Udara dingin dibawah sepuluh derajat menyelimuti Khatmandu. Semua penghuni asrama telah meringkuk di ruangan masing-masing. Sementara Salman masih berkutat dengan kegelisahan di teras asrama depan kamarnya.
Batas hari pembayaran pada ayah Anil semakin dekat, namun Salman belum juga mendapat solusi. Jika cita-cita semula namun kini dia akan meringkuk di kantor polisi, pasti membuat sedih ayah dan ibunya. Dan akan mempermalukan keluarga,
‘Itu tidak bleh terjadi, sebuah jalan keluar harus kudapatkan,’ begitu pikir Salman.
Di gulirkannya daftar nama yang yang di pondel. Mencari peluang seseorag yang akan membantu. Namun semua nama terlewat begitu saja. Semua rekan dan kenalan Salman mengenal orang tuanya. Sementara dia tidak mau orang tuanya tahu tentang masalah yang sedang dia hadapi.
Sampai jari Salman berhenti pada satu nama yang membuat jiwanya bergetar. Tia!
Salman mengirimkan pesan,
“Hai, Tia.”
Tia yang sedang online membalas pesan Salman beberapa mnit kemudian.
“Hai, Salman. Apa kabar?”
“Aku baik, dan kamu?” jawab Salman.
“Aku juga baik. Sedang apa?” Tia bertanya
“Sedang menikmati udara dingin di teras.” Jawab Salman.
“Oh … ya, Khatmandu juga dingin ya. Begitu pun daerah tempatku tinggal. Kami juga tinggal di pegunungan dan udaranya juga dingin.”
“Aww … kamu sedang bekerja?” Salman balik bertanya
“Ya, tapi jangan sungkan. Kita bisa bicara.”
“Aku sedang tidak dalam kondisi baik. Aku sedang ada masalah besar.” ungkap Salman dengan gelisah.
“Hidup memang tentang masalah yang datang dan pergi. Kita bisa apa selain menghadapi dengan cara yang baik dan tenang.”
Kata-kata Tia bagai sihir di hati Salman. ‘Mungkin karena Tia seorang penulis,’ begitu pikir Salman.
“Tia, masalah terbesar apa yang pernah kau hadapi?”
Beberapa menit tidak ada jawaban dari Tia.
“Ketika aku memutuskan bercerai dengan suamiku. Saat itu putriku masih berusia tujuh bulan.”
“Hmm … kamu cantik dan pintar. Kenapa suamimu meninggalkanmu.”
“Tidak Salman, aku yang meninggalkan dia. Sebuah janji dan prinsip hidup yang tidak bisa aku langgar.”
“Boleh aku tahu?”
“Kesetiaan!”
Beberapa menit Tia dan Salman sama-sama terdiam. Saling menunggu dalam gelisah. Ragu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Namun Salman memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa maksudmu dengan kesetiaan?”
“Suamiku telah berlaku curang. Dia membagi cinta dan tubuhnya dengan wanita lain. Di kamarku, saat aku sibuk mengurus Alinea hingga lupa mengurus diriku sendiri.”
Salman mengambil langkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan duduk di ranjangnya. Udara Khatmandu semakin dingin terasa menusuk tulang.
“Luka sebesar itu, apa yang ada di kepala pria itu hingga dia mengkhianatimu. Kamu cantik, pintar dan memberikan dia anak. Apa yang dia cari dari wanita lain.”
“Pria memiliki keinginan yang seringkali di luar dugaan. Keinginan dalam imajinasi pria itu yang tidak bisa aku penuhi.”
Salman mengerti apa yang Tia maksud, karena hal sama terjadi pada ibu Anil terhadap dirinya. Dengan kondisi berbeda karena Salman tidak punya kekuatan.
“Tia, aku kehabisan kata.”
Sebuah panggilan telepon masuk dari Tia terlihat di layar ponsel Salman. Panggilan suara,
“Hai Salman, apa kabarmu?” Tia menyapa dengan ceria.
“Tia, aku baik. Dan maaf ya, untuk chat kita tadi.” Salman menjawab Tia dengan nada menyesal.
Salman merasa telah meminta Tia untuk membuka lagi luka yang mungkin telah lama Tia lupakan.
“Hey! Its ok, jangan khawatir. Aku telah sepenuhnya sembuh dari luka. Aku sudah melupakan semuanya. Sekarang aku bahagia bersama putriku, dan lebih bahagia lagi setelah perkenalan kita.”
Salman terdiam mendengar Tia bicara dengan nada ceria dan penuh semangat.
“Salman, kamu disana?” Tia meyakinkan bahwa sambungan telepon tiak terputus.
“Iya,….”
“Ada apa? Jangan hanya diam. Kita sedang berbicara bukan chatting ha … ha … ha, ….”
Tia tertawa renyah di seberang sana.
“Tia, benarkah kamu bahagia mengenalku?”
“Benar, kenapa?”
Sebutir air mata menetes di pipi Salman.
“Kamu adalah orang asing pertama yang menerimaku dengan bahagia.”
“Maksudmu?” tanya Tia heran.
“Kamu tahu kan, aku dari keluarga miskin. Dan aku juga tidak terlalu tampan. Hal lain aku sangat tertutup dan pendiam. Semua itumembuat orang tidak tertarik untuk dekat denganku. Tidak ada keuntungan yang mereka dapat jika dekat denganku.”
“Salman, berhentilah merendahkan dirimu sendiri. Kamu merasa begitu karena belum bertemu orang yang tepat. Yang memang ditakdirkan untuk hadir di dalam hidupmu. Bukan karena kamu tidak punya arti. Sedih aku mendengarnya.”
“Maafkan aku Tia, tapi begitulah aku menilai diriku selama ini.”
“Ok, jadi mulai sekarang berhentilah menilai dirimu seperti itu. Setidaknya kamu bisa menjadikan pertemuan kita sebagai alasan untuk bahagia.”
“Maksudmu?” Salman bingung dengan apa yang Tia katakan.
“Kamu diberi kecerdasan dan dengan alasan itu kamu masuk daftar beasiswa. Lalu dengan daftar itu aku menghubungimu. Apakah menurutmu itu bukan sebuah kelebihan yang patut kamu banggakan?”
“Mungkin Tia, tapi kecerdasan adalahnya di dalam kepala. Tidak ada orang yang akan tertarik untuk tahu lebih dalam sebelum melihat tampilan luar.”
“Salman, percayalah kamu istimewa. Dan sulitnya perjalanan yang kamu lewati, menjadikanmu lebih istimewa dari yang lainnya.”
Kata-kata Tia mengalir jauh ke dalam hati Salman. Menyentuh hingga ke dasar. Memeluk jiwanya yang sedang gundah dan kesepian. Menopang dirinya yang sedang lelah dalam masalah. Tanpa kata, Salman telah meletakkan Tia di tempat terbaik dalam hatinya.
“Tia, kamu pernah ke Nepal?”
“Belum. Liburan tahun depan aku akan rencanakan untuk menemuimu jika Alinea setuju.”
“Kenapa Alinea harus setuju?”
“Karena hanya dia yang aku punya, lagi pula jika aku melakukan traveling ke lluar negeri, Alinea pasti ikut bersamaku.”
“Hmm … tapi jika aku mendapatkan program beasiswa itu, maka tahun depan aku pasti di UK.”
“Dan Alinea akan setuju untuk pergi ke UK. Eropa adalah tempat liburan favoritenya. Beberapa negara pernah kami kunjungi.”
“Aww … Alinea sangat beruntung memiliki ibu sepertimu.”
“Dan … ibumu sangat beruntung memiliki putra sepertimu, Salman. Kau luar biasa, tidak banyak pemuda yang memiliki tekad dan keberanian sepertimu. Aku yakin, di masa depan kau pasti akan menjadi manusia berhasil yang bisa dibanggakan.”
Sekali lagi, kata-kata Tia berhasil membuat Salman meluncurkan beberapa air mata. Selain bahagia karena seseorang percaya padanya. Juga karena sebuah lara. Sekarang dia dalam msalah besar. bayangan sukses yang Tia gambakan menjadi jauh dari jangkauan Salman. Jika dia tidak dapat lolos dari masalah dengan ayah Anil.
Bisa dipastikan semua keinginan, mimpi dan harapan akan kandas. Dan Salman akan berakhir di sel tahanan. Haruskan dia mengatakan pada ayah Anil yang sesungguhnya. Bagaimana perasaannya jika tahu apa yang terjadi dengan istrinya.
Semua pikiran itu membuat Salman seklai lagi bergelut dengan kebingungan.