PEMECATAN

1624 Kata
Mentari menembus kaca jendela, membangun Salman dari tidurnya. Seperti kebiasaan kebanyakan manusia jaman sekarang, saat membuka mata Salman langsung memegang ponselnya. Salman terbiasa mematikan ponsel saat dia beranjak tidur. Beberapa pemberitahuan pesan pun berdatangan setelah ponsel terhubung dengan jaringan. Salman mulai membalas semua pesan itu satu per satu. Dan matanya berhenti pada pesan yang semalam telah dibalasnya. Sebuah nomor asing yang bahkan belum disimpannya. Salman memutuskan untuk menyimpan nomor itu dengan nama Tia. Mungkin saja suatu hari dia akan membutuhkannya jika memang akhirnya Indonesia menjadi tujuan beasiswa. Ketika Salman selesai menyimpan nomor itu, sesosok wajah yang semula hanya berupa bayangan muncul di photo profilnya. Cantik dengan baju merah dan rambut panjang sebahu. Salman terkesiap memandang wajah cantik itu. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Apakah karena dia baru terbangun dari tidurnya? sehingga dia merasa itu bagai mimpi. Setelah beberapa hari mendung memayungi hatinya karena perbuatan ibu Anil. Pagi ini serasa begitu banyak warna pelangi hadir di hatinya. Salman memutuskan untuk menyapa Tia. “Good morning, Tia.” Tidak ada balasan. Mungkin sang pemilik ponsel sedang tidak online. Sambil bersiul bahagia Salman berjalan menuju kamar mandi. Dia tidak ingin masuk ke dalam antrian rusuh yang biasa teman – temannya lakukan setiap pagi. Salman selalu bangun lebih pagi dari yang lainnya, sehingga dia dapat menggunakan kamar mandi dengan leluasa. Salman bersenandung ceria, bahkan ketika dia berjalan menuju dapur untuk sarapan. Beberapa teman yang masih dengan handuk di pundak, melihat Salman sambil bersikutan. Mereka tersenyum, Salman belum pernah secerah itu. “Hi, Kumar!” Salman menyapa Kumar dan menepuk bahunya. “Hi, Salman! Wew, lihat wajahmu pagi ini, tampak sangat berseri. Ayahmu mengirim uang?” “Ha … ha … ha,….” Salman tertawa dengan candaan Kumar. Kumar menyodorkan segelas teh dan sepiring kue untuk Salman. Segera disantap oleh Salman dengan bahagia. Kumar melanjutkan aktivitas memasaknya, sambil sesekali tersenyum melihat Salman yang begitu bahagia. “Kumar! Terima kasih sarapannya pagi ini. Luar biasa!” Salman melambai dan berlalu dari dapur, dibalas lambaian oleh Kumar. Yang membuat Kumar senang pada Salman adalah sikapnya yang ramah dan tidak arogan. Beberapa penghuni asrama memperlakukan Kumar hanya sebagai pembantu belaka. Tapi Salman memperlakukan Kumar sebagai teman. Tidak lupa menyapa saat dia masuk dapur dan juga berterima kasih saat meninggalkan dapur. Salman berangkat ke kampus lebih awal. Meninggalkan Selo yang masih bersiap untuk sarapan. Dia hari ini ingin waktu khusus untuk menemui tuan Firoz. Setibanya di kampus Salman menemui tuan Firoz di kantornya. Salman ingin mengajukan pengunduran diri sebagai pembimbing Anil. Dia memang membutuhkan uang namun setelah apa yang terjadi rasanya Salman akan mencari jalan yang lain untuk mendapatkannya. “Selamat pagi tuan Firoz,” Pintu kaca terbuka, setelah Salman melihat ke dalam dan memastikan dosennya itu ada di sana. Salman memasukkan kepalanya menunggu instruksi tuan Firoz mempersilahkannya masuk. “Selamat pagi Salman, ayo masuk. Aku sudah menunggumu. Tutup pintunya,” perintah tuan Firoz. Salman melangkahkan kaki dan menutup rapat kembali pintu kaca di belakangnya. Tampaknya ruangan yang rapat itu tidak akan mampu membuat suara percakapan mereka terdengar dari luar. “Salman, ayah Anil meminta pengembalian uang gaji yang telah kau terima. Kau telah menerima pembayaran tiga bulan di muka. Namun baru satu bulan kamu melakukan tugasmu. Dan sekarang ayah Anil memintamu berhenti” Salman nampak terkejut dengan kata – kata tuan Firoz yang mendahului maksud hatinya. “Sebenarnya tuan, aku kemari untuk mengajukan pengunduran diriku sebagai pembimbing Anil.” Wajah bingung dan tegang ditunjukkan Salman. “Kenapa Salman? Ayah Anil memintamu mundur dengan alasan kamu tidak datang beberapa kali saat waktu belajar. Dan masuk ke kamar tidur mereka tanpa alasan. Itu yang terlihat di rekaman kamera CCTV meskipun rekaman itu sebagian terputus dan rusak dengan sebab yang tidak jelas.” “Iya tuan, aku tidak datang dua kali waktu mengajar karena sebuah alasan. Namun masuk ke kamar tidur mereka … itu … aku tidak sedang mencuri Tuan.” Salman mulai khawatir dengan penjelasan tuan Firoz. “Baiklah kita sama – sama tidak bisa membuktikan Salman. Sekarang kamu tinggal mengembalikan dua bulan gaji yang belum kau selesaikan.” “Tapi tuan, uang itu sudah tidak ada padaku. Aku telah memakainya untuk membayar asrama tiga bulan ke depan dan beberapa kebutuhan lain.” Wajah Salman semakin menunjukkan kekhawatiran. Tuan Firoz menunduk dengan kedua tangan dia letakkan di depan kepalanya dan siku menyentuh meja. Beberapa menit dimana Salman dan tuan Firoz sama – sama hanya terdiam. Firoz sangat percaya dengan kejujuran Salman, namun begitu dia tidak punya bukti untuk membantunya. Salman tidak yakin untuk mengatakan masalah sebenarnya pada tuan Firoz. Sampai kata – kata tuan Firoz memecah keheningan diantara mereka “Baiklah, aku akan bicara lagi dengan ayah Anil untuk memberikanmu keringanan.” “Terima kasih, Tuan,” Salman menarik nafas lega. “Sekarang kau boleh pergi.” “Baik, Tuan saya permisi.” Salman berdiri dan melangkah keluar. Setelah melihat anggukan sebagai jawaban tuan Firoz. Pikiran Salman mulai kacau. Dia tahu jika dia memenuhi permintaan Ibu Anil untuk kembali ke rumahnya maka semua masalah itu akan selesai dengan sendirinya. Sebetulnya apa yang terjadi hari ini adalah rencana nyonya Maria, ibu Anil. Semua ancaman itu telah dia sampaikan pada Salman lewat pesan. Dan karena Salman mengabaikan bahkan memblokir nomornya maka hari ini pun tiba. Nyonya Maria menginginkan Salman untuk memberikan apa yang tidak bisa dia dapatkan dari suaminya. Karena ayah Anil telah bertahun – tahun menderita penyakit yang membuatnya kehilangan jiwa prianya. Ibu Anil tetap bertahan karena suaminya adalah pria kaya raya. Dia tidak akan pernah bisa mendapatkan kenyamanan dia luar rumah ayah Anil. Dengan segala kegundahan, Salman duduk di taman pinggir kampus. Pikirannya melayang kesana kemari. Namun apapun yang terjadi Salman tidak akan sudi kembali ke rumah Anil. Di keluarkannya ponsel dari saku kemeja. Sebuah pesan tertera disana, Tia! “Selamat pagi Salman, apa kabarmu hari ini? Sebuah kejutan kamu menyapaku.” Melihat pemilik nomor di seberang sana sedang online, Salman pun tidak membuang kesempatan. Segera dibalasnya chat dari Tia. “Iya Tia, aku tidak bisa masuk program beasiswa yang kau tawarkan. Tapi kita bisa tetap jadi teman kan?” Sebuah balasan datang dengan cepatnya, karena Tia memang sedang berada di ponselnya. “Tentu Salman. Semoga usia bukan sebuah masalah buatmu.” “Berapa usiamu Tia?” “Mungkin seusia ibumu” “Ha ... ha ... ha … tidak, melihat fotomu mungkin kamu seusiaku.” “ha … ha ... ha ... di usiamu tentu saja aku masih sekolah dan tidak menjadi seorang konselor beasiswa.” “Baiklah … katakan berapa usiamu?” “Tiga puluh tiga tahun” “Kamu bohong” “Kenapa harus berbohong? Apakah aku perlu menunjukkan passporku?” “Oh ... tidak … tidak … tapi kenapa fotomu terlihat sangat muda. Sepertinya usiamu kurang dari tiga puluh tahun.” “Jangan tertipu oleh foto, kamera bisa menipu.” “Okay … nggak masalah dengan usia. Kita bisa menjadi teman.” “Tentu Salman, dengan senang hati. Nah sekarang berapa usiamu?” “Dua puluh tiga.” “Dan kamu sekolah untuk jurusan apa?” “Sebetulnya aku tidak sekolah. Aku sedang dalam pelatihan mendapatkan beasiswa.” “Beasiswa dengan fokus apa?” “Dokter bedah” “Oh … jadi kamu calon dokter.” “Semoga begitu jika aku bisa mendapatkan beasiswanya.” “Pasti kamu akan dapatkan , karena di dalam listku tentang siswa di Khatmandu kamu masuk prioritas sepuluh besar. Lebih dari cukup tentunya kecerdasan untuk duduk disitu.” “Benarkah? Aku bahkan tidak tahu itu” “Baiklah Salman, aku mau mengerjakan beberapa hal. Sampai ketemu lagi ya” “Baik Tia, terima kasih” Salman membaca sekali lagi chat mereka. Tia wanita yang sangat mengesankan. Cantik dan juga ramah. Sepertinya dia juga wanita yang cerdas dari caranya merangkai kata. Salman menekan foto Tia di profilnya. Sekali lagi, cantik sekali. Selo melihat Salman dari balik bahunya. Salman yang sedang duduk dan asik dengan ponselnya tidak menyadari bahwa Selo telah sejak tadi berdiri di belakangnya. Selo terlihat gemas dengan Salman yang sangat serius. Selo membaca dari belakang chat antara Salman dan Tia. ‘Tidak bisakah Salman membubuhkan rasa humor dalam chatnya?’ begitu pikir Selo “Ehm….!” “Selo, sejak kapan kamu berdiri disitu?” “Sejak seseorang mengucapkan selamat pagi pada wanita di seberang sana. Cantik sekali, siapa dia? Rasanya selama kita bersama kamu selalu alergi jika ada gadis yang mendekatimu. Kenapa sekarang tiba – tiba ada seseorang yang bisa membuatmu begitu sibuk dengan chat” “Ha … ha … ha … Selo, dia seorang konselor beasiswa. Lupakan! dari mana saja kau sepagian ini?” “Harusnya aku yang bertanya padamu, dari mana saja kau. Aku melihatmu masuk ke kampus namun setelahnya aku tidak melihatmu dimana pun. Dan aku menemukanmu disini sibuk dengan si cantik itu” “Yah, aku baru dari ruangan tuan Firoz. Dan ayah Anil meminta pengembalian uang dua bulan gajiku” “Kenapa? Dia memecatmu?” “Sebetulnya aku memang mengundurkan diri. Namun ayah Anil memecatku juga dengan alasan yang tidak pernah kulakukan. Aku sulit menceritakan padamu Selo” “Umm … okay, lalu apa kau punya uang?” “Kalau aku punya uang aku tidak akan duduk disini dan kebingungan. Dimana pikiranmu Selo?” Salman menyahut dengan kesal. “Oh ok ok ok maaf tuan Salman, aku memang sering bodoh di hadapanmu.” Salman meninju bahu Selo. Temannya yang satu ini meskipun tidak cukup pintar namun selalu berhasil membuatnya tertawa. “Kamu butuh uang Salman? Bagaimana kalau aku mengatakan pada ayahku untuk meminjamimu?” “Tidak, jangan. Ayahmu juga tidak mudah mendapatkannya. Aku akan menemukan cara lain. Tuan Firoz akan berbicara dengan ayah Anil. Dan kita lihat saja hasilnya besok.” “Baiklah, ayo kita masuk kelas. Sebentar lagi pelatihan akan segera di mulai.” Dengan berbagai pikiran dan kemungkinan, Salman beranjak bersama Selo menuju kelas.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN