MENGINGAT LUKA

1131 Kata
Sejak chat terakhir, ingatan Salman selalu berputar pada Tia. Bukan semata karena wajah cantiknya. Ada sebuah rasa yang menarik Salman untuk mendekatkan diri lebih pada Tia. Sebaris sapaan Salman kirimkan, berharap si pemilik nomor sedang aktif di ponselnya. “Selamat malam Tia.” Dan ternyata Tia memang sedang online di ponselnya. “Selamat malam Salman.” Salman yang semula berbaring di tempat tidur menjadi sangat bahagia. Dia bangun di posisi duduk memandang ponselnya. Debaran jantung datang di hati Salman. Cepat dan tidak beraturan. “Hai Tia.” “Hai Salman, jadi kita benar akan berteman?” Salman memandang pesan Tia dengan heran, “Kenapa.” “Anak muda di usiamu biasanya tidak tertarik menjalin pertemanan dengan wanita dewasa sepertiku.” “Oh, usia hanya angka. Bukan masalah dalam sebuah persahabatan,” Salman menegaskan “Ok, bagaimana kabarmu hari ini?” “Iya aku baik. Dan kamu?” “Aku baik juga.” “Salman, boleh aku tanya sesuatu?” “Silahkan.” “Menurutku, di usiamu yang ke dua puluh tiga, agak terlambat memulai sebuah pendidikan di universitas. Dan itu pun kamu mengambil jalur beasiswa. Peluang untuk berhasil  dan gagal sama. Kenapa begitu?” Salman memandang ponselnya. Mengagumi kecerdasan lawan bicaranya. Dengan satu angka usia, Tia bisa melihat situasi yang Salman hadapi. Sungguh bukan perempuan biasa! “Aku bukan berasal dari keluarga yang mampu Tia. Aku berasal dari pedesaan. Dan baru di tahun ini kesempatan untuk mendapatkan informasi dan pergi ke Khatmandu aku dapatkan.” “Ohh ... Ok. Hebat juga ya, kamu memiliki tekad sebesar itu dalam meraih pendidikan. Dari kota mana kamu berasal?” “Ittahari.” “Ok, apakah itu jauh dari Khatmandu?” “Ya, perlu pesawat untuk sampai disini” “Apa pekerjaan orang tuamu?” “Ibuku seorang petani dan ayahku, dia tinggal di luar negeri.” “Kenapa kamu ingin mendapatkan beasiswa ini?” “Aku perlu pendidikan, tapi ayahku tidak punya cukup uang untuk mewujudkan. Terlebih, aku masih punya adik yang juga butuh biaya.” “Berapa jumlah adikmu?” Tia menyelidik. “Tiga, dan semua sedang dalam masa pendidikan.” “Ok, sekarang kamu tinggal memperjuangkan saja untuk meraih mimpimu. Kamu punya pacar?” “Ha … ha ... ha ... kenapa kau tanyakan itu? Kamu mau jadi pacarku?” “Aw ... Kamu lupa mungkin berapa usiaku. Aku hanya ingin bertanya saja. Kalau kita bertukar pesan aku harap kamu menjelaskan padanya agar tidak terjadi salah paham.” “Tidak Tia, aku tidak punya pacar. Aku pernah mencintai seorang wanita. Namun dia meninggalkanku dan sejak itu aku berhenti mencintai seorang wanita” “Hmm … kelihatannya kamu pria yang baik juga cerdas. Kenapa gadis itu meninggalkanmu?” “Karena aku miskin, dia memilih pria lain yang lebih kaya. Yang disukai keluarganya.” “Hmm …  siapa gadis itu?” “Dia adalah putri kepala desa di tempatku. Memang dia juga memilih pria kaya. Namun seandainya gadis itu memilihku, dia juga akan ditentang orang tuanya. Gadis itu mencari kebahagiaannya sendiri tanpa berpikir telah melukaiku.” “Berapa lama kalian pacaran?” “Lebih dari lima tahun aku rasa. Dan dia berjanji untuk selalu mencintaiku, meski dia tahu kemiskinan keluargaku. Namun begitu pria kaya itu datang untuk meminangnya. Dia pun lupa janjinya. Uang selalu menggiurkan. Bukan begitu Tia? “Iya, aku setuju. Aku juga pernah kehilangan seseorag karena uang. Dan aku tidak ingin mendapatkan seseorang karena uang. Aku ingin dekat dengan orang lain karena hati dan satu pemikiran. Karena rasa dan cinta.” Senyuman terukir di hati Salman, semoga yang Tia katakan benar adanya. Salman merasa diterima dengan perkataan Tia. “Oh… ya sudahlah. Semua orang punya masa lalu. Tetaplah Fokus pada pendidikanmu. Itu akan menjadi jalan agar masa depanmu lebih baik lagi nanti.” Salman terdiam dengan kalimat yang Tia kirimkan. ‘seorang asing memberikan nasehat? Dan peduli dengannya?’ sepercik rasa damai hadir di hati Salman. Perasaannya pada Tia mulai tumbuh semakin subur. “Salman, besok kamu harus sekolah. Waktunya untuk tidur aku rasa” “Ok, dan kamu? Kapan kamu akan tidur?” “Aku terbiasa tidur menjelang pagi. Karena memang aku merasa lebih senang bekerja di malam hari” “Bekerja di malam hari? Apakah kamu sejenis kelelawar? (emoticon tertawa)” “Ha … ha … ha … ya boleh dibilang begitu” “Apa menjadi penulis bisa menghasilkan uang dengan cukup?” Salman menyelidik. Ini kali pertama Salman mendengar seseorang dengan profesi sebagai penulis. “Lebih dari cukup.” “Menyenangkan pekerjaan seperti itu?” “Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar, Salman.” “Ya, setuju.” “Kenapa kamu menjadi penulis?” Beberapa saat, Salman tidak mendapat jawaban. Sepertinya Tia memikirkan sesuatu untuk dia tuliskan pada Salman. “Aku pun pernah punya kehidupan masa lalu yang kurang baik. Dan menulis menjadi salah satu caraku untuk pulih.” “Pulih? Dengan cara menulis? Jelaskan Tia, ini pertama kali aku mendengar tentang hal itu.” Salman sangat tertarik untuk mendengar lebih banyak dari Tia. Karena dia mengalami banyak kesedihan juga luka. Jika Tia bisa sembuh dengan cara itu, Salman berharap dirinya pun sama. “Aww … kamu tertarik?” “Tentu, ceritakan Tia tentang masa lalumu juga proses pulihmu dengan cara menulis.” “Ok, tapi tidak dengan masa laluku ya. Atau kita akan berbicara sampai pagi. Ha … ha …ha,….” “Ok, terserah kamu saja.” “Menulis artinya kamu merangkai kata. Dan selama kamu merangkai kata, kamu akan mencurahkan semua yang ada pada dirimu. Hatimu dan pikiranmu. Dengan meletakkan semua sebagai barisan kata, maka beban dalam dirimu akan berkurang. Setelah meletakkan beban itu maka semua terasa ringan. Lakukan setiap hari dan kamu akan merasakan manfaatnya.” “Umm … dan berapa lama sampai kamu merasa bahwa kamu telah pulih seutuhnya?” “Tiga tahun.” “Wow! Itu waktu yang sangat lama.” “Iya, karena luka yang aku alami sangat dalam. Butuh waktu untuk mengikhlaskan dan memaafkan.” Salman terdiam dengan penjelasan Tia. Lukanya pun sangat dalam. Dan Salman tidak bisa mengatakan pada siapa pun. Dia memendam lukanya dalam jiwa. “Okay Salman, waktunya tidur. Sudah pukul satu di Indonesia dan sepertinya pukul dua belas di Nepal” “Tunggu Tia, lalu kapan kau mulai menghasilkan uang dari tulisanmu?” “sepuluh tahun lalu. Salman, ketika aku memilih menulis jadi salah satu caraku menghasilkan uang karena aku berminat disitu. Dan terlebih aku tidak punya pendidikan yang baik. Aku membuang masa mudaku untuk orang yang salah.” “Orang yang Salah? Apa maksudmu Tia?” “Lupakan, aku akan ceritakan nanti padamu. Sekarang waktunya tidur, ok!” “Ok Tia… Sampai ketemu lagi ya.” Salman mematikan ponselnya dan bersiap tidur. Pikiran Salman tetap melayang pada Tia. Wanita cerdas namun dibalik tampilanya ada juga luka yang pernah dia rasakan. Apa gerangan yang menjadi masa lalu Tia?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN