Tia meletakkan ponsel di mejanya untuk kemudian sibuk dengan laptopnya lagi. Menulis novel yang telah di bandrol ratusan juta oleh penerbit ternama. Meskipun masih berbantuk outline, namun di tangan seorang Tia yang dikenal dengan bless, novel itu sudah bisa menghasilkan uang.
Di Indonesia tidak ada yang pernah melihat Tia sesungguhnya. Tia hanya dikenal besar dengan nama pena sebagai Bless. Tia adalah seorang wanita yang telah selesai dengan masa lalunya. Kegagalan rumah tangganya telah membuat Tia belajar bahwa demi menjadi bahagia tidak harus selalu dengan pria.
Hidup Tia kini hanyalah tentang Alinea. Putri tunggal yang dimilikinya dari pernikahan dengan Arman. Tia memutuskan bercerai dengan Arman ketika Alinea berusia satu tahun. Perceraian yang penuh dengan luka. Tia melihat Arman berbagi cinta dengan wanita lain di kamar pribadi mereka.
Lima belas tahun berlalu sejak perceraian itu. Setelah akhirnya Tia bisa memaafkan Arman dengan luka – lukanya. Tia bertekad untuk meneruskan mimpinya yang tertunda. Di usianya yang ke delapan belas Tia telah memutuskan untuk menikah dengan Arman karena cinta. Usianya dengan Arman yang terpaut lebih muda lima tahun membuat Tia percaya bahwa Arman akan menjaganya.
Namun mimpi selalu lebih indah dari kenyataan. Tia yang masih begitu muda nyatanya tidak pernah mampu memberikan fantasi – fantasi Arman di atas ranjang. Kesibukan mengurus Alinea menjadi hal lain yang akhirnya memperburuk hubungan mereka. Sampai akhirnya Arman menemukan wanita baru yang lebih membakar gairah prianya.
Beberapa bulan setelah perceraian mereka, Arman pun menikahi wanita itu. Tia pulang ke rumah orang tuanya bersama Alinea. Rasanya kemalangan sedang bergantian untuk masuk ke kehidupan Tia masa itu. Satu tahun setelah kepulangannya bahkan ketika Tia masih berusaha menyembuhkan luka, Ibunya terkena peradangan usus akut dan meninggal dunia.
Meninggalnya ibu Tia menyisakan duka mendalam di hati ayahnya. Ayahnya mulai tidak fokus untuk mengurus diri dan bisnisnya. Sementara Tia masih berjibaku menyembuhkan luka perceraian dan beradaptasi sebagai ibu Alinea. Satu tahun setelah kematian ibunya, ayahnya pun turut berpulang dengan menyisakan hutang – hutang perusahaan yang harus diselesaikan.
Tia yang belum memiliki pengalaman di dunia kerja bahkan tidak tahu bagaimana memulihkan sebuah perusahaan. Tia adalah anak tunggal dari ayah dan ibunya. Yang Tia pikirkan saat itu hanyalah membuat semua penagih hutang itu tidak datang menemuinya. Tia menjual seluruh aset, rumah dan bahkan perusahaan ayahnya untuk menutup hutang.
Tia berakhir di sebuah panti rehabilitasi wanita bersama Alinea. Di panti itu Tia membantu para pengurusnya untuk menjadi staff pencari dana. Di sela – sela kesibukannya Tia menulis sebuah novel. Tiga tahun berselang setelah menjadi penghuni panti, Tia berhasil mendapatkan sponsor untuk penerbitan novel perdananya. Novel yang akhirnya melahirkan nama besar Bless.
Dari Novel perdana itu tia berhasil membeli sebidang tanah luas di pinggiran Jakarta. Di sebuah kawasan dekat perkebunan teh menuju Puncak Bogor. Dan Tia terus menulis novel – novel berikutnya yang membuat namanya makin berkibar dan disegani di kalangan literasi. Bless, sebuah nama yang menjadi garansi akan keistimewaan novel – novelnya.
Saat Alinea berusia sepuluh tahun akhirnya Tia berhasil memboyong putrinya pindah ke istana megah mereka di pinggiran Jakarta. Tia menjadi donatur tetap panti yang pernah menjadi rumah teduh baginya dan Alinea.
Rumah besar itu dibangun dengan pagar memutar dan banyak CCTV di berbagai sudutnya. Dua orang pembantu, seorang tukang kebun dan tiga orang security dipekerjakan untuk mengurus segala sesuatunya. Tia memilih rumah di tengah perkebunan untuk mendapatkan ketenangan mengalirkan segala inspirasinya melalui tulisan. Kini ratusan novel dan buku telah dia hasilkan. Namun semua orang mengenalnya sebagai Bless.
Salah satu novel diangkat menjadi film dan juga meledak di pasaran. Namun tidak membuat Tia sedikit pun timbul niat untuk memunculkan dirinya di depan kamera. Dia tetap menjadi penulis misterius yang dikenal dengan nama Bless. Bless artinya berkat, Tia ingin hidupnya menjadi manfaat dan membawa kebaikan untuk yang lainnya.
Diam – diam Tia menjadi donatur dan penyandang dana di beberapa yayasan sosial. Dan tetap dikenal dengan nama Bless. Tanpa memperlihatkan sosok asli dirinya. Kehebatan inilah yang nampaknya dipelajari dengan baik oleh Alinea. Alinea mewarisi darah seni dengan deras dari ibunya. Namun Alinea menjadi pribadi yang jauh berbeda dari Tia.
Alinea adalah gadis yang periang. Selain sekolah sehari – harinya Alinea lebih senang melukis. Tidak seperti Tia yang hampir tidak memiliki satu pun teman, Alinea bergaul dengan siapa saja. Bahkan di usianya yang ke empat belas, Alinea berhasil membuka sebuah kursus gratis bahasa inggris untuk anak – anak desa sekitar rumahnya. Dan penyandang dana untuk kegiatan ini tentu saja ibunya.
Alinea aktif menunjukkan dirinya dalam berbagai kegiatan sosial. Dan hal ini membuat Tia bahagia. Meskipun Alinea dibesarkan dengan banyak kesulitan namun tidak membuat Alinea menjadi pribadi yang kurang. Ayah Alinea yang hanya beberapa kali dalam setahun mengunjunginya pun tidak membuat Alinea rendah diri. Alinea tahu betul bahwa Arman sibuk dengan istri dan anak – anak barunya.
Bagi Alinea, ibunya adalah tokoh idaman dan panutannya. Dan Bagi Tia, Alinea adalah dunia dan nafas hidupnya. Mereka tinggal berdua di rumah besar dengan fasilitas lengkap untuk saling mencintai. Tia dan Alinea disayangi oleh warga sekitar karena kepekaan sosial yang mereka miliki. Sedikit saja kesulitan yang dialami oleh Alinea dan Tia maka warga sekitar akan dengan senang hati membantu mereka.
Pagi itu di tepian birunya kolam renang berwarna biru dengan aneka bunga – bunga cantik disekitarnya. Tia duduk memegang ponselnya. Pembicaraan dengan Salman tadi malam mengusik hatinya. Dia bisa merasakan kesulitan yang Salman rasakan untuk meraih cita – citanya. Dan bahkan Tia bisa merasakan penderitaan Salman karena penghinaan atas kemiskinannya.
Tia pernah di posisi yang sama. Sesuatu menariknya untuk lebih dekat dengan Salman, meskipun Tia yakin itu bukan cinta. Usia yang jauh berbeda rasanya terlalu berlebihan untuk menyebutnya begitu.
“Selamat pagi Salman. Apa kabarmu hari ini”
Tia lebih dahulu mengirimkan pesan. Hanya satu ceklist nampak disana. Mungkin pemilik ponsel di Nepal itu belum lagi membuka mata. Di Indonesia waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Ini berarti di Nepal sekarang pukul enam pagi.
Tia meneruskan segelas s**u hangan ke bibirnya. Setangkup roti isi coklat keju juga telah menanti disana. Selintas kecupan manis mendarat di pipinya.
“Sudah siap berangkat sayang?”
“Ya Mah, aku hari ini diantar Pak Darmin ya. Karena aku pulang sekolah akan langsung ke tempat kursus jadi aku perlu membawa peralatan dan beberapa baju. Repot kan kalo naik motor sendiri”
“Ya sayang kamu atur saja ya”
“Okay Mah, aku pergi ya… bye…..”
Alinea berlari meninggalkan ibunya dan sekali lagi meninggalkan kecupan di pipi ibunya. Setangkup roti yang seharusnya menjadi sarapan Tia pun tak luput dari sasaran Alinea untuk dibawa serta.
Tia tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah buah hatinya itu. Tia selalu bangga dengan kemandirian dan kecerdasan Alinea. Untuk anak usia empat belas tahun, Alinea lebih tinggi dan besar dibanding teman seumurannya. Rambutnya ikal coklat seperti milik Tia. Kulitnya lebih cerah dari kulit Tia yang cenderung coklat. Dia mewarisi kulit dan mata Arman.
Tia baru saja bangkit dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah dan tidur lagi. Aktivitas malam membuat Tia seringkali harus membayar tidurnya di pagi hari. Namun dia melihat sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Dari Salman
“Selamat pagi Tia, kabarku baik. Dan kamu?”
Tia kembali ke tempat duduknya untuk membalas pesan Salman.
“Ya aku baik, kamu sedang bersiap untuk berangkat ke kampus?”
“Entahlah Tia, aku hari ini tidak semangat untuk belajar”
“Kenapa?”
“Sebenarnya ada sebuah masalah yang harus kuselesaikan, tapi aku tidak bisa membuat keputusan. Aku rasa hari ini aku akan diam di asrama untuk memikirkan jalan keluarnya”
Tia terdiam, pribadinya yang empath dapat menangkap dengan jelas bahwa Salman tidak sedang berpura – pura. Salah satu kelebihan Tia, serasa memiliki indera ketujuh. Tia bisa melihat kebenaran dan kebohongan seseorang meskipun hanya lewat kata. Namun Tia tidak ingin bertanya lebih lanjut jika Salman tidak menjelaskan atas keinginannya sendiri.