kamar dengan ponselnya.
Salman menatap Kumar, dia memang seumur dirinya. Tapi Kumar pribadi yang sederhana. Menjadi penjaga, tukang bersih-bersih asrama dan memasaka untuk penghuni asrama pun Kumar lakoni.
“Kumar, kenapa kau tidak sekolah lebih tinggi?” Salman bertanya menyelidik.
Disambut tawa oleh Kumar,
“Ha … ha … ha … dengan cara apa? Orang tuaku miskin. Aku tidak punya cita-cita muluk seperti kalian. Bisa menghidupi diri sendiri dan tidak menjadi beban keluarga sudah cukup bagiku.”
Salman menatap kumar. Dulu dia pun begitu, sampai kenyataan menunjukkan padanya bahwa kemiskinan siap menyingkirkan dirinya kapan saja. Salman ingin menunjukkan pada dunia, bahwa pemuda miskin sepertinya juga bisa meletakkan dunia di kakinya.
“Semoga suatu hari kau menemukan gadis baik yang akan menjadi pendamingmu, Kumar.”
Kumar menatap Salman heran.
“Kenapa gadis? Aku belum memikirkan gadis saat ini. Semoga suatu hari keberuntungan datang dan aku bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik.”
Salman mengangguk-angguk dengan pernyataan Kumar yang sederhana. Memang seringkali ambisi menjebak seseorang dalam jalan yang seolah terang. Padahal sinar terang itu yang malah menyesatkan.
Dengan senyum ketulusan dan setangkup doa, Salman menatap Kumar sambil memasukkan sendok nasi terakhir ke mulutnya.
“Terima kasih, Kumar. Makanannya enak, doakan aku juga ya. Suatu hari saat aku berhasil dan sukses aku tidak akan pernah melupakanmu,” janji Salman pada Kumar.
“Aku yakin kau pasti berhasil dengan cita-citamu. Selo pernah bercerita padaku bahwa kau murid paling cerdas di kelasmu.”
“Iya, tapi kecerdasan kadang tidak cukup untuk mewujudkan mimpi. Perlu sedikit keberuntungan yang terwujud lewat doa.”
Kumar terdiam mencoba mencerna kata-kata Salman.
“Kalau kau gagal, lupakan aku! Ha … ha … ha,….” Kumar tertawa menutup pembicaraan mereka. Dia mengambil piring bekas Salman makan dan mulai beranjak ke wastafel.
Salman menatap kumar dengan janji bagi dirinya sendiri, ‘aku akan berhasil Kumar. Harus!'
Dengan pikiran ini Salman beranjak kembali ke kamar.