PIKIRAN YANG RUMIT

1108 Kata
Semua orang telah beranjak dari dapur, makan malam telah usai. Hanya Salman yang masih duduk di meja makan. Sementara Kumar mulai membenahi berbagai peralatan bekas mereka makan. Kumar menggelengkan kepala melihat Salman, tadi pagi dia begitu ceria dan malam ini kembali mendung membayangi wajahnya. “Kenapa mukamu harus seiring matahari?” tanya Kumar. Salman mengerutkan kening tanda tidak mengerti. “Maksudmu?” “Tadi pagi kau begitu ceria dan berseri lalu kenapa malam ini? Matahari pergi, lalu keceriaanmu pun memudar. Begitu?” Salman tersenyum miring menanggapi candaan Kumar yang ceria. “Aku sedang dalam masalah besar Kumar.” “Ah … tidak ada masalah yang besar Salman, selama kau masih punya harga diri.” ‘masalahnya itu pun tidak ada lagi,’ dalam hati Salman bergumam. Salman meneguk teh terakhirnya. Menyerahkan gelasnya pada Kumar yang sedang mencuci piring di wastafel. Dia menepuk pundak Kumar dan berlalu pergi. Kumar melihat wajah sendu Salman dan sekali lagi menggelengkan kepala. Berbagai pikiran berkecamuk di benak Salman. Setelah makan malam biasa teman – teman akan singgah di kamarnya. Selain luas dan nyaman juga paling dekat dengan pantry. Tapi hari ini semua teman sibuk. Kesendirian di kamar membuat pikiran Salman berputar – putar. Mulai dari kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya tentang uang ayah Anil. Juga pelatihan yang semakin hari dirasanya pelajaran semakin sulit. Namun soal pelajaran Salman tidak khawatir, dia akan mengejar dengan segera. Dia menginginkan beasiswa itu demi ayahnya dan juga … mimpi besarnya. Salman mengangkat ponsel untuk menghubungi ayahnya. Disaat sulit dan sedih, selalu ayah adalah orang tempat Salman mencari keteduhan. Meskipun, dia tidak mungkin menceritakan pada ayahnya tentang apa yang terjadi. “Halo,” suara Khan menyahut dari seberang sana. “Halo, Ayah. Bagaimana kabar ayah?” “Salman, apa kabarmu? Ayah sedag kurang sehat. Hari ini ayah tidak bekerja.” “Ayah sakit?” nada khawatir tersirat dalam suara Salman. “Ayah baik-baik saja. Hanya karena lelah juga cuaca yang sangat panas disini. Besok Ayah akan sehat dan kembali bekerja. Bagaimana keadaanmu disana?” “Aku … aku sehat. Dan … semua baik-baik saja.” “Bagaimana sekolahmu? Kapan ujian akan dilaksanakan?” “Sekolahku baik, ujian akan dilakukan minggu depan.” “Bulan ini ayah akan mengirim lebih sedikit uang saku untukmu. Karena beberapa akan ayah berikan untuk uang saku Usman. Lagi pula kau sekarang sudah punya hasil sendiri bukan?” Detak jantung Salman berhenti. Haruskah mengakui pada ayahnya bahwa dia sudah berhenti mengajar Anil. “Hmm … baiklah ayah.” “Jaga dirimu baik-baik ya.” “Iya, ayah juga ya.” Salman mengakhiri panggilan telepon dengan ayahnya. Apa yang terjadi jika ayahnya tahu tentang hal ini. Tidak ada yang boleh tahu tentang apa yang terjadi! Kerinduan kepada keluarga menyekap Salman bertubi-tubi. Selama ini dia sibuk dengan berbagai kegiatan dan hanya sesekali menghubungi mereka. Kembali Salman mengangkat ponsel untuk menghubungi ibunya. “Hallo!” Suara gadis yang ceria menyahut dari seberang sana. “Nitish! Bagaimana kabarmu?!” Salman bersorak bahagia mendengar suara Nitish, adik kecil kesayangannya. “Aku baik Kak, kapan Kakak pulang?” “Hmm … sesudah ujian, sebelum berangkat ke UK aku akan pulang.” “Kakak dapat beasiswanya?” “Semoga, doakan ya. Dimana ibu dan semua orang?” “Oh, kau mau bicara dengan Ibu. Sebentar ya, Ibu!!!” terdengar suara Nitish berteriak memanggil ibunya. “Halo, Salman,” ibunya menyapa. “Ibu, bagaimana kabar Ibu?” “Ibu, baik Salman. Kami semua disini baik. Bagaimana dengamu?” “Aku, ….” Segores luka di sudut hati terasa nyeri di hati Salman. “Aku , baik bu,” Salman melanjutkan. Namun ibunya terlanjur membaca sesuatu yang berbeda dari nada suara Salman. “Sungguh? Ada yang ingin kau katakan? Apa kau sehat?” ibunya menyelidik. “Ya, Bu. Kapan Usman akan ke sekolah?” “Ibu akan mendaftar bersamanya minggu depan. Bulan depan usman bisa mulai bersekolah.” “Usman ada di rumah? Aku ingin berbicara dengannya.” “Oh, sebentar ya. Usman … !!!” ibu Salman berseru memanggilnya. Usman yang sedang di teras depan berlari mendekati ibunya. “Kak Salman, ingin bicara denganmu.” Dia memberikan ponsel pada Usman. “Halo kak,” “Halo, Usman. Sedang apa?” “Ada teman yang bertandang. Dia juga ingin mendaftar sekolah bersamaku, mungkin kami akan mencari informasi bersama apakah pembayaran sekolah itu bisa diangsur.” “Hmm … “ “Aku ingin sepertimu Kak, meski pun kita tidak punya uang, kita akan berjuang.” Dua tetes air mata mengalir di pipi Salman. Mendengar Usman begitu bangga mencontoh dirinya. “Setelah aku bisa menghasilkan uang, aku akan membiayai sekolah kalian semua. Kalian tidak perlu merasakan kesulitan yang aku rasakan.” Janji Salman pada Usman. “Ya Kak, jaga dirimu di sana.” “Kamu juga ya, jaga ibu dan adik-adik ya.” Salman memutuskan sambungan telepon. Terbayang kemiskinan mereka di desa. Membuat Salman bertekad lebih untuk berhasi dan mengeluarkan keluarganya dari segala kesulitan hidup. Sekarang dia sedang dalam masalah namun dia tidak akan menyerah. Salman berpikir dan terus berusaha mencari jalan keluar dari masalahnya. Selo masuk ke kamar Salman tanpa mengetuk pintu. “Salman! Kemana saja kamu? Semua orang sedang bercengkerama di depan. Kenapa kau sendirian diam disini, seperti anak gadis.” Salman tersenyum kecut dengan ledekan Selo. “Kenapa kamu berhenti mengajar Anil? Kamu belum ceritakan padaku,” Selo menyelidik Salman. “Aku perlu fokus karena ujian tinggal seminggu lagi kan,” Salman berkilah. “Hmm … tapi Anil bilang dia tidak tahu alasanmu berhenti. menurut Anil, dia mengalami banyak kemajuan sejak belajar denganmu.” “Sungguh? Anil mengatakan itu padamu?” Selo mengangguk, “Anil memintaku menanyakan alasanmu berhenti. Dia bilang mengirmimu beberapa pesan dan tidak kau jawab.” Memang betul, Anil mengirim Salman pesan. Dan Salman ragu untuk memberi jawaban. Alasan yang tidak masuk akal ketika menjelang ujian Salman justru berhenti mengajar. Sepertinya Anil tidak percaya pada alasan ayahya memberhentikan Salman karena tuduhan pencurian. Anil mengenal baik Salman sebagai pribadi yang jujur dan sederhana. Di antara banyak teman, Salman salah satu yang Anil suka. Teman lain dekat dan baik dengan Anil karena dia putra pejabat. Tapi Salman, meskipun dekat dengan Anil dia tidak lantas menjadikan Anil istimewa. Bagi Salman menghormati orang tidak terukur dari materi. Padangan yang membuat Salman menyenangkan bagi Anil. Hal lain yang membuat Salman istimewa adalah keberaniannya. Salah satu yang selalu merasa beruntung dengan keberanian Salman adalah Selo. Jika bukan karena Salman, mungkin Selo akan melupakan keinginannya untuk ke Khatmandu. Karena dia percaya Salman bisa menjahga mereka, maka keberanian muncul dalam diri Selo untuk turut serta. Dan pikiran terakhir yang seharian ini berseliweran di benak Salman adalah tentang Tia. Wajah di profile Tia berseliweran di mata Salman seharian ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN