SALING MENGENAL

1080 Kata
Pria-pria muda itu menikmati kebersamaan dengan tertawa di meja makan. Sehari tiga kali Kumar akan menyiapkan makanan untuk mereka semua. Itu adalah bagian dari pelayanan asrama atas uang yang mereka bayar tiap bulan. Diantara tawa mereka duduk Selo yang menjadi penghidup suasana. Selo yang dikenal lucu dan mudah berteman. Dengan percaya diri tinggi. Tidak jarang Salman menjadi korban candaan Selo. Seperti malam ini. “Salman, kapan kau perkenalkan gadismu pada kami?” Salman yang sedang berkutat dengan pikiran di kepalanya mengalihkan pandangan. Dia memasukkan sendok makanan ke mulutnya. Mengabaikan candaan Selo yang sering berakhir panjang. “Gadis apa?” Selo menyuapkan makanan sambil bergumam,”gadis yang kau temui sampai pagi kemarin malam.” Tawa teman lain mengiring candaan Selo. Sementara Salman menyambut nyeri candaan itu. “Tidak ada gadis, aku kemarin berjalan menikmati udara malam. Dan sedikit tersesat, itu saja.” Salman mengatakan dengan nada sedatar mungkin untuk meyakinkan Selo dan kawan-kawannya. “Tersesat? Tapi tidak menemukan gadis? Rugi sekali. Ha … ha … ha,….” Selo meneruskan celotehnya. Sebuah kepalan tissue melayang mengenai kepala Selo. Dilempar Salman dari meja seberang. Sebuah kode agar Selo berhenti. Salman merasa muak mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Waktu makan malam telah usai, Salman beranjak kembali kamarnya dari dapur. Selo dan beberapa teman asrama ikut serta. Malam ini mereka sepakat untuk bermain kartu bersama di kamar Salman. Permainan sekedar untuk membuang kebosanan karena jauh dari keluarga. Mereka berasal dari kota yang jauh dari Khatmandu. Dan kebersamaan mereka setiap hari, membuat mereka seperti keluarga. Hujan turun begitu deras di Khatmandu sejak sore. Jika biasanya setelah makan malam mereka keluar asrama mencari udara segar, maka malam itu kegiatan seperti ini tidak bisa dilakukan. Dinginnya udara Khatmandu membuat mereka segan untuk meninggalkan asrama. Khatmandu wilayah yang berdekatan dengan pegunungan memiliki udara yang seringkali dingin. Mereka memilih untuk bermain di kamar Salman karena lebih luas. Selain tidak banyak barang disana, juga kamar Salman dikenal paling bersih diantara kamar teman – temannya. Salman yang terbiasa mandiri sejak tinggal bersama keluarganya di Ittahari memang dikenal mencari kata sempurna untuk kerapian dan kebersihan. Hal lain Salman sangat mengutamakan privasi. Beberapa kali dia mengijinkan temannya bermain namun tidak untuk tinggal dan bermalam. Dan malam itu karena mereka memaksa terpaksa Salman mengiyakan. Sebuah pesan masuk ketika Salman sedang menunggu giliran bermain. “Senang kamu membalas pesanku, aku Tia dari Indonesia” Ketika pemberitahuan pesan di terima, Salman bergegas menjauh menjauh dari teman – temannya yang sedang seru duduk di lantai. Memberikan kartu yang menjadi bagiannya kepada Selo. Dia naik ke tempat tidur, berbaring dan mulai membaca pesan itu. Tidak mau melewatkan kesempatan bahwa lawan bicaranya saat ini sedang online. Segera Salman membalas pesan dari wanita bernama Tia itu. “Hai Tia, boleh aku tahu dari mana kamu mendapatkan nomorku?” Salman menjawab pesan tersebut. “Hai Salman, aku mendapat nomormu dari data base penerima beasiswa di Nepal.” Salman mengerutkan kening. Data base seperti itu sifatnya rahasia. Bagaimana bisa bocor keluar dan lintas negara. Tuan Firoz perlu tahu hal ini. Dan dia akan bicarakan nanti. “Baiklah, lalu untuk kepentingan apa kamu menghubungiku,” tanya Salman menyelidik. “Aku salah satu staff penyelenggara pertukaran pelajar internasional. Dan aku ingin menawarkan padamu untuk mendapatkan beasiswa ini. Ini gratis, semua biaya ditanggung oleh pemerintah Indonesia.” “Beasiswa? Untuk bidang apa?” Salman melanjutkan bertanya. “Bahasa dan budaya.” “Boleh aku tahu prosedurnya? Diantara banyak siswa kenapa aku yang terpilih?” “Berdasarkan daftarku, kau memiliki nilai tertinggi untuk tes masuk program beasiswa di Nepal tahun ini. Kami tidak memilih banyak. Hanya satu siswa dari satu negara.” “Umm … baiklah, lalu apa yang kamu tawarkan?” “Kamu akan tinggal di Indonesia untuk dua tahun. Semua kebutuhanmu ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Kamu juga akan mendapatkan uang saku dan tempat tinggal. Jika di tahun kedua nilai bahasa Indonesiamu melewati angka delapan maka pemerintah kami akan memberikanmu pekerjaan dan gaji. Bagaimana?” “Hmm … tawaran yang baik dan menggiurkan. Apa kalian membuka program ini setiap tahun?” “Kami membuka dua tahun sekali.” “Lalu untuk tahun ini kapan aku bisa melakukan proses seleksi?” “Bulan ini.” “Maaf Tia , dengan sangat menyesal aku harus menolaknya. Karena aku sedang proses pengajuan beasiswa. Dan aku berharap bulan ini kami akan menerima kabar baik dengan segera.” “Ohh … baiklah, kalau aku boleh pastikan program beasiswa apa yang sedang kamu ajukan?” “Kedokteran bedah.” “Wew … sudah bisa dipastikan kamu mahasiswa yang cerdas.” “Baiklah Salman, tidak apa. Kapan pun kamu berubah pikiran kamu bisa menghubungiku. Tawaran ini tidak sering datang mengingat keterbatasan jumlah. Jika kemudian dari Nepal tidak terwakili maka kami akan menawarkan pada negara lain.” “Terima kasih Tia, Jadi kamu seorang staff konselor beasiswa? Untuk beasiswa jurusan lain apakah kamu menangani?” “Bukan, aku bukan staff konselor. Aku hanya freelance untuk event ini.  Sebuah penerbit dimana aku adalah penulisnya sedang terlibat dalam project ini.” “Penulis? Apa yang kamu tulis?” Salman bertanya lebih detail tentang Tia. “Sebagian besar novel dan buku fiksi. Tapi aku menulis artikel juga.” “Wah, kamu memiliki imaginasi yang tinggi ya?” “Mungkin begitu.” Ia membalas pesan terakhir Salman. Teman – teman Salman mulai berteriak untuk meminta Salman  kembali bergabung untuk bermain bersama mereka. Selo mulai melempari Salman dengan beberapa benda ringan. Sedikit penasaran muncul karena Salman memainkan ponsel sambil tersenyum. Setahu Selo tidak ada wanita yang dekat dengan Salman saat ini. Dan mustahil Salman tersenyum pada seorang pria. Senyum yang Salman sendiri tidak menyadari kehadirannya. Salman berpamitan pada Tia, “Tia, aku harus pergi. Nanti kita ngobrol lagi ya.” “Ok Salman, sampai bertemu lagi ya.” Sambil mengetik pesan terakhir, Salman beranjak menuju teman-temannya dan duduk di sebelah Selo. Dia melirik ke ponsel Salman yang belum terkunci. “Sibuk dengan seseorang?” tanyanya menggoda di susul tawa seluruh teman – temannya. Salman menanggapi candaan Selo dengan memukul ringan bahunya. Lalu dia mulai mengambil kartu bagiannya. Salman meletakkan ponselnya dan mulai bermain dengan temannya. Sekali lagi Salman melirik ponselnya. Wanita dari Indonesia. Ada bisikan halus di hati Salman yang sulit dia gambarkan. Dua hari ini Salman sibuk berkutat dengan rasa sedih dan kebingungan. Saat berbicara dengan wanita ini, ada perasaan yang tidak biasa Salman rasakan. Salman melupakan masalahnya. Ada banyak pertanyaan di benaknya untuk tahu wanita itu lebih dalam. Salman berpikir untuk menghubunginya lagi nanti. Perasaan halus yang tanpa Salman sadari telah mulai terukir di hatinya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN